
Mata biru itu perlahan terbuka, tubuh nya berada di atas tempat yang nyaman. Tangan yang semakin menarik selimut tebal yang membungkus nya.
"Hum?"
Namun kenyamanan itu membuat nya tersadar, gadis itu membuka mata nya dengan lebar.
Ia mengernyit namun ia ingat ia pernah berada di tempat itu.
Mata nya menengandah melihat ke sekeliling, tak ada siapapun dan dinding kaca besar yang sebelum nya memasukkan sinar mentari kini telah gelap.
"Aku tidur seberapa lama?" gumam nya yang tak melihat kehadiran pria itu di sudut mana pun di kamar tersebut.
Anna beranjak bangun, tangan nya merasa pegal dengan plaster di lipatan siku nya.
...
Lab
Pria itu membaca hasil laporan dari uji darah gadis itu, ia mengernyit melihat hasil nya.
"Bukan nya chip nya sudah di ganti?" tanya nya mengernyit.
"Kenapa bisa masih seperti ini?" tanya nya mengulang dengan wajah yang tampak tak setuju.
"Mungkin karna chip sebelum nya memberikan efek radiasi yang besar, dan chip sekarang juga masih menimbulkan efek radiasi yang lain jadi kejadian seperti ini tetap akan dapat terjadi." ucap salah satu dokter yang memberi tau nya.
Lucas diam sejenak, ia tak menanyakan apapun lagi dan memilih melihat ke layar yang menunjukkan hologram dari tubuh yang di pasangi chip itu.
"Sudah berapa yang memesan?" tanya nya pada salah satu peneliti yang mengembangkan chip itu.
Pemesanan mulai di lakukan dan tentu si pembeli harus menandatangi perjanjian untuk kesepakatan nya karna peluncuran chip itu sendiri tidak di sah kan oleh hukum.
"Sejauh ini sudah 129 orang yang memesan," jawab si peneliti.
Lucas mengangguk mendengar nya, chip dengan harga selangit dan di tolak oleh hukum karna di anggap melanggar HAM nyata nya begitu banyak yang menginginkan nya.
"Batasi jadi 100, kita hanya akan produksi sebanyak itu." ucap nya pada si peneliti.
"Baik, Sir!" jawab nya pada sang peneliti.
Pria itu membuang napas nya, beberapa bulan semenjak chip itu mendapatkan objek hidup membuat nya dapat melakukan kemajuan dalam penelitian nya karna dapat tau mana yang perlu di perbaiki atau mana yang perlu di tingkatkan.
...
Lucas kembali ke ruangan nya, ia tak melihat gadis itu berada di sofa kerja nya dan membuat nya langsung beranjak ke ruang istirahat nya.
"Sudah bangun?" tanya nya pada gadis yang berdiri di dinding kaca besar itu.
Mata biru itu bersinar terpaku melihat seluruh kota berada di bawah mata nya, sinar jalanan yang terang dengan kendaraan yang berlalu lalang seperti kunang-kunang berhamburan.
Lucas menarik napas nya, gadis itu tak menjawab nya dan terlihat asik di dalam lamunan nya yang sedang terkagum-kagum.
Pria itu mendekat namun langkah nya masih tak terdengar sedikit pun.
"Kau sudah berani tidak menjawab ku?" tanya nya sembari memegang kedua pundak gadis itu dan mengecup telinga nya.
Anna tersentak, ia langsung menoleh ke belakang dan menatap pria dengan wajah yang datar itu.
"Kapan anda datang Sir?" tanya nya dengan bingung pada pria itu.
Lucas diam tak menjawab, wajah gadis itu memang lebih berbeda dari biasa nya. Lebih putih dan lebih pucat.
"Kau mau makan sesuatu?" tanya nya sembari menarik pinggang kecil dan ramping gadis itu lalu kembali mencium telinga nya yang tertutupi rambut pirang bergelombang yang di gerai itu.
"Sa..saya mau diet Sir..." ucap nya pada pria itu lirih untuk mengembalikan berat badan nya seperti biasa.
Lucas langsung melepaskan ciuman dan rangkulan nya sejenak, ia menatap gadis dengan tubuh kecil itu.
