Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
You make me crazy


__ADS_3

Hawa yang panas dengan suara deritan ranjang bersahut dengan tangisan lirih dan tarikan napas yang begitu berat.


Mata biru itu berair, ia terus menangis di setiap gerakan pria itu. Namun ada beberapa saat di mana ia merasakan sesuatu yang akan meluap di dalam diri nya yang bercampur dengan rasa sakit.


Ugh!


Pria itu menghentakkan pinggul nya dengan dalam, tubuh kecil yang berada di bawah kungkungan pria kekar itu terlihat letih dan mulai memejam.


Lucas menarik napas nya sejenak, ia masih tak melepaskan penyatuan nya. Ekor mata yang tajam melirik ke arah jam yang berada di kamar liburan yang mewah itu.


Pukul 03.45 am, ia menarik napas nya. Melepaskan penghubung yang sebelum nya membuat kedua tubuh itu menyatu.


Napas nya masih terasa berat, ia tak pernah merasa begitu semangat seperti saat ini. Perasaan senang yang bagaikan seribu kupu-kupu berkepak di perut nya.


Dada nya terasa tergelitik, kesenangan? Kepuasan?


Ia mendapatkan semua itu di saat yang bersamaan, dan ia berpikir jika sekarang ia memiliki seseorang yang bisa ia percayai untuk tetap bersama nya.


Wajah cantik itu tampak sembab dan memejam dengan bulu mata yang lentik, rambut pirang panjang nya terlihat basah berserakan.


Mata nya hanya terfokus melihat gadis itu tampa melihat apapun, ia menoleh sejenak saat menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuh gadis nya.


Warna kemerahan yang bercampur dengan vanila yang meleleh tampak mengotori sprei putih itu.


"Thanks," ucap nya lirih yang memeluk dan merengkuh tubuh kecil itu dalam pelukan nya.


Ia juga merasa lelah, ingin beristirahat dan memejamkan mata nya.


Malam panas yang melelahkan namun membuka satu pintu di hati nya, membuat nya merasakan sedikit rasa kemanusiaan saat ia mulai tau jika ia sedang jatuh cinta.


...


Pukul 10.26 am


Cahaya mentari sudah kembali meninggi memasuki kamar yang dominan dengan dinding kaca itu.


Mata yang terlihat berwarna abu-abu saat terkena sinar itu menyipit, dahi nya mengernyit dan ia mulai membuka mata nya.


"Kenapa terang sekali?" decak nya lirih dengan suara serak khas bangun tidur.


Ia tak bisa kembali memejamkan mata nya, cahaya mentari itu sudah mengusik nya dan membuat nya membuka secara perlahan.


Otak yang masih belum memproses sesuatu di sekitar nya saat ia bangun dari tidur nya, mata yang hanya tertuju pada gadis yang masih tertidur dengan bekas percintaan yang tersebar di seluruh tubuh nya.


Senyuman kecil naik dengan sendiri nya di wajah tampan itu, ia turun dari ranjang nya dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh bya lebih dulu.


Memakai mantel tidur yang di sediakan oleh hotel untuk menutupi tubuh polos nya yang kekar dan memiliki bekas cakaran dari tangan kecil gadis nya.


"Itu?"


Langkah nya terhenti, ia merasa tempat saat ia berada kini lebih cerah dengan hamparan biru yang terlihat di dinding kaca kamar mewah itu.


"Biru?" Gumam nya yang membuka pintu nya dan berjalan ke arah pemandangan laut yang tampak langung dari kamar nya itu.


"Mirip dengan mata nya..." gumam nya lirih yang masih belum memproses jika ia mulai dapat melihat warna.


Ia berbalik dan ingin kembali masuk namun.


Deg!


Pria itu tersentak, bayangan seorang pria terlihat di balik cermin. Wajah dengan mata yang tajam dan rambut yang masih berantakan serta memakai mantel dengan bentuk yang sama dengan yang ia kenakan saat ini.


"Biru?" gumam nya yang kembali berbalik dan melihat ke arah pemandangan laut yang memiliki warna yang sama dengan mata gadis nya.


"Aku bisa lihat?" gumam nya lirih dengan langkah yang langsung berjalan cepat guna mencari cermin.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung nya berdegup dengan lebih kencang, ia merasa gugup untuk pertama kali nya. Tubuh nya membeku beberapa saat saat melihat pantulan diri nya sendiri.


Bukan bentuk abstrak yang tak bisa di deskripsikan melainkan wajah yang jelas terlihat.


Garis mata yang tajam, alis yang tebal, hidung mancung dan bibir yang sesuai dengan bentuk wajah nya.

__ADS_1


"HAHAHA!"


