Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Kami berbeda


__ADS_3

JNN Grup


Berita kencan yang melibatkan dua tokoh penting dari perusahaan besar itu tentu nya langsung di ketahui oleh pihak yang berkait.


"Kau sudah lihat? Apa kita hentikan saja artikel nya? Seperti nya wanita itu yang mengirim nya? Atau bukan?" tanya Diego yang menatap ke arah sepupu nya yang masih diam tak mengatakan apapun.


Lucas menarik napas nya, ia meletakan iPad nya dan menyandarkan tubuh nya ke kursi kerja yang nyaman itu.


"Saham kita meningkat 0.54 % bukan nya itu menguntungkan kita?" tanya nya yang tentu memperhatikan perusahaan yang sangat ia sayangi itu.


"Ya, tapi kalau kita tidak hentikan berita nya atau tidak menyanggah akan ada lebih banyak lagi spekulasi seperti ini." ucap Diego pada pria itu.


Lucas diam sejenak, ia tak peduli spekulasi macam apa yang akan keluar, yang ia peduli bagaimana profit perusahaan bisa terus meningkat dan lagi pula ada nya berita seperti itu juga tak akan membuat nya wajib menikahi atau pun berpacaran dengan wanita yang terlibat bersama nya.


"Biarkan saja, lagi pula kalau dia mati skandal nya akan hilang dengan sendiri nya." jawab Lucas dengan wajah tak acuh.


"Kau berencana membunuh wanita itu? Apapun yang akan kau lakukan pada nya akan berubah menjadi skala besar, perusahaan pun bisa jatuh." ucap Diego yang tau wanita yang merupakan satu-satu nya putri sekaligus cucu tunggal dari perusahaan besar itu tak mudah di sentuh.


"Aku tau, maka nya aku membiarkan dia hidup kan? Walaupun dia menyebalkan dan berani mencuri milik ku." ucap Lucas dengan mata yang tajam karena ia sudah tau ke bagian mana dana perusahaan cabang nya teralihkan.


"Apa yang kau rencanakan? Bukan nya aku juga harus tau? Untuk mengambil langkah selanjutnya," tanya Diego pada Lucas karna ia butuh sedikit penjelasan untuk sepupu nya yang terkadang begitu memiliki emosi yang meluap.


"Aku kan sudah bilang, aku akan mengambil semua nya ketika dia berpikir kalau sudah menang." jawab Lucas dengan wajah datar dan tak bisa di tebak apa isi kepala nya.


Diego membuang napas nya, "Baik, kalau begitu bagaimana dengan anak itu? Dia mungkin akan berpikir berbeda tentang isi yang berada di dalam berita."


"Anna? Ada apa dengan nya lagi pula aku juga tidak benar berkencan dengan ular itu kan?" tanya Lucas dengan wajah yang tampak tak merasa akan ada masalah.


Diego tak mengatakan apapun, mana mungkin sepupu nya yang tak memiliki emosi dan sikap sosial itu bisa tau dan peka terhadap wanita?


Ia pun memilih pamit dan keluar dari ruangan kerja sepupu sekaligus atasan nya itu.


............................


Mansion Damian


Mata biru itu menatap ke arah pria yang sejak tadi tak membicarakan apapun bahkan tentang berita yang beredar.


Ia menunggu sampai pria tampan itu membuka mulut nya sendiri namun tak ada yang terdengar tentang pembicaraan itu sama sekali.


"Luc?" panggil Anna yang mencoba mendekat dan bicara lebih dulu.


Lucas tak menjawab namun mata nya langsung menoleh ke arah gadis yang memanggil nya.


"Tadi aku baca berita..."


"Berita nya tentang kamu, tapi berita itu..."


Anna sedikit gugup, mungkin lebih tepat nua takut untuk bertanya atau pun mengemukakan pendapat nya.


"Berita? Yang mana?" tanya Lucas yang bukan pura-pura lupa namun memang banyak yang menulis berita tentang nya atau perusahan nya.


"Yang kamu kencan..."


"Sama Presdir dari Stone Craft," ucap Anna yang tak menyebutkan nama wanita yang ia kagumi itu.


"Oh? Lalu?" Lucas mengernyitkan dahi nya dengan bingung karna bagi nya berita seperti itu tak akan membawa pengaruh untuk hubungan nya dengan Anna.


"Kamu ga mau jelasin apapun?" tanya Anna yang berharap setidak nya pria itu menyakinkan atau menenangkan nya.


"Jangan pedulikan berita itu, aku tidak pernah berkencan dengan nya." ucap Lucas yang menjawab dengan jujur namun dengan wajah yang datar pula.


