
Kediaman Veronica
Jane melihat sang ibu yang saat ini berbaring di atas ranjang nya setelah kecelakaan mobil.
"Mama kenapa bisa sampai kecelakaan si Ma?" tanya gadis itu yang melihat ke arah ibu nya.
"Nama nya juga kecelakaan!" ucap Veronica yang tampak kesal, "Jangan beri tau Papa mu," sambung nya lagi yang harus mengingatkan kembali putri semata wayang nya.
Dua Minggu yang lalu mobil yang ia kendarai mengalami kecelakaan, bukan kecelakaan yang berat namun kecelakaan yang memalukan.
Ia yang mendapat tugas atau urusan bisnis yang mengharuskan ia pergi ke tempat yang cukup terpencil.
Dan apa yang terjadi?
Tempat yang melewati jalan hutan itu tiba-tiba datang babi hutan yang besar dan menyeruduk mobil nya.
Tak ada yang bisa di salahkan karna hanya terlihat seperti kecelakaan alam dan bukan kecelakaan yang di rencanakan.
"Babi nya babi jantan itu Ma, maka nya dia nyeruduk mobil Mama. Dia bilang, 'Ih ada Tante cantik yang lewat, kenalan ah..' mungkin dia mikir nya gitu Ma." ucap Jane yang tertawa kecil dengan menggoda sang ibu.
Veronica menjadi geram, sudah ia terkena musibah putri nya malah datang hanya untuk meledek nya.
"Kamu gimana perkembangan nya? Sudah ada dekat dengan mereka?" tanya nya yang langsung membuat Jane terdiam.
"Diego biasa aja sih Ma, tapi kalau Lucas masih sama. Ga bisa di dekatin sama sekali." ucap nya yang sudah melakukan semua upaya agar pria dingin dengan mata tajam itu bisa ia goda namun hasil nya nihil.
"Harus bisa lah! Anak pelac*r itu saja bisa!" ucap nya yang memaki seseorang tanpa peduli makian nya benar atau tidak.
"Mama sih ga berhasil singkirin dia!" ucap nya yang kesal pada sang ibu.
Veronica tak mengatakan apapun, seseorang yang ia suruh untuk menghabisi gadis remaja bermata biru itu malah hilang kontak entah kemana dan ia tak bisa menghubungi nya lagi.
"Kamu keluar sana, Mama mau istirahat!" ucap nya yang mengusir putri nya.
Gadis cantik itu tampak kesal namun ia menuruti apa yang di katakan oleh ibu nya.
"Rencana kali ini harus berhasil!" ucap nya yang tentu memiliki rencana cadangan.
......................
Mansion Damian
Lucas menatap ke arah gadis remaja itu yang tampak kesulitan belajar bahasa asing.
Pengucapan yang berantakan, dan juga kosa kata yang masih sedikit.
"Belajar nya sampai di sini dulu, kau bisa keluar." ucap nya yang menyuruh guru yang mengajar gadis nya untuk keluar.
Anna menoleh, ia bernapas dengan lega saat mendengar nya dan menatap ke arah pria yang mendekat pada nya itu.
"Sir?" panggil Anna lirih yang menatap ke arah pria yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu itu.
"Kau dekat dengan anak yang bernama Gevan itu?" tanya Lucas yang tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasaran nya.
Pria itu memandang lurus, ia duduk di atas meja belajar gadis itu dan menunjukkan wajah nya untuk melihat ke wajah gadis yang duduk di kursi itu.
Ia memang tak mendengar apapun tentang ciuman namun ia mendengar suara pemuda yang berbicara dan terdengar dekat gadis nya.
"Eh?" Anna tersentak, ia bingung mengapa pria itu tiba-tiba menyebutkan nama kakak kelas nya.
"Jawab," ucap Lucas yang langsung membuat Anna gugup.
"Ti.. tidak! Sa.. saya tidak dengan dia..." jawab yang berusaha tersenyum.
Lucas tersenyum tipis mendengar nya, tangan nya perlahan memegang rambut ikal bergelombang yang halus itu, ia mengusap nya dengan pelan dan lembut.
