Calm Down! Mr. Psycho!

Calm Down! Mr. Psycho!
Belajar bersama


__ADS_3

Mansion Damian


Gadis itu perlahan naik ke atas tempat tidur nya, ia telungkup agar membuat b*kong sedikit beristirahat.


Hampir dini hari namun ia tak bisa memejamkan mata nya, "Sam hari ini juga sendiri kan?" gumam nya yang mengingat jika teman nya itu tadi bilang akan sendirian di rumah karna kedua orang tua yang pergi ke luar kota.


"Kalau sendiri kan anak itu lama tidur nya," sambung nya lagi yang meraih ponsel nya dan menelpon teman nya itu.


Ia tak bisa tidur maka dari itu ia pun mencari seseorang yang juga tidak tidur untuk di ajak bicara pada nya.


Sambungan telpon yang masih berbunyi senada, belum ada balasan dan gadis bermata biru itu pun masih menempelkan ponsel nya ke telinga.


"Ha..halo?"


"Sam? Belum tidur kan?" tanya Anna yang langsung bersemangat sembari membenarkan posisi telungkup nya.


"Engh?"


"Sam?" panggil nya lagi dengan dahi yang mengernyit saat mendengar suara teman nya yang berbeda.


"Ya? Ugh..."


"Sam? Kenapa sakit?" tanga nya yang mendengar suara berisik serta napas yang terdengar berat.


"Eng... engga..."


"Terus kenapa suara kamu beda? Kamu di rumah sendiri kan? Sam?" panggil nya lagi dengan nada yang mulai khawatir.


"I..iya, Hpmm..."


"Sam? Sam!" panggil nya yang semakin panik mendengar suara teman nya yang berubah.


Dahi nya mengernyit, ia mendengar suara halus lain nya dari balik telpon nya.


"Sam? Perlu ku panggilkan polisi? Atau ambulance?" tanya nya lagi pada teman nya.


"Enh..."


"Pe..pelan sedikit..."


Anna mengernyit, "Pelan apa Sam? Kamu gak apa-apa? Sam?" suara yang terdengar semakin panik.


"A..aku lagi la..ri... Ugh!"


Mata gadis itu semakin mengernyit mendengar nya, "Lari? Lari apa? Ini jam dua pagi Sam!" ucap nya pada teman nya.


"Ugh! Jangan ganggu Ann!"


Tip!


Anna semakin bingung, panggilan telpon nya langsung terputus dan membuat nya semakin panik.


"Jangan-jangan ada perampok yang masuk? Dia di ancam? Astaga!"


Gadis itu langsung bangun dan turun dari tempat tidur empuk nya, tak peduli b*kong yang masih nyeri namun ia benar-benar khawatir dengan teman nya.


Langkah kaki yang berlari cepat sampai tak bisa mengerem nya jika harus berhenti tiba-tiba.


"Oh God!"


Gadis itu tersentak, ia hampir terjatuh namun langsung menarik celana pria di depan nya agar b*kong tak sampai menyentuh lantai.


"Eh? Anak ini!"


Anna langsung menengandah dan menatap pria yang terlihat terkejut dan memarahi nya itu sembari memegang celana nya agar tak tertarik sampai ke bawah karna menjadi pegangan nya agar tak jatuh.


"Ma...maaf Sir..." ucap nya lirih.


"Kenapa belum tidur?" tanya Diego yang terpaksa memiliki pekerjaan malam karna sepupu nya.


"Sir! Gawat!" ucap Anna dengan wajah yang panik dan langsung bangun.


"Iya, gawat memamg..." jawab Diego lirih yang memikirkan sepupu nya berbeda dengan gadis itu yang memikirkan teman nya.


"Kayak nya teman aku sekarat deh! Mungkin rumah nya di rampok? Dia pasti di-"


"Ha? Coba bilang pelan-pelan," potong pria itu langsung yang bingung dengan apa yang di katakan gadis di depan nya.


"Tadi kan aku telpon temen ku," jawab Anna yang mencoba setenang mungkin walaupun i sendiri sudah sangat panik.


"Kenapa malam-malam? Malam tuh tidur bukan nya telponan," ucap nya yang malah berbalik memarahi gadis remaja itu.


"Ih! Dengerin dulu Sir!" ucap Anna yang merasa harus menceritakan masalah nya.


"Okey, lanjutkan." jawab Diego.


"Terus suara temen aku itu beda! Suara nya kayak habis terus berat, kayak susah napas gitu!" ucap nya pada pria di depan nya.


