
"Mas Ray mana Kak?" tanya Alif yang kini duduk di meja dapur setelah mengambil botol air dari kulkas. Kemudian ia meneguk air dari botol minuman tersebut dengan cepat hingga tandas.
"Di kamar, sedang sembahyang dzuhur. Kenapa memangnya?" tanya balik Medina yang duduk sambil mengupas buah untuknya sendiri dan juga Ray.
"Nggak kenapa-kenapa sih. Sebenarnya Alif mau ajak Mas Ray main PS," kata Alif cengar cengir. Medina hanya geleng-geleng kepala karena adiknya yang memang maniak game.
"Ya Allah, malang sekali .... " kata Alif sedikit berteriak hingga mengagetkan Medina. Di tangannya memegang ponsel bergambar apel separuh miliknya.
"Alifff! Kebiasaan deh. Teriak-teriak, Kakak kaget lif. Untung Kakak nggak sakit jantung." Medina marah karena terkejut.
"Eh maaf Kak, habisnya Alif terkejut. Model idolaku yang aku ceritakan ke kakak kemarin ternyata meninggal Kak. Kasihan sekali sih Cyntia. Kemarin viral akan menikah sekarang viral sudah meninggal. Cantik-cantik kok malah mati muda," kata alif dengan muka sedih. Medina mendengar perkataan adiknya dengan seksama, namun dia diam saja mendengar Alif menyelesaikan ceritanya.
"Wahhh ... ternyata dia kecelakaan sama si Gibran tunangannya itu. Astaga ... sungguh malang nasib mereka berdua. Tapi Gibran beruntung masih bisa diselamatkan walaupun kondisinya kritis. Padahal mereka belum sempat meneguk kebahagiaan. Benar-benar nasib tak dapat ditebak ya. Kasihannya kamu Cyntia," lanjut Alif bercerita panjang lebar masih sibuk memegang ponsel.
Wajah Medina seketika pias mendengar kabar buruk tersebut. Jantungnya berdegup kencang, tanpa sengaja ia meremas kancing bajunya sendiri hingga terlepas. Sungguh ini seperti mimpi buruk, walau ada rasa benci dan kesal terhadap laki-laki tersebut. Ia masih mempunyai rasa cinta untuk Gibran. Dan bagaimanapun juga ia tak dapat menyangkal kalau Gibran lah ayah kandung bayi diperutnya. Air mata berhasil lolos dari manik hitamnya. Buru-buru ia menyeka air matanya sebelum Alif yang masih memainkan ponsel menyadarinya.
" Lif, Kakak ke kamar ya? Mau mengantar buah buat Mas Ray." Medina berdiri meninggalkan Alif sendirian di dapur. Alif hanya menganggukkan kepala pelan.
Ia membawa sepiring buah-buahan di tangannya. Buru-buru ia meletakkan di meja tempat tidur tanpa berkata apapun. Ia merebahkan badannya pelan, ditariknya selimut menutupi kepalanya dan ia menangis dalam diam.
Ray yang baru saja sholat mengetahui gelagat aneh Medina. Ia merasa ada kejanggalan dari sikap diam wanita itu. Ia ingin bertanya pada Medina tapi diurungkannya karena ia takut terlalu memaksa mencampuri urusannya. Dalam hatinya bertanya-tanya ada apakah gerangan. Tapi ia yakin bahwa ini ada hubungannya dengan kekasih Medina.
***
Hari sudah malam, namun Medina tak juga dapat memejamkan mata. Ia masih terjaga walau waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Semua penghuni rumah yang lain, juga sudah terlelap dalam tidurnya.
Hatinya sangat gelisah mendengar kabar kecelakaan Gibran. Ia tak henti-hentinya berdoa agar ayah bayinya diberikan keselamatan. Sungguh dadanya berasa sangat sesak. Ingin rasanya ia berlari ke rumah sakit tempat Gibran dirawat. Namun ia tak ingin menunjukkan kelemahannya di hadapan lelaki yang sudah mencampakkannya.
Pandangan Medina mengarah ke Ray yang sedang tertidur lelap di lantai. Ia menatap lekat-lekat wajah lelaki tampan yang sudah menyelamatkan kehidupannya. Medina tersenyum mendengar dengkuran halus laki-laki itu. Sungguh ia sangat bersyukur ada Ray di sampingnya saat ini. Entah apa yang akan terjadi jika lelaki itu tak ada. Mungkin saat ini ia akan berada di titik terbawah dalam keputusasaan.
Tiba-tiba Medina merasakan nyeri di perutnya. Ia menghirup nafas dalam-dalam menahan rasa sakit di perutnya. Di elus-elusnya perut tempat bayi mungil itu berada berharap rasa nyeri itu mereda. Namun ia merasakan bagian bawah tubuhnya
terasa basah. Ia menyentuh celananya dan ketika ia menarik kembali tangannya ia sangat terkejut dan panik. Karena ada darah segar yang menempel di jari yang menyentuh celana tadi.
__ADS_1
"Mas Ray, tolong Me mas ...," panggil Medina pelan. Air mata mengalir di kedua pipi mulusnya. Ia sangat ketakutan. Meskipun kehadiran bayi itu awalnya tak diharapkannya, tapi sekarang ia sangat panik. Tak mau terjadi hal buruk pada buah hatinya.
"Iya Me, kenapa Me?" tanya Ray mengerjapkan mata beringsut duduk di ranjang tempat Medina tidur.
"Mas, Me takut," kata Me sambil menunjukkan jarinya yang berlumur darah.
