
Anak lelaki itu terdiam, ia mematung melihat ke arah ibu yang begitu memperhatikan putra nya itu sedangkan ibu nya bahkan tak pernah tertarik pada nya.
"Kenapa kamu berdiri di sana?"
Wanita itu mendekati nya dengan senyuman yang lembut.
Mata yang biru dan rambut yang pirang kecoklatan sedikit ikal namun lebih dominan lurus.
Ia menatap ke arah wanita itu, menengandah ke atas agar bisa melihat wajah cantik yang tersenyum pada nya.
Wajah yang terhalang sinar mentari membuat nya perlahan melupakan wajah itu.
Ia tak ingat bagaimana, namun yang jelas nya wajah itu tersenyum pada nya.
"Nah? Sekarang sudah rapi kan? Anak laki-laki itu harus tampan!" ucap wanita itu dengan tawa kecil namun tangan nya begitu telaten ketika merawat anak-anak kecil itu walau usia nya masih begitu muda.
Ya!
Itu memang pilihan nya, memilih untuk mengorbankan masa remaja nya yang tak pernah akan bisa di ulang lagi.
"Sini? Kita mau pergi ke taman bermain?" tanya nya menawarkan pada kedua anak lelaki tampan itu yang terlihat menggemaskan.
Pipi yang bulat, wajah yang cubby dengan mata yang jernih dan masih begitu polos.
"Mau naik kuda-kudaan!" ucap nya yang menyebutkan lebih dulu padahal ia yakin wanita itu ingin mendengar permintaan putra nya.
Wanita itu melirik ke arah putra nya yang diam saja, begitu pendiam dan tak mengatakan apapun yang ia inginkan.
"Iya! Kita main komedi putar lebih dulu!" ucap nya yang langsung mengajak kedua anak kecil yang masih berumur lima tahun itu untuk pergi dengan nya.
"Hole!" suara yang terdengar riang walau masih celat.
Ia memegang tangan yang lebih besar dari nya itu dan mengikuti wanita itu.
...
Deg!
Mata pria itu langsung terbuka, ia tiba-tiba memimpikan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Tubuh nya langsung bangun, ia mengambil air es yang dingin dan meminum nya walaupun ia baru saja terbangun.
Pria itu memilih untuk mandi, menyegarkan diri nya karna ia pikir ia memimpikan hal yang aneh karna tak membersihkan diri lebih dulu saat pulang kerja dan memilih untuk langsung tidur.
"Aku bahkan sudah lupa wajah nya seperti apa..." gumam nya lirih yang mengingat wanita yang datang di mimpi nya barusan.
"Apa karna Luc mengungkit nya? Aku jadi ingat lagi?" ucap nya yang sembari membiarkan air yang keluar dari shower itu jatuh ke tubuh nya dan membuat tubuh bidang nya terguyur.
......................
Rumah Mr. Harris
Samantha menjatuhkan diri nya ke atas ranjang yang empuk itu, mata nya terbuka dan ia pun memikirkan apa yang baru saja ia dengar.
Gadis itu bingung, pembicaraan yang bahkan tak pernah ia sangka akan keluar dari kedua orang tua nya.
"Adopsi? Anak? Papa punya anak lain? Jangan-jangan Papa selingkuh dari Mama?!" ucap nya yang mulai memikirkan hal lain sesuai dengan dugaan-dugaan nya.
"Ga! Ga mungkin juga Papa selingkuh dari Mama!" ucap nya yang kembali menggelengkan kepala nya.
Namun tentu hal tersebut tak membuat nya tenang sama sekali, ia gelisah dan takut dengan rasa kekhawatiran yang penuh karna tak ingin keluarga bahagia nya menghilang begitu saja.
......................
Mansion Damian
Anna merentangkan seluruh tubuh nya yang masih dingin dan lembab karna baru saja selesai mandi tadi.
Wajah nya memerah, mata biru nya bersinar lebih terang dan ia pun yang langsung menutup mata nya dengan pikiran yang kotor tentang apa yang baru saja ia lakukan.
"Tunggu!" gumam nya lirih.
"Aku masih perawan kan?" sambung nya yang bingung karna mengingat tentang selain servis yang ia berikan untuk pria itu ia juga mendapatkan hal yang lain nya pula.