Suara tawa nyaring yang terdengar memenuhi kamar mandi yang terlihat estetik itu. Mata nya menoleh ke arah bunga anggrek yang berwarna putih krem dan berwarna merah muda yang tampak serasi dengan warna bunga yang bersama nya di dalam vas.


Lucas tersenyum, ia merasa senang dan semakin merasa ingin memiliki gadis yang masih belum terbangun itu. Tangan nya beranjak mengambil bunga yang terlihat lebih indah dari biasa nya karna ia memiliki penglihatan yang normal.


"Maurenne Arianna," mata nya menatap dengan tatapan haus pada bunga cantik itu.


Cantik, kecil dan rapuh. Begitu indah dan harum namun akan cepat layu jika tidak di rawat dengan baik.


Begitu mirip dengan gadis kesayangan nya.


Tak!


Tangan nya menggenggam kuat bunga cantik itu, ia tersenyum dengan seringai nya dan menghancurkan sesuatu yang indah dan rapuh itu di tangan nya.


"Dia milik ku..."


Gumam nya lirih yang semakin tergila-gila dengan gadis remaja yang berharap saat ia bisa melihat dengan normal maka akan melepaskan nya.


...


Pukul 11.47 am


Hampir tengah hari, gadis itu baru mulai akan terbangun.


Kelopak mata yang awal nya tertutup itu kini mulai berkedut dan perlahan terbangun.


Tubuh nya menggeliat sejenak dengan rasa sakit yang perlahan datang seiring dengan kesadaran nya yang semakin pulih.


"Ukh!"


Ia merintih, bagian inti nya terasa begitu perih. Pinggang dan tubuh nya begitu pegal dan juga beberapa bekas kecupan dan gigitan yang membuat nya terluka kini mulai dapat ia rasakan sakit nya.


Deg!


Mata biru itu menerjap, ia terbangun sendirian di kamar mewah yang kosong dan hening itu tanpa siapapun yang terlihat menemani nya.


Jantung nya berdegup kencang, ia merasa seluruh tubuh yang sakit dan tak mengenakan apapun di balik selimut.


Malam yang memiliki ingatan samar karna ia tengah mabuk saat itu. Ia perlahan bangun dan duduk sejenak.


"Ini bukan itu kan?" gumam nya lirih dengan suara gemetar dan berharap jika hal ini sama seperti sebelum nya ketika menghabiskan malam namun masih terjaga kesucian nya.


Deg!


Ia membatu, tubuh nya tersentak dan tak bisa bergerak sedikit pun.


Noda darah terlihat di atas sprei yang putih itu, vanila yang terlihat sudah kering yang ikut di dekat bercak kemerahan itu.


"Ka.. kami sudah..." gumam nya lirih yang terkejut.


Pikiran nya masih kosong tak bisa mengingat apapun dengan jelas tentang malam panas nya yang merupakan pengalaman sekali seumur hidup.


Tes...


Buliran bening jatuh dari ujung mata nya, iris yang bergetar dengan rasa terkejut dan perasaan yang masih tak menerima nya sesaat walaupun ia sudah tau akan datang hari seperti ini.


"Hiks..."


Ia tak tau apa yang ia tangiskan, sebelum nya ia berpikir akan berpacaran seperti orang normal dan melakukan nya dengan pria yang ia sukai.


Ia memang mulai bergantung dengan pria yang sebenarnya adalah penculik sekaligus seseorang yang menyandera nya.


Namun untuk perasaan cinta ia sendiri belum merasakan nya dengan jelas.


Klek!


Suara pintu terbuka, mata biru itu masih tertunduk dan tak menoleh sedikit pun.


"Kau sudah bangun?"


Suara bariton itu terdengar, tak ada sambutan atau jawaban gadis itu masih menunduk dengan bahu yang tampak gemetar.


"Anna?"


Kali ini suara yang terdengar bulat penuh bas itu memanggil nama nya.

__ADS_1


Gadis itu dapat melihat ke arah sepatu hitam yang mendekat ke ranjang tempat ia duduk, dagu nya terasa saat seseorang memegang nya dan menarik nya hingga membuat nya menengandah.


"Kau mengabaikan ku?" tanya pria itu dengan wajah yang datar dan terlihat tak menginginkan sikap pembangkang itu.


Ia keluar untuk membeli obat pereda nyeri sekaligus pil kontr*sepsi darurat karna melakukan nya tanpa pengaman sebelum nya.


Dan tentu saat ia keluar ia telah melihat semua warna yang baru, pemandangan yang baru, keindahan yang selama ini tak ia ketahui dan berbagai bentuk wajah wanita yang mungkin dalam pandangan orang lain lebih cantik di bandingkan dengan gadis nya.


Tapi apa?


