Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Pilihan


__ADS_3

Dengan nafas memburu laki-laki tampan itu berjalan di lorong rumah sakit. Seakan-akan tak ada waktu yang tersisa jika sedetik saja ia terlambat. Tetesan peluh membasahi wajah tampannya, setelah berlari kecil dari tempat parkir. Rasa rindu memenuhi hati laki-laki itu. Sehari saja tak berjumpa rasanya sudah seperti seminggu. Padahal ini bukan pertama kalinya ia meninggalkan calon istrinya karena ada urusan pekerjaan. Namun kali ini berbeda karena kehadiran sang buah hati. Tak sabar rasanya ingin memeluk dua orang terkasih yang selalu membuat detak jantungnya berdegup dengan kencang.


Di tangan kanannya menenteng sekantung buah-buahan. Dan di tangan kirinya memegang paper bag yang entah berisi apa . Sepertinya barang itu khusus ia bawa untuk sang buah hati. Raut wajah bahagia menunjukkan betapa besar rasa cintanya untuk orang-orang yang ia kasihi.


Krieettt


Pintu kamar terbuka. Terlihat sang ibu bayi memejamkan mata terlelap dalam tidurnya. Begitu juga dengan makhluk kecil itu. Terlelap dalam box bayi di dekat ranjang sang ibu. Ray tersenyum lega melihat kedua cahaya hidupnya baik-baik saja.


Ray berjalan mendekat dengan sangat hati-hati, takut mengganggu tidur kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya.


Ia meletakkan plastik berisi buah dan paper bag di atas nakas. Ray segera mendekati box bayi dan mengecup pipi sang buah hati yang ia rindukan sejak semalam. Baby Adam menggeliat kecil ketika bibir Ray menyapu pipinya yang gembul. Ray terkekeh lirih melihat gerakan putranya yang sangat menggemaskan.


Puas menciumi sang buah hati kini ia mendekati Medina yang belum juga meyadari kehadiran Ray. Kemudian ditariknya kursi dengan gerakan yang sangat pelan, lalu ia duduk menghadap Medina. Di elusnya rambut Medina. Menyadari ada sebuah tangan besar mengusap kepalanya Medina membuka matanya yang masih sedikit mengantuk.


"Mas Ray." Medina tersenyum mengetahui orang yang ia khawatirkan sedari pagi sudah datang. Ray tersenyum dan mengecup tangan wanita yang paling ia cintai itu. Tak ada jawaban apa pun dari Ray. Ia hanya diam dan tak henti menatap Medina untuk melepas kerinduannya.


Setelah Ray melepas tangannya, Medina meraih ponselnya. Medina terkejut karena waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Ternyata ia sudah tertidur selama dua jam.


"Eh, sudah jam satu rupanya."


"Mas rindu Me." Perkataan Ray membuat kedua pipi wanita yang sekarang bergelar ibu itu memerah sempurna.


"Me juga Mas," jawab Medina malu-malu.


"Mas, kenapa baru pulang sekarang?" tanya Medina.


"Me telepon juga nggak aktif. Me khawatir Mas," lanjutnya.


"Maaf ya sayang. Tadi pagi ada sedikit masalah. Harusnya sekitar jam sembilan Mas sudah sampai. Tapi gara-gara mobil Mas mogok di kawasan hutan, Mas harus menunggu sampai montir datang," jawab Ray merasa bersalah.


"Dan soal telepon, Mas lupa mau charge ponsel semalam," kata Ray sambil nyengir.


"Mas Ray ini kebiasaan deh, kalau mau pergi-pergi pastikan baterai ponsel penuh Mas. Jadi kami yang menunggu nggak khawatir," bebel Medina.


"Kami? Kamu saja kali. Lihat dedek Adam saja anteng," goda Ray.


"Ih, apa sih," elak Medina yang malu ketahuan merindukan lelaki itu.


Ray mengulurkan tangan mengusap pipi wanita itu dengan sayang. Medina semakin tersipu malu diperlakukan selembut itu.


Kriettt.


"Ehem, ehem ...." Bunda yang baru saja masuk menangkap basah kemesraan Ray dan Medina.


"Eh, Bu-bunda ...." Medina malu ketahuan sedang bermesraan dengan Ray.

__ADS_1


"Mana Oma, Bun?" tanya Ray menghilangkan rasa malunya.


"Oma tak ke sini, Bunda suruh istirahat di apartemen kalian. Katanya pinggangnya sakit setelah semalaman tidur di sofa," kata Bunda.


"Semua salah Ray yang sudah merepotkan kalian. Kalau saja Ray tak perlu ada urusan bisnis," sesal Ray.


