
Satu Minggu kemudian.
Lucas meraih tangan gadis itu, seseorang yang saat ini baru saja menjalani operasi pengangkatan chip dan kemudian memulai terapi nya.
"Luc? Mereka aneh! Aku ga sakit! Aku sehat! Tapi kenapa mereka terus kasih aku obat itu!" ucap nya yang langsung mengadu pada pria yang saat ini mendatangi kamar nya sekali lagi.
"Anna? Kau bisa jadi anak yang baik kan? Bukan nya biasa nya kau penurut?" ucap pria itu yang tentu tau jika saat ini gadis nya sudah mulai menjalani siklus pengobatan nya.
"Tapi mereka datang setiap hari!" ucap Anna sekali lagi saat para dokter yang datang memberikan obat aneh itu sudah dua hari yang lalu.
Lucas tak mengatakan apapun, ia kini menarik tubuh kecil dan mendudukkan di pangkuan nya.
"Berarti mereka anak nakal? Aku harus memarahi nya?" ucap nya yang seakan bicara dengan anak kecil karna ia tau bagaimana menangkan seseorang.
"Luc..." Anna memanggil lirih, bukan itu yang ia inginkan melainkan ia ingin keluar dari satu ruangan luas namun bagi nya begitu memuakkan itu.
"Ya? Kenapa?" suara bariton itu tampak lebih rendah dan berbicara dengan lembut pada nya.
"Kita bisa pulang? Aku tidak mau di sini..." gumam nya lirih.
Ia sadar kemana pun ia tinggal ia hanya sebatas burung yang berada di sangkar.
Namun tentu ada sangkar yang lebih baik, bukan?
Di bandingkan satu ruangan yang terlihat mewah itu seperti kamar dalam menara, ia lebih memilih terkurung di dalam mansion yang bagaikan istana sehingga membuat nya dapat menginjak kan kaki nya di atas rumput.
Lucas tak mengatakan apapun, tentu saja karna gadis itu harus menjalani perawatan intensif agar lebih cepat kembali pulih yang membuat nya memaksa nya untuk tetap tinggal di ruangan yang mirip dengan suasana rumah sakit yang ia benci.
"Kenapa? Kau bosan di sini?" tanya nya pada gadis itu.
"Aku sendirian, di sini..." ucap nya lirih dengan suara yang dalam.
Saat ia berumur 8 tahun setelah percobaan pembunuhan dari ibu kandung nya, ia di rawat di ruangan rumah sakit yang dingin itu sendirian dengan hanya beberapa dokter dan perawat yang datang dua kali sehari untuk memeriksa nya.
Dan rasa sunyi itu tentu membekas di ingatan nya yang membuat nya begitu benci dengan suasana rumah sakit walau kini ia tengah berada di laboratorium perusahaan besar itu.
"Sendiri? Siapa yang bilang begitu? Kau tidak sendiri," ucap pria itu yang melihat ke arah gadis nya.
Mata biru itu bergetar, ia tak mengatakan apapun untuk beberapa saat.
"Setelah apa saja yang kita lakukan kau masih menganggap kalau kau sendirian? Hm?" tanya Lucas sekali lagi dan mengecup pipi yang terasa dingin serta pucat.
"Tapi kalau Luc bisa melihat warna bukan nya aku tidak akan di perlukan lagi?" tanya nya tau pria itu hanya menginginkan keindahan dan warna nya tanpa ia tau kini pria di depan nya sudah memiliki pandangan yang normal.
Lucas menaikkan senyuman simpul nya, ia menatap ke arah wajah yang terlihat polos namun begitu kukuh menghadapi kehidupan yang keras.
"Aku sudah bilang kalau aku menyukai mu kan? Aku bersama mu, jadi kau tidak sendirian lagi sekarang." ucap nya yang mengatakan sesuatu yang berasal dari dalam hati nya.
Terdengar manis namun itu sama sekali bukanlah sebuah rayuan.
Anna diam sejenak, ia takut dan ingin keluar lalu berlari sebanyak mungkin namun ia tidak sendiri?
Haruskah ia mempercayai nya?
Ucapan dari pria yang menginginkan bola mata nya, menginginkan nyawa nya dan menginginkan hidup nya.
Apa itu akan sama seperti orang tua angkat nya yang juga mengatakan hal yang sama lalu kembali membuang nya di panti asuhan lagi?
Tapi itu bukan kalimat yang buruk untuk seseorang yang berharap menginginkan sandaran walau tak pernah terucap di dalam mulut nya.
