Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Perasaan yang Mulai tumbuh


__ADS_3

Setelah dilanda kepanikan yang luar biasa di tengah malam. Ray akhirnya tertidur dengan duduk di samping ranjang Medina. Ia menyandarkan kepalanya di sisi ranjang. Bertumpu pada kedua tangan yang digunakan sebagai bantal. Ray begitu kelelahan menjaga Medina sampai subuh menjelang. Ia begitu perhatian dan tulus menjaga Medina seperti istrinya sendiri. Medina sendiri sudah terlelap setelah mendapatkan penanganan dari dokter. Entah karena kelelahan atau karena pengaruh obat, ia langsung terlelap tidur. Sedangkan Bunda Mutia dan Alif harus pulang mengurus keperluan Medina selama di rumah sakit.


Pagi harinya ketika Medina terbangun, ia mendapati Ray yang tidur di sampingnya. Mengingat perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh Ray tadi malam, hati Medina terasa terenyuh dan menghangat. Kini ia merasakan perasaan yang lain pada lelaki tampan tersebut. Ia merasakan mulai tumbuhnya perasaan sayang pada Ray. Bahkan Medina sangat menyukai lelaki asing yang awalnya cerewet dan menyebalkan itu.


Dielusnya rambut Ray dengan lembut, Medina tersenyum. Ia melihat wajah tampan lelaki yang berhati emas itu. Ray yang merasakan pergerakan Medina membuka mata, walau sebenarnya ia masih sangat mengantuk dan lelah. Ia menegakkan badan dan merenggangkan seluruh otot ditubuhnya. Ray langsung tersenyum melihat Medina yang menatapnya intens.


"Me, sudah bangun?" tanya Ray lembut. Tangannya mengelus rambut Medina.


"Iya Mas. Mas Ray ... a-nak Me bagaimana Mas? Dia baik-baik saja kan?" tanya Medina terisak, air mata lolos begitu saja dari mata beningnya. Ia memegang perut ratanya dengan risau.


"Iya Me. Si kecil baik-baik saja kok," kata Ray lembut dan tersenyum.


"Tapi tadi malam. Ada darah ...," kata Medina kebingungan.


"Iya ada sedikit pendarahan. Tapi untungnya nggak papa. Dokter berpesan kamu nggak boleh kecapekan dan nggak boleh banyak pikiran." Ray menjelaskan dengan lembut.


"Please ya Me ... jangan pikirkan hal yang macam-macam lagi? Okay? Demi kamu dan Kecil," pinta Ray.


"Tapi Mas, bagaimana aku bisa nggak kepikiran sama hidupku yang sangat rumit ini? Aku tidak akan tahu apa yang terjadi besok atau besoknya lagi," ucap Medina penuh kesedihan.


"Ssttt.. Sabar ya Me. Mas kan sudah janji temenin kamu di sini selama dua minggu," hibur Ray.


"Iya Mas. Makasih ya? Maaf selalu merepotkan Mas Ray," kata Medina.


"Sudah jangan bicara seperti itu. Mas Ray ikhlas menolong kamu," kata Ray lembut. Medina hanya tersenyum. Kagum terhadap lelaki yang begitu sempurna di hadapannya. Lelaki tampan, baik hati dan juga mapan. Siapapun pasti akan tertarik padanya. Tapi Medina menyadari dirinya siapa. Ia hanya sekedar kagum dan menghormati laki-laki itu.


"Mas, boleh panggilkan suster?" pinta Medina.


"Kenapa Me? Ada yang sakit?" tanya Ray cemas.


"Eng- Enggak Mas. Me mau ke kamar kecil," kata Medina malu.


"Oh ... iya Mas akan panggilkan suster. Tapi kamu disitu saja. Jangan kemana-mana!" perintah Ray.


Ray segera keluar mencari perawat, memintanya untuk menemani Medina ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, ia kembali bersama seorang perawat wanita.


Ray melihat Medina yang akan turun dari ranjangnya, segera menghentikan Medina.


"Stop ... diam ditempat Me! "perintah Ray. Ia menghampiri Medina dan menggendongnya sampai ke kamar mandi. Suster Mengikuti di belakang membawakan cairan infus. Medina sangat terkejut dan malu apalagi disaksikan oleh perawat yang sedari tadi tersenyum-senyum.


"Mas, padahal Me bisa sendiri," kata Medina malu.


