Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Trauma


__ADS_3

"Hey? Kita mau ke mana lagi?" tanya nya lagi pada gadis itu.


Anna masih terdiam, tak menjawab atau menggubris nya, ia tak menyangka pria itu akan menuruti saja dengan apa yang ia katakan.


"Cumi!" panggil Lucas lagi saat melihat gadis itu yang masih diam.


"Ha? Eh? Iya?" Anna tersentak membuat nya seperti linglung dan menatap ke arah pria itu lagi.


Tak!


Lucas menjentik dahi gadis yang tak mendengar nya hingga membuat Anna meringis.


"Sa...sakit..." jawab nya lirih yang mengusap dahi nya dengan satu tangan sedang tangan lain nya tengah berada dalam genggaman pria itu.


"Kita mau kemana? Kau yang mengajak ku, jangan bilang kau tidak tau kita mau ke mana,"


"Festival budaya, tahun ini kan ada!" ucap nya dengan senyuman yang khas membuat mata nya menyipit namun sinar biru tak bisa di padamkan.


Lucas tak mengatakan apapun, ia diam namun ia tetap menuruti apa yang di minta oleh gadis itu.


......................


Mata biru itu bersinar, memang awal nya ia yang ingin membawa pria itu keluar namun ia salah.


Bukan pria itu yang terhibur melainkan diri nya sendiri. Anna tenggelam dalam kekaguman nya dan malah ia yang bermain di festival itu layak nya anak remaja seusia nya hingga lupa dan melepaskan pegangan tangan nya sedangkan Lucas?


Pria itu merasa sesak, ia tak pernah masuk ke kerumunan sebanyak dan membuat nya merasa sesak.


Terlalu banyak wajah abstrak yang tak bisa ia lihat, terlalu berisik hingga membuat telinga nya terasa peka.


Aroma yang menyengat masuk ke dalam indera penciuman nya selain darah, bayangan absurd dengan warna yang tak bisa ia ketahui.


"Hah..."


Ia menarik napas nya, gadis itu entah sudah pergi ke mana bermain tanpa memberi tau nya dan meninggalkan nya sendirian di tempat yang tak ia sukai dan bisa di katakan bukan tempat untuk orang seperti nya.


"Sir?"


"Sir!"


Greb!


Lucas tersentak, gadis itu datang di antara ratusan bahkan ribuan orang yang tak bisa ia lihat.


Mata biru yang jelas dan jernih, wajah yang tampak begitu sempurna menatap nya dengan khawatir.


Tangan yang memiliki jemari yang kecil memegang tangan nya dengan erat memberikan rasa hangat yang membuat nya tenang.


Ia tak tau jika berada di tempat ramai secara mendadak akan membuat nya merasa tercekik.


Lucas menarik tangan gadis itu dan memasukkan nya ke dalam pelukan nya, "Kau kemana? Aku ingin membakar tempat ini..." gumam nya lirih.


Sedangkan Anna yang tampak bingung dengan mata bulat nya yang berkedip sekaligus membawakan permen kapas yang besar di tangan nya.


"Kenapa mau di bakar Sir?" tanya Anna lirih saat pria itu memeluk nya.


Lucas tak menjawab, ia tak suka tempat yang sangat ramai seperti itu namun ia merasa baik-baik saja ketika gadis itu memegang tangan nya.


Pria itu melihat ke arah apa yang di pegang oleh gadis itu.


"Itu apa?" tanya nya melihat ke arah sesuatu yang mengambang seperti awan di tangan gadis itu.


Anna menoleh ke arah pandangan pria yang menunjuk ke permen kapas nya.


"Makanan, anda mau coba Sir? Rasa nya enak!" ucap nya tersenyum yang kembali dengan membawa makanan manis itu.


"Tidak, bentuk nya saja sudah seperti itu." jawab nya enggan karna di dalam pandangan nya bentuk dari permen kapas itu tak menggugah selera sama sekali.


"Kenapa? Kan lucu!" jawab Anna yang melihat ke arah permen kapas berbentuk bundar dengan warna merah muda itu.


