
"Mau kemana kamu Ray? Tetap disini!" titah Oma tak dapat dibantah. Mata Ray masih memandang ke lantai atas. Namun Ray tak dapat bergerak karena cengkeraman tangan Oma.
"Ray, jadi ini yang kamu pelajari di Amerika? Untuk menghamili anak orang lain? Begitu? Kamu tak ingat dosa? Tak ingat orang tua? Saya tak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab. Kamu harus menikahi anak saya," tuduh Rendi bertubi-tubi dengan penuh amarah.
"Tenang Tuan, saya tahu perasaan anda. Kalau memang Ray yang melakukannya, saya akan pastikan Ray akan bertanggung jawab. Kami dari keluarga terhormat tak akan pernah mengingkari janji, pegang ucapan saya Tuan," jawab Nyonya Lidya masih berusaha menahan diri. Oma tak ingin membuat kekacauan yang lebih parah.
"Baik, saya akan menunggu pertanggungjawaban Ray. Secepatnya kamu nikahi anak saya," kata Rendi melunak.
"Kalau anda berkata seperti itu saya hanya akan mendukung. Mari kita nikahkan mereka berdua. Saya akan menyiapkan segala sesuatunya," kata Oma menyetujui. Mata Aurel berbinar seketika mendapatkan lampu hijau dari Oma.
Ray hanya diam saja. Sesekali ia menatap sedih ke arah lantai dua. Ray begitu sedih, harapannya untuk menikah dengan Medina harus pupus. Ray yakin wanita itu kini sangat membencinya sama seperti ketika Medina membenci Gibran. Namun seluruh pikiran dan hati Ray masih bersama Medina.
Aurel menangis sesengukkan mencari perhatian. Aurel ingin menunjukkan betapa menderitanya ia sebagai korban perbuatan Ray. Ketika tak ada seorang pun yang menatapnya, ia menundukkan kepala ia menyeringai bahagia. Tujuannya akan segera tercapai. Keinginan untuk menjadi nyonya keluarga Atmaja tinggal selangkah di depannya. Hatinya bersorak sorai, ingin rasanya ia melompat-lompat tanda gembira.
Ray sendiri tak sedikitpun memandang atau memikirkan Aurel. Ia tak peduli pada tangisan Aurel. Hinaan demi hinaan yang Rendi ucapkan pun hanya ia anggap sebagai angin lalu. Pikiran Ray hanya berfokus pada Medina. Ray sungguh takut Medina membencinya, Ray kehilangan arah dan harapan. Ray tak mungkin lagi untuk menjadi suami Medina. Tak ada lagi semangatnya yang menggebu seperti ketika mengajak Medina menikah. Baru saja Ray bahagia karena Medina menerimanya, kini harus pupus segala impiannya. Memang benar kata orang rasa kecewa itu paling dekat dengan rasa bahagia.
Ucapan Oma yang mengatakan bahwa ia harus bertanggung jawab menikahi Aurel membuatnya lemas. Tak ada lagi niatan hatinya untuk bersatu dengan Aurel, gadis yang dulu ia cintai. Ray benar-benar merasa ia sangat payah. Ia tak punya saksi atau bukti yang menjelaskan bahwa ia tak bersalah. Apalagi Ray juga ragu, apakah benar terjadi sesuatu di malam itu. Ray sama sekali tak mengingat apa pun yang terjadi. Kini Ray hanya bisa pasrah dan akan bertanggung jawab karena ia bukan lelaki pengecut.
Keluarga Aurel yang tadinya mengamuk segera pergi setelah mengutarakan maksud mereka yang meminta pertanggungjawaban dan sudah mendapat respon baik oleh Oma. Aurel sangat puas melihat ayahnya menghina keluarga Ray dan ayahnya juga berhasil membuat Ray kembali ke pelukannya.
"Baguskan akting aku? Jangan panggil aku Aurel jika aku tak bisa mendapatkanmu." batin wanita licik itu.
