Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Mengancam


__ADS_3

Perpustakaan.


Luciana diam sejenak, ia memandang wajah yang tak mengatakan apapun pada nya setelah mengucapkan kata-kata yang harus nya membuat gadis itu sadar diri dan mundur.


"Anna?" tanya Luciana sembari memandang wajah diam gadis itu.


"Iya?" jawab Anna yang kemudian tersentak dan menatap ke arah wanita cantik yang ia kagumi itu.


"Aku tau maksud yang Lucy bilang," sambung gadis berambut pirang bergelombang itu.


Luciana tersenyum, ia merasa sindiran nya sudah cukup keras untuk gadis itu mengerti.


"Lucy ga suka Cinderella ya? Sama kok aku juga ga begitu suka karna cerita nya punya ibu tiri yang jahat! Aku lebih suka Spongebob! Lucy?" ucap Anna yang kemudian menatap wajah wanita itu dengan berbinar karna ia memang mengagumi wanita cantik itu.


"A.. Apa?!" Luciana mengernyitkan dahi nya menatap dengan bingung.


Jika sebelum nya gadis itu yang mengernyitkan dahi nya karna tak mengerti ucapan nya, kini ia ia yang mengernyit karna tak paham.


"Spongebob! Kan lebih bagus dari Cinderella! Yang paling aku suka si Sandy, karna dia pinter! Hihi! Lucy suka nya siapa?" ucap Anna yang juga ingin ikut berbicara tentang kartun.


"Kenapa tiba-tiba bahas ke situ? Kita kan sedang bicara tentang analogi dongeng," ucap Lucy yang mencoba tersenyum.


"Oh? Iya juga ya? Tapi kalau begitu aku lebih suka Mulan karna dia kuat atau Aurora karna dia punya ibu penyihir yang sayang sama anak raja!" ucap Anna yang menyebutkan karakter favorit nya.


Luciana memejam, ia kesal namun ia tak bisa mengeluarkan amarah nya.


"Ya, kau benar." ucap Luciana mengangguk.


"Tapi kau lebih cocok jadi Ariel," sambung nya dengan tersenyum.


Karna kau akan menghilang seperti buih laut


Anna diam sejenak, bagi nya dongeng adalah dongeng dan tentu ia tak tau cerita kelam di balik ending bahagia setiap dongeng yang terkenal.


"Berarti aku cantik? A.. Ariel kan cantik..." ucap nya yang gugup saat merasa di puji dengan seseorang yang ia kagumi.


Luciana membeku, ia kehabisan kata-kata dan hanya bisa tersenyum kesal dengan merapatkan gigi nya.


"Ya, aku akan pergi lebih dulu." ucap nya yang tak ingin gila dan naik darah berbicara dengan gadis itu.


"Hati-hati," ucap Anna yang tersenyum dan merasa senang.


......................


Mansion Damian


Lucas menatap gadis yang tampak senang seperti mendapat sesuatu yang baru itu.


"Sesuatu yang baik terjadi?" tanya nya sembari menatap ke arah gadis nya dan mendekat.


Anna menoleh, ia menatap ke arah pria yang sekarang sudah dalam 100 % menjadi sandaran nya tanpa ia sadari.


Anggukan menjadi jawaban, Lucas memegang pipi yang terlihat bulat dan halus serta lembut itu.


"Apa itu?" tanya nya sembari menatap wajah yang melihat ke arah nya.


"Aku seperti menemukan teman baru, tapi tenang karna dia perempuan!" ucap Anna yang tersenyum.


Lucas tak mengatakan apapun untuk sesaat, ia memperhatikan wajah yang tampak senang itu.


"Siapa?" tanya nya yang ingin tau segala nya tentang gadis itu.


"Dia pernah jadi narasumber di seminar kami, nama nya Luciana tapi dia minta di panggil Lucy aja." Anna menjawab pertanyaan yang di berikan pada nya.


"Luciana?" tanya Lucas mengernyit.


Anna menangguk, ia menatap ke arah pria yang berada pada nya saat ini.


"Jangan terlalu dekat dengan dia," ucap nya yang mengatakan perintah larangan.


"Kenapa?" senyum di wajah cantik itu menghilang saat mendengar nya.


"Kau ada di posisi untuk bertanya? Anna? Kau harus nya selalu menuruti ku tanpa menanyakan apapun kan?" ucap Lucas yang membuat mata biru gadis itu bergetar.