"Tapi berita nya muncul setelah kalian di foto keluar dari restoran dan ada..." Anna terdiam beberapa saat.


Tentu artikel tak bisa mengeluarkan berita yang asal saja tanpa ada yang asap yang lebih dulu keluar.


"Hotel..." ucap Anna lirih sembari meremas piyama tidur nya.


Lucas diam sejenak, ia menatap ke arah wajah gelisah gadis itu. Tak ada pikiran terlintas jika bagaimana gadis itu pun bisa merasa cemburu atau gelisah seperti diri nya.


"Kau pikir hotel hanya untuk tidur? Kami ke bagian restoran dan di sana juga ada yang menemani jadi bukan hanya kami berdua." jawab Lucas yang menjelaskan.


"Terus kenapa kalian ke restoran?" tanya Anna yang terdengar lirih.


"Dia hanya rekan bisnis ku," jawab Lucas yang tak ingin membicarakan lebih lanjut karna pembahasan nya tentang wanita yang tak ia sukai itu.


"Tapi kenapa berita begitu? Terus ka.. kamu kan bisa berhentikan berita nya..." ucap Anna lirih.


"Kenapa harus di hapus sekarang? Berita itu itu bagus untuk perusahaan." jawab Lucas dengan wajah datar.


Anna terdiam sejenak, di bandingkan dengan sindiran halus ia lebih mengerti dengan ucapan langsung.


Dan kini ucapan kakak kelas nya tentang hubungan orang-orang besar pasti akan memiliki pertimbangan untung rugi.


"Lalu kalian akan menikah?" tanya Anna yang ingat dengan ucapan Gevan jika pernikahan orang yang berpengaruh bukan nya tentang penyatuan dua manusia namun tentang pertukaran bisnis yang mungkin seharga miliaran dollar.


"Menikah? Dengan siapa? Yang akan ku nikahi itu kau." jawab Lucas yang tidak mengatakan janji palsu yang manis namun ia benar-benar ingin melakukan nya.


Karna untuk mendapatkan hak legal agar bisa memiliki dan mengikat seseorang tentu nya dengan pernikahan.


Dan ia akan resmi secara hukum menjadi satu-satu nya wali yang sah untuk gadis itu.


Karna walaupun ia sekarang wali nya namun belum wali sah karna ia tak bisa mengangkat gadis itu menjadi anak nya dalam artian anak asuh.

__ADS_1


"Tapi aku tidak memiliki nilai yang besar," gumam Anna dengan bibir yang hampir tak bergerak dan tentu tak akan terdengar.


"Apa yang kau katakan?" tanya Lucas yang mendekat dan memegang dagu gadis itu.


"Ka.. kalau begitu kamu kan bisa hapus berita nya? Ka.. karna kan kalian ga akan menikah..." ucap Anna yang tersentak dan tanpa sadar mengatakan apa yang berada di kepala nya.


Lucas menarik napas nya, ia memang tak berniat menikahi wanita lain kecuali seseorang yang sedang bersama nya saat ini.


Namun sebagai pebisnis tentu ia akan selalu mengambil sisi rugi untung dan memanfaatkan semua situasi untuk mengubah nya menjadi puing-puing emas.


"Kenapa kau banyak bicara sekali hanya karna masalah seperti itu? Hm?" tanya Lucas yang menggenggam rahang kecil itu dan memperhatikan wajah cantik yang masih terlihat imut dengan tubuh yang kecil itu.


Anna tak mengatakan apapun, mata nya memandang gelisah dan sedikit sayup.


Pria itu tersenyum kecil dengan smirk nya, "Kau gelisah? Karna berpikir aku memiliki hubungan dengan wanita lain?" tanya nya saat melihat ke arah wajah gadis di depan nya.


Anna tak menjawab namun warna biru di bola mata nya langsung bergulir ke arah pria itu.


"Aku..." Anna tak bisa mengatakan apa yang ia inginkan, rasa nya situasi nya yang canggung membuat nya tak bisa mengeluarkan apa yang ada pikiran nya dengan jujur.


"Apapun jawaban mu, aku harap seperti itu." ucap Lucas yang ingin melihat gadis itu gelisah karena nya.


Ia suka melihat kegelisahan itu walau ia tak bisa memahami nya.


Rasa cemburu ia sudah pernah mengalaminya sendiri, namun ia tak peka untuk perasaan orang lain.


Anna bergeming melihat nya, tatapan mata yang tampak tajam dan ujung bibir yang sedikit naik entah bisa di katakan sebagai ciuman atau tidak.


Hmph!


