
Bagai tak berjumpa selama bertahun-tahun lamanya. Keduanya tak terpisahkan. Haura selalu menempel pada Adam tanpa malu. Ibrahim mencoba menegur putrinya, namun wanita itu mengabaikannya. Seolah tak mendengar ucapan ayahnya, ia tak mau jauh dari Adam barang sejengkal pun. Medina dan Ray hanya maklum. Ia tersenyum melihat tingkah manja Haura yang belum pernah mereka lihat selama ini. Mereka malah bahagia melihat kedekatan keduanya. Apalagi mereka juga tahu perasaan Haura setelah mengkhawatirkan Adam selama seminggu lebih ini.
Akhirnya karena kondisi Haura dan Adam yang masih lemah, mereka berdua memutuskan untuk menginap semalam. Sedangkan Ray dan Medina langsung kembali ke Bandung, karena mengkhawatirkan Mikha yang hanya di rumah sendirian.
Semalaman penuh Haura memeluk Adam, seolah Adam akan meninggalkannya lagi. Di ranjang sempit itu keduanya menempel erat. Udara panas dan nyamuk yang berdenging seolah tak terasa bagi keduanya. Adam bahagia melihat tingkah manja Haura. Ia semakin menyayangi istrinya itu.
Keesokan paginya, Adam membawa Haura kembali ke Bandung. Dalam keadaan yang penuh kelegaan. Tak ada dendam, amarah atau pun kesedihan. Ibrahim hanya bisa mendoakan kebahagiaan putri dan menantunya.
***
"Ra, bagaimana kalau kita pergi honeymoon?" tawar Adam ketika mereka sudah pulang ke rumah yang ada di Bandung. Kini keduanya tengah berbaring di ranjang kamar mereka. Posisi mereka begitu intim. Haura menyandarkan kepalanya di dada Adam. Dan lengan wanita itu melingkar di perut suaminya.
"Mas, bagaimana Mas bisa merencanakan hal itu dalam kondisi sekarang? Mas baru saja kembali. Rara tak perlu honeymoon atau apalah itu. Yang terpenting Mas Adam ada di samping Rara."
"Ra, Mas sudah baik-baik saja. Mas sadar jika selama kita menikah kita belum pernah berlibur atau honeymoon. Mas hanya ingin menghabiskan waktu berdua denganmu Ra. Sebelum nanti kita punya anak dan tak bisa kemana-mana lagi."
"Mas Adam ih ... Rara tak peduli Mas. Yang penting Mas Adam menyayangi dan mencintai Rara. Mas Adam selalu setia menjaga cinta kita, itu sudah cukup. Rara tak perlu hal lainnya."
"Iya sayang, Mas tahu. Mas selalu mencintaimu Ra. Mas selalu menyayangimu. Dan Mas ingin membahagiakan kamu. Bagaimana kamu setuju kan kita honeymoon?"
"Rara ikut kata Mas Adam saja." Haura mengatakannya dengan tersipu.
"Em ... kamu mau kemana? England? Newyork? Atau Jepang?"
"Terserah Mas saja. Eh, kita pergi ke yang dekat saja bagaimana Mas?"
"Misalnya?"
"Rara ingin ke Malaysia. Tempat Mas Adam dulu menjalani hidup penuh kesepian dan kesedihan." Raut wajah Adam menjadi murung mengingat hal menyedihkan di masa kecilnya.
"Eh, Rara tak bermaksud membuat Mas sedih. Rara hanya ingin menghapus kesedihan dan luka itu. Rara ingin menggantikannya dengan kebahagiaan."
__ADS_1
"Iya Ra. Mas tidak apa-apa kok. Hanya saja mungkin Mas sedikit mellow jika mengingat kenangan dulu."
"Nggak usah ke sana nggak papa kok. Mas pilih saja destinasinya. Rara akan ikut kemana pun Mas Adam pergi." Haura menepiskan senyumnya.
"Em, baiklah ... kita akan ke Malaysia. Mari kita mengukir kenangan di tempat Mas menjalani kehidupan yang menyedihkan. Dan sesuai kata kamu, kita hapuskan kesedihan dan kita buat kenangan indah berdua." Haura memeluk erat tubuh kekar itu dengan erat-erat. Menyalurkan rasa rindunya selama seminggu ini.