"Bagus kalau begitu, Karna kalau kau berbohong aku mungkin akan-"
Greb!
__ADS_1
"Akh!"
Anna meringis, tangan yang sebelum nya masih mengusap rambut nya kini menarik nya hingga membuat kepala nya tertarik ke belakang dan wajah nya menengandah pada pria yang duduk di atas meja itu.
"Sa.. saya tidak bohong..."
"Sa.. saya kan paling suka a.. anda..."
Anna menjawab dengan suara gemetar yang lirih.
Pria itu memang memperlakukan dengan lembut satu bulan terakhir namun tetap saja terkadang ada kemarahan yang di pantik dengan kecemburuan yang ia saja tak mengerti.
Dan sikap lembut itu bisa hilang seketika seperti di telan bumi.
Lucas tersenyum, ia melepaskan rambut panjang yang ikal berwana pirang kecoklatan itu dan mengusap nya lag.
Anna tak mengatakan apapun lagi, tangan yang besar dan hangat itu bisa menenangkan nya sekaligus menyakiti nya jika ia mengambil langkah salah walau sekecil apapun itu.
...
Gadis itu kembali ke kamar nya, ia membuang napas nya dengan kasar sembari membuka salah satu nakas nya.
Buku tabungan, uang tunai dan beberapa kartu kredit dengan jumlah tak terbatas yang bahkan belum pernah ia gunakan.
Wajah cantik itu tersenyum, ia memiliki persiapan untuk ia melarikan diri nanti nya, walaupun ia tidak tau kapan akan lepas dari penjagaan pria itu ia tetap berusaha untuk kabur.
Ponsel nya bergetar, netra yang biru itu langsung mencari sumber suara dan melihat nya.
"Kakek?" gumam nya dengan wajah yang tersenyum.
Walaupun pria tua itu memiliki mulut cerewet dan suka memukul nya dengan tongkat namun ia merasa pria tua itu tak berbahaya.
Ia mengangkat nya, dan sekali lagi panggilan untuk menyuruh nya datang.
Dan tentu mobil yang akan menjemput gadis itu akan tiba dan juga cucu pertama nya mau tak mau harus mengizinkan gadis remaja itu keluar.
......................
Mansion keluarga Damian
Anna mengelus kepala nya yang terasa sakit saat pria tua di depan nya itu kembali memukul nya dengan tongkat karna kalah bermain.
"Saya memang atau kalah kenapa masih di pukul sih kek? Sakit tau! Nanti saya tidak mau ke sini lagi! Kakek main sendiri aja!" ucap nya yang terlihat kesal dan memandang dengan wajah mengerucut.
Mr. Ehrlich menarik napas nya, ia terlihat dan berpura-pura tak acuh dengan ancaman gadis remaja itu walaupun sebenarnya ia gusar.
"Kalau begitu sekarang waktu nya makan malam!" ucap nya yang langsung mengalihkan pembicaraan.
Anna masih cemberut, ia mengusap kepala nya sekali lagi.
Mr. Ehrlich terlihat gelisah, "Boneka yang kemarin ku berikan suka?" tanya nya yang mencoba mengalihkan perhatian.
Anna menoleh, tak seperti hadiah boneka yang ia dapatkan dari Lucas. Hadiah boneka yang di berikan oleh Mr. Ehrlich adalah definisi boneka normal yang high clas.
Boneka Barbie besar dengan gaun yang di hiasi permata asli dan kepingan emas, cantik dan berkilau tanpa ada bentuk yang menyeramkan sama sekali.
"Suka!" ucap Akan seketika pada pria tua itu.
"Kalau suka besok aku berikan lagi, tapi kau ke sini lebih awal! Aku akan menang besok!" ucap nya yang masih tak terima dengan kekalahan nya hari ini.
"Kalau kakek kalah saya yang pukul pakai tongkat boleh?" tanya Anna dengan mata semangat.
Duk!
"Dasar anak nakal!" ucap nya yang kembali memukul kepala kecil itu dengan tongkat nya.
"Kan cuma tanya..." sahut Anna pada pria yang terlihat kesal dan sangat mudah emosi itu.
Mr. Ehrlich menarik napas nya, "Kau mau makan apa?" tanya nya pada gadis remaja itu.
