
Medina POV
Aku bersyukur atas kehadiran mas Ray dihidupku yang semula sangat rumit. Dialah yang berhasil membuat aku bangkit dari keterpurukanku, setelah aku dinodai oleh kekasih hatiku sendiri.
Dialah laki-laki terbaik yang pernah aku kenal. Dengan tulus ikhlas dia menolongku. Padahal kami hanya orang asing. Dan akhirnya kami terjebak oleh cinta karena kebersamaan kami. Juga karena aku mengagumi kebaikan hatinya.
Dia, Rayga Arkana Dewanto. Pemuda tampan, mapan dan sangat baik hati. Seorang laki-laki asing yang sudah membantuku membohongi bundaku. Aku tahu cara ini salah. Tapi aku tak yakin apa yang akan terjadi padaku jika lelaki itu tak datang ke dalam kehidupanku. Dan yang paling mengejutkanku, dia adalah cinta pertamaku. Cinta monyet masa kecil. Cinta monyet yang aku cari-cari berpuluh tahun yang lalu.
Aku terkejut saat menerima ucapan cintanya, karena ia masih memiliki seorang kekasih. Bahkan demi cintanya padaku, ia rela melepas kekasihnya. Namun, aku tak menerima cinta Mas Ray. Aku tak mau menyakiti hati wanita lain.
Sekian lama Mas Ray meyakinkanku aku mulai luluh dan menerimanya. Namun tak kusangka tunangannya meminta pertanggungjawaban karena hamil. Aku kecewa pada Mas Ray yang tak jauh berbeda dari Gibran. Dan akhirnya aku lebih memilih kembali pada Gibran setelah ia meminta maaf. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk anakku. Aku menikah dengannya. Namun tak lama ia berpulang, meninggalkan aku seorang diri yang harus menjaga buah hati kami.
Aku mendengar kabar bahwa Mas Ray tak jadi menikah. Ia difitnah. Aku merasa sangat bersalah karena sempat tak mempercayainya. Bunda meyakinkan aku untuk mengejar cinta Ray. Aku tak yakin dan merasa kurang pantas. Berulang kali aku mengecewakan Mas Ray. Namun berkat nasehat Bunda aku memberanikan diri memperjuangkan cintaku. Sayangnya sudah terlambat. Ketika aku pergi ke Bandung, Oma bilang Ray sudah akan pergi ke Amerika.
Aku menangis. Tak ada kesempatan untukku kembali pada Mas Ray. Oma menguatkanku. Oma menyuruhku segera menyusul Ray, karena penerbangan masih sore ini. Aku tergesa kembali ke Jakarta dan mempersiapkan semua dokumen dan menyusul Mas Ray ke bandara.
Aku bertemu lagi di pesawat, aku bersyukur kami bisa duduk satu kursi. Dan semua berkat campur tangan Oma tentunya. Akhirnya dia menerimaku kembali. Aku sangat bahagia.
Dan akhirnya kami hidup bersama di Amerika ini. Dia menjagaku dengan baik. Tak pernah ia berbuat hal yang tak baik padaku meski kami satu rumah. Dia lah tuan sempurna yang paling berharga di hatiku.
Aku lebih terharu ketika Adam lahir ke dunia. Kasih sayang Mas Ray semakin besar kepadaku. Apalagi terhadap Adam. Seakan-akan bayi itu darah dagingnya sendiri. Lelaki itu sangat menyayangi Adam dengan tulus. Mas Ray Memberi putraku seluruh cintanya.
Aku beruntung sekali memiliki Mas Ray. Aku bersyukur Allah mengirimkan Mas Ray untukku.
Mas Ray sangat mendukung aku untuk melanjutkan pendidikanku. Kami akan berusaha menjaga Adam berdua. Aku sambil kuliah, sedangkan Mas Ray sambil kerja.
Namun perkataan Bunda siang ini menghancurkan aku. Bunda ingin aku berhenti kuliah. Bunda ingin aku menjadi istri yang baik untuk Mas Ray dan ibu yang baik untuk Adam.
Aku kira aku akan dengan mudah merawat Adam sambil melanjutkan pendidikanku. Namun perkataan Bunda menyadarkanku betapa berat menjadi seorang ibu. Apalagi di negara asing ini.
Benar kata Bunda. Kalau aku memaksakan diri ingin melanjutkan kuliah, bagaimana dengan Adam? Mas Ray sendiri sudah cukup sibuk untuk berusaha untuk menafkahi kami. Tegakah aku membebani ia dengan menjaga Adam di kala aku belajar? Oh, tidak. Bahkan, Adam bukan anak kandung Mas Ray. Tak sepantasnya aku merepotkannya.
Dan ketika memilih untuk mmemberikan pengasuh pada Adam. Aku akan kehilangan banyak memori kenangan dengan buah hatiku. Membiarkan ia tumbuh dengan kurangnya kasih sayangku. Karena perhatianku akan terbagi antara belajar dan menjaga Adam. Aku ingin memberi seluruh cintaku untuk Adam.
