
Adam kembali ke kantor, setelah pertemuan singkatnya dengan Aldo di kafe. Ia berharap, cuti Alvian sudah berakhir. Dan laki-laki itu sudah kembali dari kampungnya.
Adam yang kacau, masuk ke ruangan karyawan mencari Alvian. Ardi yang menyapanya pun, sampai ia acuhkan. Tujuannya hanya satu, ia ingin segera menemukan wanitanya.
Hatinya sedikit lega, lelaki yang ia cari tengah bekerja. Berarti, ada kemungkinan istrinya tidak lari bersama Alvian.
"Vian, aku ingin berbicara sebentar. Sudahi dulu pekerjaanmu! Aku tunggu di ruanganku, sekarang!" perintah Adam mutlak.
Alvian hanya menganggukan kepalanya dan menyudahi semua pekerjaan yang tengah ia lakukan. Alvian bingung, kenapa Adam memanggilnya. Sedangkan para karyawan yang satu ruangan dengan Alvian, menatap kedua orang itu dengan penuh tanda tanya.
Tak lama, Alvian segera pergi ke ruangan Adam. Dengan penuh rasa penasaran lelaki itu bertanya-tanya dalam hati. Ada apakah gerangan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu, membuat Adam yakin jika Alvian sudah datang.
"Masuk!" perintah Adam. Alvian berjalan mendekat dengan ragu.
"Maaf, Tuan. Kenapa Tuan memanggil saya, ya?" tanya Alvian berusaha bicara dengan sopan.
Adam berdiri dari duduknya, dan menghampiri Alvian yang masih berdiri. Tiba-tiba Adam mencengkeram kerah Alvian.
"Mana istriku? Kamu sembunyikan Haura dimana, heh?"
"Apa maksud Tuan?" tanya Alvian mencoba melepaskan diri dari Adam.
__ADS_1
"Haura bersama kamu kan? Jangan berbohong!" tuduh Adam.
"Tidak! Bagaimana bisa Haura bersama saya? Dia istri Tuan. Harusnya yang tahu keberadaannya adalah anda, bukan saya yang hanya sahabatnya. Atau terjadi sesuatu ya?" sindir Alvian.
"Bukan urusan kamu! Katakan yang sebenarnya, dimana istriku? Aku yakin kamu tahu!" Adam melayangkan tinju ke wajah Alvian, hingga sudut bibir pria itu berdarah.
Alvian tertawa miris, rupanya apa yang ia dengar selama ini benar. Adam bukan suami yang baik untuk Haura.
"Sudah saya katakan! Saya tidak tahu dimana istri anda berada. Dan kenapa anda harus mencarinya? Bukankah anda tak mencintainya? Hingga anda tak segan-segan berselingkuh dengan model terkenal itu? Jangan kira saya tak Tahu Tuan," ejek Alvian.
"Sudah kubilang jangan ikut campur!" Adam meninju wajah Alvian lagi, terbakar amarah.
"Kalau pun saya tahu di mana Rara, saya tak akan pernah memberitahukan pada anda. Saya tahu anda bukan lelaki yang baik. Ingat Tuan! Kalau saya mengetahui Rara tak bahagia bersama Anda, saya tak akan segan untuk mengambilnya kembali dari Anda," ancam Alvian meninggalkan ruangan bosnya. Dengan punggung tangannya ia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
***
Wanita itu meringkuk kedinginan di sebuah ranjang, dalam keadaan gelap gulita. Tubuhnya menggigil kedinginan dengan keringat sebesar jagung mengalir dari seluruh tubuhnya. Matanya terpejam, namun pikirannya entah kemana. Bayangan kejadian naas di malam itu berputar di ingatannya. Air mata sudah tak mengalir lagi, mungkin sudah terlalu lelah ia menangis. Wanita itu kini sangat rapuh dan begitu terpuruk.
Tiba-tiba wanita itu bangkit dan mengambil pisau cutter yang berada di laci meja rias. Dengan bergetar, wanita itu tanpa ragu menggoreskan pisau ke pergelangan tangannya. Hingga darah segar mengalir dari luka itu. Menimbulkan bau amis yang menusuk penciuman. Wanita itu duduk di lantai bersandar di ranjang, menikmati bagaimana cairan merah itu mengalir. Yang rasanya tak sesakit dan sepedih penghinaan yang ia terima.