"Ya?" Diego memiringkan kepala nya mendengar ciri-ciri familiar yang biasa ia temui.


"Aku tanya terus dia bilang gak apa-apa, tapi aku tanya terus, setelah itu dia jawab kalau dia lagi lari!" sambung Anna dengan wajah yang benar-benar panik dan khawatir.


"Dia lari? Mungkin dia memang suka lari, run to heaven." ucap Diego dengan tersenyum kecil yang merasa semakin familiar dengan cerita teman gadis itu.


"Tapi Samantha itu gak suka olahraga! Aku kenal dia!" ucap nya merasa ganjil.


"Aku harus telpon ambulance atau polisi? Sam lagi sendirian di rumah, orang tua nya pergi keluar kota! Tadi juga kayak ada suara yang berisik gitu!" sambung Anna yang terlihat semakin khawatir.


"Teman mu itu punya pacar?" tanya Diego yang menarik napas nya.


"Punya..." jawab Anna lirih pada pria itu.


Pria itu mengangkat sudut bibir nya dan memegang kedua lengan gadis itu, "Bayi cumi-cumi gak boleh ganggu temen nya yah? Sekarang balik ke kamar terus tidur kalau gak mau gurita raksasa datang..." ucap nya yang membalik tubuh gadis itu dan mendorong nya ke arah kamar nya lagi.


"Tapi Sam-"


"Iya, nama nya Samantha kan?" tanya Diego yang ingat gadis itu sempat menyebutkan nama teman nya.


"Iya," jawab Anna lirih.


"Aku yang akan kirimkan bantuan untuk nya," ucap nya pada gadis itu, "Tidur sana, nanti gurita raksasa datang..." ucap nya yang menyebutkan sepupu nya dengan kata gangti yang lain.


Setelah membuat gadis remaja yang tidak tau apapun selain uang itu, ia pun berbalik.


"Astaga!"


Baru saja ia di kejutkan dengan kedatangan tiba-tiba gadis remaja yang berlari dan menabrak nya kini ia di kejutkan dengan kehadiran 'Gurita raksasa' yang baru saja ia sebutkan pada gadis itu tadi.


"Kenapa kau di depan pintu kamar nya?" wajah yang tampak tajam dengan sorot mata yang menekan itu melihat dengan lurus.


"Menyuruh cumi-cumi mu untuk tidur," jawab Diego pada para pria itu.


"Cumi-cumi? Berani sekali kau panggil cumi-cumi ku dengan cumi-cumi!" ucap nya yang tampak kesal dan tak terima.


"Hey? Are you jealous over that little thing?" tanya Diego saat melihat sorot yang menatap nya dengan kesal.


"Jangan memanggil nya dengan nama yang ku buat," jawab Lucas dan berbalik ke arah yang berlawanan.


"Anak itu tidak mati kan?" tanya Diego yang mengikuti langkah kaki sepupu nya itu.

__ADS_1


Tak ada jawaban, Lucas terlihat sangat malas menjawab nya.


"Pulang, jangan menginap malam ini." ucap yang mengusir sekertaris sekaligus sepupu nya di jam dua dini hari.


Diego menatap kesal ke arah wajah datar yang tampak tak memiliki beban atau dosa. itu.


"Tidak mau! Aku tidur di sini!" ucap nya pada sepupu nya itu sembari memutar arah ke kamar yang biasa ia gunakan.


Sudah belum beristirahat sejak kembali, di tambah beban pekerjaan ekstra, dan setelah selesai di usir dini hari.


Lucas tak mencegah nya lagi, ia hanya menarik napas nya, ia membuka sarung tangan nya yang berwarna hitam dan berbau anyir itu lalu mengganti pakaian nya.


Sementara itu.


Gadis remaja itu masih belum tidur walaupun ia sudah di suruh tidur, "Kok aku ganggu sih? Aku kan khawatir!"


Ia merasa bingung, kenapa teman nya sendiri sekaligus pria itu menyuruh nya untuk 'jangan menganggu' padahal ia merasa tak menganggu kegiatan apapun dan malah mengkhawatirkan keadaan teman nya.


Wajah nya tampak tak terima dan ingin bertanya lagi pada Diego apa maksud perkataan yang tadi.


Klek!


"Eh?"


Langkah nya langsung terhenti, memang seharusnya anak-anak tak melawan ucapan orang yang lebih tua karna kini ia terkena dampak nya.


"Sir?" panggil nya lirih yang memundur satu langkah kecil.


