
"Kia, Aku jadi ke Bandung besok ya? Maaf untuk kedepannya aku akan sering-sering merepotkan kamu Ki," ucap Medina.
Medina tengah menelepon sahabatnya Zaskia yang tinggal di Bandung dan rencananya Medina akan menumpang tinggal dirumah sahabatnya itu. Selain itu Medina juga akan bekerja di butik milik Zaskia untuk memenuhi kebutuhannya nanti.
Zaskia dan Medina sudah bersahabat dari kecil. Karena ketika Medina masih sangat kecil pernah tinggal di Bandung sehingga mereka menjadi sahabat sampai saat ini. Walau Medina telah pindah ke Jakarta, mereka selalu berkirim kabar sehingga persahabatan mereka begitu langgeng. Dulu setiap liburan sekolah Medina selalu ke Bandung dan bertemu Zaskia. Dan sebenarnya ada seorang lagi yang ingin Medina jumpai. Entah siapa, Medina sudah lupa. Karena setelah lama ia meninggalkan Bandung, begitu kembali orang yang dicari katanya pindah ke luar negeri.
"Iya *D*arl, santai aja sih kenapa? Kayak sama siapa aja Me," kata Zaskia. Zaskia sudah mengetahui keadaan Medina yang sekarang, jadi dia tak banyak tanya ketika sahabatnya itu meminta pertolongannya. Ia justru bahagia akan tinggal bersama sahabat lamanya
"Em, kamu nanti ke sini naik apa? Naik bus? Aku jemput di terminal ya?" tanya Kia lagi.
"No...Nggak usah, aku kesana diantar sama Mas Ray. Jadi nggak usah jemput. Siapkan saja kamar buat aku," jawab Medina sedikit malu mengucapkan nama laki-laki yang kini ada di hatinya.
"Woww..siapa tuh? Kayaknya aku ketinggalan kabar deh. Kelihatannya nama itu belum pernah terucap dari mulutmu sebelumnya," tanya Zaskia penasaran.
"Em.. itu, aku kan sudah kirim pesan sama kamu. Aku kan sudah bilang kalau ada seorang laki-laki yang menolong aku. Dia baik sekali Ki. Aku merasa dia adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku. Setidaknya saat aku terpuruk, saat aku hilang arah, ada dia yang memberi aku kekuatan. Aku sangat bersyukur ada dia disampingku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau ia tak ada. Dia baik tampan mapan, dia tak punya kekurangan. Sampai-sampai aku merasa dia adalah tuan sempurna." Medina menjelaskan dengan menggebu.
"Wow ... tuan sempurna? Aku jadi penasaran. Eh Me, kamu mencium bau nggak?" tanya Zaskia.
"Kamu ngomong apa sih? Bau apa?" tanya Medina balik karena merasa perkataan sahabatnya tidak nyambung. Memang kadang Zaskia yang terlihat anggun di depan orang lain bisa terlihat sangat kocak bila berhadapan dengan Medina. Di hadapan Medina, Zaskia selalu menjadi dirinya sendiri tanpa harus jaga image sebagai orang kaya.
"Bau-bau cinta... hahahaha." Terdengar tawa menggelegar di seberang sana.
"Kia ... sakit telingaku tahu?" Medina sedikit merengut karena suara tawa cempreng sahabatnya memenuhi pendengarannya.
"Iya, iya maaf. Rasa-rasanya aku dapat memperkirakan kalau kamu sudah jatuh cinta pada pria itu kan?" goda Kia.
"Nggak," sangkal Medina.
"Alah.. aku tahu, kamu nggak bisa bohongi aku Me. Aku mengenal kamu bukan setahun dua tahun," kata Zaskia.
"Apa sih? Dia itu sudah punya tunangan Ki. Lagipula mereka akan segera menikah," jawab Me sendu. Nampak gurat kecewa dan sedih di wajahnya.
"Sebelum janur kuning melengkung masih ada kesempatan girl," ucap Kia dengan gurauannya.
"Udah ah, tambah ngaco bicara sama kamu," kata Medina menutup panggilan.
"Tuan Sempurna. Cocok sekali kan panggilan itu?" gumam Me pelan takut ketahuan orang yang ia juluki. Tak hentinya ia tersenyum mengingat julukan yang ia buat untuk Ray.
__ADS_1
***
"Mas bantu ya, Me?" Ray menawarkan bantuan pada Medina yang sedang mengemas kopernya.
"Nggak usah Mas. Medina bisa kok," jawab Medina tersenyum.
"Kamu masih marah gara-gara aku tinggalin kamu tadi malam?" tanya Ray lembut takut menyinggung Medina.
