
Anak tampan itu mulai memakai makanan nya, sesekali ia melirik dan melihat ke arah ibu nya lalu menatap ke arah pria yang terus melihat ke arah mereka.
"Ma? Dia ga bisa pelgi Ma? Kita pulang nya kapan?" tanya Estelle sekali lagi walaupun sang ibu sudah menjelaskan jika sekarang itu lah rumah nya.
Anna menarik napas nya, ia hanya mengusap kepala mungil itu dan menatap ke arah nya.
"Kan dia Papa Estelle, Estelle bilang mau Papa kan?" tanya Anna yang tak menjawab apapun namun sekali lagi ia memberi tau putra nya.
Estelle menggeleng atas pertanyaan sang ibu, "Papa Estelle kan bukan dia, Ma? Estelle mau tinggal sama Mama aja..." ucap nya pada sang ibu.
Lagi-lagi Anna tak menjawab, ia takut dan gugup namun ia tak bisa mengatakan apapun.
Makanan yang masuk ke dalam mulut nya sedikit, namun ia tak begitu menghiraukan nya karna rasa lapar nya pun seakan hilang.
Mata biru itu mengernyit menatap ke arah putra nya yang sedang makan, "Ini apa? Kenapa?" tanya Anna yang tersentak melihat memar di tangan mungil itu.
Ia menarik pakaian dengan lengan panjang itu dan melihat ke arah memar yang bulat berwarna biru keunguan itu.
Putra nya diam saja, saat pertama kali bertemu dengan ayah biologis nya ia di cekik dan saat pertemuan kedua ia mendapat kan cubitan.
"Estelle? Jawab?" tanya Anna sekali lagi saat melihat ke arah putra nya yang terus diam tak mengatakan apapun.
Sesekali ekor mata anak kecil itu menatap ke arah pelaku yang tak lain adalah ayah kandung nya sendiri.
Namun ia tetap diam karna takut dengan ancaman yang ia dengar terkahir kali.
"Kenapa heboh sekali? Itu hanya memar ringan," Ucap Lucas yang juga tak merasa harus menyembunyikan.
Anna langsung menoleh, ia menatap ke arah wajah datar yang tampak tak merasa bersalah itu.
"Kamu yang buat? Kamu apain dia?" tanya Anna lirih dengan suara gemetar.
"Hanya memastikan sesuatu," jawab Lucas singkat pada gadis itu.
Anna menarik napas nya, menahan suara yang tercekat dan tak ingin menunjukkan kesedihan nya.
"Mama? Estelle ga apa-apa..." jawab anak kecil itu yang mulai bersuara pada ibu nya.
Ia menatap dengan wajah datar yang polos itu, ibu nya adalah pusat dunia nya.
Anna mengangguk, ia menatap ke arah putra nya dan melirik ke arah pria itu sekali lagi, "Makan yang banyak ya? Nanti Estelle bisa main lagi sama Mama..."
Estelle mengangguk, kini ia bisa makan dengan tenang karna bersama sang ibu. Ia tak takut lagi menyentuh makanan dari orang asing karna baginya tempat itu bukan lah rumah nya.
...
Anna menatap ke arah dokter yang mengganti perban di kaki nya, walaupun pria itu ingin ia cacat namun tidak dengan infeksi.
Karna infeksi bisa menghilangkan nyawa.
"Itu apa?" tanya Anna yang menatap ke arah injeksi yang tampak siap di suntikan.
Sang dokter tak menjawab nya sama sekali, ia hanya tetap menyiapkan obat nya dan ingin menyuntikkan ke kaki gadis itu.
"Tu.. tunggu! Itu apa?" tanya Anna yang menolak dan menahan tangan yang ingin menyentuh kaki nya.
Dulu ia memang terbiasa melakukan pemeriksaan kesehatan yang bahkan tak ia tau sama sekali. Namun tak ada pemberian obat-obatan yang tidak ia kenali.
"Pelumpuh syaraf, kau bisa lumpuh permanen tanpa harus memotong kaki mu." jawab Lucas yang tentu melihat gadis nya.
Deg!
Wajah cantik itu langsung pucat seketika dan tampak membatu, ia menggeleng dan tentu menolak nya.
Tak hanya itu, ia pun mencoba mengambil lalu mencampakkan nya agar tak ada ampul lagi yang bisa di gunakan.
Prang!
Lucas mengernyit, tatapan nya menjadi lebih tajam karena melihat penolakan gadis itu.
Tentu, karna siapa yang mau menjadi wanita cacat yang tak akan bisa berjalan lagi.
"Keluar," ucap Lucas pada sang dokter dan pria terlihat berumur setengah abad itu langsung menurut.
"Kamu gila? Kamu buat aku cacat beneran?" tanya Anna yang menatap ke arah pria itu dengan wajah sendu nya.