"Tidak, kamu masih lemah. Kenapa? Malu? Kan Mas suami Me sendiri.Kenapa harus malu? Kamu kalau dikasih tahu suami jangan bandel!" kata Ray tanpa canggung. Medina semakin malu, suster yang mengikuti di belakang tersenyum-senyum melihat pasangan suami istri yang romantis di pagi itu.


Baru saja Ray menurunkan Medina dari gendongannya. Seketika ponselnya berbunyi. Ia segera meminta suster untuk membantu Medina.


Tririringg

__ADS_1


"Bentar ya Me. Mas angkat telepon dulu," kata Ray keluar dari kamar mandi dan meninggalkan ruangan Medina karena ingin menjawab panggilan telepon. Medina hanya tersenyum.


"Assalamualaikum Oma," ucap Ray menjawab telepon.


"Ray, kapan kamu pulang ke Bandung? Oma rindu. Tiga tahun di Amerika, kita tak pernah bertemu. Kamu keterlaluan, begitu pulang ke Indonesia bukannya pulang menemui Oma malah langsung mengurus pekerjaan di Jakarta. Padahal masalah uang Oma tak mempermasalahkan Ray. Semua perusahaan milik Oma juga nantinya akan menjadi milikmu," kata Oma berceramah di seberang sana.


"Iya Oma.Oma sabar sebentar ya? Pekerjaan di sini urgent banget Oma. Ray tak bisa meninggalkannya untuk saat ini. Tunggu pekerjaan Ray selesai, Ray pasti akan segera pulang ke Bandung. Ray juga rindu sekali sama Oma," bujuk Ray. Dalam hatinya ia bergumam pekerjaannya yang urgent adalah membantu Medina, si wanita malang.Ray tersenyum sendiri, karena baru kali ini ia berbohong pada omanya sendiri gara-gara seorang wanita asing yang ia kasihani.


"Besok Oma mau ke Jakarta. Mau menengok cucu teman Oma. Nanti kamu kasih alamat kamu biar Oma yang akan menemuimu," kata Oma.


"Eh, Oma menengok cucu teman Oma di rumah sakit mana?" tanya Ray gugup. Ia sangat takut bertemu Oma di rumah sakit tempat Medina dirawat.


"Kamu ini aneh Ray. Kenapa pakai tanya Oma mau menengok ke rumah sakit mana? Yang penting Oma akan menemuimu di Jakarta. Mengerti?" Oma Lidya keheranan dengan sikap cucunya.


"Besok Ray pulang ke Bandung saja deh Oma. Nggak usah ketemu disini. Oma kan sudah tua, nggak usah pergi jauh-jauh," bujuk Ray.


"Ya sudah, Oma tunggu kamu pulang." Oma akhirnya mengalah.


"Okay, Oma. Sampai bertemu besok. Assalamualaikum." Ray bernafas lega setelah mematikan telepon. Sungguh ia takut ketahuan oleh Oma, dan rencananya untuk menolong Medina bisa gagal.


Ray kembali masuk ke ruangan Medina setelah panggilan berakhir.


"Siapa Mas? Ada masalah?" tanya Medina yang sedang naik ke ranjang kembali dibantu suster melihat muka Ray yang sedih.


Ray mendekat dan duduk di ranjang di sisi Medina.


"Mas Ray, Me tak punya hak untuk melarang dan menahan Mas untuk tetap di sini untuk mendampingi Me. Me sudah sangat bersyukur Mas, atas bantuan Mas Ray selama ini. Urusan Me, biarlah nanti Me yang selesaikan sendiri. Mungkin setelah Me pulih, Me akan ke Bandung ke tempat sahabat Me. Jadi Mas Ray tenang saja okay?" kata Medina tulus.


"Nggak Me. Mas tetap akan memenuhi janji Mas untuk membantu kamu sampai akhir. Hanya seminggu saja Mas di Bandung, dan akan segera kembali ke sini. Baru setelah urusan dengan bunda selesai kita sama-sama kembali ke Bandung. Dan kita akan berpisah sesuai jalan kita masing-masing," kata Ray menjelaskan.


"Iya Mas, pulanglah! Keluarga dan calon tunangan Mas Ray pasti sudah sangat merindukan Mas," kata Me lirih. Ada setitik luka di hatinya ketika mengucapkan kata tunangan. Yang menyadarkannya bahwa lelaki di hadapannya bukanlah miliknya.


"Mas janji setelah pulang ...," kata Ray menggantung yang dipotong oleh bunda yang baru masuk keruangan Medina dengan menenteng tas baju ganti Medina dan Ray.