"Tapi kan tadi ga ada masuk, berarti aku masih..." gumam nya lirih yang berusaha mengingat dan yakin jika tak terjadi apapun pada nya.
...
Pukul 01.34 am
Pintu kamar itu terbuka, gadis remaja yang tampak tidur dengan nyaman dan lelap itu berbalik dan mengeluarkan suara dengkuran halus.
Hangat...
Mama, maaf Mah...
Jangan pergi lagi...
Kelopak mata itu tampak begitu pulas dengan bulu mata yang melengkung ke atas.
"Kau memimpikan apa lagi?" gumam nya yang seperti mendapatkan kegemaran baru untuk datang malam-malam ke kamar gadis itu.
Gadis yang tertidur pulas itu meraih tangan nya lagi, memegang nya dengan erat seakan tak ingin melepaskan nya.
Sedangkan tangan nya yang lain mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
Sesuatu yang bagaikan objek terindah untuk ia amati, satu-satu nya keindahan yang bisa ia nikmati.
"Benar, kau milik ku..."
"Aku akan hancurkan segala nya yang menganggu mu," gumam nya sembari mengecup kepala gadis itu.
Pukul 03.46 am
__ADS_1
Gadis itu terbangun sejenak dalam tidur nya, ia tersentak dan berada dalam tahap antara sadar dan tidak.
Mata nya yang segaris itu berkedip melihat pandangan yang mengabur seseorang yang berada di samping nya sembari menggenggam tangan nya.
Dia?
Apa dia juga muncul di mimpi ku?
Ku rasa ini mimpi buruk...
Rasa kantuk yang teramat sangat membuat Anna kembali tertidur, ia tak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak saat ia tengah berada dalam fase bayangan nya.
...
Pagi hari nya
Mentari mulai meninggi, menyebarkan separuh dunia dengan sinar cerah nya yang hangat.
Mata jernih yang berwarna biru itu mulai terbuka, pandangan nya masih mengabur namun ia tak bisa tidur lagi karna sudah kebiasaan nya bangun di jam tertentu lalu memulai aktifitas nya.
"Hum?" ia menoleh ke samping tempat tidur nya.
Bantal nya kosong tak ada seorang pun, gadis itu pun terdiam sejenak.
"Berarti semalam cuma mimpi?" gumam nya yang merasa tadi malam melihat seseorang di samping nya.
Anna pun langsung bergegas, ia memang tak ke sekolah hari ini karna libur namun ia ingin melakukan sesuatu yang menarik lain nya.
...
Lucas mengernyit, ia menoleh ke arah jendela yang berada di dekat ruang kerja.
"Apa yang dia lakukan?"
Gadis yang tengah berjongkok dan menggali tanah sembari memasangkan kembali bunga yang baru.
"Dia sekarang jadi tukang kebun?" Lucas bertanya-tanya namun tentu tak akan ada yang menjawab pertanyaan nya.
"Apa yang kau lihat?"
Suara yang membuat Lucas langsung tersadar jika sepupu nya itu berada di mansion nya karna masalah pekerjaan.
Lucas tak menjawab, namun ia kembali fokus dengan apa yang ia kerjakan tadi nya.
"Kau benar-benar menyukai anak itu?" tanya Diego sekali lagi pada teman nya itu.
"Bukan urusan mu," jawab Lucas ketus.
"Mungkin aku bisa bantu," jawab Diego dengan senyuman kecil pada sepupu nya itu.
Ia mencoba bercanda walau selalu garing, agar tak begitu memiliki waktu yang menegangkan.
"People who have never been in love really know what?" ucap Lucas lirih.
Ia sangat tau jika sepupu nya itu hanya lah seorang play boy namun tak pernah jatuh cinta.
Lucas menarik napas nya, ia menoleh dan menatap ke arah sepupu nya dengan helaan yang malas.
"Who is she?" tanya nya yang menggeleng tak mempercayai nya.
Diego memutar mata nya ke atas seperti mencoba mengingat seseorang.
"Hm? Maybe your Mom?" jawab nya dengan senyuman sumringah seperti biasa.
"Crazy!" sahut Lucas dengan nada geli mendengar nya.