Anna tak menjawab, ia diam dan kemudian menurunkan pandangan mata nya yang cantik itu.


"Ya..." jawab nya lirih yang kemudian mendapatkan pelukan dari pria di depan nya.


Pria yang mirip bagaikan bom waktu yang bisa meledak tanpa alasan.


"Sayang sekali kau sedang datang bulan..." gumam Lucas yang sekarang tak puas jika hanya dengan tangan atau mulut mungil itu.


Anna tak mengatakan apapun, ia diam dan membiarkan pria itu memeluk tubuh kecil nya dengan erat.


......................


Sementara itu.

__ADS_1


Seorang wanita tengah tampak begitu kesal, ia merasa di bodohi dan di permainkan.


"Anak itu memang bodoh atau pura-pura bodoh?!" decak nya yang merasa begitu kesal akan sesuatu.


Bisa-bisa ada seseorang yang bahkan sangat tidak sadar diri dengan sindiran yang keras?


"Nona? Anda kesal lagi?"


Suara bariton pria yang datang mendekat ke arah nya, mencoba menenangkan amarah nya.


"Ya, aku ingin membuka kelapa seseorang untuk tau dia punya otak atau tidak." ucap nya yang terdengar begitu kesal.


"Apa ini tentang pria bodoh yang menolak anda? Mungkin dia tidak tau pesona anda." ucap pria itu yang hanya mengatakan kata-kata yang di senangi.


"Ya, pria itu juga. Aku ingin lihat wajah angkuh nya yang hancur!" ucap Luciana sembari membuang napas nya.


"Ke sini," perintah nya pada pria yang datang dengan sebotol wine dan gelas itu.


"Kau tau kan? Aku tidak membunuh lalat karna ingin mendapatkan sesuatu?" tanya yang melihat ke arah pria tampan nya.


"Apa yang harus saya lakukan?" tanya pria itu yang langsung tau jika wanita di depan nya ingin melakukan sesuatu.


Luciana tersenyum, ia mengusap wajah pria yang memang harus tunduk pada nya karna ia adalah seseorang yang ingin memerintah dan bukan nya di perintah.


......................


Satu bulan kemudian


JNN grup


Diego sudah kembali dari masa cuti nya, tak ada pembicaraan lagi tentang tes DNA dan kedua nya hanya terdiam untuk masalah itu.


"Kau sudah membaik?" tanya Lucas dengan wajah tanpa bersalah sedikit pun sembari melihat ke arah data yang di bawa pria itu.


"Ya," jawab Diego singkat yang kali ini tak ingin menunjukkan senyuman nya bahkan hanya untuk pura-pura.


"Pricilia mati? Ulah mu?" tanya Lucas yang menayangkan tentang bibi ketiga nya yang mengalami kecelakaan secara tiba-tiba.


"Seseorang yang mati tidak akan bisa membuka mulut nya," jawab Diego yang tak mengatakan terang-terangan jika itu ulah nya.


Lucas mengangguk, walaupun sepupu nya tak menjawab dengan jelas namun ia tau.


"Sore nanti antar laporan perusahaan cabang yang berada di Cologne dan Coswig," ucap nya pada Diego.


"Ya," jawab singkat dan kemudian berbalik pergi.


Diego pun melangkah keluar, ia berhenti sejenak sebelum menyentuh gagang pintu itu.


"Tidak masalah, apapun hasil nya tidak akan ada yang berubah. Lagi pula aku juga tidak berniat memiliki anak." jawab Lucas dengan datar.


"Dan lagi, kenapa kau terlihat sangat gelisah? Aku tidak akan bertanya tentang hubungan kau dengan ibu yang bahkan tidak ku ingat dan lagi? Kau lupa? Bahkan jika anak itu memang benar saudari ku aku masih bisa menikahi nya," Ucap Lucas yang tersenyum namun wajah nya terlalu kesal.


"Kau benar, dan ku rasa untuk pertama kali nya aku membenci pemerintah," ucap Diego yang kemudian keluar.


Ia tau bahkan setelah gadis itu memang terbukti saudara seibu tetap saja negara nya melegalkan dan sepupu nya itu masih bisa menikahi nya.


Namun biarpun begitu bagaimana dengan seorang gadis yang bahkan tak tau apapun itu?