"Kau? Diet? Kau mau sekecil apa lagi?" tanya nya mengernyit.
"Kan berat Sir! Diet bukan untuk buat saya pendek," ucap nya pada pria itu.
Greb!
Lucas tak menjawab namun ia mengangkat pinggang ramping itu, "Masih ringan." ucap nya sembari melihat ke arah gadis yang terkejut itu.
"Ih! Tu..turunin Sir..." ucap nya lirih pada pria itu.
"Ayo, makan." ucap pria itu sembari membawa nya keluar.
Bertepatan ia keluar, pintu ruangan nya di ketuk. Pria itu pun langsung memberikan izin masuk tanpa menurunkan gadis itu dan masih menggendong nya seperti memangku anak kecil.
"Letakkan," ucap nya memberi perintah agar makanan yang ia pesan di letakan di atas meja.
Anna tersentak, ia langsung menenggelamkan wajah nya di lengkung leher pria itu karna tak ingin ada yang melihat nya.
Setelah makanan itu di susun, Lucas pun menurunkan nya di sofa.
"Makan," ucap nya yang selalu menyuruh gadis itu untuk makan.
"Anda Sir?" tanya Anna yang melihat pria itu tak makan.
"Aku sudah makan tadi," jawab Lucas dengan datar, gadis itu memang tidur terlalu lama hingga ia menyantap makan malam nya lebih dulu.
Greb!
Anna menarik tangan yang berdiri di samping nya itu sampai duduk di sebelah nya.
"Tapi saya mau suapi anda..." ucap nya sembari mengambilkan sepotong makanan dan memberikan nya pada pria itu.
Lucas diam untuk beberapa saat dengan tangan dan makanan yang menggantung menunggu di depan mulut nya.
"Sir?" Anna memanggil lirih dengan nada yang sedikit panjang dan memelas.
Tak ada jawaban namun pria itu membuka mulut nya dan menurut pada gadis itu.
Anna tersenyum, setidak nya ia tak akan menghabiskan makan sebanyak itu sendirian lagi.
......................
Hotel
Gadis itu berguling dan merenggangkan semua otot-otot nya, ia masih menutup sebagian tubuh polos nya dengan selimut yang tebal itu dan melihat ke arah pria yang tengah memakai kancing kemeja di lengan nya itu.
"Anda mau pulang Sir?" tanya nya pada pria itu.
Diego berbalik melihat ke arah gadis remaja yang memangku dagu nya sembari telungkup itu.
"Ya, kau mau ku antar dulu?" tanya Diego menawarkan tumpangan mobil nya.
Gadis itu menggeleng sembari beranjak telentang.
__ADS_1
"Saya di sini dulu, kamar nya bisa di tempati sampai besok kan?" ucap gadis itu yang menjawab sekaligus bertanya.
Diego menarik napas nya, memang sangat jarang gadis itu menghubungi nya lebih dulu dan menginginkan nya.
"Kau mau di sini dulu sementara?" tanta nya pada gadis yang memiliki mata yang hitam itu.
Samantha melihat ke arah pria yang bertanya pada nya, "Iya, aku lagi ga mau pulang." jawab nya sembari membuang napas nya.
Pria itu menunduk, ia melihat wajah yang masih berantakan itu karna ulah nya.
"Kau bisa di sini selama seminggu," ucap nya pada gadis itu.
Samantha langsung mengernyit, ia menarik selimut nya seketika.
"Pi..pinggang ku bi..bisa patah!" ucap nya pada pria itu.
Diego hanya tersenyum mendengar nya, "Aku bukan minta untuk itu sampai seminggu, aku cuma menawarkan kamar ini untuk mu selama seminggu." ucap nya tersenyum.
Samantha terdiam, wajah nya memerah karna malu akibat salah paham di pikiran nya.
"Seperti nya kau suka berpikiran kotor ya?" tanya pria itu dengan senyuman nya seperti biasa sembari memakai jas nya.
Samantha tak menjawab nya sama sekali, ia hanya menutup wajah nya dengan selimut.
"Kau butuh sesuatu yang lain lagi?" tanya Diego sebelum meninggalkan kamar itu.