"Kenapa belum tidur?" perayaan dengan wajah yang tampak tajam dan dingin itu membuat nyali gadis itu menciut.


"I..ini saya mau tidur..." jawab nya dengan senyuman yang langsung datang walau kaku.


"Tidur," perintah pria itu dengan satu kata singkat.


"Iya, tidur." jawab Anna mengulangi apa yang di katakan dan langsung beranjak ke atas tempat tidur nya.


Ia memiring ke kanan melihat ke arah pria itu karna tak bisa telentang.


Lucas mendekat, ia berdiri tepat di samping tempat tidur gadis itu dan mengusap kepala kecil dengan rambut pirang kecoklatan yang bergelombang itu.


"You're mine?" tanya nya sembari mengusap kepala gadis itu.


Ujung jemari yang hangat dan besar itu dapat di rasakan di kulit kepala gadis itu.


"Yes, Sir!" jawab Anna seketika dengan tak lupa senyuman canggung dan kaku di wajah nya.


Smirk pria itu naik, ujung jemari nya beranjak ke wajah cantik itu dan bergerak dengan begitu pelan dan lembut sampai membuat gadis itu menutup mata nya.


...


Mentari yang cerah dan terasa hangat, pria itu kali ini memilih ruangan lain yang bukan berada di ruang kerja nya untuk melihat pekerjaan nya.


"Sir?"


Suara yang memanggil nya lirih, deruan napas yang terasa di leher nya membuat nya melihat ke arah wajah kecil yang menengandah melihat ke arah nya.


"Kenapa?" tanya nya seminari menatap wajah gadis yang duduk di pangkuan nya.


"A..anda tidak sulit bekerja sambil memangku saya? Bagaimana kalau saya duduk di sofa saja?" tanya Anna yang mulai pegal karna masih merasa sakit di b*kong dan harus duduk di atas paha yang penuh dengan otot itu.


Lucas tak menjawab pertanyaan yang di lontarkan gadis itu, ia malah menatap Tampa berkedip ke arah wajah cantik dengan kulit seputih susu dan pipi yang memerah jika di perhatikan dari dekat.


"Hum?"


Anna tersentak, tangan besar pria itu menarik pinggang kecil nya lagi yang berukuran pas dengan genggaman pria itu sendiri.


"Ack!"


"S..sir..." panggil nya lirih yang menggeliat saat pria itu menggigit pipi nya dengan gemas.


Lucas melepaskan nya, awal nya tadi hana merah samar namun kini benar-benar merah karna gigitan nya.


Ia tersenyum melihat ke arah wajah cantik itu, sedangkan Anna langsung bergerak ke arah roti kering yang di sediakan sebagai camilan pria itu.


"I..ini Sir..."


"Ma..makan ini jangan ma..makan saya..."


Ucap nya yang beranjak menyuapi pria itu dan dengan sendiri nya pria itu membuka mulut nya dan menerima makanan yang di berikan dari tangan berjari lentik dan kecil itu.


Anna membuang napas nya lirih melihat ke arah pria yang sudah menatap laptop nya lagi, ia menyesal mengajak bicara dan membuat pria itu malah mengigit nya.


Padahal awal nya pagi nya baik-baik saja sampai pria itu memanggil nya dan membuat nya dalam situasi yang seperti saat ini.


Setelah kurang lebih satu jam Lucas mulai menutup laptop nya dan menatap ke arah gadis itu lagi.


"Hum?"


Anna menatap dengan bingung saat pria itu menoleh ke arah nya.


"Biasanya kau melakukan apa kalau memiliki waktu luang?" tanya nya pada gadis itu.


"Bekerja?" jawab Anna sembari menatap ke wajah pria itu.


"Bukan itu, maksud ku kalau kau sedang libur dan tidak ada pekerjaan sama sekali." ucap nya lagi pada gadis itu.


"Ohh, saya tidur seharian." jawab Anna yang mengerti maksud pertanyaan pria itu.


"Tidur saja?" tanya Lucas sembari mengernyitkan dahi nya.


"Ya, saya tidur lalu makan lalu buang air lalu tidur lagi." jawab Anna mengatakan rutinitas impian nya yang ia inginkan.


Lucas memejam, wajah gadis itu tampak jujur dan begitu polos mengatakan nya membuat nya kehabisan kata-kata.


"Kenapa kau tidak pernah pakai kartu yang ku berikan?" tanya nya lagi pada gadis itu.


"Saya lebih suka pembayaran langsung dari pada kartu..." jawab nya lirih.