Lucas tak mengatakan apapun, jika tidak seperti itu apa yang harus ia lakukan? Ia tak lagi bisa mempercayai gadis yang kabur dari nya namun ia juga tak bisa melepaskan nya.
"Kau masih berpikir ingin kabur? Maka nya tidak mau?" tanya Lucas yang melihat dengan tatapan elang nya.
Anna menggeleng mendengar nya, "Aku mau jalan, aku juga mau berdiri, aku mau Main dengan Estelle, aku juga masih mau gendong dia..." ucap Anna yang tentu ingin memiliki hidup yang normal.
"Luc? Aku janji ga akan kabur lagi. A.. aku janji bakalan sama kamu terus..." ucap Anna lirih.
"Kau janji? Coba ingat apa yang kau katakan dulu dan yang kau lakukan?" tanya Lucas yang tentu sangat sulit bagi nya untuk percaya.
Anna menggeleng, bahkan jika sekarang pria itu memaksa suntikan itu pada nya ia tetap tak bisa melakukan apapun karna ia tau jika ia tak memiliki kekuatan sama sekali.
"Luc, ku mohon..."
Lucas diam sejenak, ia menatap ke arah wajah yang memelas namun tentu ia tak bisa merasakan rasa takut dan kepanikan itu.
"Kau mau aku bagaimana? Kau minta aku percaya dengan mu? Setelah aku percaya apa yang ku dapat? Hm?" tanya nya yang mengusap dan mengelus pipi lembut gadis itu.
"Kau minta untuk kuliah, kau mau keluar jalan-jalan ke cafe ke mall atau liburan, kau mau jadi artis atau apapun itu, kau mau menikah pun aku memberikan nya, lalu apa yang kau berikan pada ku sebagai balasan nya?"
Anna diam, ia tak menjawab nya. Memang benar apa yang di katakan pria itu. Namun itu juga bukan kebebasan yang ia mau.
"Jawab? Kenapa diam? Jangan terus menangis karna air mata itu tidak akan mempan untuk ku." tanya Lucas sekali lagi.
Anna menelan Saliva nya, ia menatap ke arah pria yang melihat ke dengan tatapan yang tajam itu.
"Aku mau hidup ku, aku ga mau di kekang, aku mau punya teman dan..."
"Aku mau anak ku, tapi kamu engga kan? Kamu ga mau dia, kamu mau bunuh dia? Aku mau punya keluarga." jawab Anna lirih yang menatap dengan mata sendu nya.
"Keluarga mu cukup aku, kenapa kau sangat tertarik dengan hal kecil yang merepotkan seperti itu?" tanya Lucas yang sama sekali tak merasa penting untuk putra yang bahkan tak ada di rencana hidup nya.
"Hal yang kamu anggap merepotkan itu adalah hal yang paling aku mau..." jawab Anna lirih.
__ADS_1
Lucas menarik napas nya, ia menatap ke arah gadis yang terus menangis itu.
"Kau yang mengkhianati ku lebih dulu," ucap pria itu lirih yang menatap ke arah gadis yang terlihat menangis itu.
......................
Satu Minggu kemudian
Berlin, Jerman
Mansion Damian
Estelle berjalan berdampingan di samping ibu yang masih berada di kursi roda.
"Ma? Ini kan bukan lumah kita?" tanya Estelle pada ibu nya yang tampak bingung saat di bawa ke rumah yang tampak seperti istana.
Anna diam sejenak, ia memegang kedua bahu putra nya lalu menatap nya dengan tatapan yang lembut.
"Ini sekarang rumah kita, kita tinggal di sini. Taman nya besar loh nanti kan Estelle bisa main sama Mama..." ucap Anna yang tentu memberikan nya senyuman nya.
Estelle tak menjawab ia menatap ke arah sang ibu dan kemudian tak lagi mengatakan apapun.
"Ayo," ucap penjaga yang mulai mendorong dan menarik tubuh mungil itu untuk di bawa ke kamar yang akan di tempati.
Senyuman cerah itu perlahan menghilang dan tentu menunjukkan wajah dan ekspresi asli nya sekarang.
"Aku akan mendaftar nya ke dalam kelurga ini, dia akan mengganti nama belakang nya dan kita akan melakukan pesta pernikahan kita yang tertunda." ucap Lucas pada gadis itu sembari mendorong kursi roda sang istri dan membawa nya ke lift.
Anna tak menjawab atau pun mengatakan terimaksih karna pria itu kini mengakui putra nya.
...
Skip
Lima hari kemudian.
Ukh!
Suara rintihan terdengar, gadis itu tampak menahan ampul yang akan menusuk kaki nya karna ia sudah tau cairan apa yang akan di berikan untuk nya.
Prang!
Sekali lagi, sebotol ampul itu pecah berhamburan, dan kini pria itu tampak kesal.