Gadis remaja itu kalo ini menoleh, ia menatap ke arah pria itu, "Yang aku butuh kan?" tanya nya mengulang.
"Ya? Seperti uang? Mungkin?" tanya Diego memutar mata nya ke atas.
Ia tau ekonomi keluarga gadis itu tak akan baik-baik lagi sekarang karena sepupu nya telah nya memutus segala pemasukan uang di keluarga gadis itu.
"Aku di bayar?" tanya nya gadis itu dengan nada tak suka.
"Bukan! Bukan begitu maksud ku!" ucap Diego yang langsung tau apa yang di pikirkan gadis itu.
"Okey, aku pergi lebih dulu." sambung nya yang memilih membuang napas nya dan pergi dari kamar itu.
......................
Sementara itu
Pria yang sudah kehilangan pekerjaan nya beserta dengan tabungan yang mulai menipis itu semakin kalut.
Ia terduduk di salah satu bar, meminum alkohol adalah surga nya yang masih bisa ia nikmati.
Tap!
Pria itu menoleh, ia menatap ke arah seseorang yang menepuk bahu nya.
"Pergi," ucap nya dengan ketus dan tak ingin di ganggu.
Pria itu tersenyum, ia melihat ke arah pria yang mengusir nya dan tampak tak suka itu.
"Kau mau bermain?" tanya nya pada Mr. Harris menawarkan sesuatu.
"Main apa? Aku tidak punya uang!" ucap Mr. Harris yang langsung menolak tanpa mendengarkan.
"Tony," ucap nya memperkenalkan diri nya pada pria itu.
"Aku tak mau tau nama mu," ucap Mr. Harris sembari menatap nya dengan ketus.
Tony hanya tersenyum penuh arti, "Kau tidak mau coba? Kami sedang mencari pemain tambahan." ucap nya sekali lagi.
"Kau tak mau coba? Padahal judi kali ini bisa menang $20.000, tapi sudah lah aku cari pemain lain lagi." ucap nya yang beranjak pergi.
Mr. Harris mengernyit, "Tapi aku tidak punya banyak untuk jadi taruhan." ucap nya pada pria itu.
"Berapa yang kau punya?" tanya nya mengernyit dan mencoba mempertanyakan berapa uang yang ada bersama pria itu.
"$3000" ucap nya pada pria di depan nya.
Tony tersenyum, ia memang mencari beberapa orang untuk bermain kelompok judi.
"Baik, kita bisa menangkan lebih banyak. Kali ini permainan kelompok kita satu kelompok, kau bisa bermain kartu?" tanya nya pada pria itu.
"Ya," jawab Mr. Harris datar pada pria itu.
"Okey! Kita ke sana!" ucap Tony yang senang karena ia sudah mendapatkan pemain malam itu juga.
Ia pun membawa Mr. Harris ke salah satu ruangan yang berada di bar tersebut
...
"Yes!"
Pria itu tampak senang dan begitu girang, ia merasa begitu beruntung malam ini.
Mendapatkan uang yang hampir setara dengan gaji bulanan nya, setiap satu bulan sekali ia bekerja.
Ia pun mulai merasakan salah satu rayuan racun dunia yang membuat nya terlena.
"Aku mau main lagi!" ucap nya yang kali ini dengan semangat bermain kartu sendirian tanpa permainan kelompok lagi.
......................
Mansion Damian
Lucas menerima telpon dari seseorang ia tersenyum tipis begitu mendengar nya.
"Sekarang tinggal persiapan lain..." gumam nya yang ingin segera mencari satu-satu gadis remaja yang tinggal di mansion nya.
Pria itu pun berjalan keluar, ia melihat ke arah gadis yang tampak tertawa sembari menonton televisi.
"Suara mu nyaring sekali?"
Anna tersentak, jemari yang kekar itu menyentuh leher dan telinga dari balik sofa.
Ia pun menengandah melihat ke atas dan menatap pria yang berdiri itu.
"Sir?" Panggil nya lirih sembari langsung menoleh ke arah pria itu.
