Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Haura?


__ADS_3

"Sabar ya Sayang. Semua yang kita punya nantinya juga akan menjadi milik anak-anak kita. Adam dan Mikha. Mas akan membaginya secara Adil. Tapi karena usia Mikha yang belum dewasa Mas tetap harus ikut campur di perusahaan. Sedangkan Adam masih sangat labil. Mas punya firasat buruk tentang wanita yang bernama Isabella. Mas ada satu rencana, Mas harap kamu akan menyetujuinya."


"Maksud Mas Ray apa?" tanya Medina penasaran.


"Nanti kita bicarakan ya Sayang, sebentar Mas mau hubungi seseorang." Ray baru ingat sudah melupakan sesuatu yang penting.


Ray segera menelepon seseorang, "Yas, Mirza ada?"


"....."


"Suruh dia menghadapku sekarang. Aku tunggu di meja kerja." Ray menutup panggilan telepon.


"Sebentar ya Me. Ada yang harus Mas urus."


Ray menuju ke ruang kerjanya menunggu kedatangan Mirza. Lima menit Ray menunggu, seorang lelaki tampan berusia sebaya dengan Adam sudah datang. Pria itu adalah Mirza, anak Yasin.


Seperti ayahnya, Mirza menjadi kebanggaan dan kepercayaan Ray.


"Assalamualaikum Tuan."


"Tutup pintu Za! Duduklah!" Mirza menutup pintu kemudian duduk di kursi berhadapan dengan Ray. Mirza menyadari ada tugas penting untuknya setelah Ray menyuruh ia menutup pintu. Yang berarti hal yang akan dibicarakan bersifat rahasia.


"Za, saya ada tugas penting untuk kamu. Seminggu, aku ingin semua sudah beres."


"Baik Tuan."


"Kamu dapatkan CCTV area komplek rumah ini. Aku mencurigai ada seseorang yang menyabotase mobil Adam. Jika perkiraanku benar, yang harusnya kecelakaan adalah Adam bukan aku."


"Jika memang ada orang yang mencurigakan di tanggal dua puluh satu malam kemarin, kamu segera cari informasi tentang orang itu. Selengkap-lengkapnya, aku tak ingin ada kekurangan sedikit pun. Apakah kamu sanggup?"


"InsyaAllah, saya sanggup Tuan."


"Bagus, lakukan tugasmu dengan sebaik-baiknya. Aku harap pekerjaan kamu memuaskan seperti biasanya."


"Baik Tuan, terima kasih atas kepercayaan Tuan," kata Mirza penuh hormat.


"Bagus, kau boleh pergi. Aku harap kamu dapat infonya secepat mungkin."


"Baik Tuan." Mirza undur diri dan mulai menjalankan perintah Ray.


Ray kembali ke kamarnya dan menemui Medina kembali.


"Untuk apa mas menghubungi Mirza? Pasti ada hal yang penting ya?" tanya Medina setelah Ray duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Aku rasa ada yang merencanakan kecelakaan itu Me. Jika tebakan Mas benar, yang diincar seseorang bukan Mas, tapi Adam."


"Ap-apa?" tanya Medina.


"Ini baru kecurigaan Mas. Jadi Mas menyuruh Mirza mencari info. Tapi semoga saja semua tak benar. Semua murni kecelakaan. jadi kamu jangan panik."


Ray memeluk Medina melepaskan semua kerinduan setelah tiga hari tak berjumpa. Ray bergitu bersyukur masih diberi kesempatan untuk bersama Medina dan anak-anaknya.


"Mas, lalu apa yang Mas bilang merencanakan sesuatu." Medina menarik diri dari pelukan suaminya ingin berbicara serius.


"Mas ingin menjodohkan Adam dengan Haura."


"Haura?" Medina mengernyitkan keningnya, bingung dengan nama yang Ray sebutkan.


"Haura putri Bang Ibrahim. Orang yang menyelamatkan Mas."


"Seistimewa apa hingga Mas tertarik dengan gadis itu. Tapi apakah Adam mau Mas? Dengan Keira yang hampir sempurna itu pun dia tak mau."