"Makanya kau lebih memilih ikut menari dan mendapat uang yang tidak seberapa itu?" tanya Lucas lagi.


"Anda tau dari mana?" tanya nya lirih dengan wajah yang bingung saat pria itu tau ia menari dan mendapatkan upah.


"Kalau kau di tanya dan di beri pilihan meninggalkan ku untuk dua juta dolar, kau pilih mana?" tanya nya tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.


"Saya pilih dua juta dollar nya," jawab Anna dengan senyum sumringah saat mendengar nominal uang yang lebih besar.


Lucas terdiam kehabisan semua kata nya, "Pilih uang atau aku?" tanya nya lagi memperjelas.


"Uang," jawab nya dengan mata yang jernih, wajah yang cerah dan senyuman yang tampak polos.


Lucas membuang napas nya dengan kasar dan tampak wajah yang langsung berubah kesal seketika.


"Kau bilang kau suka aku? Tapi lebih pilih uang?" tanya nya dengan tatapan tajam sembari memegang pinggang ramping itu da meremas nya.


"Eh? Uh..."


"I..itu maksud saya..."


Anna tersentak, ia lupa jika ia berada di zona yang tak boleh untuk bicara jujur.

__ADS_1


"Sa..saya itu suka uang kar..karna a..anda itu u..uang nya..." jawab nya asal melantur.


Lucas melepaskan cengkraman nya di pinggang ramping itu, "Aku uang? Maksud nya?" tanya nya dengan bingung.


Anna hanya tersenyum kaku sembari mencari jawaban di kepala nya.


"Wait? That's mean, I'm your sugar?" tanya Lucas mengernyit yang mengingat tentang salah satu kejadian saat ia mendengarkan penyadap dari chip yang di tanam di tubuh gadis itu.


"Hum? Ya..." jawab Anna lirih dengan satu anggukan yang tampak ragu.


"Cumi-cumi nakal ini!" ucap nya yang tampak semakin kesal dengan sorot mata yang tajam membaut gadis itu mulai merinding merasakan takut.


"Hold on! Don't be mad Sir..." ucap nya lirih sembari tanpa sadar meremas kemeja pria tampan itu.


Lucas berhenti namun sorot mata tajam masih begitu terlihat.


"Sugar Daddy itu artinya..."


"Pinter, tampan, baik, dan yang paling penting kaya..." ucap nya dengan senyuman canggung mengatakan sesuatu yang bahkan membuat mulut nya malu.


"Itu artinya pria hidung belang, kau pikir aku sebodoh itu?" tanya nya pada gadis itu.


Anna langsung menggeleng cepat, "Anda itu sangat pintar dan baik hati!" jawab nya yang memberikan pujian bertolak belakang dari kenyataan nya.


"Selama hidup ku baru kali ini aku mendengar ada yang bilang aku orang baik," jawab nya dengan wajah yang datar.


Anna hanya tersenyum lirih mendengar nya, memang benar, siapa yang akan mengatakan pria psikopat gila yang tak punya hati sebagai orang baik?


"Y..ya.. bagi saya anda a..adalah orang baik..." jawab nya tersenyum.


Ia lebih memilih menjadi pembual yang mengatakan kata-kata manis di bandingkan menjadi mangsa yang siap di kuliti.


Pria itu tersenyum mendengar nya, tidak peduli jika gadis itu berbohong atau tidak namun ia menyukai nya.


"Berapa nilai biologi mu?" tanya Lucas yang membuat Anna mengernyitkan dahi nya.


"59 Sir, Kenapa?" tanya nya yang bingung mengapa pria itu bertanya tentang nilai pelajaran nya.


Lucas membatu sejenak mendengar nya, ia heran kenapa bisa ada seseorang yang memiliki nilai seperti itu.


"Karna kita punya waktu luang kau mau belajar?" tanya nya dengan senyuman.


Awal nya ia hanya mengatakan hal tersebut untuk basa-basi karna menginginkan sesuatu.


Namun setelah mendengar nya, ia ingin memberikan sedikit kursus untuk gadis itu.


"Belajar?" tanya Anna yang langsung terlihat tak menyukai satu kata yang di ucapkan pria itu.


"Ya, belajar." jawab Lucas tegas yang tiba-tiba teringat nilai gadis itu di sekolah nya.


"Peringkat 36 di kelas? Peringkat umum 86? Peringkat macam apa itu?" sambung nya yang mengingat urutan peringkat kecerdasan gadis itu.


"Sir? Sebenarnya saya peringkat 35 bukan 36 di kelas," ucap nya pada pria itu dengan lirih.