"Astagfirullah ...." Ray sangat terkejut.
"Me tunggu sebentar, Mas bangunkan bunda dulu," tambah Ray berlari menuju kamar bunda.
"Bunda ... Bunda ...," panggil Ray sambil mengetuk pintu kamar bunda.
"Iya Ray ... ada apa?" jawab bunda seraya mengucek matanya pelan. Bunda terlihat baru tebangun dari tidurnya karena memang waktu sudah dini hari.
"Itu Bunda ... itu anu ... Me ...." Ray panik dan bingung mau menjelaskan. Wajah Ray pucat karena ketakutan.
"Apa Ray? Bicara yang jelas Bunda tak paham," kata Bunda tak sabar.
"Itu Bunda, Medina pendarahan," jawab Ray hanya menerka. Karena memang ia masih bujang tak tau apa pun mengenai ibu hamil.
Bunda dan Ray segera menuju kamar Medina tanpa menjawab pertanyaan Alif. Alif yang penasaran mengikut di belakang mereka. Terlihat Medina masih duduk di kasur memegang perutnya yang sakit. Wajahnya terlihat pucat.
"Ray, ayo kita bawa ke rumah sakit," kata bunda sedikit panik.
Tanpa aba-aba Ray segera mengangkat Medina dan membawanya ke mobil. Semua penghuni rumah dengan muka bantal baru bangun tidur mengikuti dari belakang.
Setelah meletakkan Medina di mobil Ray ingin duduk di depan kemudi, namun bunda melarang. Ia menyuruh Alif yang mengemudikan mobil dan menyuruh Ray kebelakang menemani Medina. Ray akhirnya menurut saja.
Selama perjalanan ke rumah sakit, Ray tak henti-hentinya berdoa dalam hati. Ada raut khawatir terlihat jelas di wajahnya. Ia menggenggam tangan Medina erat-erat memberi kekuatan pada wanita malang itu.
"Sabar ya sayang, semua akan baik-baik saja," kata Ray memberikan semangat. Ia memeluk wanita itu erat-erat dan mengecup puncak kepala Medina. Ia tak mempedulikan keberadaan Alif dan Bunda Mutia. Yang ia tahu, saat ini ia hanya ingin memberikan semangat pada Medina.
Sesampainya di rumah sakit Medina segera ditangani oleh dokter. Ray, bunda, dan Alif menunggu di luar dengan cemas. Bekali-kali Ray berjalan kesana kemari untuk menghilangkan kecemasannya. Bunda yang melihat gerakan menantunya menjadi semakin cemas.
__ADS_1
*K*ringg kringg
Ponsel Medina yang dipegang Ray berbunyi sangat keras di saat yang tak tepat. Segera Ray pergi menjauh dari bunda dan Alif untuk mengangkat telepon tersebut.
"Halo," sapa seseorang yang ada di seberang sana, yang tak lain adalah Gibran.
"Halo," jawab Ray.
"Ini benar nomor Medina kan? Anda siapa ya? Medina mana?" tanya Gibran lirih.
"Saya Ray, suami Medina. Istri saya sedang ditangani dokter karena pendarahan. Tolong anda jangan mengganggu istri saya lagi. Karena sekarang Medina adalah tanggung jawab saya. JANGAN PERNAH HUBUNGI MEDINA LAGI. Okay?" Ray menekankan kata-katanya karena ia sangat kesal terhadap lelaki yang sudah menyakiti Medina. Ia langsung mematikan telepon setelah selesai bicara, tanpa mendengar kata-kata Gibran lagi.
Ia kembali duduk bersama Bunda dan Alif. Seorang perawat menghampiri mereka.
"Maaf, dengan keluarga Nyonya Medina?" tanya perawat.
"Ya saya suaminya," jawab Ray tanpa ragu.
"Tuan, Tolong segera mengurus urusan administrasi di bagian depan sana ya Tuan," kata perawat itu.
"Baik, terimakasih Sus," kata Ray.
Ia menuju ke meja resepsionis untuk mengurus urusan administrasi Medina. Ia juga yang membayar seluruh biaya perawatan Medina. Ray benar-benar seperti suami sesungguhnya. Ia begitu tulus menyayangi Medina.
Sekembalinya dari meja resepsionis, dari kejauhan Ray melihat dokter berbincang dengan bunda. Namun ketika ia menghampiri bunda dokter tersebut telah pergi.
"Bunda, apa kata dokter? Bagaimana keadaan Me?" tanya Ray risau.
"Alhamdulillah Ray, ibu dan bayinya selamat. Kata dokter kalau terlambat sedikit saja nyawa mereka bisa terancam. Untung ada kamu Ray, terimakasih ya Ray," ucap bunda penuh rasa syukur.
"Alhamdulillah, itu memang sudah tugas Ray sebagai suami, Bun," ucap Ray mengelus dadanya. Ada kelegaan dalam hatinya, seperti beban berat yang terangkat dari tubuhnya.
"Ray, kamu di sini jaga Me ya? Bunda mau ambil baju ganti kalian dan barang yang diperlukan. Alif juga harus pulang. Karena besok harus sekolah," kata bunda.
__ADS_1
"Iya Bunda," jawab Ray.
Bunda menghampiri Alif yang duduk sambil menahan kantuknya. Beberapa kali ia terlihat menguap, karena memang masih dini hari. Mereka berdua pergi dari rumah sakit untuk pulang ke rumah meninggalkan Ray dan Medina berdua.