
"Mas, kenapa hal seperti itu juga ditanyakan? Kan malu sama Bu Dokternya ...," keluh Haura saat mereka menuju ke parkiran.
"Ra, ini hal penting juga. Karena Mas minim pengetahuan tentang itu. Dan karena sungguh Mas tidak bisa jauh darimu sayang." Adam dan Haura membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
"Benarkah? Lalu kenapa tadi malam kamu menolakku Mas," ucap Haura setelah masuk mobil dengan lirih, namun Adam masih dapat mendengarnya dengan jelas.
"Ra, jadi kamu kecewa?" tanya Adam mengelus pipi Haura dengan rasa sayang. Dalam hati tersenyum, mengetahui Haura juga menginginkannya.
"Eh eh bukan begitu. Aku kira Mas sudah tidak menyukaiku. Aku kira Mas Adam sudah bosan melakukannya denganku." Haura menundukkan wajahnya yang memerah sempurna. Ia malu mengatakan hal itu.
"Ra, dengarkan aku. Aku mencintaimu. Tidak akan pernah ada kata bosan. Kamu tadi malam juga tahu bagaimana 'dia' menginginkanmu. Tapi Mas ingat ucapan Mama sayang. Ini pengalaman Mas yang pertama akan menjadi seorang ayah. Mas takut, tak ingin terjadi apa-apa jika benar kamu hamil. Jadi Mas menahannya, Mas sama tersiksanya denganmu."
"Mas, apakah nanti jika aku menjadi gendut dan jelek kamu masih menginginkanku? Apakah kamu akan setia walau badanku sudah tak secantik sekarang? Apakah kamu akan menyayangi aku yang perutnya membuncit?"
"Ngomong apa sih kamu, sayang? Mas akan selalu menyayangimu. Bagaimanapun keadaan kamu. Kamu istriku yang paling Mas cintai. Lebih sayang lagi karena di sini sekarang ada darah dagingku." Adam mengelus perut yang bahkan masih rata itu.
"Ra, ingatlah! Aku akan selalu setia. Aku mencintaimu sayang. Hanya kamu. Hanya ada keluarga kecil kita." Kini lelaki itu menggenggam jemari istrinya dan mengecupinya dengan sayang.
"Terima kasih Mas. Aku juga mencintaimu Mas. Sangat. Hingga sesak dada ini karena merindukanmu. Berjanjilah tidak akan pernah meninggalkan kami Mas."
"Aku janji sayang." Adam mengecup kening Haura. Haura bahagia menikmati tiap detik kebersamaan mereka yang begitu berharga. Ia berharap selamanya akan menikmati kebahagiaan bersama Adam.
"Yuk kita pulang. Masa kita mau di sini saja sampai sore," gurau Adam. Karena mereka tak juga beranjak dari tempat itu.
"Kita mampir ke supermarket beli susu dulu ya Mas."
"Siap ratuku." Adam menginjak pedal gas dan berlalu dari rumah sakit.
Di supermarket.
Haura menggandeng lengan Adam seolah tidak ingin terpisah. Rasa cemburu mencubit hatinya, ketika para wanita memperhatikan adam tanpa berkedip, karena terpesona. Ia akui Adam terlalu menarik, lebih menarik dibanding dirinya. Setiap bagian tubuh lelaki itu hampir sempurna. Mungkin kata tampan saja tak cukup mewakilinya.
"Mau yang mana sayang?"
"Terserah Mas saja. Rara ikut kata Mas."
"Ini saja ya? Anmom. Mau rasa apa, Dek?"
"Yang penting jangan yang Vanilla ya Mas."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Rara mual tiap menghirup baunya."
"Ya sudah yang cokelat saja ya?"
"Heem Mas."
"Lihat Jeng, betapa beruntungnya wanita itu. Suaminya tampan dan mau bersusah payah memilih susu untuknya. Padahal lihat saja! Tampang wanita itu biasa saja. Jangan-jangan wanita itu kaya, sehingga pria tampan itu mau dengannya." Pembicaraan tak mengenakkan hati terdengar di telinga keduanya. Haura jadi murung karenanya. Ia menyadari jika dirinya memang tak pantas untuk Adam.