"Dia memang gadis kampung biasa Me. Tapi hati kecil Mas berkata bahwa gadis itu bisa mengubah anak kita. Mungkin Mas harus memaksakan pernikahan ini kepada Adam. Mas tak ingin anak kita salah jalan. Sudah cukup Mas mentolerir sikap anak kita."


"Iya Mas. Aku rasa sejak Adam bergaul dengan gadis itu. Dia berubah lagi. Semoga rencana ini akan berhasil. Me mendukung rencana Mas Ray."


"Coba Mas ceritakan bagaimana Haura." Medina mulai tertarik.


"Eh, ini mau menjodohkan dengan Adam atau Mas Ray sendiri yang tertarik?" goda Medina. Medina tersenyum, seumur pernikahan mereka belum pernah Ray memuji wanita lain selain dirinya dan Mikha.


"Ishh.. Mas serius Me. Mas mau dia jadi menantu kita. Atau kamu mau dia jadi madu kamu?" goda Ray balik.


"Awas saja kalau kamu berani Mas! Ingat umur Mas," kata Medina sedikit cemburu.


"Nah, kamu sendiri yang mancing-mancing, kamu sendiri yang cemburu."


"Siapa yang cemburu? Sudah tua tak penting cemburu-cemburuan." Medina menghindar pura-pura ketus.


"Alah.. Bilang saja kamu cemburu. Iya kan? Ya kan?"


"Apa sih Mas?" Medina malu karena ketahuan cemburu di umur mereka yang terlalu matang untuk permainan cinta.


Ray semakin gencar menggoda Medina. Ia sangat suka dengan ekspresi wajah Medina antara cemburu dan malu-malu. Akhirnya gurauan mereka berakhir dengan percintaan yang panas. Walau di umur mereka yang masih matang, kemesraan dan cinta di antara Medina dan Ray tak pernah memudar.


***


Tok tok tok

__ADS_1


Adam berdiri di depan pintu kamar mama dan papanya menunggu pintu dibuka.


"Eh, kamu Dam. Ada apa?" tanya Ray heran melihat putranya berdiri di depan pintu. Sangat jarang anaknya itu mau berkunjung ke kamar mereka.


"Papa baik-baik saja?" tanya Adam kikuk.


"Iya Nak. Papa baik-baik saja. Sini masuk," ajak Ray. Adam masuk dan duduk di sofa.


"Mama mana Pa?" tanya Adam celingukan mencari Medina.


"Lagi mandi," kata Ray tersenyum.


"Ohh ...."


"Bagaimana kejadiannya Pa? Kami sudah mencari ke seluruh aliran sungai tapi tak menemukan Papa."


"Papa hanyut sampai laut Dam, untung Papa diselamatkan penduduk yang melaut." Adam mendengarkan cerita Ray baik-baik.


"Sudahlah tak perlu dibicarakan lagi. Yang penting Papa baik-baik saja."


"Maaf ya Pa? Kalau saja Papa tidak membawa mobil Adam, semua tak akan terjadi," kata Adam penuh penyesalan.


"Kamu nggak salah Dam. Jangan pikirkan lagi. Namanya juga musibah. Semua sudah takdir Allah," kata Ray bijak.


"Ya sudah ya Pa. Adam keluar, Papa istirahat saja," ucap Adam kikuk. Ia berniat untuk meninggalkan kamar orang tuanya.


"Dam, bisa tunggu sebentar? Papa dan Mama mau bicara hal yang penting."


"Tentang apa Pa?" tanya Adam merasakan firasat yang kurang enak.


"Sudah duduk saja. Tunggu mama keluar dari kamar mandi."


" Baiklah Pa."


"Pekerjaan kamu bagaimana? Lancar?" tanya Ray basa-basi.


"Baik Pa. Proyek di daerah D kemarin sempat terhambat karena banjir. Sekarang sudah berjalan seperti rencana."


"Baguslah. Papa dengar kamu mulai terjun ke bisnis kosmetik?"


"Iya Pa. Respon konsumen positif. Produk laris manis di pasaran. Adam rasa perusahaan Adam akan untung banyak tahun ini."


"Bagus Nak. Papa bangga padamu."

__ADS_1


__ADS_2