Lucas beranjak duduk di samping gadis itu, ia tak tertarik sama sekali dengan siaran yang di lihat di televisi namun yang membuat nya tertarik adalah gadis itu yang duduk bersama nya saat ini.
"Cerita nya tentang apa? Kau sampai belum tidur," tanya Lucas menatap pada gadis itu dan kemudian ke arah televisi nya lagi.
"Lihat aja Sir! Lucu!" jawab Anna tertawa pada pria itu.
Lucas tak menjawab apapun, ia melihat senyuman yang mengembang namun sedikit berbeda dengan senyuman yang biasa di berikan pada nya.
Ia pun menoleh ke arah televisi dan ikut menonton nya.
__ADS_1
Suara renyah gadis yang tertawa itu memenuhi ruangan mansion itu, namun pria yang juga ikut menonton film itu tak tertawa sama sekali.
Wajah nya begitu datar seperti tak memiliki emosi yang bisa membuat nya tergelitik, sesekali yang ia lihat adalah gadis yang tertawa dengan senang itu.
Film bergenre komedi romantis itu terus berjalan sampai kedua pemeran yang bermain mulai melakukan kontak fisik.
"Ekhm! A..anda mau ini Sir?" ucap Anna yang menawarkan salad yang di berikan pelayan pada nya untuk camilan menonton tv.
Ia masih bersikap biasa saja karena ia pikir itu hanya sekedar adegan ciuman biasa.
Lucas tak menjawab, ia hanya melihat sejenak ke arah salad itu dan kembali menonton tv nya.
Sedangkan Anna terlihat canggung, walau ia sudah pernah ciuman atau bahkan sudah tau 'ukuran' pria itu namun ia tetap saja merasa canggung.
"Ahh..."
"Shh.."
Anna semakin tercekam, adegan yang ia pikir hanya ciuman belakang berubah menjadi adegan panas.
Loh? Ini genre apa? Kenapa begini?
Batin nya yang merasa begitu malu apa lagi itu adalah film pilihan nya, mata nya melirik ke arah pria itu yang masih diam dan tetap datar.
Dia tidak akan mengatakan apapun kan?
Batin nya yang ingin segara adegan itu cepat berakhir.
"Sir? Anda mau minum? Mau saya buatkan teh?" tanya Anna pada pria itu dengan mata yang mencuri pandang ke bagian tengah paha pria itu.
Fyuh! Untung ga bangun tuh!
Anna merasa begitu lega saat ia mencuri pandang ke arah 'adik Lucas' itu yang tak menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
Lucas menoleh ke arah wajah yang menawari nya minuman, "Kalau kita melakukan seperti mereka, kau akan m*nd*sah seperti itu juga?" tanya nya dengan datar.
"Ha? A..apa?" tanya Anna yang langsung tersentak mendengar pertanyaan yang sebenarnya tak ingin ia dengar itu dan juga pertanyaan yang tak bisa ia jawab.
"Coba? Katakan? Kau juga akan m*nd*sah seperti itu? Di bawah tubuh ku?" tanya Lucas mengulang sembari melihat ke arah wajah gadis itu.
Ia tak merasakan apapun saat melihat adegan di film itu, namun begitu membayangkan gadis yang ada di depan nya seperti yang berada di film membuat nya merasakan panas.
"Sa..saya..." ucap nya Anna lirih yang bingung bagaimana menjawab nya.
"Kamu mau mencoba nya?" tanya Lucas sembari menarik tangan gadis itu agar dapat merapat pada tubuh nya.
"Tu...tunggu Sir!" ucap Anna yang menolak dan langsung mendorong pria itu namun tenaga kecil nya tak bisa melepaskan rangkulan pria itu.
Lucas melihat ke arah wajah gadis itu, menunggu ucapan apa yang ingin di katakan nya.
"Sa..saya kan ma..masih di bawah u..umur..." ucap Anna yang mencoba mencari alasan.
"Lalu? Kau tau? Anak perempuan berumur 14 tahun mulai di jajarkan," ucap Lucas pada gadis itu.
"Ha? Anda tau dari mana? Kenapa anak sekecil itu sudah di.." ucap nya yang menggantung.