"Aku tidak akan meninggalkan kan mu, jadi jangan khawatir kalau kau merasa akan sendirian lagi?" ucap Lucas pada gadis remaja yang tentu masih memiliki sisi yang rapuh.
Ia menyandarkan gadis itu dalam pelukan nya, mendekap nya untuk sesaat tanpa bisa mengatakan kata yang rayuan yang manis atau bujukan yang menggoda karna ia tak tau bagaimana cara nya.
Tangan yang besar dan kekar itu mengusap punggung kecil gadis remaja itu, terasa lembut dan wangi harum dari aroma tubuh dan parfum pria itu merasuki indera penciuman nya, detakan jantung yang terdengar di telinga nya bagaikan dentuman musik yang membuat nya tenang untuk sesaat.
Tidak sendiri? Itu bukan sesuatu yang buruk...
Ia membenci nya namun ia tau jika tak pernah ada siapapun yang berpihak di sisi nya sebelum nya ia bertemu dengan pria gila yang entah hanya memiliki obsesi atau cinta pada nya.
Mata biru itu mulai mengantuk, sekeras apapun hati nya dan seberapa keras ia terlihat kuat namun ia juga masih gadis remaja yang bahkan belum menamatkan sekolah menengah atas nya.
__ADS_1
"Tentu kau tidak sendirian kau milik ku. Sekarang, di masa depan, dan bahkan di kematian mu..." ucap nya lirih yang berbisik di telinga gadis itu sembari mencium helaian rambut panjang bergelombang itu.
...
5 Minggu kemudian.
Anna memalingkan wajah nya saat para medis itu datang pada nya.
Ia memundur, dan tak ingin satupun dari mereka menyentuh nya. Ia tak tau apa yang salah dengan nya sampai tak di bolehkan kembali hingga sekarang.
Semua orang menutup mulut nya bagai tak memiliki lidah.
Pria yang setiap hari selalu ia tunggu datang ke kamar perawatan nya tak pernah mengatakan apapun tentang apa yang di lakukan para dokter itu.
Setiap kali segerombolan orang-orang berwajah datar dan mengenakan jas putih itu datang maka akan ada sesuatu yang di berikan pada nya.
Memang awal nya tidak terasa sakit sama sekali saat pemberian bahan yang tak ia tau itu masuk ke dalam tubuh nya namun setelah nya?
Rasa mual, pusing, nyeri dan mengigil mulai ia rasakan.
"Pergi," ucap nya yang melihat ke arah orang-orang berjas itu.
Tak ada satu pata kata yang di tujukan untuk menenangkan nya. Tatapan mata yang dingin tanpa emosi seperti tidak memandang nya bagaikan manusia melainkan bagaikan objek yang harus segera di selesaikan.
dr. Serena mengarahkan mata nya setelah melihat ke arah dokter lain karna ia memang yang memiliki pangkat lebih tinggi di bandingkan tenaga medis lain di tempat itu.
Greb!
"Lepas! Aku bilang kan ga mau!"
Awal nya ia memang menerima namun kini ia memulai melakukan pemberontakan, ia tak tau apa yang salah namun rasa sakit yang memuakkan itu bahkan belum hilang sama sekali.
Tak ada satu pun yang bicara pada nya ataupun mendengarkan nya karna semua yang berada di tempat itu sudah berada dalam kendali perintah dari seseorang.
Hanya satu lirikan dan kode mata yang terlihat maka seseorang akan langsung mengeluarkan satu ampul dan spuit nya.
Mata biru itu menatap menyilang dengan tajam, ia menoleh dan berusaha lari dari dua orang pria yang tentu memiliki pekerjaan di bidang medis itu namun kini memegangi tangan nya agar tak berontak.
Ia meringis sejenak, merasakan aliran dari bahan kimia yang tak ia tau itu masuk ke darah nya melalui jarum itu.
Tubuh nya perlahan kebas, ia kehabisan tenaga dan tak bisa menggerakkan nya.
Mata nya menatap sayup, ia merasakan tubuh nya di gendong dan di kembalikan ke atas ranjang nya.
Lidah nya terasa kelu dan kaku, tangan dan kaki nya tak bisa bergerak sama sekali, suara nya terasa hilang bahkan sebelum sampai di tenggorokan nya. Ia seperti terjebak di tubuh nya sendiri.
Suara berisik dari alat dan bahan yang tak ia mengerti masuk ke dalam telinga nya dengan sayup.