Saat kunjungan kedua Anna ke rumah sakit ia bahkan mendengar impian tentang menyebutkan anak yang ingin di miliki dan keluarga.


Dan itu adalah keinginan yang pertana kali nya di sebutkan oleh gadis itu, tentu ia tak mengatakan apapun tentang sepupu nya yang tak ingin memiliki anak belum lagi tentang kecurigaan yang bahkan belum teratasi.


...


Lucas masih terdiam, ia melihat audit perusahan yang tak semesti nya, ia mencoba mencari alasan nya dan kesalahan di mana letak nya.


"Seperti nya ada tikus yang ingin mencuri..." gumam nya yang merasa ada yang ingin mengambil alih milik nya.


Bagi nya perusahan yang ia pimpin saat ini adalah segala nya, ia tak memiliki emosi apapun dan tentu pekerjaan adalah 'kekasih pertama' nya selama hampir dari keseluruhan usia nya.


......................


Dua bulan kemudian.


Stone Craft Grup


Kali ini petinggi dari JNN lah yang datang, peluncuran aplikasi dan sistem yang mendukung untuk produk yang akan di keluarkan secara bersama harus di tunjukkan.


Kini rapat yang bernilai miliaran dolar itu telah selesai, mata tajam yang indah dan cantik itu menatap ke arah pria yang belum keluar dari tempat itu.


"Ada yang ingin di bicarakan?" tanya Luciana yang mencoba membuka pembicaraan.


"Kau memiliki kinerja yang sangat bagus," jawab Lucas yang diam sejenak dan kemudian mengatakan hal lain.


Entah sebuah pujian atau sindiran.


"Aku akan anggap itu sebagai pujian," ucap Luciana tersenyum.

__ADS_1


Lucas tak menunjukkan ekspresi apapun dan kemudian tersenyum miring mendengar nya.


Memang dalam beberapa waktu terakhir ia beberapa kali menemui wanita itu dalam pertemuan pribadi atau resmi dari perusahan karna ia masih memiliki hubungan mitra kerja.


Dan selain itu ia ingin menangkap ekor tikus yang kemungkinan bersarang di perusahan besar yang menjadi mitra nya itu.


"Presdir JNN Grup, Lucas Alessandro Damian. Anda pria yang terlalu sempurna sampai terlihat mencurigakan." ucap Luciana dengan senyuman tipis.


"Apa aku juga bisa anggap itu sebagai pujian?" tanya Lucas yang menaikkan satu alis nya sembari melihat ke arah wanita yang berbicara pada nya itu.


Luciana mengangguk, ia menatap ke arah pria yang berada di depan nya seperti menginginkan sesuatu namun ia tak tau apa itu.


"Kau sangat mencintai perusahan mu kan? Mau dengar saran yang cocok? Untuk mu dan juga untuk ku dan kalau kau tidak menyetujui nya aku harap kau akan lupakan apa yang ku katakan," ucap nya yang mencoba memberikan sesuatu.


Lucas tak menjawab namun ia mendengarkan.


"Mau menikah dengan ku? Bukan atas dasar cinta tapi untuk perusahan, peluncuran produk baru akan di lakukan tahun depan dan jika ada sesuatu tentang kita maka saham akan naik dan keuntungan nya akan berlipat ganda."


"Investor akan semakin banyak yang datang, dan penanaman modal serta suntikan dana akan datang dengan sendiri nya. Efesiensi waktu bisa sampai lima tahun." sambung wanita itu yang mencoba mengutarakan maksud nya.


Lucas diam sejenak, ia tau wanita itu bukan hanya memberi iming-iming fatamorgana karna penawaran yang di berikan sangat menguntungkan perusahaan nya.


Tapi!


Ia juga mencurigai wanita itu sebagai tikus yang merongrong perusahaan nya dan mencoba melubangi nya.


"Seperti nya aku sudah bilang kalau aku memiliki kekasih," ucap Lucas yang menjawab namun sudah terdengar seperti penolakan.


"Kekasih? Dia seperti simpanan mu di bandingkan kekasih. Kau jarang membawa nya ke pertemuan bisnis." ucap Luciana dengan senyuman.


Lucas tak mengatakan apapun, tentu ia tak perlu memberi tau alasan nya.


Dan tentu juga ia jarang membawa gadis itu ke dalam pertemuan bisnis bukan karna malu dengan status pasangan nya namun karna rasa tidak suka nya melihat mata yang sekarang mencoba memangsa gadis nya.