"Lucu? Lucu apa nya?" tanya Lucas mengernyit.


Rasa mual nya hilang saat gadis itu datang, kini ia hanya melihat ke wajah yang terlihat tersenyum pada nya dengan cerah dan mata yang berseri. Seluruh perhatian nya kini sudah tertuju pada gadis itu tanpa memikirkan sekeliling nya lagi.


"Anda tau tidak kalau ini warna nya mirip dengan bekas hisapan yang sering anda buat tapi warna nya lebih muda sedikit lagi." ucap Anna pada pria itu.


"Lebih muda? Seperti warna bibir mu?" tanya nya pada gadis itu.


"Bibir saya? Memang nya warna nya seperti ini?" tanya Anna bergumam melihat ke arah permen kapas yang ia bawa.


Lucas tak mengatakan apapun, ia hanya melihat ke arah gadis itu tanpa mengatakan apapun.


"Ini, coba ini!" ucap Anna yang mengambil sebagian permen kapas itu dan memberikan nya pada pria yang ada di depan nya.


Lucas bergeming, ia tak membuka mulut nya sama sekali dan menatap lurus dengan wajah datar.


"Ih makan!" ucap Anna yang merasa pegal melihat pria itu tak memakan sama sekali apa yang ia berikan.


Lucas tersentak, ia tak tau gadis itu akan tiba-tiba berani sekali memasukkan makanan nya ke mulut nya secara paksa tiba-tiba.


"Enak kan?" tanya Anna tersenyum.


Pria itu diam tak mengatakan apapun, permen kapas itu masuk dan menghilang di dalam mulut nya dalam sekejap dan hanya meninggalkan rasa manis.


"Anda mau lagi?" tanya nya Anna yang menyobek lagi permen kapas di tangan nya.


Lucas tak menjawab namun terlihat dari wajah nya ia tak jadi marah.


"Ini," ucap Anna lagi yang kembali memberikan nya pada pria itu.


Lucas membuka mulut nya kali ini, rasa berbeda. Entah karna ia tak pernah makanan seperti itu sebelum nya atau karna kini ia makan bersama dengan seseorang.


"Sini aku saja yang pegang," ucap nya pada gadis itu yang mengambil permen kapas di tangan gadis itu.


"Hum?" Anna menoleh, ia menatap pria yang merebut permen kapas nya.


Ia tak memprotes, tangan nya beranjak kembali menggenggam tangan pria itu dan membawa nya lagi berkeliling melihat ke seluruh acara festival yang tampak meriah.


"Sir? Sa..." ucap nya yang terdiam tak jadi bicara melihat permen kapas nya kini tinggal tangkai nya.


"Kok di habisin?!" tanya Anna dengan raut kesal tanpa sadar.


Lucas tak mengatakan apapun, ia melihat tangkai permen kapas yang sudah habis itu dan melihat ke arah wajah yang tampak kesal di depan nya.


"Akan ku belikan yang baru," ucap nya yang membuang tangkai tersebut ke tempat sampah yang terdekat.


Anna membuang wajah nya kesal, ia menatap pria itu sekilas dan ingin menyembunyikan nya lagi.


Humph!

__ADS_1


Ciuman singkat dengan lum*tan yang singkat juga memberikan sensasi manis yang tertinggal di dalam mulut pria itu dan mentransfer nya sebentar.


"Aku belikan lagi nanti," ucap nya yang menyentuh bibir basah gadis yang tampak begitu terkejut akan sikap nya yang tiba-tiba mencium di tempat umum.


"Sir!" keluh Anna langsung.


"Iya?" jawab Lucas dengan wajah datar seperti tak melakukan apapun.


"A..Anda kenapa, bi..bibir nya..." ucap Anna lirih yang menyentuh bibir nya sembari menundukkan pandangan nya.


"Yang tadi ciuman kan? Aku kan bukan mengigit mu, dan lagi juga banyak yang melakukan nya di sini." ucap nya yang menunjuk dengan dagu ke arah pasangan yang juga melakukan hal yang sama seperti apa yang baru mereka lakukan tadi.