"Apa sih Mas, Me nggak marah kok? Mas Ray nggak salah apa-apa. Medina semalam hanya sedikit pusing dan mual. Jadi maaf Me meninggalkan mas Ray begitu saja dan tidak menyentuh makanan yang Mas Ray siapkan. Maaf ya Mas sudah membuat kamu kecewa," jawab Medina merasa bersalah.
Ray mengangguk, namun dalam hati ia yakin Medina berbohong. Akhirnya ia memilih diam tak ingin melanjutkan perdebatan panjang dengan Me. Ia tak ingin mengungkit hal yang bisa saja membuat Medina marah padanya.
"Jam berapa kalian berangkat?" tanya Bunda tiba-tiba masuk kamar yang memang pintunya terbuka, mengagetkan mereka berdua. Untung mereka tak membicarakan hal yang sensitif untuk dibicarakan.
"Agak sore kayaknya Bun. Jam tiga mungkin," jawab Ray. Bunda mengangguk paham.
Pandangan dan perhatian bunda beralih pada Medina yang tengah menata bra ke dalam koper.
"Tunggu Me, Bunda mau lihat." Bunda mendekat dan mengambil bra-bra yang sedang disusun Medina.
"Ya Allah Me ... kamu nanti nggak mau menyusui anak kamu?" tanya Bunda terlihat marah.
"Kenapa? kamu nggak tahu? ibu hamil kan nggak boleh pakai bra yang berkawat seperti ini. Nanti ASI akan sulit keluar Me," nasehat Bunda.
"Maaf Bun, Medina nggak tahu." Medina menundukkan kepala merasa bersalah.
"Semua bra berkawat jangan pakai. Kamu beli bra baru tanpa kawat. Nah ... seperti yang ini nih ... bagus," kata Bunda berseri-seri.
Ray yang masih di situ mendengarkan perbincangan manak dan ibu itu menjadi malu. Wajahnya memerah seketika.
"Ray ... sini!" perintah Bunda.
"I-iya Bun." Ray maju dengan ragu-ragu.
"Sini Ray!" bunda menarik tangan Ray sehingga Ray duduk di samping bunda.
"Kamu nanti belikan Medina bra yang tanpa kawat seperti ini ya? Ini coba pegang!" Bunda menyodorkan bra tanpa kawat kepada Ray yang wajahnya sudah memanas.
__ADS_1
"Ray, Bunda bilang pegang. Bra istri sendiri kenapa harus malu? Biar kamu tahu nanti kalau mau membelikan bra baru untuk Me seperti ini jangan sampai salah." Bunda memegang tangan Ray dan menggerakkan jari menantunya untuk memijat-mijat bagian cup bra yang empuk tanpa kawat.
"Ah, iya bunda." Ray gugup, Ray sungguh malu memegang bra milik wanita yang baru sekali itu ia lakukan.
"Bagus, ya sudah Bunda tinggal ya? Bunda mau masak buat makan siang, sebelum kalian berangkat makan dulu," ucap Bunda beranjak meninggalkan mereka berdua. Mereka berdua hanya mengiyakan.
"Ray, jangan lupa belikan Medina bra yang seperti itu!" perintah Bunda menoleh kembali sebelum keluar dari pintu. Ray memandang bra yang masih di tangannya dengan sesekali meremas cup bra seperti yang dicontohkan Bunda.
"Mas Ray," Medina merebut bra yang dipegang Ray dan menyembunyikan ke belakang badannya karena malu.
"Mas ini mau saja disuruh Bunda kayak gitu," kata Medina dengan wajah merah karena marah dan malu.
"M-Maaf Me. Mas nggak tahu cara menolaknya." Ray gugup karena sebenarnya dia juga tak kalah malu. Jantungnya berdegup kencang seakan mau meloncat keluar.
"Ya ampun ... Medina tak menganggap aku orang mesum kan?" batin Ray.
"Ya ampun ... malu banget rasanya. Bra milikku dipegang-pegang oleh orang yang aku suka," batin Medina.
Keduanya duduk terdiam diliputi perasaan yang canggung. Beberapa menit kemudian Ray beranjak ke balkon untuk menghindari kecanggungan dan untuk menetralkan detak jantungnya yang menggila. Sedangkan Medina kembali fokus menyusun barangnya. Agar rasa malunya menghilang walau pikirannya masih tertuju pada orang yang berada di balkon.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada nggak sih pembaca yang nunggu kelanjutan cerita Mas Ray dan Medina?
__ADS_1
Beri komentar ya..Like kalian juga sangat berarti bagiku.
salam sayang dariku 😘😘