__ADS_1
"Mari kita pulang Ray," ajak Oma setelah keluarga Aurel pergi. Wajah oma terlihat tanpa ekspresi. Entah apa yang kini dipikirkan wanita tua itu. Ia tak sedih juga tak marah. Nyonya Lidya hanya diam dengan tatapan datar.
"Mut, kami pamit ya? Kalau ada waktu nanti Ibu datang lagi kesini," ucap Oma berpamitan.
Mutia segera menjabat tangan Nyonya Lidya dan mengecup lembut. "Maafkan Me ya Bu, Mutia rasa Me butuh waktu untuk menerima kenyataan ini. Mutia juga yakin Me sangat shock dengan kejadian hari ini," ucap Mutia kemudian.
"Ibu yang harusnya minta maaf Mut. Ibu minta maaf sudah membuat keributan dan kekacauan di sini. Sebenarnya ibu tak suka dengan keluarga Aurel, mereka terlalu angkuh. Tapi apa mau dikata lagi. Semuanya gara-gara anak ini," tunjuk Oma pada Ray. Ucapan Oma biasa saja tanpa amarah.
"Iya Bu, tak apa."
Mereka berpelukan sebentar, kemudian Nyonya Lidya dan keluarga meninggalkan kediaman Medina.
"Lif, kamu bantu bawa semua ini kedapur ya? Bunda mau istirahat sebentar. Rasanya kepala Bunda sakit. Pusing," perintah Bunda seraya menunjuk piring gelas yang berserakan dimeja. Sungguh drama yang baru saja terjadi membuat Bunda kaget dan shock. Setelah Alif mengiyakan, Bunda pergi ke kamarnya. Walau Alif lelaki, ia tak malu membantu Bunda mengerjakan pekerjaan rumah. Semenjak ayahnya meninggal ia dan Medina berusaha mengerti keadaan orang tuanya. Mereka tak segan untuk membantu bundanya. Dan Bunda sangat bersyukur memiliki anak seperti mereka berdua.
Ketika Medina sampai di bawah, suasana sudah berubah menjadi hening. Tak ada seorang pun yang ada disana. Medina segera melangkah menuju dapur dan segera minum. Dicomotnya sepotong kue yang dibuat bunda untuk tamu mereka. Setelah itu segera ia meneguk kembali air putihnya.
Ketika ia beranjak bangun dari duduknya, Medina tak sengaja melihat kunci mobil bunda demi dekat dispenser air. Medina segera mengambil kunci mobil itu. Ia ingin pergi keluar menenangkan diri dengan menghirup udara segar dan berkeliling sebentar.
Medina pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan bunda, ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil air matanya mengalir lagi. Hatinya begitu sakit mengingat Ray kembali. Ia begitu kecewa karena pria itu tak berbeda dari Gibran. Ray tak sesempurna yang ia pikirkan dulu. Medina menyadari jika rasa cintanya pada Ray lebih besar dari yang pernah ia rasakan pada Gibran, sampai-sampai lelaki itu tak sedikit pun singgah dihatinya lagi.
Ketika Medina masih terhanyut dalam kesedihan. Tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi. Ia segera mengangkat panggilan tersebut setelah menyambungkan dengan Bluetooth earphone miliknya.
__ADS_1
"Assalamualaikum Tante," Medina berbicara dengan suara yang sedikit sengau karena menangis. Ia menghapus jejak air mata yang masih membanjiri pipinya. Medina juga mengusap ingus yang keluar dari hidungnya yang telah memerah dengan tissue.
"Sayang, kamu datang kesini ya, Nak? Gibran sudah sadar dan mencari-cari kamu Nak. Tante mohon kamu datang," kata Rika membujuk Medina.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seperti biasa dukung ya, dengan cara memberi komentar, vote dan like.
__ADS_1
Terima kasih readers yang setia menemaniku sampai saat ini.