Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Berniat Menjodohkan


__ADS_3

Seminggu setelah Ray pulang, Ray dan Medina berniat untuk pergi ke daerah P. Mereka ingin mengunjungi keluarga Ibrahim sekaligus ingin menawarkan perjodohan anak mereka. Medina juga ingin mengucapkan rasa terima kasih karena sudah menyelamatkan suaminya.


Mikha yang mendengar kata pantai, merengek ingin ikut. Namun, karena gadis itu sedang dalam masa ujian. Ray dengan tegas menolak keinginan Mikha. Ray memang tegas. Tak pernah membedakan antara Mikha dan Adam. Sekali saja Ray mengatakan tak boleh, maka pria itu tak akan pernah mengubah ucapannya menjadi ya. Sebagai gantinya Ray berjanji untuk mengajak Mikha setelah ujian berakhir. Membuat Mikha terlonjak kegirangan.


Adam acuh tak acuh, karena ia tahu mereka mengunjungi gadis kampung itu dengan tujuan utama ingin merencanakan perjodohan dengannya. Adam kesal, ia tak dapat berbuat apa-apa. Karena ia tak yakin Isabella akan menerima ia jika ia sampai jatuh miskin.


Setelah tiga jam perjalanan mereka tempuh, akhirnya sampai juga di kampung pinggir pantai itu. Medina yang baru sekali itu menginjakkan kaki di daerah itu sedikit takjub. Karena pasti pantai di daerah itu cantik dan bersih.


"Wahh ... bagus Mas," kata Medina keluar dari mobil.


"Iya kan sayang? Apa Mas bilang?"


"Yuk kita masuk! Itu rumah Bang Ibrahim." Tunjuk Ray pada sebuah rumah papan kecil dan sederhana.


"Assalamualaikum ...," ucap Ray dan Medina berbarengan.


"Waalaikumsalam ...," jawab Ibrahim tergopoh-gopoh dari dalam ingin membuka pintu.


"Eh, Ray ... ada orang kota yang datang mengunjungiku rupanya." Ibrahim menghampiri Ray dan Medina.


"Kalau tak boleh datang ya sudah aku pulang saja," gurau Ray diselingi tawa.


"Sana pulang ... pulang!" Keduanya berpelukan erat dan tertawa bahagia. Medina ikut tersenyum melihat suaminya dan penolongnya yang begitu akrab.


"Bagaimana kabar kamu Ray?" tanya Ibrahim.


"Alhamdulillah, Ray sekeluarga baik. Abang Baim baik?" tanya Ray.


"Beginilah Ray, seperti biasa," jawab Ibrahim.


"Eh, ini siapa Ray?" tanya Ibrahim baru menyadari keberadaan Medina.


"Ini bidadari Ray, Bang. Sayang, kenalkan Bang Ibrahim. Orang yang menolong Mas," kata Ray bangga.


"Medina."


"Ibrahim." Mereka berjabat tangan.


"Eh, mari masuk ke gubuk saya. Kita ngobrol di dalam. Mari silakan masuk," ajak Ibrahim. Ray dan Medina mengikuti dari belakang.


"Maaf ya Nyonya. Beginilah adanya. Rumah saya begitu buruk," kata Ibrahim setelah mereka masuk rumah. Kini mereka duduk beralas tikar di atas lantai kayu.


"Tak apa Bang. Yang penting makna rumah itu sendiri kan yang terpenting? Ada keluarga yang hangat, yang penuh kasih sayang," kata Medina tersenyum. Ibrahim takjub pada Medina yang walaupun orang kaya tapi tak sombong.


"Rara ... buatkan minum Nak! Paman Ray dan istrinya datang," teriak Ibrahim pada Haura yang tengah memasak di dapur.

__ADS_1


"Baik Ayah, sebentar," sahut Haura dengan suara yang sangat lembut. Medina yang mendengar kelembutan nada suara Haura, menjadi ingin cepat bertemu dengan gadis yang dibangga-banggakan suaminya itu.


"Abang tak berangkat melaut?" tanya Ray.


"Yahh ... beginilah Ray. Orang tua, tak seberapa tahan dingin. Jadi kadang melaut, kadang tidak." Ray mangut-mangut mengerti, sedikit terenyuh dan kasihan dengan Ibrahim.


"Mana keluarga kamu yang lain?Anak-anak tak kamu ajak kemari?" tanya Ibrahim.


"Yang sulung sibuk bekerja, yang bungsu masih sekolah Bang. Sebenarnya Si Bungsu mau ikut. Tapi hari ini ada ujian, jadi mungkin lain kali saja kami ajak kemari."


"Oh begitu."


"Oh iya Mas, Me lupa bawa barang itu tadi," kata Medina menunjuk ke mobil.