Ia tak tahan dengan mata lapar predator saat bertemu gadis yang bahkan saat ia diam pun membuat semangat buas itu bangun dan kecemburuan seperti itu yang membuat nya ingin mengurung gadis nya.


Bahkan kata-kata untuk menjadikan gadis itu sebagai bintang pun bisa ia ingkari kapan saja ketika kecemburuan itu yang lebih banyak meluap.


"Itu urusan ku," jawab Lucas yang tak menyanggah ataupun menyetujui nya.


"Aku tau setiap orang memiliki peliharaan yang manis dan di sayangi tapi peliharaan hanya lah objek untuk bersenang-senang bukanlah pasangan untuk bisa di gunakan untuk berjalan bersama." ucap Luciana yang menatap ke arah pria itu.


Lucas diam mendengar nya, walaupun tak menyebutkan gadis nya namun ia tau kalimat itu adalah hinaan yang di bungkus dengan kata-kata yang rapi dan indah.


Ia tersenyum sembari mengertakan gigi nya, senyuman kekesalan yang membuat nya ingin mencekik leher indah yang memakai kalung berlian itu.


Namun ia tau wanita di depan nya adalah seseorang yang tak bisa ia bunuh dengan mudah.


Bahkan jika ia membuat nya seperti kematian dalam kecelakaan hal itu juga bisa membuat kontoversi dan tentu perusahaan yang sangat ia lindungi itu bisa terseret.


Lucas berdiri, ia menatap dengan mata tajam nya namun wanita itu tak gentar ataupun takut.


"Kau tadi bilang jika aku tak setuju maka aku boleh melupakan ucapan mu? Maka aku akan katakan hal yang sama." ucap Lucas yang beranjak mendekat.


Suara langkah nya terdengar di ruangan yang begitu sunyi dan hening itu, Luciana memandang pria yang mendekat pada nya.


"Kau punya leher yang sangat indah? Begitu jenjang dan halus." ucap Lucas yang melihat ke arah lengkung leher yang terlihat karna sang empu mengikat rambut nya.


Luciana tak menjawab, ia tak tau pria itu sedang memuji atau menyimpan maksud dari perkataan nya.


"Leher yang indah itu memakai kalung yang cantik, aku boleh melihat nya?" tanya Lucas yang menundukkan pandangan nya dan menatap ke arah leher jenjang yang memakai kalung permata yang tampak elegan dan cantik itu.


Luciana tak menjawab namun ia tak menunjukkan penolakan saat pria itu melihat ke arah leher nya untuk memperhatikan kalung nya.


"Oh? Ternyata peliharaan yang ku miliki lebih berharga dari kalung itu." ucap Lucas yang kemudian bangun dan menatap tajam seperti tengah mengancam.


Deg!


Luciana tersentak mendengar nya, ia diam dan tak menjawab.


"Ku harap kau melupakan apa yang baru saja ku katakan dan aku akan melupakan apa yang baru saja kau katakan." ucap Lucas yang kemudian memutar langkah nya dan pergi.


Pintu tertutup, kini hanya wanita cantik itu yang terlihat.


Tangan nya gemetar, bukan takut melainkan amarah yang memuncak mendengar nya.


Brak!


Ia meremas dokumen kertas yang masih di meja nya dan kemudian melempar nya.


"Berani sekali br*ngsek itu mengancam ku!" ucap nya yang tak bisa mengontrol amarah nya sampai mengumpat.


Lebih berharga peliharaan dari pada kalung nya?


Kalung yang berada di leher nya dan leher yang memiliki arti lain sebagai nyawa nya.


Itu berarti pria itu lebih menganggap gadis bodoh yang bahkan tak mengerti tentang sindiran lebih berharga dari pada nyawa nya.

__ADS_1


"Aku akan membalas mu apapun yang terjadi, lihat saja! Br*ngsek!" ucap nya yang mengigit kuku nya tanpa sadar dan sedikit melupakan keanggunan nya saat ia baru pertama kali nya merasa begitu emosi pada seseorang.


Obsesi untuk memiliki dan menjatuhkan semakin kuat pada diri nya, dan mungkin bom waktu yang bisa melukai diri nya sendiri bersama dengan pria itu akan meledak.


__ADS_2