"Kita ciuman?" tanya Anna yang mengulang.


Ia tak pernah menganggap pangutan pria itu sebagai ciuman karna Lucas sejak awal mengatakan jika ingin memakan nya.


"Menurut mu?" Lucas bertanya seperti ingin gadis yang menjawab nya.


Anna menggeleng, ia menunduk dengan wajah yang memerah saat sadar jika ia berarti sudah terlalu banyak berciuman dengan pria itu.


"Sekarang kau jadi cumi-cumi rebus," ucap Lucas yang melihat perubahan warna di wajah gadis itu.


Anna menoleh, ia menatap pria yang dengan bibir enteng terus mengatai nya.


"Me..memang nya anda tau warna kepiting rebus?" tanya Anna yang mengelak dengan wajah nya yang terasa panas.


Lucas tak mengatakan apapun dan tak menjawab nya, ia hanya kembali menggenggam tangan gadis itu dan membawa nya ke tempat yang menjual permen kapas lagi.


......................


Dua Hari kemudian


JNN grup


Pria itu tersenyum sesekali di rapat yang ia ikuti, ia merasakan selalu merasakan sesuatu yang baru semenjak bertemu dengan gadis remaja itu.


Beberapa hari yang lalu ia memang pergi mengikuti apa kemauan gadis itu, tak ada warna yang bisa ia lihat dan tak ada wajah yang dapat ia ketahui selain wajah gadis itu namun entah mengapa ia merasa nyaman.


Perasaan dan suasana yang berbeda membuat nya merasa memiliki ruang tersendiri yang berbeda.


Para dewan yang mengikuti rapat pun terlihat semakin takut melihat senyuman yang terlihat bak predator menemukan mangsa nya itu.


...


Diego meletakkan laptop nya di meja pria itu, ia menatap sepupu nya yang tampak sering berseri-seri sekarang.


"Terjadi sesuatu?" tanya nya yang menatap heran dengan pria yang tadi tersenyum sendiri itu.


"Tidak ada," jawab Lucas singkat dengan wajah yang kini kembali datar.


"Terus? Kenapa kau tersenyum? Itu jadi mengerikan." ucap nya menatap ke arah Lucas lagi.


"Memang nya ada yang salah dengan senyuman ku? Dan lagi pula aku juga tidak merasa tersenyum." ucap nya yang tak sadar akan perubahan ekspresi wajah nya.


"Anna lagi?" tebak Diego sembari mendekat ke arah pria itu.


Lucas memundur, ia tak suka berdekatan dengan jarak yang dekat dengan orang lain.


"Sana, hush!" ucap nya yang mengibaskan tangan nya seperti mengusir ayam yang datang.


"Anna lagi kan? Iya kan?" tanya Diego yang tak menyerah.


"Hm, kami pergi ke festival kemarin." jawab nya yang tak mengatakan apapun.


"Kencan? Aku?" tanya Lucas mengernyit yang tampak tak mempercayai nya.


"Ya, tentu!" jawab Diego dengan nada yang penuh keyakinan.


Lucas terdiam, ia tak mengatakan apapun namun terlihat berpikir.


"Kau benar-benar menyukai anak itu..." sambung Diego sekali lagi.


Lucas masih tak berkomentar memberi tanggapan, ia menatap pria itu dan membuang napas nya lirih, "Keluar dan belikan aku apa itu yang mengembang dan hilang saat di makan," ucap nya yang memilih tak mengatakan apapun tentang godaan pria itu.


"Mengambang dan hilang ketika di makan?" tanya nya dengan bingung.


"Ya," jawab Lucas singkat,. "Dan rasa nya manis." sambung nya lagi.


"Permen kapas?" tanya Diego mengulang dengan bingung.


"Ya, jangan tanya dan cepat bawa itu untuk ku." ucap nya memberi perintah.


Diego bingung namun ia memang tak bertanya dan beranjak mencari apa yang di inginkan sepupu sekaligus atasan nya itu.


Setelah beberapa saat.