Bismillah, akhirnya aku memutuskan untuk berhenti saja. Toh, aku akan mengabdikan diriku pada mas Ray. Suamiku nanti. Aku memilih untuk menjadi ibu yang
__ADS_1
baik dibandingkan menjadi wanita karir. Jika nanti aku ada kesempatan, mungkin
aku bisa belajar di Indonesia.
Semoga saja aku tak pernah menyesali keputusan yang sudah aku buat.
Medina POV End
"Ray, mari kita segera menyiapkan pernikahan kalian."
Medina dan Ray saling berpandangan mendengar perkataan bunda yang tiba-tiba.
"Mak-maksud Bunda?"
"Kita gelar ijab kabul di sini. Dan setelah Medina pulih kita pulang saja
ke Indonesia. Kamu mau kan Ray?" tanya Bunda dengan tatapan memohon.
"Tapi bagaimana dengan kuliah Medina, Bun?" tanya Ray melirik Medina yang terlihat murung.
"Bagaimana Me? Kamu maunya bagaimana?" tanya Bunda.
"I-Iya Bunda. Me setuju. Kita pulang ke Indonesia saja. Mungkin nanti Me bisa lanjutkan pendidikan Me di Indonesia," kata Medina dengan sangat terpaksa. Rasanya ia ingin menumpahkan semua air matanya saat itu juga.
"Tapi cita-cita kamu ...." Ucapan Ray langsung dipotong oleh Medina.
"Aku sudah pikir matang-matang Mas. Demi Adam aku akan mengalah. Aku ikhlas. Jadwal kita akan sering bentrok, Mas. Bagaimana caranya Adam mendapatkan perhatian kita jika kita akan sibuk. Kalau di Indonesia, setidaknya ada Bunda yang bisa dititipin Adam Mas," ucap Medina dengan berat hati.
"Tapi kita bisa sewa pengasuh Me," jawab Ray mencoba untuk mempertahankan pendidikan Medina. Ray mengerti kekasihnya sebenarnya tak rela meninggalkan pendidikannya.
"Nggak Mas, aku harus bisa berkorban demi Adam," jawab Medina.
"Dan demi kamu juga." batin Medina.
"Baguslah kalau Medina sudah setuju. Kita segera menyiapkan pernikahan kalian," kata Bunda.
__ADS_1
"Bagaiimana Ray? Kamu siap menikahi anak Bunda?" tanya Bunda ingin tahu keyakinan Ray.
"Tentu Ray akan selalu setuju soal pernikahan. Hari ini pun Ray siap," jawab Ray.
"Bagus Nak.Terimakasih sudah mau menerima anak dan cucu Bunda," kata Bunda seraya menangis.
"Eh, Bunda jangan menangis dong. Ray menyayangi Medina dan Adam dengan tulus. Tak perlu Bunda berterimakasih atau merasa terbebani," kata Ray menenangkan Bunda.
"Ingat Bunda! Kita keluarga. Ray bukan menantu Bunda. Tapi Ray juga adalah putra bunda," jawab Ray memeluk Bunda yang menangis.
Medina ikut menangis. Menangis terharu, lama ia tak pernah melihat Bunda menangis. Walau dalam keadaan sulit pun. Terakhir kali Medina melihat air mata Bunda ketika ayah meninggal dunia.
Ray merengkuh Medina ke dalam pelukannya juga. Kini mereka bertiga berpelukan haru . Sungguh Ray beruntung memiliki Bunda sebagai pengganti orang tuanya yang telah lama tiada.
"Eh, Ray ... Bunda tanya Medina soal nama Adam. Tapi kata Medina, dia mau kamu yang kasih nama. Siapa nama lengkap Adam?" tanya Bunda setelah mereka mmelepas pelukan.
"Apa nggak sebaiknya Me saja yang kasih nama? Medina kan ibunya," jawab Ray.
"Nggak papa Mas. Kamu kan papanya, Mas. Jadi kamu yang akan kasih nama. Me setuju saja kok."
"Ehm ... ditambah dengan apa lagi ya?" Ray terlihat berfikir keras.
"Bagaimana kalau Adam Haikal Azzami." Ray mengungkapkan pendapatnya.
"Apa artinya itu Ray?" tanya Bunda.
"Laki-laki yang bertubuh besar yang dipenuhi rasa percaya diri," jawab Ray.
"Bagaimana? Bunda dan Me suka nggak?"
"Bunda sih setuju saja," Bunda tersenyum.
"Kamu Me? Siapa tahu kamu ingin memberi nama Adam." Medina menggelengkan kepala.
"Me juga setuju. Me suka dengan nama yang mas Ray pilihkan." Medina kini tersenyum. Ia mulai ikhlas melepaskan pendidikannya. Kini yang paling berharga dalam hidupnya adalah Ray dan Adam. Medina merasa keputusannya sudah tepat.
__ADS_1