"Maksud kalian apa? Pulang kemana?" tanya Bunda penuh selidik. Hati Medina dan Ray berdegup kencang takut bunda mendengar pembicaraan mereka tadi.


"Mas Ray harus pulang ke Bandung Bun. Ada pekerjaan yang harus diurus di sana," jawab Medina cepat.


"Ohh ... Bunda kira kalau kalian mau segera kembali ke Amerika, "kata Bunda lega.


"Bunda berharap kalian di sini saja sampai cucu Bunda lahir ke dunia. Bunda ingin melihat cucu Bunda. Cucu pertama Bunda, keturunan Bunda, "kata Bunda tersenyum penuh harap.


Medina dan Ray semakin merasa bersalah telah membohongi bunda. Melihat bunda mengharapkan bayi Medina dengan penuh harap.


"Tapi hubungan kalian baik-baik saja kan?" tanya Bunda kemudian, dengan tatapan curiga.


"Maksud Bunda apa?" tanya Medina.

__ADS_1


"Nggak usah disembunyikan lagi. Bunda yakin kalian sedang bertengkar kan? Bunda melihat selimut di bawah kasur. Oh ... jadi kalian bertengkar sehingga Ray tidur dibawah, dan itu yang menyebabkan Me pendarahan?" tuduh Bunda.


"Bukan Bunda. Ray tidur di bawah karena Medina muntah-muntah mencium bau badan Ray." Kini Ray gantian berbicara. Ray pandai berkilah.


"Benarkah? Kalian nggak bohong?" tanya Bunda tak percaya.


"Benar Bunda, "jawab Medina gemas.


"Terus kapan kamu pulang ke Bandung Ray?" tanya Bunda memastikan.


"InsyaAllah besok Bun," kata Ray. Bunda mengangguk mengerti.


***


Keesokan paginya Ray sudah berkemas, membawa baju-baju seadanya di ransel besarnya. Ia tak membawa kopernya. Ia berniat akan kembali ke rumah Medina.


"Me, Mas pulang ke Bandung dulu ya?" Ray berpamitan.


"Me ... Mas boleh tidak meminta sesuatu dari Me?" tanya Ray.


"Iya Mas, apa itu?" tanya Medina lembut.


"Mas minta kamu jangan sedih-sedih lagi ya? Kamu harus janji akan selalu tersenyum. Karena Mas suka senyum di wajah Me. Kalau Me tersenyum makin cantik dan makin manis ... sangatt manis," pinta Ray tulus.


"Mas Ray ada-ada saja," jawab Medina tertawa.


"Mas, nanti biaya rumah sakit Me ganti ya?" kata Medina.


"Nggak perlu Me, Mas Ray ikhlas." Ray tersenyum tulus.


"Tapi Mas, Me sudah banyak menyusahkan Mas Ray," kata Medina lirih. Ia merasa sudah sangat membebani Ray.


"Tidak Me. Itu tidak seberapa. Anggap saja itu hadiah buat Si Kecil, tapi kamu harus berjanji akan menjaga Si Kecil. Setelah ini kamu harus bahagia. Banyak tersenyum dan jangan menangis lagi," kata Ray megusap pipi Medina dengan Lembut.


"Dont worry about anything! Remember that we are still marriage, my wife," canda Ray membuat Medina tertawa mengingat pertemuan mereka pertama kali.


"Lalu kapan Mas Ray akan kembali ke sini lagi?" tanya Medina dengan jantung berdebar. Ia merasa malu bertanya demikian, terlihat bahwa ia sangat mengharapkan kehadiran Ray disisinya.


"Padahal Mas belum pergi Me. Mas masih di sisi Me, dan Me sudah merindukan Mas?" goda Ray. Seketika wajah Medina memerah. Benar, rasanya ia tak rela melepas kepergian Ray.


"Apaan sih Mas, sudah deh kamu cepat pergi sana," usir Medina. Medina yang malu menutup wajahnya dengan selimut.


"Ya sudah Mas pergi ya? Seminggu lagi Mas kembali ke sini. I will miss you Me," kata Ray tulus. Medina tersenyum manis.


Ray tersentak, tiba-tiba Medina mengambil tangannya dan mengecupnya lembut seakan mereka benar-benar pasangan suami istri. Ray tak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Yang ia tahu hatinya membuncah bahagia ketika Medina mencium tangannya.


"Aku akan segera kembali Me."

__ADS_1


__ADS_2