
Hening, satu kata yang dapat dikatakan tentang tempat itu. Disanalah terbaring sosok laki-laki yang lumayan tampan. Sayangnya lelaki itu dalam keadaan koma. Masih merasakan kenyamanan dalam tidur panjangnya dan enggan bangun.
Disampingnya duduk seorang wanita yang tak lama lagi akan menjadi seorang ibu. Suasana begitu sunyi, hanya suara denyut jantung dari alat penopang hidupnya yang terdengar.
"Me minta maaf telah berbohong kepada Gibran." Medina yang tadinya terdiam di tempat itu selama lebih dari sepuluh menit mulai berbicara. Namun ia menjeda sebentar perkataannya dan mengambil nafas panjang menguatkan hati dan keputusannya.
"Sebenarnya Ray bukan suami Me. Dia hanya orang yang menolong Me ketika Me pulang dari Amerika. Ketika Gibran mencampakkan Me. Ketika Me menjalani ketidak berdayaan dan keputusasaan seorang diri, dialah yang menjadi malaikat penyelamat untuk Me." Medina melanjutkan ucapannya mulai bercerita.
"Kenapa Gibran tega berbuat seperti itu pada Me? Kenapa Gibran memperkosa Me? Apakah Gibran tahu? Semua perbuatan Gibran telah menghancurkan hidup Me? Juga memporak-porandakan kepercayaan dan cinta Me pada Gibran," kata Medina mulai menangis. Lama ia menangis meluapkan semua sakit, marah dan kecewa pada laki-laki yang terbaring di hadapannya.
"Tapi demi anak kita, Me akan mencoba melupakan semua kesalahan Gibran pada Me. Me akan mencoba memaafkan semua kesalahan Gibran." Medina melanjutkan bicaranya seorang diri meskipun entah Gibran dapat mendengar atau tidak. Ya laki-laki itu masih terbaring koma belum sadarkan diri dengan semua peralatan yang menempel di tubuhnya.
"Jadi Me mohon, jangan tinggalkan Me lagi! Bertahanlah demi Me dan juga anak kita. Bangunlah! Me berjanji jika Gibran sadar nanti, Me akan menerima lamaran Gibran dan kita akan menikah," kata Medina tak henti menangis.
"Tapi Me menikah dengan Gibran bukan karena anak yang Me kandung memiliki harta warisan yang banyak. Me menolak menjadikan anak ini sebagai alat untuk mendapatkan warisan keluarga Gibran. Me ingin Gibran menikahi Me karena tanggung jawab. Me mau Gibran bertanggung jawab dan menyayangi Medina seperti dulu. Me ingin Gibran menyayangi kami. Aku dan anak kita," pinta Medina dengan sungguh-sungguh .
Medina sudah mendengar segalanya dari tante Rika, mama Gibran. Tante Rika menjelaskan kenapa Ilham papa Gibran ingin menuntut hak asuh dari anaknya yang belum lahir. Medina kecewa pada ayah lelaki yang ia cintai. Ternyata dugaannya salah. Semula Medina menyangka Ilham mencarinya demi Gibran. Namun semua di luar perkiraannya, semua yang dilakukan oleh pria paruh baya itu hanya untuk mendapatkan harta warisan dari leluhur mereka.
***
"Medina sangat kebingungan antara memilih kebahagiaan dirinya atau anaknya," kata Zaskia yang tengah bertemu dengan Ray dan Arif.
"Aku tak paham dengan pemikiran Medina, ada Ray di depan mata dan dia juga mencintai Ray. Kenapa susah sekali ia menerima Ray?" ucap Arif ikut berbicara.
"Medina ingin memberikan ayah yang baik untuk anaknya. Begitulah yang dapat saya tangkap dari kata-katanya," kata Zaskia lagi. Ray masih setia mendengarkan kata Zaskia. Ia mencoba mencerna semua perkataan Zaskia.
"Berarti Medina menganggap saya ini tak cukup baik untuk menjadi ayah dari anaknya?" tanya Ray sedikit tersinggung.