"Aku janji ga akan kabur lagi Luc..." ucap Anna lirih dengan suara gemetar saat melihat ke arah pria yang tampak mengusap rambut nya itu.
Anna gemetar, ia terduduk di lantai yang dingin itu dan melihat perubahan ekspresi yang tampak begitu geram.
"Itu ampul yang terkahir, kau mau ku buat lelah untuk bertengkar dulu?" tanya Lucas yang menatap ke arah gadis itu dengan tatapan yang begitu kesal.
Anna terdiam, jujur ia begitu takut untuk saat ini. Tangan kecil nya itu gemetar hebat sampai tak bisa di sembunyikan dan tentu ia juga tak bisa lari.
"Ack!"
Tubuh kecil itu begitu mudah di angka, seperti membawa karung yang ringan dan kemudian melempar nya ke dataran yang empuk dan lembut itu.
Anna menatap dengan mata biru yang gusar, pria itu melepaskan satu persatu kancing kemeja nya dan dengan begitu cepat menaiki tubuh gadis itu.
"Luc? Aku ga mau!" tolak nya yang tentu takut untuk saat ini dan walaupun ia tau tak akan bisa mengentikan pria itu namun respon tubuh nya memberikan penolakan dengan sendiri nya.
Percekcokan dan pertengkaran itu terdengar, lebih tepat nya tentang wanita yang tak ingin di sentuh suami nya yang gila.
Sementara itu.
Anak kecil nan menggemaskan itu tak bisa tidur, walaupun sudah hampir seminggu di kamar baru nya namun ia tetap merasa asing.
Dan jika ia tak bisa tidur tentu ada mimpi buruk yang biasa ia alami, seperti ketakutan nya atau monster di dalam dongeng yang kadang di bacakan oleh ibu tersayang nya.
Kaki kecil itu perlahan turun dari ranjang yang tinggi bagi nya dan kemudian berjalan ke arah kamar sang ibu.
"Mama..."
Gumam nya yang memanggil sang ibu dan ini ia sudah tepat berada di depan kamar kedua orang tua nya.
Ukh!
"Le.. lepas..."
Terdengar suara rintihan yang mirip dengan suara sang ibu, kaki nya berjinjit mencoba meraih ganggang pintu dan membuka nya.
Krieet...
Mata yang berwarna abu-abu itu tampak melihat ke arah wajah sang ibu yang terlihat samar karna tertutup oleh punggung sang ayah yang kekar.
Mata yang memerah dan berair serta wajah pucat yang membiru menyadari kehadiran nya.
"Mama?"
Langkah kecil itu beranjak mendekat, ia tak mengerti apapun bahkan saat melihat sweter sang ibu yang terlepas atau mengapa sang ayah tak memakai kemeja nya.
"Ja.. jangan..."
Anna menggeleng, seperti memberikan isyarat tanpa suara agar putra nya tak mendekat sementara itu cekikan yang berada di leher nya semakin kuat.
Lucas yang tadi nya ingin melepaskan br* gadis itu tersentak saat melihat Anna yang tampak seperti berbicara dengan seseorang.
Ia menoleh ke belakang, putra yang lahir dari darah daging nya itu berdiri di ambang pintu dan tampak ingin mendekat.
"Mama?" panggil nya sekali lagi yang memang tak tau apa yang akan di lakukan orang tua nya.
"Uhuk!"
Anna langsung terbatuk saat pria itu melepaskan lingkaran tangan di leher nya dan kemudian mendekat ke arah putra nya.
"Luc! Tunggu! Dia tidak tau apapun!" ucap Anna yang tentu ingin langsung mengejar namun ia sendiri masih belum pulih.
Estelle menatap ke arah pria yang tinggi dengan pakaian atas yang terbuka dan hanya mengenakan celana panjang itu.
"Seharunya anak kecil tidur di jam seperti ini," ucap nya yang menarik tangan kecil itu keluar dan kemudian menutup pintu nya.
__ADS_1
"Mama? Mama!"
Estelle terkejut, pintu yang bisa ia buka untuk melihat sang ibu kini tertutup. Tangan mungil nya mengetuk dan menunggu dari luar.
"Mama? Mama?"
Panggil nya yang tak beranjak dan menunggu di depan pintu kamar kedua orang tua nya.
Percakapan yang terdengar samar dan bahkan kalau ia dengar pun ia tak akan bisa mengerti.
"Sa.. sakit..."
"Berhent- Ukh!"
"Uhh..."
Estelle masih tetap berada di tempat yang sama, mendengar dari balik pintu suara yang tak biasa ia dengar.
Tubuh kecil itu di tempat yang sama, telinga nya mulai tak tahan hingga membuat tangan mungil itu bergerak menutup kedua telinga nya.
"Mama..."
"Mama, pulang..."
"Estelle ga suka di sini..."
