
Mansion Walker
Plak!
Suara yang nyaring terdengar di kamar mewah yang di lengkapi dengan kursi game itu.
"Apa kau lakukan? Kau tau siapa yang kau dorong tadi?" tanya pria yang bertubuh tegap dan memakai kaca mata itu.
Remaja tampan itu merasa panas dan perih di pipi nya, ia tak menangis atau takut melainkan tersenyum lirih saat sang ayah memukul nya.
"Siapapun itu, dia bisa buat Papa datang." ucap nya yang tersenyum.
Sumber dari semua kenakalan nya adalah untuk menarik perhatian sang ayah. Untuk membuat pria itu melihat ke arah nya dan tidak melupakan nya saat tenggelam dengan dunia yang di bangun.
"Kau!" Ucap pria yang memiliki nama Albert Baden Walker itu.
Ia kehabisan kata-kata untuk putra nya yang selalu mendapatkan masalah itu.
"Aku menyesal punya anak seperti mu!" ucap nya yang kehabisan kata-kata pada putra nya.
Remaja itu tak mengatakan apapun, ia hanya terdiam dan tersenyum kecil mendengar nya walau sebenarnya hati nya sakit saat mendengar nya.
"Padahal Papa juga tidak pernah melakukan apapun untuk ku," ucap nya pada sang ayah.
Bahkan di kecelakaan sebelum nya saat ia di serang oleh orang tak di kenal yang menyayat kaki nya dan di rawat di rumah sakit selama 8 hari karna luka yang cukup serius sang ayah tak datang sama sekali untuk melihat nya.
"Aku tidak lakukan apapun untuk mu! Aku membersihkan semua masalah yang kau buat! Memang sejak awal harus nya kau saja yang mati! Bukan Leona!" ucap Mr. Albert yang kesal dan berbalik pergi.
Mata hijau itu hanya gemetar mendengar nya, nama ibu nya kembali di sebut.
Ia bahkan tak pernah bertemu dengan wanita yang melahirkan nya dan bahkan tak tau bagaimana kasih sayang wanita itu.
Namun karna ia penyebab kematian ibu nya yang meninggal saat melahirkan membuat sang ayah membenci nya.
Menganggap nya sebagai pembunuh yang mengambil istri nya.
"Seharusnya kalau kau sangat membenci, kau bisa buang aku saja saat masih bayi." ucap nya yang mengepalkan tangan nya dengan iris yang gemetar saat sang ayah menyalahkan nya atas kematian sang ibu yang bahkan tak pernah ia minta.
......................
Mansion Damian
Lucas tak mengatakan apapun, ia melihat dan memegang tangan yang tampak masih memerah bekas penganan paksa tangan seseorang.
"Kau dekat kakak kelas mu di sekolah?" tanya nya yang memegang bekas kemerahan itu dan memberikan nya salep.
"Ya?" Anna yang sejak tadi terdiam dengan rasa takut saat pria itu tak mengatakan apapun dan tak menanya apapun tentang bekas yang ada di tangan nya.
"Siapa nama nya? Devan? Dia bocah yang sama dengan mencium mu waktu itu kan?" tanya Lucas yang menatap dengan mata tajam seperti silet itu.
"Gevan?" tanya Anna yang mengernyit dan menyebutkan nama yang paling mirip dengan apa yang baru ia dengar.
__ADS_1
"Ya, kau dekat dengan nya?" tanya nya lagi pada gadis remaja itu.
Anna langsung menggeleng, demi keselamatan nya dan keselamatan kakak kelas nya ia harus tetap berusaha membuat pria itu senang.
"Ti..tidak! Sa.. saya hanya sebatas kenal saja!" ucap nya pada pria itu.
"Oh ya? Tapi kau selalu dengan nya saat di sekolah kan?" tanya Lucas yang tentu tau karena percakapan gadis itu sering bersama dengan remaja pria yang mendatangi nya.
Anna menggeleng, "Tidak! Saya tidak dekat dengan nya!" ucap nya sekali lagi yang mengatakan dengan nada yang sedang berusaha meyakinkan.
Lucas tak mengatakan apapun, "Baik, akan ku biarkan kali ini karna dia membantu mu." ucap nya pada gadis yang tampak terdiam itu.
Tangan nya beranjak menarik tubuh kecil nan ramping itu ke dalam dekapan nya.
Ia memegang tangan yang masih memerah itu mencium nya dengan lembut.
Bibir yang terasa dingin dan lembut dengan janggut halus yang berada di wajah pria yang mengecup tangan nya membuat Anna terdiam.
"Aku akan mematahkan tangan yang menarik mu tadi, bukan. Seperti nya lebih baik jika dia tidak bisa mengunakan tangan nya lagi." ucap Lucas dengan suara khas nya yang selalu berat, berisi dan serak itu.
"Ya?" Anna mengernyit, ia tak pernah mengatakan apapun tentang yang terjadi pada nya namun pria itu seperti hantu yang tau segala nya.