Kini makanan manis itu sudah ada di depan nya, ia menatap ke arah makanan yang manis itu dan membuka bungkusan yang menjaga makanan nya.


"Hm?" Lucas mengernyit.


Rasa nya berbeda dari apa yang ia makan kemarin.


Kemarin rasa nya terasa begitu manis seperti saat memakan bibir gadis itu namun kini tidak terasa apapun.


Memang tetap manis namun entah mengapa tak seenak yang di berikan gadis itu sebelum nya.


"Rasa nya beda?" gumam nya yang tak merasakan apa yang seperti ia rasakan sebelum nya.


...


Sementara itu, map yang berisi tentang informasi yang ia inginkan sudah di berikan dan selesai.


Diego membuka nya lebih dulu dan melihat nya. Ia kini sudah mengetahui siapa ayah gadis remaja yang di sandera oleh sepupu nya.


Dan kini ia tinggal mencari di mana pria itu tinggal dan dengan siapa sekarang dia hidup serta bagaimana keseharian nya.


Deg!


Ia tersentak, seseorang yang ia cari ternyata berkaitan juga dengan orang yang ia kenal.


"Mereka bersaudara?" gumam nya yang terkejut setelah melihat hasil dari yang ia temukan.


Pernikahan yang di langsungkan tiga hari setelah istri sah nya meninggal dan membuang putri kandung nya yang lain ke panti asuhan di umur 10 tahun.


Diego terdiam sejenak, ia sangat mengenal sepupu nya itu seperti apa dan walaupun Anna tak mengatakan ia ingin menghancurkan seseorang namun mungkin akan berbeda di pandangan pria psikopat itu.


Diego membuang napas nya lirih, ia sedikit memanipulasi data nya tentang keturunan bersama selingkuhan ayah dari gadis itu.


"Ck!" decak nya yang merasa bingung karna tak rela jika teman ranjang itu mungkin akan terluka.

__ADS_1


......................


Sementara itu.


Pria itu terdiam, ia membatu melihat seseorang yang tampak seumuran dengan putri nya dan sangat mirip dengan wanita sangat yang ia kenali.


"Pa?"


Suara itu tak lagi terdengar wajah nya tampak begitu terkejut dengan pandangan yang melihat ke lurus ke arah gadis remaja di samping putri nya.


Greb!


"Papa!"


Panggil Samantha yang tampak langsung memegang tangan sang ayah hingga membuat Mr. Harris terkejut.


"Papa kenapa ngelihatin Anna aja?" tanya Samantha yang melihat sang ayah dengan dahi mengernyit karna ia tau teman nya sudah tak nyaman.


"Lyn? Marrlyn?" panggil nya mengulang tanpa sadar yang menyebut nama wanita yang pernah ia hancurkan itu.


Dan ia tak tau jika gadis remaja itu memiliki hubungan darah dengan nya atau tidak karna ia juga tak ingat wajah putri nya sendiri. Namun ia masih begitu ingat dengan wajah mantan istri nya.


Dan gadis itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan mantan istri nya itu seperti duplikat yang hanya berbeda gaya dan usia saja.


Anna mengernyit, seseorang memanggil nama ibu nya dan bahkan tau nama panggilan dekat sang ibu.


"Anda mengenal ibu saya?" tanya Anna lirih.


Mana ia tau wajah ayah yang tak pernah bersama nya karna selalu pergi itu.


Deg!


Bagai terkena Sambaran petir di siang hari pria itu tersentak.


Jujur ia merasa sangat terkejut. Ia tak menyangka akan bertemu anak yang sudah ia anggap mati selama bertahun-tahun karna istri nya saat ini yang mengatakan langsung jika putri nya yang lain itu sudah tidak ada.


"Pa?" tanya Samantha yang langsung memapah sang ayah yang tampak lemas seketika itu.


"Papa kenapa?" tanya nya pada sang ayah dengan khawatir.


"Ti..tidak..."


"Pa..papa baik..baik saja..." jawab nya yang terlihat seperti tak biasa.


Anna menatap bingung, "Anda perlu istirahat Sir?" tanya nya sekali lagi.


