Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Ayah Datang


__ADS_3

"Mas, ada telepon dari Mama," panggil Haura. Wanita itu sedang membereskan tempat tidur mereka berdua.


"Angkat saja sayang!" teriak Adam dari dalam kamar mandi.


Haura mengambil ponsel milik suaminya. Dan segera mengangkat panggilan dari mama mertuanya.


"Assalamualaikum, Ma."


"Waalaikumsalam, sayang."


"Eh, Mas Adam lagi mandi Ma."


"Oh, ya sudah tidak apa-apa. Sama saja, Mama kan bisa bicara dengan menantu Mama yang Mama rindukan ini. Kamu apa kabar sayang? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Medina penuh perhatian.


"Iya Ma. Rara baik-baik saja. Rara juga rindu dengan Mama. Mama dan Papa jangan khawatir. Mas Adam memperlakukan Haura dengan baik."


"Alhamdulillah ... syukurlah," jawab Medina seraya berharap dalam hati agar ucapan menantunya itu benar.


"Oh iya Mama hampir lupa, nanti malam kalian datang ke rumah ya? Hari ini ulang tahun Papa. Mama ingin kita berkumpul dan makan bersama."


"Ah, oh iya Ma. InsyaAllah kami pasti datang."


Tak lama Adam keluar dari kamar mandi dengan telanjang dada. Hanya sebuah handuk putih menutup bagian bawahnya. Menampilkan dada bidang dan perutnya yang berotot. Terlihat titik air menetes dari ujung rambutnya. Membasahi kening lelaki itu, sehingga Adam terlihat segar dan menggoda. Haura menatap Adam sepersekian detik dengan kagum. Ia menelan salivanya dengan susah payah.


Tampannya, batin Haura.


"Mama bilang apa sayang?" Suara Adam terdengar oleh Medina. Mendengar apa yang Adam ucapkan, Medina yakin jika anak dan menantunya kini telah berbaikan.


"Eh, eh ... Mama bilang kita diundang untuk makan di rumah Mama malam ini. Sebentar ...." Wanita itu mengaktifkan mode loudspeaker.


"Assalamualaikum Ma."


"Eh sayang. Nanti malam kamu ajak istrimu kemari ya? Kita makan bersama. Ini kan hari ulang tahun Papa."


"Oh iya ya. Adam lupa. Baiklah Ma, nanti sepulang kerja Adam akan kesana bersama Rara."


"Ya sudah ya Nak. Mama tutup teleponnya. Assalamualaikum "

__ADS_1


"Waalaikumsalam wr wb."


Haura yang sedari tadi menatap Adam kini mengalihkan pandangan karena malu. Wajahnya memerah akibat pikiran liarnya tadi.


"Hei, kenapa memalingkan wajah begitu? Kamu marah sampai tak ingin melihat wajah Mas?" Haura hanya menggeleng tanpa menoleh.


"Apa salahku Ra?" tanya Adam gusar. Adam mengira ada hal yang buruk yang baru saja dibicarakan istrinya dengan mamanya. Sehingga Haura enggan menatapnya.


"Eng-enggak kok. Cepat pakai baju Mas. Rara malu." Haura masih enggan menoleh. Kini telinga wanita itu ikut memerah, dan Adam dapat melihatnya dengan jelas. Hingga membuat Adam paham dan tersenyum diam-diam. Tiba-tiba timbul niatan Adam untuk mengusili istrinya.


Ia mendekati Haura tanpa suara dan segera mendekap Haura dari belakang. Adam meletakkan dagunya di perpotongan leher Haura. "Morning S** dulu yuk!"


Mendengar perkataan Adam, mau tak mau Haura memalingkan wajahnya yang memerah sempurna dan menatap gemas pada suaminya. " Apaan sih Mas? Cepat ganti baju Mas. Nanti Mas terlambat."


"Biar saja ... yang punya perusahaan kan Papa. Kalau aku terlambat karena sedang membuatkan cucu untuknya. Pewaris Atmaja grup kan tidak masalah."


"Mas Adam ...." Haura mencubit perut Adam karena malu.


"Aw ... kini kamu harus bertanggung jawab Ra. Gara-gara kamu si kecil kini benar-benar bertumbuh besar." Haura hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan suaminya yang tak tahu malu.


Tanpa aba-aba Adam memag*t bibir istrinya menggoda Haura. Memberi kehangatan lagi di pagi itu. Haura tak dapat menolaknya, karena ia menyukai apa pun yang suaminya berikan. Dan melanjutkannya dengan sesi panas yang panjang. Seolah mereka adalah candu bagi masing-masing. Semua terasa sangat nikmat dan tidak ada rasa bosan sama sekali.