Ia tak lagi bertanya, banyak berbicara dengan sepupu nya hanya akan membuat nya merasa semakin cepat gila.
"Keluar, pekerjaan mu sudah selesai kan?" tanya nya pada pria itu.
Diego pun menarik napas nya dan menunduk sekilas kemudian ia langsung melangkah keluar.
Sedangkan Lucas bangun dari kursi nya dan memilih untuk semakin memperhatikan gadis yang saat ini merangkap menjadi tukang kebun dadakan.
......................
Sementara itu.
Samantha menatap ke arah pria yang hilang beberapa waktu dan kemudian menghubungi nya kembali lalu setelah itu membawa nya pergi.
"Kita mau kemana?" tanya nya sembari meminum susu yang memiliki rasa pisang itu.
Ia menoleh ke arah beberapa hotel yang sudah lewat sejak tadi.
"Kita ga ke sana?" tanya gadis itu yang menatap bingung melihat ke arah pria yang membawa nya.
"Ku pikir lebih baik kita liburan kan? Kau mau ke mana?" tanya nya dengan senyuman yang biasa ia berikan.
Samantha mengernyit, ia bingung mengapa pria itu mengajak nya liburan ke tempat yang berbeda.
"Kalau begitu berhenti! Berhenti di sini!" ucap nya yang tak ingin mobil itu kembali melaju lagi.
Diego tak mendengarkan, ia tetap melajukan mobil nya seperti yang ia lakukan.
Sedangkan Samantha yang kesal pun langsung menarik stir nya dan membuat mobil mewah itu berganti secara paksa.
"Kau gila! Kita bisa mati!" ucap Diego yang langsung memarahi gadis cantik itu.
"Kamu yang gila!" jawab Samantha yang tak menggunakan bahasa yang formal seperti ketika ia bermain di atas ranjang dengan pria itu.
"Aku kan ga mau pergi! Lagi pula kamu juga ga punya hak buat atur aku!" sahut Samantha yang langsung keluar dari mobil pria itu.
Diego berdecak, ia ingin membawa gadis pergi karna tak ingin Lucas mulai menargetkan nya juga seperti kedua orang tua nya.
__ADS_1
Sedangkan Samantha yang sudah terlanjur kesal langsung menghentikan salah satu taksi yang lewat dan menaiki nya.
Diego terdiam di dalam mobil nya, ia tak mengatakan apapun dan hanya terdiam untuk beberapa saat.
......................
Rumah Mr. Harris
Samantha kembali pulang ke rumah nya, rumah yang saat ini tak lagi memberikan ketenangan untuk nya.
"Kau mau bilang apa sama Sam? Ha?!"
"Sam? Maaf sebenarnya kamu sama teman mu itu saudaraan karna dulu Papa selingkuh sama Mama kamu!"
"Kamu mau bilang begitu sama dia! Mikir kamu!"
Deg!
Langkah gadis itu terhenti, kaki nya seperti menancap di tanah mendengar nya.
"Cukup! Kamu tidak perlu ikut campur! Kamu ini kenapa sih? Dulu kamu itu tidak seperti ini! Kenapa sekarang jadi-!" ucap Mr. Harris menimpali ucapan sang istri yang ia rasa begitu menjengkelkan.
"Kamu yang kenapa?! Tiba-tiba peduli sama anak itu lagi! Padahal dulu kamu ga pernah tuh mau pedulikan dia!" ucap nya yang tak terima dengan sikap sang suami.
"Karna dulu dia punya Lyn!" jawab Mr. Harris mencari pembenaran atas sikap ketidak pedulian nya.
"Lyn! Lyn! Terus! Kenapa sih terus sebut nama perempuan mati itu?!" tanya nya yang begitu kesal mendengar nama mantan sahabat nya itu dulu sebelum ia merebut suami sahabat nya sendiri.
"Anak jal*ng itu kenapa juga masih hidup?!" gerutu Mrs. Laura yang merasa begitu kesal.
"Dia punya nama! Anna! Maurenne Arianna! Jangan menyebut nya dengan nama seperti itu!" ucap Mr. Harris saat mendengar istri nya yang menyebutkan nama yang di buat olah sang mantan istri dengan nama rendahan.