Ekor mata yang berwarna biru gelap itu melihat nya tanpa bisa protes sama sekali, mata nya berkedip sesaat ketika melihat jarum yang membuat nya merasa jengah dan memberikan nya rasa takut.
Ujung jarum yang tajam itu mulai menyentuh permukaan kulit putih nya, tubuh nya bergeming.
Tak bergerak sedikitpun karna anestesi yang tertinggal, rasa mengigit mulai ia rasakan saat ujung jarum yang lancip dan kecil itu masuk menembus pembuluh darah nya dan mengalirkan sesuatu yang ia sendiri tak apa itu.
Sekali lagi ia menerima nya, ia tak pernah lupa dengan rasa sakit yang terjadi setiap kali obat yang entah apa nama nya itu masuk ke dalam tubuh nya.
Para dokter yang berada di dekat ranjang nya mengamati setiap reaksi nya, ia merasa benci melihat mata yang hanya memandang nya bagai suatu objek yang harus di perhatikan.
30 menit kemudian.
Orang-orang yang mengenakan jas putih dengan wajah yang datar itu keluar.
Mata biru itu tak bisa terpejam atau tertidur, tentu ia merasakan selimut yang tebal sudah menutup tubuh nya namun rasa dingin menusuk nya hingga ke setiap tulang nya, rasa nyeri yang menyebar bagaikan tetesan pewarna di air yang jernih dan mengubah nya.
🦑🦑🦑
Anna POV
Luc? Dia di mana?
Sakit...
__ADS_1
Kenapa aku sendiri? Dia bilang aku tidak sendirian...
Napas ku mulai terasa berat, orang-orang itu hanya memberikan ku rasa sakit lalu pergi.
Tapi kenapa?
Aku tidak tau alasan nya, tapi bisakah mereka berhenti?
Aku sendirian lagi, rasa nya begitu hening. Tanpa suara apapun selain detakan jam dinding yang menganggu namun membuat ku merasa lebih baik.
Aku takut...
Keheningan ini mungkin sedang menggerogoti ku sama seperti rasa dingin yang ingin masuk menguasai ku.
Luc?
Ke sini...
Aku selalu berpikir aku membenci mu tapi sekarang aku pikir aku membutuhkan mu.
Aku akan kabur kalau aku memiliki kesempatan nanti! Aku yakin itu dan menanamkan nya setiap saat di kepala ku!
Tapi?
Kalau aku kabur dan pergi dari mu berarti aku sendirian lagi?
Bukan nya semua akan kembali seperti semula?
Aku yakin bisa mencintai diri ku sendiri ketika semua orang tidak akan mencintai ku, itu kata-kata yang aku ucapkan untuk membuat ku bisa bertahan.
Dari Mama yang memberikan ku pisau, dari orang tua yang bilang akan menganggap ku seperti putri mereka lalu membuang ku, dan dari Ayah yang bahkan tidak pernah menganggap ku ada.
Tapi ku pikir aku munafik?
Aku membutuhkan seseorang, aku takut sendiri, aku juga ingin mendapatkan cinta.
Jadi aku berharap dari kata-kata itu...
Bayangan itu?
Apa itu kamu?
Ya, dia sudah datang...
Aku tau karna aku sudah hafal aroma nya, aku sudah ingat bagaimana sentuhan tangan nya.
Ujung jemari nya mengusap kepala ku lagi, aku mendengar kata bisikan yang terus dia ucapkan kalau aku adalah milik nya.
Tapi aku tetap milik diri ku sendiri, aku ingin katakan itu tapi tidak ada suara yang keluar dari mulut ku.
Kau milik ku...
Hanya aku yang bersama mu...
Dia terus mengatakan itu, di setiap usapan tangan nya yang membelai rambut ku.
Tapi tak masalah, karna rasa dingin yang menusuk tulang ku akan perlahan sedikit menghilang saat ujung jemari nya menyentuh kepala ku dan mengusap nya.
Keheningan yang menggerogoti ku sekarang mulai berhenti ketika dia bicara dan berbisik walaupun yang dia katakan adalah kata-kata yang ingin mendominasi ku.
Aku tau tapi aku membiarkan nya.
Aku rasa aku sudah mulai gila sekarang?
Mungkin pepatah yang mengatakan jika seseorang akan hidup dengan orang yang cocok dengan nya.
Dan mungkin itu aku?
Aku yang mulai merasa menyukai dan nyaman dengan pria yang gila seperti nya, karna aku juga mungkin sudah kehilangan akal ku.
🦑🦑🦑
__ADS_1