"Ra, Mas rindu," ucap Adam setengah berbisik di telinga Haura. Membuat bulu kuduk wanita itu meremang.
"Rara juga Mas. Rindu sekaliiii ...." Haura mencoba menetralkan degup jantungnya yang menggila. Ia mengeratkan pelukannya dan mengecupi dada Adam. Ia gugup, berusaha mengenyahkan pikiran kotornya. Bahwa ia ingin Adam menjamahnya.
"Em, mau kan Ra?" tanya Adam dengan suara yang menggoda. Haura jadi geram melihat Adam merayunya. Ingin wanita itu mengecup dan meng**** bibir merah alami yang menggoda itu.
"Hah?" tanya wanita itu terkejut. Seolah Adam bisa menebak apa yang ia inginkan.
"Kita cicil honeymoonnya dari sekarang," bisik Adam genit.
"Apa sih Mas ...." Wajah Haura memerah seperti kepiting rebus.
***
Kini pasangan suami istri itu tengah menikmati keindahan kota Kuala Lumpur. Akhirnya setelah mengatur jadwal kerjanya pasangan suami istri yang sudah lama menikah bisa berbulan madu dengan penuh cinta. Walaupun sangat terlambat untuk usia pernikahan mereka tetapi tidak masalah. Yang terpenting adalah bagaimana hubungan mereka saat ini.
Haura sangat bahagia, mengingat ini pengalaman pertamanya ke luar negeri. Juga pengalaman pertamanya naik pesawat. Segalanya yang pertama kali untuknya akan terasa sangat berharga karena ia melewatinya bersama suami tercinta.
Ada kejadian lucu ketika mereka naik pesawat. Wanita itu begitu histeris ketika pesawat lepas landas. Ia ketakutan. Adam berusaha untuk membantu istrinya agar tetap tenang. Ia memeluk erat tubuh Haura dengan penuh kasih sayang. Adam tak merasa malu dengan sikap udik Haura, ia memakluminya dan malah gemas dibuatnya.
Dan setelah check in di sebuah hotel bintang lima di ibukota negara itu, Adam dan Haura pergi berjalan-jalan dengan bahagia. Melupakan rasa penat yang mungkin ada karena perjalanan yang harus ditempuh. Layaknya muda-mudi yang sedang berkencan. Keduanya begitu mesra bergandengan tangan menikmati keindahan kota.
Mereka berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Menikmati aneka jajanan khas negara itu. Adam membawa Haura ke tempat yang dulu sering ia kunjungi. Dan untuk hari itu mereka hanya akan berkeliling di tempat yang dekat saja. Mungkin besok mereka baru berkeliling ke tempat-tempat yang indah dan romantis.
"Mas, mau eskrim itu." tunjuk Haura pada sebuah mobil box penjual es krim keliling.
__ADS_1
"Em kita ke toko es krim saja ya sayang? Lihatlah antreannya mengular." Adam sangat malas jika harus mengantre.
"Tidak Mas! Rara mau yang itu." Wanita itu bersikap sangat manja. Adam jadi heran, Kenapa istrinya bisa semanja itu sekarang.
"Ah, iya ... mari kita ke sana."
"Kamu berdiri di situ yang tak terlalu panas. Biar Mas yang mengantre untukmu." Haura mengangguk mengiyakan.
Adam akhirnya terpaksa ikut mengantre untuk istrinya. Namun karena terlalu lama menunggu Adam jadi sedikit kesal. Bukan apa, matahari bersinar sangat terik membuat ia kepanasan dan berkeringat.
"Cik, bolehkah saya mendapatkan ice cream lebih dahulu? Kasihan istri saya tengah mengandung. Dia tak sabar nak makan ice cream ini. Tolong saya Cik!" bohong Adam merayu orang-orang yang mengantre di depannya. Ia ingin mendapatkan es krim dengan cara pintas.
.
.
.
.
.
.
.
Pastikan tiap episode mendapatkan like dan komentar dengan adil ya?
Aku tunggu like, vote dan komentarnya 🤗🤗🤗
Happy Reading, Happy weekend
__ADS_1