Lucas menarik napas nya, walau ia tak pernah berhubungan namun bukan berarti ia tak tau sisi gelap orang-orang berkuasa seperti nya yang memiliki sisi yang menyimpang walau ia tak kalah menyimpang nya dengan yang lain juga.
"Anak-anak sekarang masih perawan hanya sampai umur 12 - 14 tahun, jadi wajar kan di umur segitu?" jawab nya pada gadis itu.
"Saya masih perawan," jawab Anna yang membantah ucapan tersebut.
Lucas tak menjawab atau pun mengatakan sesuatu lagi, ia menarik dagu gadis itu dan mencium nya.
Bibir bulat itu menjadi bulanan untuk ia hisap, rambut halus yang bergelombang dan di gerai itu dapat ia sisir dengan jemari nya.
Kaki yang memiliki warna kulit putih susu itu ia naikan ke atas paha nya sembari tak melepaskan ciuman nya.
"Hah..."
Suara napas yang terdengar saat pria itu melepaskan lum*tan nya, ia menatap wajah yang bulat dan bagi nya adalah sesuatu yang tampak begitu indah.
Begitu bewarna dan begitu hidup, sesuatu yang memang harus menjadi milik nya apapun yang terjadi.
Pria itu tak mengatakan sepatah kata pun, hanya gerakan tubuh nya yang menjawab segala nya.
Gerakan yang begitu cepat bahkan sampai membuat gadis itu belum sempat menyadari nya.
"Uhm! Si..sir..."
Suara yang terdengar lirih, kaki yang gemetar dan kepala yang tenggelam di tengah nya.
Pria itu menengandah, menatap gadis yang sudah tertidur di sofa itu sembari sesekali meremas rambut nya.
"Kau masih belum bersuara seperti dia," ucap Lucas lirih yang sangat ingin melihat gadis juga mend*sah hebat saat bersama nya.
Bukan suara lirihan seperti sekarang, ia masih menginginkan lebih.
"Hum?" Anna menatap sayup.
"Tapi yang di sini sudah sangat basah," ucap pria itu sembari mengusap dengan jemari nya.
"Ugh!" gadis itu tersentak dengan ulah pria itu yang tiba-tiba.
"Kau mau? Aku bisa berikan yang lebih," ucap nya sembari beranjak naik namun tangan nya masih tertinggal di bawah.
Anna tersentak, kali ini kembali tersadar dari godaan maut pria itu.
"Sir! Sa..saya..."
Lucas melihat, menunggu gadis itu menyelesaikan apa yang ingin di katakan.
"Sa..saya mau punya u..umur yang cu..cukup dulu..!" ucap Anna yang ragu sekaligus berusaha mengatakan nya dengan penuh keberanian.
"Setelah cukup umur kau akan memberikan nya pada ku?" tanya pria itu dengan wajah yang datar.
"Ha? Eh? I..iya..." jawab Anna yang asal agar pria itu mau melepaskan nya kali ini.
"Lalu sekarang tidak mau?" tanya Lucas dengan jemari nakal yang menggoda bagain bawah gadis itu.
Anna tersentak, ia menggeleng namun pria itu semakin menggoda nya dengan jemari yang sedang berpiano itu.
"Umhp!" Gadis itu menahan suara nya, tangan nya menggenggam lengan pria itu.
Pria itu tanpa sadar tersenyum simpul, padahal di begitu banyak adegan yang lucu tadi ia sama sekali tak bereaksi.
"Baik, 7 bukan 23 hari lagi kan?" ucap nya sembari mengecup kening gadis itu sembari mengangkat jemari nya dan memasukkan ke dalam mulut gadis itu.
Ia bahkan tau kapan gadis itu berulang tahun ke 18 nya dengan begitu rinci karna ia memang sangat menunggu nya.
"Hung?" Anna menatap sayup dan menurut tanpa sadar saat pria itu memasukkan jari ke dalam mulut nya.
__ADS_1
"Kau harus benar-benar memberikan nya pada ku nanti, karna kau sudah benar-benar membuat ku menunggu." bisik pria itu dengan suara yang berat di telinga gadis yang berhasil membuat nya merasakan semua rasa yang bahkan tak pernah ia bayangkan akan ia tau.