Ucap nya lirih yang tak ingin pergi dari depan ruangan yang ia tau berada sang ibu yang sayang ia sayangi.
...
Ke esokkan pagi nya.
Anna terbangun, tubuh polos nya tertutup selimut dan ia tak tau kapan pria yang sudah menjadi suami secara hukum nya itu berhenti tadi malam.
Kaki nya terasa kebas, bagian inti yang sakit dan tulang yang seakan ingin remuk.
"Dia menyuntik nya," gumam Anna lirih yang merasa suntikan pelumpuh syaraf itu sudah di berikan saat ia pingsan tadi malam.
Kamar nya kosong, tak ada siapapun namun makanan nya sudah tersedia.
...
Skip
Pukul 12.45 pm
Setelah makan siang, Estelle kembali mendatangi sang ibu.
Kini ibu nya sudah menyambut nya dengan senyuman walaupun dengan wajah yang pucat.
"Estelle sudah makan tadi?" tanya Anna saat kini putra nya datang ke kamar untuk melihat nya.
Ia sudah berpakaian lengkap namun bekas luka di ujung bibir nya masih belum hilang sama sekali.
"Mama? Mama sakit? Kenapa Papa gitu sama Mama?" tanya nya yang tak mengerti namun ia tau jika sang ibu tampak terluka.
Anna diam sejenak, ia menatap ke arah putra nya dan kemudian menggeleng.
"Mama ga sakit kok, Papa juga baik sama Mama..." jawab nya yang tak ingin putra kecil nya tau hal yang buruk sejak awal.
"Bohong..."
"Nanti hidung Mama panjang loh..." ucap Estelle yang melekat ke arah sang ibu.
"Itu Mama nangis..." sambung nya lagi yang menunjuk ke arah mata yang berair dari mata biru itu.
Anna menarik napas nya, tenggorokan nya terasa tercekat saat melihat mata polos itu yang tampak tak tau apapun.
"Maaf ya..."
"Kalau kamu lahir nya dari perut Mama lain, mungkin kamu ga akan punya hidup seperti ini, Maafin Mama..." ucap Anna lirih yang tentu tak bisa menyembunyikan rasa sedih nya.
Estelle diam, ia tak tau apa yang di bicarakan ibu nya namun bagi nya gadis itu adalah ibu yang tebaik untuk nya.
"Kalau gitu Estelle tetep pilih dali pelut Mama, Mama itu Mama kesayangan Estelle..."
"Jangan nangis, kalau Mama sedih, Mama bisa tok tok kepala Estelle, Estelle ga apa-apa..."
Ucap nya yang memang sejak kecil terbiasa melihat sang ibu memukul kepala nya sendiri saat frustasi dan ia tak menyukai nya.
"Masa Mama pukul kepala Estelle?" tanya Anna dengan senyuman tipis yang tampak menahan suara serak karna tangis nya.
"Ga apa-apa, Estelle kan kuat, Ma? Estelle itu sayang banget sama Mama..."
"Kita tinggal beldua aja yuk? Jangan sama Paman itu lagi..." ucap nya pada sang ibu.
"Nanti Estelle di marahi," Anna yang tetap berusaha berkomunikasi pada putra nya.
"Ga apa-apa palingan nanti juga di dol dol kayak Mama kan? Nanti kalau dia datang, Mama bisa lali aja..."
"Estelle kan ga ngelasa sakit..." ucap nya dengan polos yang bahkan tak tau jika mungkin tubuh kecil nya terkena peluru mungkin bisa mati.
"Estelle? Kenapa kamu bilang nya begitu?" tanya Anna yang menatap ke arah ibu nya.
"Mama sakit di sini, Mama nangis. Jadi Estelle mau bawa pulang..."
"Mama bilang kan Estelle itu bintang, bintang kan selalu di langit belalti Estelle kan selalu ada jadi kalau kita kena malah atau ketahuan Mama bisa pelgi dulu nanti Estelle nyusul..." ucap anak kecil itu berceloteh dengan wajah polos nya.
Anna terdiam, ia tau putra nya itu pintar namun ucapan itu memiliki arti lain untuk orang dewasa.
"Nanti Mama nunggu di telas lumah abis itu Estelle tulun dari langit! Piuss! Mama tangkel deh!" sambung celotehan anak tampan itu yang kini menunjukan senyuman tipis nya yang tak pernah di tunjukan saat membicarakan tentang kembali ke rumah nya.
Greb!
Anna memeluk tubuh mungil itu dengan erat, tangan nya gemetar dan dengan air mata yang meleleh.
"Kenapa Mama biarin Estelle turun dari langit? Bintang Mama kan udah di sini, Mama ga sakit, Mama ga nangis, Mama bahagia kok..."
"Jangan bilang begitu lagi ya nak?" sambung nya lirih dengan suara tercekat.
__ADS_1