__ADS_1
"Tidak mau," jawab Anna terlihat kesal.
Pria tua itu menarik napas nya, ia memang memiliki tiga anak perempuan namun anak perempuan yang ia miliki tak ada penuh dengan ekspresi seperti gadis remaja di depan nya.
Entah karna didikan yang dulu begitu keras atau karna ia yang memang tak pernah dekat dengan anak-anak nya.
"Kalau begitu salad?" tanya Mr. Ehrlich yang mengatakan sesuatu yang sering di makan oleh wanita.
Anna melirik, ia lebih suka yang berdaging dari pada tumbuhan.
"Steik..." jawab nya lirih dengan suara kecil.
"Oke! Kita makan steik malam ini!" ucap nya pada gadis remaja itu.
Mata biru itu berbinar, selama ia berada dan datang di mansion pria tua itu dan makan bersama ia harus menyesuaikan makanan yang sama dengan pemilik mansion.
Dan tentu makanan yang di makan oleh Mr. Ehrlich adalah makanan yang tidak mengandung banyak lemak atau garam karna kondisi nya.
Melihat mata yang langsung berbinar itu membuat Mr. Ehrlich tersenyum kecil. Ia memanggil pelayan nya dan menyuruh menyiapkan makanan yang ingin ia makan.
Dan tentu steik yang ia makan akan sedikit berbeda karena harus di kurangi banyak lemak dan cita rasa yang harus lebih sederhana walaupun bahan dasar nya sendiri sudah daging.
Pria tua itu tidak tau sama sekali, jika setengah dari pelayan mansion nya bukan lagi orang-orang yang mengikuti nya melainkan orang-orang yang selalu menunggu waktu yang tepat untuk menyingkirkan nya.
1 jam kemudian
Waktu yang cukup lama untuk menyiapkan malam karna ia memesan dengan banyak syarat.
Anna tersenyum, ia memakan makanan yang masuk ke dalam mulut nya dan di sukai dengan lidah nya itu.
"Aku akan berikan makanan yang lebih banyak juga nanti! Yang penting kau harus bermain lagi! Aku akan menang nanti!" suara serak khas manula itu yang tertawa sembari memakan makanan nya.
"Anda terus bilang akan menang tapi kalah terus," ucap Anna pada Mr. Ehrlich.
"Anak nak- Uhuk!" Mr. Ehrlich mulai terbatuk.
"Kek?" Anna memanggil lirih, pria tua itu tampak terus terbatuk berulang kali.
"Anda mau minum?" tanya Anna bergerak dari duduk nya dan mendekati pria tua itu sembari memberikan segelas air.
Mr. Ehrlich tak menerima nya, kepala nya berdenyut dan dada nya terasa sesak sedangkan ia mulai kehilangan kesadaran.
Bruk!
"Kek! Kakek!" ucap nya yang terkejut melihat pria tua itu yang terjatuh di dari kursi nya.
Tentu malam itu juga, pria tua itu di larikan ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan.
......................
Rumah sakit.
PLAK!
"Pembunuh!"
Satu tamparan yang begitu keras memukul ke arah pipi mulus yang putih itu dengan satu kata yang lebih menyakiti dari pukulan nya.
Sudut bibir nya terluka seketika dengan pipi yang tergores akibat cincin yang di pakai saat menampar nya.
Namun tak ada perlawanan sama sekali, tubuh nya gemetar. Mata nya sembab merah dan tangisan lirih yang tak berhenti sejak tadi.
Pria itu tersentak, ia langsung menarik gadis yang di samping nya dan memeluk nya.
"Apa yang kau lakukan?! Berani sekali menyentuh nya?!" mata tajam itu tampak tak menyukai perbuatan bibi nya yang dengan terang-terangan memukul gadis nya itu.
"Kau membela pembunuh ini?! Dia yang membuat kakek mu mati!" ucap wanita itu yang menyalahkan gadis yang tampak terkejut itu dan menangis itu.
"Tutup mulut mu," pria itu memandang tajam, tangan nya mendekat tubuh yang semakin gemetar karna tangis itu.
__ADS_1