Haura memejamkan mata di ambang kesadarannya. Tubuhnya semakin lemas dan lemah. Wanita itu berharap tak kan pernah bangun selamanya. Biarlah dosa itu ia tanggung, karena batinnya tak mampu menanggung rasa sakit yang menghancurkan jiwa dan raganya.
Sementara itu di studio
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Namun, Elsa belum pulang juga. Wanita itu masih harus menjalani serangkaian pemotretan. Dengan pikiran kacau karena memikirkan sahabatnya yang berada di rumahnya, ia tetap harus menjaga profesionalisme dalam bekerja.
__ADS_1
Hati kecil Elsa ketakutan, ia takut sahabatnya akan melakukan hal yang nekat. Bukan tidak mungkin, karena kejiwaan Haura belum stabil. Wanita itu berkali-kali tak konsentrasi. Karena pikirannya melayang jauh ke tempat Haura berada.
"Kak Frans, Elsa tidak enak badan. Bolehkah kalau pemotretannya kita lanjutkan besok pagi? El janji akan datang lebih awal," pinta Elsa pada fotografernya. Ia harus membuat alasan selogis mungkin agar diizinkan pulang.
"Hmmmm ... ya sudahlah. Dari tadi kamu juga nggak konsen. Pemotretan sampai sini dulu, esok kita sambung lagi."
"Terima kasih, Kak." Elsa segera berlari ke belakang dan mengganti bajunya dengan baju miliknya. Tak sempat menghapus make upnya, wanita itu berlari pulang. Tak sabar rasanya untuk segera bertemu dengan sahabatnya. Ia ingin mengetahui kondisi sahabatnya, apalagi sedari tadi hatinya tak tenang.
Elsa segera memesan taksi dan pulang ke rumah. Jarak yang biasa ia tempuh selama dua puluh menit terasa sangat lama. Karena ia tak sabar untuk segera bertemu dengan Haura.
Dua puluh menit kemudian, Elsa sampai di apartemennya. Tak sabar menantikan lift yang sedang digunakan, ia berlari menuju tangga darurat. Dalam hati, wanita itu berdoa semoga sahabatnya itu baik-baik saja.
Dengan peluh bercucuran Elsa setengah berlari menuju lantai empat. Ia segera membuka pintu dan masuk ke apartemennya. Sepi dan gelap. Ia membuka lampu, dan masih sama seperti ia meninggalkan rumahnya. Rapi dan sunyi tak ada yang berubah. Buru-buru ia menuju kamarnya dan mendapati pintu dikunci dari dalam.
"Ra ... ini aku Elsa. Buka pintunya Ra!" panggil Elsa seraya mengetuk pintu kamarnya. Hening, tak ada jawaban. Membuat hati Elsa semakin tak karuan.
Elsa berlari ke kamar tamu, mencari-cari kunci cadangan rumah itu. Ia mengorek seluruh isi laci hingga berantakan. Sampai akhirnya, Elsa menemukan benda yang ia cari sedari tadi.
Dengan tubuh bergetar karena takut terjadi sesuatu, Elsa membuka kunci kamarnya. Dan pintu berhasil terbuka. Gelap gulita, sama seperti kamar tamu. Elsa segera membuka lampu.
Ketika lampu menyala, pemandangan yang mengerikan tampak di depan matanya. Sahabatnya dengan mata yang tertutup bersandar di tepian ranjang. Darah segar menggenang di sekitar pergelangannya yang terluka.
Elsa lemas melihat kondisi sahabatnya yang bersimbah darah. Sepersekian detik ia menjadi linglung. Tubuhnya lemas tak bertulang. Namun, ketika kesadarannya kembali. Wanita itu menjerit meminta pertolongan.
"Tolonggg ... tolong ...," teriak Elsa ketakutan dan juga panik. Apa yang ia takutkan benar-benar terjadi. Sahabat kesayangannya depresi dan berniat mengakhiri hidupnya. Elsa berharap tak ada sesuatu yang buruk menimpa sahabatnya. Ia berharap, Haura dapat di selamatkan. Dalam hati Elsa mengutuk perbuatan Adam, yang membuat sahabatnya sehancur itu.
__ADS_1