Mata biru itu tersentak, tubuh nya terdorong ke sisi yang melekat dengan dada bidang itu dan rahang nya tertahan dengan ciuman yang mel*mat habis bibir nya.


Anna kewalahan, lidah yang terbelit itu membuat nya kekurangan oksigen sampai membuat nya hampir tersedak.


"Hah!"


Tangan nya kali ini berhasil mendorong kuat pria yang tiba-tiba mencium nya itu.


"Luc? Itu tidak adil! Ka.. kamu bisa makan atau pergi ke restoran sama orang lain ta.. tapi aku tidak..." ucap Anna yang terbata sembari menarik napas nya.


"Sudah ku bilang kami hanya rekan kerja dan bukan nya aku sudah memberi kebebasan yang cukup banyak untuk mu? Kau kuliah dan berjalan di luar mansion ini dengan baik." ucap Lucas yang melihat ke arah gadis yang memliki tubuh yang lebih kecil dan pendek dari nya itu.


Anna sempat terdiam, Ya! Itu benar, jika ia sudah di berikan kebebasan yang cukup banyak jika perbandingan nya dengan keadaan waktu saat ia di kurung di tempat yang bahkan tak memiliki jendela.


"Ka.. kalau begitu kan kamu bisa hapus berita nya," ucap Anna sekali lagi karna hal itu begitu menganggu nya.


Walaupun berita itu tak benar namun khalayak tidak akan mengetahui nya dan yang terlihat seperti perebut adalah ia karena hubungan nya tak di ketahui.


Lucas memejam, ia membiarkan berita itu karna harga saham nya naik dan tentu ada pertimbangan lain nya dari segi seorang pebisnis.


Ia membiarkan nya? Tentu tidak karna ia akan mengambil saham yang di ambil dari nya beserta dengan semua yang wanita itu miliki.


Humph!


Ia kembali menarik tengkuk gadis itu, dan mencium bibir merah muda yang cantik itu.


Lucas menyukai kegelisahan Anna namun ia tak suka saat mendapat permintaan yang seperti perintah.


Karna itu artinya ia sedang di tentang!


Anna tersentak namun tentu tenaga nya bukan apa-apa, tubuh nya di tahan dan napas nya terasa akan habis.


Piyama tidur nya mulai tersingkap, tangan yang hangat itu menyapu punggung dari dalam.


Bruk!


Tubuh nya di arahkan ke ranjang dan di dorong, Anna melihat ke arah pria yang berdiri di ujung ujung ranjang.


Ia tak mengatakan apapun, namun kening nya mengernyit tanda ia tak mau.


Pria itu boleh marah bahkan jika ia hanya berusaha dengan teman kuliah nya, tapi ia tidak boleh?


"Aku ga mau!" ucap nya yang menolak.


Lucas diam tak mengatakan apapun, ia menatap ke arah wajah gadis itu menindih nya.


Tangan nya mencengkram rahang gadis itu dan melihat ke arah mata yang menunjukkan sisi penolakan untuk nya.


"Aku yang memberikan perintah bukan kau, lagi pula berita atau apapun itu kau tidak perlu memikirkan nya." ucap Lucas yang menarik piyama tidur gadis itu secara tiba-tiba.


Sreg!


Piyama itu tak robek namun kancing nya putus sehingga bagian atas tubuh gadis itu terekspos secara langsung karena Anna memang tak mengenakan br* saat malam.


Anna tersentak, ia bungkam tak mengatakan apapun. Ia ragu dan gelisah karena tak ada kata penenang yang bisa masuk ke dalam telinga nya.


Dan memang pria itu bukan lah seseorang yang pandai bersosialisasi serta tak peka dengan perasaan orang lain dan mengerti dengan kata bujukan dan rayuan yang manis.


Membuat nya selalu mengatakan kata yang gamblang tanpa membujuk dengan kata semanis gula.


Dan Anna memilih untuk mencoba percaya karna ia memang tak memiliki sandaran apapun sekarang sekaligus ia yang memang sudah bergantung pada pria itu.


Lucas mulai menyentuh tubuh kecil itu lagi, dan Anna membiarkan pria itu menjamah nya.

__ADS_1


Waktu berlalu, detik berubah menjadi menit, menit sudah berubah menjadi jam.


Serta kondisi ranjang yang awal nya tapi kini sudah berubah menjadi berantakan.


Hah..


Hah..


Hah..


Suara napas berat dan tubuh yang saling beradu itu terdengar, mata biru itu menatap sayup.


Kuku tangan yang kini sudah selalu bersih dan terawat itu mencakar punggung pria yang bergerak di atas nya.


"Ugh!"