Walaupun ia melihat semua keindahan itu namun ia hanya memikirkan satu orang yang menjadi kunci dari keindahan nya.


Bagi nya gadis itu masihlah pusat dari segala kesenangan dan kepuasan yang ia bisa ia rasakan.


"Anna?" Lucas memanggil ulang, suara dengan nada rendah tanpa membentak namun terdengar bagaikan peringatan.


"Sa.. saya hanya masih merasa sakit..." jawab nya lirih yang tak berani mengutarakan protes atau perasaan nya yang sesungguhnya.


Pria itu tersenyum tipis, ibu jari nya mencoba memasuki mulut kecil dengan deretan gigi yang rapi itu, ia menunduk dan mel*mat bibir gadis itu dengan ciuman panas sebagai ucapan selamat pagi nya.


"Jangan bicara dengan formal lagi, itu menganggu ku. Kau pintar kan? Jadi cepatlah belajar." bisik nya saat ia melepaskan ciuman nya.


Anna mengangguk dengan lirih, air mata nya berhenti dan ia harus kembali bertahan.


"Minum ini," ucap nya yang memberikan obat-obatan yang ia beli sebelum nya.


"Ini apa?" tanya Anna yang menoleh ke atas sesaat setelah ia mampu mengendalikan ekspresi wajah nya.


"Yang pasti bukan racun, minumlah." jawab Lucas pada gadis itu.


Anna tak menanyakan apapun lagi, ia beranjak meminum nya walau ia tak tau apa yang di berikan pria itu.


"Kita mandi dulu setelah itu baru makan," ucap nya yang menggendong tubuh kecil itu dan membawa nya ke dalam kamar mandi.


Anna masih diam tak memberikan komentar apapun atau menolak nya, pria itu mendudukkan nya di wastafel dan mulai mengisi bath up nya hingga penuh.


Aroma sabun yang wangi dengan busa lembut mulai terlihat, ia berbalik melihat ke arah gadis yang tampak tak memakai sehelai benang pun untuk menutupi tubuh polos nya yang penuh dengan jejak yang ia tinggalkan.


"Ke sini," ucap nya yang menggendong dan membawa gadis itu masuk ke dalam bathup yang sudah terisi itu.


Anna tak mengatakan apapun, ia bahkan tak tau jika pria itu juga menanggalkan pakaian nya dan ikut masuk ke dalam bathup nya.


Suara air yang tumpah ke lantai saat bathup yang bulat itu terisi dengan dua orang yang harus duduk melekat untuk bisa bersama.


"Kenapa tadi menangis? Kau menyesal? Tidak suka?"


Mata biru itu membulat, ia meremang saat pria itu berbisik di telinga nya.


Entah mengapa suara yang lembut itu lebih intens di bandingkan biasa nya. Setiap kata yang penuh dengan hasrat mendominasi yang kuat membuat nya merasa lebih gugup.


"Ti..tidak..." jawab nya yang tak bisa berbicara dengan lancar.


Tangan yang kekar itu mengusap lembut tubuh nya di balik air yang merendam kedua tubuh polos itu.


Namun ia merasa lebih takut, dulu ia pernah berpikir jika pria itu akan merasa bosan saat sudah mengambil apapun yang berharga bagi nya, tapi sekarang?


Sesuatu yang aneh mulai ia rasakan, perasaan takut, gugup, menginginkan dan candu dengan sedikit amarah bercampur jadi satu.


Lucas menaikkan smirk nya, tangan nya mengusap dada gadis itu hingga sampai ke lengkung leher yang kecil tepat berada dalam genggaman tangan nya.


"Kau sudah jadi milik ku dan hanya aku..." bisik nya dengan senyuman yang tak bisa di artikan.


"Jadi..."


"Jangan berani meninggalkan ku..."


Bisik nya di telinga gadis itu dengan suara yang dalam tangan tangan yang berada di leher kecil itu.


"Ukh!"


Tangan yang licin dan putih itu memegang tangan pria yang berada di leher nya, seluruh tubuh nya meremang merasakan suara yang berbisik di belakang nya walau ia tak melihat wajah pria itu sama sekali.


"Te.. tentu... a.. aku akan tetap dengan Luc..." ucap Anna lirih dengan suara yang gemetar.


Walaupun mendengar ucapan yang lembut namun ia tetap dapat merasakan hawa dominasi yang membuat nya merasa tercekik dan tak bisa bernapas.


Lucas tersenyum simpul, ia mengecup lengkung leher yang mengkilap saat terkena air itu dan mengigit nya.

__ADS_1


"You make me crazy girl..." gumam nya lirih yang ingin kembali merengkuh tubuh gadis remaja itu sekali lagi.


__ADS_2