"Mas banyak pekerjaan hari ini sayang, Mas tidak bisa makan siang di rumah. Dan kayaknya nggak bisa pulang lebih awal. Jadi kamu nanti bersiap-siap, pukul tujuh Mas langsung jemput kamu ya?"


"Iya Mas ...." Haura masih sibuk merapikan dasi Adam.


"Nah sudah siap."


"Ya sudah, sarapan Mas masukkan ke kotak bekal saja. Sudah terlambat."


"Siapa suruh pagi-pagi menggoda Rara terus." Ucapan Haura lirih namun Adam masih bisa mendengarnya.


"Nakal ya?" Adam mencubit hidung istrinya.


"Tapi enak kan?" bisik Adam di telinga Haura dengan nada nakal.


"Mas Adam! Sudah sana kerja!" Haura memelototkan matanya, geram karena suaminya tak henti menggoda ia. Hingga mendorong tubuh suaminya agar segera berangkat. Adam menanggapi dengan tawa bahagia.

__ADS_1


Setelah melakukan rutinitas mencium tangan dan mengecup kening, Adam pun segera pergi ke kantor.


Sepeninggal suaminya, Haura segera melakukan rutinitas seperti biasanya. Mencuci baju, membersihkan rumah dan lain-lain. Adam sudah menawarkan untuk menggaji asisten rumah tangga. Namun Haura menolaknya, ia merasa belum memerlukan. Haura beralasan jika ia bisa kebosanan jika tak melakukan apa pun. Akhirnya Adam hanya bisa mengiyakan keinginan istrinya.


Setelah pekerjaan selesai Haura mengambil penyiram tanaman. Ia ingin menyiram bunga-bunga yang ia tanam di depan rumahnya. Dengan bersenandung kecil Haura menyirami tanaman yang ia tanam. Terkadang pipi wanita itu bersemu merah, mengingat suaminya. Haura merasa sudah benar-benar mencintai Adam. Tak ada nama Alvian lagi di hatinya. Baru saja ia ditinggal bekerja, ia sudah merindukan suaminya.


Tak lama sebuah mobil taksi berhenti di depan rumah mereka. Haura menghentikan pekerjaannya, bertanya-tanya siapa gerangan yang datang.


Dan ketika seorang laki-laki paruh baya keluar dari taksi itu, senyum Haura merekah. Dan berlari menyambut kedatangan orang itu. Begitu bahagia Haura melihat ayahnya datang berkunjung.


"Ayah ...," seru wanita itu memeluk orang yang ia rindukan.


"Assalamualaikum ...."


"Waalaikumsalam Yah. Mari masuk," ajak Haura menggandeng tangan ayahnya.


"Besarnya rumah kamu Ra."


"Rumah suami Rara, Yah."


"Iya." Ibrahim mengiyakan dengan nada dingin tak seperti biasanya. Tanpa senyum, hanya ada tatapan datar.


"Duduk dulu ya Yah. Rara buatkan minum." Wanita itu pergi ke dapur menyiapkan minuman untuk ayahnya.


Ibrahim memandang ke sekeliling rumah yang besar dan mewah itu. Begitu takjub, namun sedikit menyesal. Dalam hati ia sedih karena merasa anaknya seperti hidup dalam sangkar emas. Ia menyangka jika menjodohkan putrinya dengan Adam yang mapan bisa membuat putrinya bahagia. Namun, nyatanya Hauranya malah menderita. Dan mungkin saja senyum yang saat ini putrinya tunjukkan hanyalah akting semata.


"Silakan diminum Yah." Haura dengan wajah berseri meletakkan secangkir kopi di atas meja.


"Terima kasih, Nak." Ibrahim meminum kopi yang Haura hidangkan.


"Ra, apa kabar Nak?"


"Baik Yah. Ayah dan adik-adik apa kabar?" tanya Haura dengan senyum selalu tersungging di bibirnya.


"Baik Nak. Kami semua baik-baik saja. Nak Adam juga rutin mengirimi kami uang. Jadi ayah tak perlu lagi mengkhawatirkan kebutuhan sehari-hari kami." Ada rasa sesak di dada Ibrahim ketika mengucapkannya. Seakan ia telah menjual anaknya pada keluarga Ray.


"Alhamdulillah Rara ikut bahagia."

__ADS_1


"Ra, mari kita pulang!"


__ADS_2