"Bu, maaf. Tolong Ibu jangan berkata yang bukan-bukan. Entah tadi yang Ibu maksud adalah kami atau bukan. Tapi Ibu sudah membuat istri saya sedih. Kalau benar Ibu membicarakan saya, anda salah Bu. Karena istri saya dari keluarga sederhana, tidak kaya. Dan saya bertanggung jawab penuh sebagai suami. Saya yang menafkahi istri saya. Jadi salah jika anda mengatakan saya menikahi istri saya karena dia kaya. Saya menikah dengan istri saya karena saya mencintainya. Maafkan saya sudah lancang berbicara seperti itu. Saya hanya tak suka melihat istri saya sedih." Adam meninggalkan kedua wanita paruh baya yang melongo karena keberanian Adam untuk menegur mereka.
"Yuk sayang kita bayar." Adam merangkul pundak Haura dengan mesra membuat para wanita paruh baya itu semakin terpana.
"Ah, andai aku punya mantu kayak gitu ya Jeng."
"Iya Jeng, manis sekali. Kalau saja dia masih single. Kan bisa aku jodohkan dengan Monica, anakku."
***
"Benarkah ini rumah kita Mas?" tanya Haura ketika halaman rumah mereka yang luas itu sudah disulap sedemikian rupa seperti acara kenduri kawin.
"Yuk turun! Mobil biar parkir sini saja." Keduanya turun dari mobil dan menghampiri salah satu pekerja.
"Maaf Pak. Ada apa ini ya? Kami tidak memesan apapun. Tidak ingin menyelenggarakan acara apapun. Jadi kenapa kalian membuat semua ini. Atau anda salah alamat."
"Ini benar rumah Bapak Adam Haikal kan?" tanya pekerja itu memastikan.
"Iya benar. Siapa yang menyuruh kalian?"
"Kami melakukan pekerjaan kami atas perintah Tuan Mirza. Ya benar namanya Mirza."
"Argh, sial. Apa mau si Mirza itu."
"Mas jangan mengumpat, ingat dia Mas." Haura menunjuk ke perutnya.
"Ah, maaf ya sayang. Ayo kita masuk saja dulu."
Dan pemandangan mengejutkan memenuhi ruang tamu itu. Ruang tamu yang luas itu dipenuhi dengan makanan katering. Adam yakin ini semua bukan prank, ia yakin ini ulah papanya.
__ADS_1
"Sebentar Ra. Aku mau telepon Papa. Kamu duduk saja dulu sayang," ucap Adam pada Haura yang masih terpana dengan kondisi rumah mereka.
"Pa, semua ini ulah Papa kan?" tuduh Adam tanpa basa-basi.
"Ulah apa Dam? Berbicaralah lebih sopan." Ray masih pura-pura tak tahu.
"Sekarang ... sekarang keadaan rumah Adam kacau. Apa yang Papa rencanakan? Ulang tahun kami juga masih lama." Ray tertawa.
"Iya iya, biar Papa jelaskan Dam! Papa sudah mendengar semua dari Mirza. Papa hanya ingin mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk kalian. Karena Papa tak ingin kejadian di kantor terulang kembali."
"Hahh, Mirza benar-benar ... hal sekecil itu pun dilaporkan."
"Itu bukan hal kecil Dam. Karena menantu Papa begitu berharga."
"Tapi ini kan urusan pribadi, masa semua dilaporkan pada Papa."
"Iya, tapi kejadiannya kan di kantor. Sebenarnya Papa juga bersalah, karena tidak mengumumkan pernikahan kalian."
"Semua salah Adam Pa. Karena Adam dulu tak pernah menginginkan pernikahan ini."
"Ya sudahlah. Kita lupakan saja. Kita undang semua karyawan dan kerabat juga teman. Agar semua orang tahu status kamu. Papa juga ingin mengundang besan Papa. Agar Bang Baim sekali-kali main ke kota."
"Ya sudah kalau begitu Adam ikut saja."
"Bersiaplah Nak! Ajak istrimu ke salon atau paling tidak beli baju yang bagus. Acara dimulai pukul enam sore ini."
"Hah?" Adam menganga mendengar ucapan papanya. Bagaimana bisa orang tua itu bisa menyiapkan semua ini hanya dalam hitungan jam.
.
.
.
.
.
Jangan lupa jempolnya ya. Aku ingatkan lagi untuk episode yang belum kebagian jempol kasih jempolnya ya, biar author semangat dan bisa crazy up lagi.
__ADS_1
Terima kasih 😘😘😘