"Sama saja!" sentak Lucas pada gadis itu.


"Ya..ya... Sir..." jawab Anna lirih.


......................


Rumah sakit


Udara yang lebih wangi dan bersih, aroma analgesik yang tercium dan tetesan di tabung cairan infus yang masuk ke dalam aliran darah nya.


"Papa datang?" tanya nya pada pria yang tampak memiliki keriput di ujung mata nya yang tengah memasukkan sebuket bunga yang ia bawa ke dalam vas.


"Ayah mu sedang sibuk, akan ada pencalonan saat ini." ucap nya pada anak atasan nya itu.


Remaja itu terdiam, padahal ia hampir mati namun sang ayah masih saja beralasan sibuk dan tak bisa melihat nya.


"Kau sudah bilang kalau aku kemungkinan tidak bisa berjalan?" tanya nya lagi pada seseorang yang seperti tangan kanan sang ayah.


"Jangan melebihkan, kau masih bisa berjalan. Hanya saja kemungkinan tidak akan bisa menari lagi." ucap nya pada remaja bermata hijau itu.


"Menari? Dia tau?" tanya nya yang menatap dengan sedikit cercah harapan jika setidaknya sang ayah sedikit peduli dengan apa yang ia lakukan di sekolah.


"Ya," jawab sekertaris bernama Levi itu.


"Papa bilang apa? Dia bilang apa?" tanya nya lagi.


Sekertaris Levi diam sejenak, sedikit sulit untuk menjawab nya, "Ayah tuan mengatakan untuk berhati-hati mulai sekarang." jawab nya yang berbeda dengan apa yang di katakan atasan nya.


"Kami juga akan terus mencari pelaku yang memukul tuan sesegera mungkin," sambung nya pada remaja yang terbaring di ranjang pasien itu.


Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada remaja yang berharap itu karna sang ayah mengatakan yang sebalik nya dan menyalahkan putra nya yang terus menerus membuat masalah.


"Kalau dia mau hati-hati sampai kan pesan ku sebaiknya dia mengatakan nya sendiri." ucap nya dengan senyuman tipis.


"Baik, akan saya katakan." jawab sekertaris Levi dan menunduk untuk pamit keluar.


Kini remaja tampan itu sendirian lagi, memang tak asing berada di tempat yang mewah dan sendiri.


Seluruh tubuh nya terasa sakit, ia hampir mati karna pergelangan tangan nya di gores bersamaan dengan mata kaki nya yang membuat nya mengalami cidera parah dan hampir kehabisan darah.


......................


Mansion Damian.


Uhm...


"S..sir..."


Suara yang terdengar lirih, tubuh yang gemetar dan meja yang bergeser karna pena dan kertas yang di tekan oleh tangan gadis itu.


Pria itu tersenyum, ia mengecup pundak yang putih dan lembut serta memiliki aroma yang khas seperti biasa.


"Kenapa berhenti? Cari jawaban nya yang benar," jawab pria itu dengan tangan yang semakin merayap ke seluruh tubuh gadis itu dengan gemas.


"I..itu.."


"Ba..bagaimana sa..saya mau belajar..." tanya nya dengan lirih.


Pria itu hanya menaikkan senyuman nya, gadis itu duduk di atas paha nya dan membelakangi nya, walaupun masih terlihat memakai pakaian namun ia bahkan sudah membuka kaitan untuk menyangga Piramida gadis itu.


"Ini untuk melatih konsentrasi, kau tau?" ucap nya pada gadis itu.


Tangan nya menjamah setiap lekuk di balik kaos yang di kenakan gadis itu, bahkan kaitan di celana jeans yang tadi nya tertutup pun sudah ia buka.


"Si..sir ta..tangan anda..." ucap nya lirih yang merasa pria itu mulai menurunkan tangan nya ke tempat yang paling terlarang.


"Sstt! Fokus!" bisik pria itu yang memilin dan meremas Piramida lembut itu dengan gemas.


"Engh..."


Anna merasa tak nyaman, darah nya berdesir lebih cepat, degupan jantung nya begitu terasa dan ia mulai gerah walaupun berada di ruangan yang ber-AC tinggi.


"Kenapa di sini basah?" tanya pada gadis itu sembari mengangkat jemari nya.


"Hum?"

__ADS_1


Anna menoleh dengan wajah yang terlihat tidak mengerti sama sekali kenapa jemari pria itu bisa basah.


"Nakal," bisik Lucas sembari mengecup telinga gadis itu.


__ADS_2