Satu leng*han panjang terdengar dan gerakan yang melambat.


"Kau seperti nya lebih suka jika aku tidak menggunakan itu," bisik Lucas dengan napas yang masih terengah-engah.


Anna tak menjawab, memang jika ia membiarkan pria itu melakukan nya tanpa pemberontakan dan tentu ketika pria itu sedang tidak marah dengan nya ia bisa ikut terhanyut.


Dan seperti sekarang ini ketika diri nya menikmati sekaligus merasa gelisah di waktu yang bersamaan.


Lucas tersenyum kecil melihat gadis itu, malam yang panjang saat ia mendapatkan sesuatu yang selalu ia sukai.


......................


Satu Minggu kemudian.


Universitas.


Berita kencan itu semakin naik ke publik, entah memang banyak berminat untuk tau atau karna ada seseorang yang berada di balik nya dan membesarkan nya sehingga mendapatkan perhatian publik.


Anna terdiam, ia sering melamun belakang terakhir dan tentu karna berita yang yang mengganggu nya itu.


Banyak yang membicarakan nya, mengatakan jika hal itu cocok, sepadan dan serasi.


Dan hanya ia lah yang tau jika hal itu tak benar.


"Anna!"


Kali ini gadis itu tersentak saat ada yang memanggil dan menepuk punggung nya di saat yang bersamaan.


"Kau sedang memikirkan berita itu? Maksud ku skandal kencan Sugar mu," ucap Gevan yang bertanya.


Anna diam sejenak, "Tidak. Lagi pula berita itu bohong." ucap nya yang menyanggah.


"Kau ini memang bodoh atau pura-pura bodoh?" tanya Gevan yang mengernyitkan dahi nya.


"Kalau dia memang tidak mau dia akan menghapus nya sejak awal, dia punya kuasa untuk itu." sambung nya.


Anna tak menjawab, jawaban datar yang jujur dari Lucas kini sudah terdengar seperti alasan untuk nya.


"Kenapa kamu selalu bahas itu sih?" tanya Anna yang kali ini membuka suara dan sedikit mengeluarkan emosi nya pada pria di depan nya.


"Kau tau alasan nya kan?" jawab Gevan dengan pertanyaan lain.


Anna menarik napas nya dan beranjak ingin pergi.


"Mungkin saja mereka sedang berada di hotel saat ini? Atau di vila? Ada banyak tempat yang bisa di kunjungi." ucap Gevan yang membuat langkah gadis itu berhenti.


Rasa panas dan sakit memenuhi dada nya, ia takut dan gelisah.


Ia sudah terluka ketika mempercayai seseorang dan ketika ia sudah membuka hati nya masalah seperti ini muncul dengan sendiri nya.


"Kamu bilang suka aku? Terus aku tanya! Memang nya kamu beda dari mereka? Kamu juga sama!" ucap Anna yang kali ini melihat ke arah pria di depan nya.


"Ya, untuk latar belakang ku memang kami sama. Tapi juga mungkin berbeda." ucap nya yang melangkah mendekat.


"Apa? Memang nya beda nya apa?" tanya Anna yang tak menatap dengan mata biru nya yang bergetar.


"Aku bisa membuang latar belakang ku dan juga tidak mengikuti pekerjaan ayah ku. Aku bisa memulai nya dari awal walaupun dari angka nol,"


"Karna aku tidak peduli lagi..."


Ia yang sudah lelah untuk mencari perhatian sang ayah kini memutuskan tak lagi mencoba meraih kasih sayang nya.


"Kau sudah tau apa perbedaan nya?" tanya nya yang mendekat ke arah wajah gadis itu.


Anna tak menjawab karna ia butuh putaran otak yang bekerja keras untuk bisa mencerna kata-kata itu dan mencari jawaban.


"Aku bisa membuang latar belakang ku untuk mu tapi dia tidak akan bisa membuang latar belakang nya untuk mu," ucap Gevan yang memilih mengatakan nya langsung dari pada membuat gadis itu berpikir lama.


Deg!


Anna tersentak dan tak membantah karna ia sudah mencerna jawaban itu.


"Dia memilih menyakiti perasaan mu untuk kenaikan saham perusahaan nya, dan kau berpikir untuk patuh dengan orang seperti itu?" tanya Gevan lagi.


Anna masih tak menjawab, namun pria itu tau apa?


Mungkin ucapan pria yang berada di depan nya saat ini benar namun pria itu juga tak tau luka seperti apa di hati nya yang sudah ia lewati.

__ADS_1


"Itu urusan ku!" ucap Anna dengan suara yang gemetar dan terasa tercekat di tenggorokan nya.


__ADS_2