Mr. Harris terdiam, ia memang sedikit merasa bersalah saat mantan istri nya itu meninggal namun ia melupakan nya dan tak ingin mengingat hal itu lagi agar kehidupan nya tak terganggu.


Ia pun juga berusaha mencari pelampiasan lain dengan mencari kesalahan sang mantan istri, seperti sulit dan lama memberi nya keturunan serta sikap yang bagi nya manja karna tak mau di tinggal.


Dan memang benar, karna istri yang mana, yang mau suami nya pergi dan tinggal dengan selingkuhan nya sedangkan anak dan istri nya juga ada?


Egois dan pecundang, mungkin dua kata itu cocok untuk nya selain kata umpatan yang lain nya.


Pria itu mengatur pikiran nya sejenak, ia menatap ke arah wajah putri kesayangan nya yang memegang tangan nya.


"Wajah mu itu kenapa?" tanya nya melihat ke arah luka di pipi Samantha.


"Oh ini karena Anna tad-"


Deg!


Pria itu tersentak lagi, ia terkejut mendengar putri nya yang menyebut nama teman nya saat ia bertanya tentang luka.


Apa dia sudah tau?


Apa dia mencoba menyakiti Samantha?


Ia merasa takut akan kesalahan yang ia buat dan membuat nya tak bisa berpikir jernih saat ini.


Tanpa menunggu putri nya selesai bicara ia berbalik.


Plak!


Anna tersentak, ia merasa tak melakukan kesalahan apapun namun di tampar dengan orang asing yang baru ia temui?


"Papa!" Samantha terkejut ia langsung mendekat dan beralih ke sisi teman nya.


"Apa yang kau lakukan pada anak ku?" tanya nya pada gadis itu.


Memang jika seseorang yang berbuat salah ia akan bersikap berlebihan sekaligus merasa ketakutan hingga membuat nya lebih cepat marah.


Terbiasa dengan keluarga kecil yang ia miliki sekarang membuat nya memiliki perasaan orang tua yang minim pada keturunan nya yang lain.


Anna terdiam, ia tak mengatakan apapun karna masih begitu terkejut.


Pukulan seperti itu membuat jiwa nya goyah karna mengingatkan nya tentang masa lalu nya.


"Pa! Anna tuh ga ngapa-ngapain! Luka nya ini karena tadi Anna bantuin aku!" ucap nya yang menyelesaikan kalimat nya.


"Bantuin apa? Kalau bantuan kenapa bisa luka?" tanya Mr. Harris sekali lagi.


"Aku tadi jatuh! Terus dia nolongin tapi ujung buku yang di bawa Anna kena! Masa Papa milih aku jatuh dari tangga!" selak gadis itu yang begitu terkejut melihat sang ayah bertindak tak biasa nya.


Mr. Harris tersentak, tangan nya gemetar sesaat setelah memukul wajah gadis remaja itu secara spontan.


Tidak! Ini hanya kesalahan!


Ia berbalik melihat ke arah teman nya yang terdiam dan tampak terkejut.


"Ann? Maaf, Papa ta-"


Anna melepaskan tangan teman nya itu tak mengatakan sepatah kata pun dan beranjak pergi dengan cepat.


Deg!


Deg!


Deg!


Langkah Anna terasa berat ia masuk ke dalam kamar mandi siswi dan mengunci di salah satu bilik serta duduk di atas toilet itu, ia memegang dada nya yang sesak.


Seluruh tubuh nya gemetar, tangan nya menutup kedua telinga nya dan mulai terdengar suara lirihan dari tangisan nya.


Ampun...


Maaf...


Seluruh tubuh nya merasa sakit kembali, mungkin berbeda dengan sayatan karna ia tak pernah di sayat saat masih kecil hingga tak membuat nya ingat dengan kenangan yang ingin ia lupakan.

__ADS_1


"Hiks..."


Tangisan gadis itu terdengar lirih, ia menahan suara nya sebisa mungkin, napas nya sesak dan tubuh nya masih gemetar tak bisa ia kendalikan.


__ADS_2