"Cih! Kamu juga baru tau nama nya sekarang kan?" tanya Mrs. Laura menatap kesal ke arah sang suami.
"Kamu tidak merasa bersalah apa? Kalau di pikir lagi dia itu mati karna kita!" ucap Mr. Harris membentak sang istri.
"Kita? Salah dia lah! Kenapa dulu dia itu ga mau ceraikan kamu! Seharus nya yang marah itu aku! Gara-gara dia kita jadi terlambat menikah!" ucap Mrs. Laura yang membalik kenyataan nya seperti ia lah yang menjadi korban yang begitu kejam.
Tak!
Kedua pertengkaran itu terhenti, dua pasang mata itu langsung tertuju pada sumber suara namun tak menemukan apapun.
Akhirnya kedua nya bungkam dan kembali pada aktifitas masing-masing.
...
Mata gadis itu berair, ia terdiam dan bungkam tak bisa mengatakan apapun.
Lidah nya kelu, ia mengingat perkataan yang di katakan oleh teman nya itu.
Ayah ku masih hidup, dia punya kehidupan yang sangat baik.
Setelah selingkuh dari ibu ku dan meninggalkan kami lalu dia sangat bahagia dengan keluarga baru nya itu.
Itu alasan nya kenapa aku tidak bisa berteman dengan mu lagi
Setiap lihat kamu, aku jadi ingat sama ayah ku, Sam
"Jadi ini maksud nya?" gumam nya yang tanpa sadar menangis.
Ia tak tau namun ia merasakan sesuatu yang sensitif di dada nya membuat nya menjatuhkan buliran bening itu.
...
Samantha melihat ke arah sang ibu yang duduk di kursi panjang yang terlihat santai sedangkan sang ayah pergi entah kemana.
"Mah?" panggil nya yang duduk di samping itu nya.
Mrs. Laura pun menoleh, ia tersenyum tipis menatap ke arah putri cantik nya yang datang pada nya.
"Kenapa sayang?" tanya nya yang mencoba tenang dan selalu menjadi ibu yang baik untuk gadis itu.
"Dulu waktu Mama sama Papa ketemu gimana sih Ma?" tanya nya pada sang ibu.
Mrs. Laura terdiam sejenak lalu melirik ke arah putri nya.
"Anak Mama tumben tanya begitu?" ucap nya yang mencubit hidung putri nya.
"Penasaran Ma," jawab Samantha singkat pada ibu nya.
Mrs. Laura diam sejenak dan kemudian berpikir.
"Kami itu dulu cuma teman kok, terus karna sering ketemu jadi cocok." ucap Mrs. Laura pada putri nya yang mengatakan tentang awal mula nya.
Samantha tak mengatakan apapun lagi, ia diam sejenak.
"Ma? Kalau misal nya Papa selingkuh dari Mama, Mama marah ga?" tanya nya pada sang ibu.
Mrs. Laura mengernyit, situasi rumah saat ini sedang panas dan putri nya malah menanyakan sesuatu yang membuat nya emosi.
"Kamu kenapa sih? Tanya yang aneh-aneh? Mending kamu tidur sekarang." ucap nya pada putra nya.
"Aku kan tanya Ma, Kalau Papa selingkuh Mama marah atau ga?" tanya nya nya lagi mendesak sang ibu.
"Marah lah! Kamu ini nanya yang aneh-aneh aja! Mana ada perempuan yang ga marah kalau pasangan nya selingkuh?" tanya Mrs. Laura menimpali.
Samantha terdiam, ia menatap sang ibu yang mengatakan demikian.
"Terus kenapa Mama mau jadi selingkuhan?" tanya nya lirih yang menatap lurus tanpa wajah yang bisa ia baca.
Mrs. Laura tersentak mendengar nya, putri nya bisa berkata demikian.
Plak!
__ADS_1
Samantha tersentak, ia tidak tau sang ibu yang tak pernah memarahi nya akan menampar nya hari ini.
"Jaga ucapan kamu! Kamu itu ga tau sopan santun?! Kamu lupa lagi bicara sama siapa?" tanya Mrs. Laura yang begitu marah mendengar ucapan putri nya.