
Pria itu menatap tajam ke arah cctv yang sudah ia dapatkan, rekaman terkahir dari yang ia dapat adalah ketika gadis remaja itu melompat dari pagar belakang dan kemudian pergi.
"She's really Crazy!" decak nya yang menatap kesal, ia pun semakin menambah pencarian nya.
Dan tentu mana mungkin ia mau gadis itu sampai benar-benar lari dari nya, namun jujur saja ia begitu kesal.
Pergolakan tentang pikiran yang meminta nya kembali menanam chip agar lebih mudah mengetahui tempat pasti di mana gadis itu berada kini muncul di kepala nya lagi.
Ia sudah mencoba memberikan alat penyadap lain berupa ponsel dan juga jam tangan namun sayang hal itu pun tak berguna sama sekali.
......................
Club'
Pria itu mengernyitkan dahi nya begitu mendengar sambungan telpon yang masih melekat di telinga nya.
"Hilang? Maksud mu kabur?" tanya Diego mengulang.
Ia sendiri tau kalau tak mungkin gadis remaja itu memiliki keberanian untuk kabur dengan sendiri nya dan bahkan di percakapan terakhir tentang bantuan saja gadis itu sudah menolak nya.
"Luc? Dia tidak mungkin kabur, aku yakin itu!" ucap nya sebelum sepupu nya itu mulai bertindak keras pada gadis remaja itu.
Panggilan nya pun berakhir dan tentu saja ia kini langsung bangun tak lagi menunggu gadis club' nya itu untuk datang.
"Ck! Kemana dia? Kenapa dia buat masalah besar?!" gumam Diego yang keluar dari gedung club' yang berisik itu.
Ia menuju ke mobil nya dan tentu ia memang harus ikut mencari gadis remaja itu karna sepupu nya sudah mengamuk.
"Hey? Aku tadi dapat sepatu mahal! Aku yakin ini bukan sepatu tiruan! Ini asli! Tapi sayang sekali cuma satu haha!"
Pria itu mendengar suara yang berbincang itu, ia tak menghiraukan nya sampai melihat ke arah bentuk sepatu yang mirip dengan seseorang yang sedang ia cari.
"Itu bukan nya..." gumam nya yang mendekat dan menayangkan nya.
"Kalian dapat ini dari mana?" tanya nya yang melihat ke arah sekumpulan wanita yang mengenakan pakaian terbuka itu.
"Tadi kamu dapat di belakang club'," ucap salah satu wanita yang menunjuk ke arah di mana ia mendapatkan nya.
"Baik, terimakasih." ucap Diego yang langsung berjalan ke arah tempat tersebut dan melihat nya.
Mata nya mencoba mencari ke tempat yang mungkin bisa memberi kan petunjuk sampai ia melihat ke arah cctv yang terpasang.
30 menit kemudian.
Dengan sogokan uang tentu ia bisa melihat cctv di tempat yang menampilkan reka adegan itu dan tentu ia sudah memberi tau sepupu nya dan bahkan mengirim salinan cctv.
__ADS_1
......................
Suara makian dan umpatan dari seorang pria masih terdengar.
Kedua gadis remaja yang cantik itu sudah pucat pasi menahan aroma yang luar biasa itu, keringat yang mulai jatuh dengan kesadaran yang ingin melayang.
"Sam..."
"Kayak nya dia udah per- Heuk! Pergi, kita keluar yuk?"
Gadis bermata biru itu berbicara sembari menahan muntah nya.
Samantha mengangguk, kaki nya terasa begitu lengket dengan sesuatu yang menjijikkan apa lagi ia yang tak mengenakan sepatu sama sekali.
Dan teman nya pun juga berlarian tanpa sepatu namun mengenakan alas kaki.
"Puah!"
Kedua gadis itu menarik udara sebanyak mungkin yang bisa ia hirup, udara segar yang tak membuat suasana menjadi mencekik dengan aroma tanpa wujud yang memberikan angin busuk.