"Oh iya ya sayang. Mas buka mobil dari sini. Me ambil sendiri bisa?" tanya Ray.


"Bisa Mas." Medina keluar dari rumah Ray menuju mobil. Ray membukakan pintu untuk Medina. Setelah kunci terbuka, Medina mengambil beberapa paper bag dari dalam mobil dan masuk lagi ke rumah.


"Bang, saya datang kemari dengan istri saya ingin mengucapkan banyak terima kasih karena sudah menolong saya."


"Iya Ray. Tak perlu berterima kasih. Sudah tugas saya untuk menolong sesama," kata Ibrahim tulus.


"Maaf Tuan Ibrahim. Tak mengurangi rasa hormat saya. Saya juga ingin berterima kasih karena anda sudah menyelamatkan suami saya. Ini ada oleh-oleh sedikit untuk anak-anak. Ini bukan sebagai rasa terima kasih, tapi sebagai tanda perkenalan dari saya. Saya harap kedepannya kita bisa bersilaturahmi layaknya keluarga," ucap Medina tulus. Ia menyerahkan beberapa paper bag yang berisi pakaian untuk mereka sekeluarga. Ada juga peralatan sekolah untuk Hana dan Fauzan. Ibrahim menerima dengan mata berkaca-kaca.


"Terima kasih Nyonya. Sebenarnya anda tak perlu repot-repot. Jika ingin datang, datang saja. Tak perlu membawa buah tangan apapun. Saya bahagia ada yang menganggap kami sekeluarga seperti keluarga."


"Dan juga apa Ray?" tanya Ibrahim penasaran.


"Kami berniat untuk menjodohkan putra kami, Adam dengan Haura, putri Bang Ibrahim," kata Ray. Ibrahim belum sempat menjawab perkataan Ray.


Di saat yang sama, Haura sudah datang dengan membawa sebuah nampan berisi air minum. Ia begitu terkejut dengan perkataan Ray. Tak menyangka Ray datang berniat untuk menjodohkan dirinya dengan putranya.


Haura meletakkan air minum di hadapan Medina. Dan Haura segera menjabat tangan Ray dan Medina takzim.


"Mari Paman, Bibi. Silakan diminum. Maaf hanya ada teh saja," kata Haura dengan pipi memerah.


"Tak apa Nak. Terima kasih ya Nak."


"Duduk dulu Haura," perintah Ibrahim. Haura segera duduk di samping Medina.


"Kenalkan ini Bibi Medina, istri paman Ray. "


"Saya Haura Bi."


"Haura? Bidadari? Secantik namamu Nak," kata Medina mengelus puncak kepala Haura.

__ADS_1


"Nak, apakah kamu bersedia menjadi putri Bibi? Menjadi kakak untuk Mikha kami? "


"Mak-maksud Bibi?" tanya Haura gugup.


"Bibi ingin menjadikan kamu sebagai menantu Bibi. Istri putra kami, Adam. Paman Ray sudah bercerita banyak tentang Haura. Dan setelah bertemu denganmu, Bibi juga menyukai Haura. Apakah kamu bersedia menjadi menantu kami Nak?" tanya Medina lembut.


Deg. Jantung Haura berdebar-debar tak menyangka mereka benar-benar menginginkannya untuk diambil sebagai menantu. Haura begitu bingung harus berkata apa. Ia sudah memiliki cinta sendiri, Alvian.


"Ma-maaf Bi. Haura rasa Haura harus memikirkannya dulu."


"Iya Nak. Kami akan menunggu jawaban kamu."


"Ya Allah bagaimana ini? Aku mencintai Vian, aku tak ingin menikah dengan orang selain Vian. Apalagi aku tak mengenalnya. Kenapa harus aku? Kenapa bukan orang lain saja?" batin gadis itu begitu sedih.


Medina membuka tasnya dan mengambil sebuah gelang emas dan memasukkan ke tangan Haura.


"Ta-tapi Bi."


"Terima sayang. Ini tanda sayang Bibi padamu," kata Medina.


"Bibi boleh memelukmu sayang?" tanya Medina.


"Iya Bi, tentu."


Medina memeluk Haura erat, seperti memeluk putrinya sendiri. Haura sangat nyaman dipeluk oleh Medina, sudah begitu lama ia tak mendapatkan pelukan seorang ibu.


Medina kini paham, mengapa Ray begitu menyukai gadis itu. Sebab Medina juga dengan mudah tertarik pada gadis ayu dan kalem itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sabar ya Readers... Jalan cerita masih panjang.. Semoga aku selalu diberi kesehatan dan kelancaran ide. Yah.. semoga nggak bosan sama aku yang bertele-tele

__ADS_1


Love you all readers 😘😘😘


__ADS_2