"Jika ada yang meminta tanda tangan mu dalam bentuk apapun, jangan kau lakukan. Mereka adalah orang serakah yang ingin mengambil sesuatu yang menjadi milik mu." ucap nya yang tentu tak ingin properti milik gadis nya di rebut.
"I.. iya Sir..." jawab Anna lirih pada pria yang membicarakan sesuatu yang tak ia mengerti sama sekali itu.
Lucas tersenyum melihat gadis itu yang menurut pada nya.
Anna meremang, rasa nya ia selalu merasa kaku saat pria itu membelai nya dan tersenyum dengan menatap nya seperti serigala yang lapar.
......................
JNN Grup
Lucas mengernyit, chip yang ia pasang tiba-tiba putus jaringan dan tak bisa menyala.
"Apa ini karna efek operasi nya?" gumam nya yang ingat jika chip itu pernah di lepas saat gadis nya operasi kulit.
Dan setelah pemasangan ulang, chip nya mulai bermasalah.
"Ck!" decak nya yang kesal dan menyusul gadis itu ke sekolah nya.
Apa lagi jika bukan untuk menjemput nya.
Ia tak tau namun ia semakin hari semakin mirip dengan penguntit yang obsesif saat ia tak bisa mendengar apapun yang di lakukan oleh gadis itu dan akan tenang jika melihat atau mendengar nya lagi.
......................
Sekolah.
"Lepas!" gadis itu tampak kesulitan, seseorang memegangi tangan nya.
__ADS_1
Kali ini tak ada yang bisa membantu nya karna si penindas nomor satu di sekolah itu tak akan datang selama satu bulan karna skors panjang yang cukup lama.
"Sebentar! Kita ciuman sebentar saja!" ucap remaja pria itu yang memaksa gadis di depan nya.
Bukan nya ia suka atau menginginkan adik kelas nya yang hanya beda satu tingkat itu namun ia sudah taruhan jika ia akan mencium gadis yang secara acak ke di tunjuk dengan pena yang di putar.
Dan sial nya arah pena itu menunjuk ke arah gadis yang tampak tengah berjalan di lingkungan sekolah itu.
"Lepas! Ciuman aja sana sama dinding!" ucap Anna yang tentu terbiasa menghadapi dengan orang aneh yang jahat dan usil.
Remaja itu menarik nya, memaksa berciuman dengan gadis remaja yang menutup mulut nya dengan rapat itu dan membuat nya berusaha mel*mat dari luar.
Bruk!
Remaja yang tampak seperti preman itu terjungkal, seseorang menarik rambut di kepala nya sampai seperti ingin terlepas dan mendorong nya menjauh.
"Ini yang kau lakukan di sekolah? Berciuman dengan berandal yang mirip tutup wajan itu?" tanya Lucas yang menatap dengan tatapan yang begitu marah.
Taman yang sedikit di datangi siswa, dan sunyi, penglihatan yang dari belakang seperti sedang berciuman dengan panas.
Sedangkan tak bisa mendengar apapun dan menyusul gadis itu langsung ke sekolah nya, memasuki wilayah sekolah untuk mencari seseorang yang ia inginkan.
"Siapa ini?! Oy! Mau kau ikut campur?! Ha!" ucap remaja pria itu yang tampak marah dan tak senang.
Lucas menatap dengan amarah yang meluap di dada nya, walaupun ia tak bisa melihat wajah namun bentuk abstrak setiap orang berbeda dan tentu ia tak menandai nya sebagai 'Gevan' yang biasa ia dengar.
Bruk!
Kaki nya yang panjang itu menendang wajah yang petakilan itu sampai pingsan hanya dengan satu pukulan.
Ia pun kembali melihat ke arah gadis yang tampak terkejut dan takut itu.
"I.. itu tidak seperti yang anda lihat..." ucap Anna lirih.
"Kau berani berbohong?" tanya nya dengan mata tajam yang membuat gadis itu ketakutan.
Saat rasa cemburu dan perasaan amarah jalan lebih dulu di bandingkan dengan logika yang tenang, apa yang akan terjadi?
"Tidak! Sa- Akh!" Anna terdiam, ia meringis dan memegang rambut nya yang di tarik bahkan masih di lingkungan sekolah nya.
"Ikut pulang dengan ku anak nakal," ucap nya yang menarik rambut gadis itu dengan kesal.
Jika saja chip yang berada di tubuh gadis itu tak bermasalah tentu ia akan bisa mendengar semua penolakan gadis itu dan tau masalah nya dari awal tanpa ada kesalahpahaman yang menyesatkan.
......................
Mansion Damian.
Kamar yang sama dengan banyak jeruji besi dan rantai, tempat yang bersih namun selalu menimbulkan aroma anyir yang menyengat di dalam nya.
"Love or Death?" tanya Lucas sembari menyodorkan satu pisau yang begitu tipis dan tajam tepat di leher gadis yang di rantai di depan nya.
__ADS_1
"I love you!" jawab Anna dengan cepat sebelum
Sebelum pisau tajam itu menembus leher nya. Smirk pria itu naik dengan tatapan hewan buas yang seakan ingin memangsa mangsa nya.