"Astaga! Aku lupa!" ucap Anna yang baru ingat jika ia pergi diam-diam dan waktu pun sudah malam sekarang.
Ia baru membuka ponsel nya, dan ia pun baru menyadari jika ponsel nya mati maka dari itu membuat nya tak menyadari sama sekali tentang seseorang yang menelpon nya.
"Sam! Pinjam handphone kamu bisa?" tanya Anna yang langsung teringat dengan pria yang menyeramkan itu dan lupa dengan apa yang mau ia bicarakan dengan teman nya.
Anna menggambil cepat dan,
Chick!
Suara bunyi yang licin terkena di tangan nya saat ia mengambil tas teman nya itu.
"Hoek!"
Kali ini ia tak bisa menahan nya sama sekali saat melihat apa yang ada di tangan nya karna kotoran yang menempel di tas teman nya itu.
"Astaga Ann! Jangan muntah! Nanti aku jadi iku- Hoek!"
Samantha berbalik, ia pun jadi tak bisa menahan gejolak di perut nya.
Mata Anna berair, dengan tangan yang gemetar itu ia mulai menelpon seseorang.
"Luc? Aku- Heuk! Ada di Street Bohemian no 126 di bangunan block C- Engk! Di dekat toilet umum campuran!" ucap nya yang memberi tau dan menutup ponsel nya karna ia ingin muntah lagi.
Sementara itu pria yang botak itu masih belum pergi jauh, mendengar suara seseorang yang muntah membuat nya berbalik.
__ADS_1
"Di sini kalian jal*ng rupanya!" ucap nya yang langsung mendekat.
Phak!!!
Anna langsung melempar dengan tas yang ada di tangan nya, dan itu pun tas teman nya yang terkana kotoran.
"B*ngsat! Ini ta*?!" ucap nya yang terkena bubur basi fermentasi dari kotoran manusia itu itu.
"Sam? Kita lar-"
CKIT!
Brak!
Suara keras yang membuat siapapun menoleh, wilayah sunyi yang tentu tak membuat perhatian publik yang begitu banyak.
Mobil yang tiba-tiba datang dan kemudian menabrak seseorang hingga tercampak dan pingsan seketika.
Mata tajam itu melirik tak peduli ke arah seseorang tanpa rambut itu. Dan ia juga tidak akan membiarkan seseorang yang ingin memukul gadis nya itu untuk baik-baik saja nanti nya.
"Luc? Tunggu! Jangan mendekat!"
Anna tersentak, padahal ia yakin baru saja menelpon namun pria itu sudah tiba.
Lucas tak mendengarkan, ia sudah merasa begitu geram dan marah sehingga tak mengindahkan perkataan gadis itu sampai langkah nya terhenti.
"Kau!"
Ucap nya yang mengernyit begitu merasakan aroma yang begitu luar biasa dari kedua gadis yang pucat dan berkeringat dingin itu.
Tak lama kemudian mobil lain nya terdengar menyusul dan tentu salah satu pria yang tadi menunggu di club' juga datang.
Diego keluar dengan cepat namun sama!
Langkah nya terhenti seperti ada dinding menghalangi kedua gadis itu.
"Kau busuk sekali!"
Ucap kedua pria itu yang terdengar bersamaan.
"Maka nya kan udah ku bilang jangan mendeke- Hoek!" ucap Anna yang masih belum selesai mengeluarkan isi perut nya.
Samantha yang sudah siap mengeluarkan isi perut nya itu pun kembali melihat teman nya yang membuat nya merasa tertular.
"Astaga Ann! Aku kan bilang jangan mun- Hoek!" ia pun kembali sama dan mengeluarkan isi perut nya sekali lagi.
__ADS_1
Lucas tak begitu merasa jijik dengan ia aroma yang ia hirup itu serasa ingin mematahkan hidung mancung nya.
......................