"Nggak papa Ray. Kalau pun kamu tidak pergi untuk urusan bisnis, bunda akan datang ke rumah sakit juga," hibur Bunda.


"Tapi Oma nggak papa kan Bunda?" tanya Ray sedikit khawatir.


"Iya nggak papa, Bunda sudah kasih koyo hangat kok. Kata Oma udah mendingan," jawab Bunda.


"Ray, boleh belikan Bunda minum? Bunda haus," pinta Bunda.


"Tentu Bun, Bunda mau minum apa?" Ray beranjak dari duduknya.


"Air mineral saja. Tapi yang dingin ya Ray. Kamu cari di mart dekat pintu masuk sana, pasti ada."


"Oh ya, sekalian beli tissue basah ya? Tissue Adam sudah habis," perintah Bunda.


"Siap Bun." Ray segera keluar dan mencari minuman untuk Bunda.


"Me," kata Bunda setelah Ray pergi.


"Iya Bun, Me dengerin kok," jawab Medina yang sebenarnya penasaran juga apa yang ingin Bunda katakan.


"Me, Bunda harap kalian segera menikah."


"Kan Me juga sudah katakan kalau kami akan segera menikah Bun," jawab Medina.


"Tunggu Bunda selesai bicara Me." Medina mengatupkan bibir tak menjawab lagi.


"Me, Bunda berharap kamu segera menikah dan kita pulang ke Indonesia." Bunda mulai mengeluarkan semua keinginannya.


"Tapi kuliah Medina bagaimana Bunda?" tanya Medina lagi. Medina tak terima jika harus melepas pendidikannya begitu saja.


"Justru itu yang ingin Bunda bahas. Bunda maunya kamu berhenti kuliah saja Me," kata Bunda perlahan takut membuat putrinya marah.


"Kenapa? Tapi bagaimana dengan cita-cita Me?"


"Hahh ...." Bunda menghela nafas panjang.


"Me, kamu pikir baik-baik ya Nak. Akan sangat susah kuliah sambil mengasuh Adam. Dan kamu sendiri tahu kesibukan Ray? Kasihan jika ia juga harus disibukkan merawat Adam ketika kamu kuliah. Apa kamu yakin Adam akan terawat kalau kalian sibuk dengan urusan masing-masing?"


"Bisa saja kamu membayar pengasuh. Tapi apa kamu percaya penuh kalau orang lain yang mengasuh Adam? Kalau Bunda, Bunda tak suka cucu bunda diasuh orang lain."

__ADS_1


"Kalau saja Bunda tak kepikiran Alif, Bunda akan membantu mengasuh cucu Bunda di sini. Tapi bunda kasihan kalau menelantarkan Alif. Alif masih sangat labil Me. Alif masih membutuhkan perhatian Bunda. Bunda masih punya tanggung jawab pada Alif." Medina terdiam menimbang semua perkataan Bunda yang benar adanya.


"Kalau kamu masih juga ingin menggapai cita-cita kamu, kamu bisa pulang Nak. Kamu lanjutkan pendidikan kamu di Indonesia saja. Disana Bunda bisa mengawasi Alif sembari menjaga Adam."


"Bunda hanya memberi nasehat Nak. Semua tergantung kamu. Kasihan kan jika selain bekerja, Ray harus sendirian mengurus kalian berdua di negara asing ini?" nasehat Bunda.


"Mengalah bukan berarti kalah. Semua demi orang-orang yang kamu sayangi. Ingat pengorbanan Ray untuk kamu sudah terlalu banyak."


Medina memikirkan semua perkataan bundanya baik-baik. Medina sebenarnya tak rela melepaskan pendidikannya. Namun, jika Medina menatap wajah polos Adam. Keegoisannya hilang seketika. Ia tak akan tega mengabaikan putranya demi kepentingan pribadinya.


Kriett.


Suara pintu itu mengagetkan Bunda. Bunda segera mengakhiri perkataannya.


"Maaf ya Ray, Bunda malah suruh-suruh kamu. Padahal kamu pasti capek," kata Bunda melirik Medina yang terdiam memikirkan perkataan Bunda.


"Nggak papa Bunda. Ray bisa sekalian menghirup udara segar di luar," jawab Ray.


"Ray, mari kita segera menyiapkan pernikahan kalian."


Medina dan Ray saling berpandangan mendengar perkataan Bunda yang tiba-tiba.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kok like nya semakin hari semakin sedikit ya.


sedihnye saye.


Bagi-bagi dong jempol dan vote kalian,


😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2