"Bukan seperti itu, tapi aku rasa kamu ada di tengah-tengah. Antara kamu, Medina dan bayinya. Dia terlalu bingung. Tapi untuk pastinya, sepertinya kamu harus ikut pulang ke Jakarta untuk acara kenduri itu," nasehat Zaskia.
__ADS_1
Ray mengangguk-angguk memikirkan nasehat Zaskia. Walau sebenarnya tanpa nasehat Zaskia dia ingin ikut pulang ke rumah bunda. Ray ingin melamar Medina di hadapan bunda jika Medina sudah mengungkapkan kebenarannya. Ia akan menanggung semua resikonya sekalipun harus menentang oma.
***
Seminggu berlalu dengan sangat cepat. Hari yang harus dihadapi Medina telah tiba. Ia harus pulang ke Jakarta demi acara kenduri yang bunda buatkan. Namun bukan sebab itu ia pulang. Medina pulang untuk menjelaskan kebenaran pada ibunya. Medina ingin memberitahukan kebohongannya selama ini. Ia akan mencoba menerima apa yang akan ia dapatkan. Entah bunda akan marah, mengusirnya atau tak menganggapnya sebagai anak lagi.
Medina pulang seorang diri tanpa Ray di sisinya. Ia tak ingin melibatkan pria itu lagi. Pun Zaskia yang ingin menemaninya tak Medina izinkan. Ia benar-benar tak ingin menyeret siapa pun ke dalam masalahnya.
Dengan menaiki taksi online ia menuju ke Jakarta. Sepanjang perjalanan Medina berusaha menyusun semua kata-kata yang akan ia sampaikan pada bunda. Medina sangat berharap bunda akan memaafkannya. Walau kemungkinan untuk bunda mengampuninya sangat kecil.
Medina turun dari taksi dan ragu untuk melangkah kedalam rumah yang ia tinggali puluhan tahun itu. Tubuhnya sedikit gemetar memikirkan apa yang akan terjadi. Jantungnya berdebar kencang. Namun demi apapun, ia harus menyelesaikan masalah yang ia buat. Ia tak ingin lagi tersiksa hidup dalam kebohongan.
"Assalamualaikum bunda." Medina melangkah masuk rumah yang pintunya terbuka.
"Waalaikumsalam ... Me. Mana Ray?" Bunda tergopoh dari dapur menghampiri Medina. Bunda mengedarkan pandangan mencari menantunya.
Medina diam tak menjawab dan mengambil tangan bunda dan mengecup punggung tangan bunda.
"Nanti Me jelaskan ya Bun. Me taruh tas ke kamar sebentar," jawab Medina berlalu masuk ke kamarnya.
"Baik, bunda tunggu di atas," Bunda melangkah menaiki tangga.
"Ya Allah bagaimana ini? Berikan Medina kekuatan untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya pada bunda. Kuatkan aku ya Allah," gumam Medina setelah masuk kamar. Ia memegang dadanya yang berdegup kencang. Ia juga berupaya agar tubuhnya tak gemetar.
"Kamu harus kuat Me! Selesaikan apa yang sudah kamu mulai, apa pun itu resikonya."
Medina segera menyusul Bunda naik ke atas. Terlihat Bunda sudah duduk di ruang keluarga menunggunya.
"Me, katakan! Ada masalah ya di antara kalian?" tanya Bunda setelah Medina duduk di sampingnya. Mendengar pertanyaan Bunda, Medina segera menggeleng cepat.
__ADS_1
"Bun, ada yang ingin Me katakan. Maafkan Me, Bunda. Jangan terkejut ya Bun."
"Kamu ini apa-apaan sih Me? Bunda tak mengerti maksud kamu apa."
"Bun-Bunda, sebenarnya Mas Ray bukan suami Me," ungkap Medina susah payah membuat Bunda sangat terkejut.
"APA?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya jika typo bertebaran,
Seperti biasa kasih like vote dan komentarnya ya. Aku seneng kalau kalian kasih komen, yang mau emosi boleh kok tulis di kolom komentar 😂😂😂
Episode seterusnya akan menjadi penentu kehidupan Medina.
__ADS_1
Pantengin terus ya,
Atas dukungan kalian selama ini aku ucapkan terimakasih..