
Pagi itu mereka harus menyelesaikan segalanya. Ia harus membuat putra mereka menyesali semua perbuatan yang telah ia lakukan.
***
Hari ini kamu tak perlu datang ke kantor. Papa sudah bicara pada Ardi untuk menghandle semua pekerjaan kamu. Mama dan Papa ingin mengunjungi kamu dan Haura. Suruh istrimu memasak makanan lezat. Ingat jangan kemana-mana!
Sebuah pesan whatsapp yang Ray kirimkan membuat Adam kalang kabut. Adam kehilangan akalnya membaca whatsapp dari Ray. Bisa-bisanya di saat yang seperti itu orang tuanya malah akan datang.
"Siallll ...," umpat Adam. Kali ini benar-benar skak mat untuknya. Papa dan Mamanya akan mengetahui apa yang terjadi, apa yang sudah ia lakukan. Dan ia akan menerima amukan dari kedua orang tuanya.
"Ya Allah, apa yang harus aku katakan pada mereka? Tamatlah riwayatku!" Adam mengusap wajahnya frustasi. Kini masalah akan menjadi rumit, karena sampai saat ini ia belum juga berhasil menemukan Haura.
Adam bergegas bangun dan mandi. Ia tak ingin terlihat kacau di depan orang tuanya. Biarlah apa yang akan terjadi, ia hadapi. Bahkan untuk kemungkinan terburuk sekali pun.
***
Ting tong ting tong.
Bel berbunyi, dengan enggan Adam segera turun dan membukakan pintu untuk orang yang datang. Adam yakin, yang bertamu pagi-pagi begitu tidak lain adalah orang tuanya.
Ceklek
"Eh Mama, Papa." Adam mengambil tangan kedua orangtuanya dan menciumnya.
"Lho kok yang membukakan pintu kamu. Menantu Mama mana?" tanya Medina berbasa-basi.
"Eh itu ... anu ... ayo Pa, Ma. Masuk dulu. Kita bicara di dalam saja," ucap Adam gugup.
"****** aku," batinnya.
"Pa, Mama lapar. Pasti menantu kita sedang memasakkan makanan lezat untuk kita seperti biasanya. Hingga ia tak sempat membukakan pintu untuk kita."
"Sepertinya sih begitu Ma. Bisa gemuk kita ya Ma, kalau punya menantu seperti Rara." Ray mulai masuk ke dalam lakonan yang Medina buat.
"Silakan duduk Ma, Pa. Sebentar Adam buatkan minuman," ucap Adam dengan wajah merah padam.
"Lho, kok kamu yang buat? Kan biasanya Rara yang buatkan?" tanya Medina mengernyitkan keningnya.
"Anu Pa ... anu Ma ...." Adam bingung untuk memulai dari mana.
"Kenapa Nak? Kenapa wajah kamu pucat begitu? Kamu sakit? Bagaimana kalau Papa antar ke rumah sakit?" Ray yang sebenarnya ingin sekali menghajar anaknya pura-pura peduli.
__ADS_1
"Eng-enggak kok."
"Ra ... Rara! Mama datang sayang. Kamu ada di mana?" teriak Medina.
"Tumben ya Pa. Rara tak menyambut kita."
"Iya Ma."
"Ma-maafkan Adam Ma, Pa. Se-sebenarnya Rara pergi dari rumah." Adam tak tahan lagi untuk menyembunyikan semua dari orang tuanya.
"Apa maksud kamu, Dam? Rara pergi ke pasar atau ke mana begitu?" Ray masih pura-pura tak tahu.
"Bu-bukan Pa. Rara sudah pergi meninggalkan Adam," jawab Adam bersiap menerima amukan dari orang tuanya.
"Apa maksud kamu, Nak? Kamu mengusir Rara?" tanya Medina dengan suara meninggi.
"Bu-bukan Ma. A-Adam sudah menyakiti Rara. Dan Rara kini meninggalkan Adam. Tapi ... Adam menyesal Ma."
"Apa yang sudah kamu lakukan pada menantu kami?" Adam diam membisu tak berani untuk bersuara.
"Sini Dam! Papa mau bicara berdua saja. Mama tunggu di sini! Ini urusan lelaki." Adam merasakan firasat buruk mendengar ucapan Ray. Ray berdiri dari duduknya menuju ke sudut rumah di tepi jendela.
Ray berhenti dan berdiri di depan jendela yang menghadap ke taman. Pandangannya mengarah ke area taman yang indah tanpa berkedip. Di sampingnya berdirilah Adam dengan menunduk, tak punya keberanian walau hanya untuk mengangkat kepala. Ia sendiri juga tak tahu ke mana sosok dirinya yang arogan dan biasanya tak takut apa pun. Biasanya ia akan membantah semua perkataan Ray, sekali pun ia yang salah. Namun, kali ini nyali pria itu menciut dan ia merasa sudah menjadi seorang yang pengecut.
"Pa, ma-maafkan Adam. Adam tak bisa menjaga istri Adam dengan baik. Hingga sekarang Haura meninggalkan Adam."
"Itu saja yang ingin kamu katakan? Kenapa Haura bisa pergi meninggalkan kamu? Kemana perginya wanita yang bahkan hanya tahu alamat rumahmu dan rumah Papa?" tanya Ray dengan raut wajah datar. Sebisa mungkin ia menahan amarahnya, ia harus mendengar apa yang keluar dari mulut putra kesayangannya.
"A-adam sudah memperkosa Rara Pa. Dan Rara sekarang menghilang entah kemana," ucap Adam ketakutan.
Bugh.
Satu pukulan melayang di wajah Adam, menyisakan luka lebam di wajah lelaki itu. Adam meringis kesakitan karena pukulan sang ayah.
"Adam tahu, Adam pantas untuk Papa pukul," ucap Adam memegang pipinya yang terkena tinju Ray. Baru kali ini Adam menyaksikan kemarahan Ray yang begitu menakutkan.
Bugh.
Ray meluapkan emosinya dengan memberikan satu pukulan lagi. Sudut bibir Adam mengalirkan darah segar akibat perbuatan Ray.
"Papa!" teriak Medina ketakutan.
__ADS_1
"Mama jangan ikut campur! Sudah Papa bilang ini urusan lelaki!" bentak Ray yang sudah dikuasai amarah. Medina bimbang. Ia ingin menghentikan suaminya, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun Medina tak berani membantah perkataan suaminya.
"Kenapa Dam? Kenapa kamu melakukan hal sehina ini? Kenapa kamu menyiksa putri Papa hingga ia ingin mengakhiri hidupnya?" ucap Ray dengan kepedihan yang luar biasa. Tubuh Ray luruh ke lantai tak sanggup lagi menahan rasa sakit di hatinya.
"Maksud Papa apa?" tanya Adam kebingungan melihat sikap Ray.
"Semua salah Papa. Harusnya Papa tidak menjodohkan kalian. Harusnya kalian tidak perlu menikah hanya untuk menyenangkan hati Papa. Kini putri Papa harus menderita gara-gara keegoisan Papa. Bagaimana Aku harus menjelaskan pada Bang Baim?" Ray menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Semua bukan salah Papa. Yang harus bertanggung jawab adalah Adam. Adam yang menyakiti Haura. Adam yang bersalah. Apakah Papa tahu dimana Rara?"
"Kenapa? Kamu pikir Papa akan memberitahumu dimana keberadaan Rara? Tidak! Bahkan Papa tak mengizinkan kamu melihatnya walau seujung rambut pun. Sudahlah Dam. Mungkin lebih baik Papa dan Mama pergi. Biarlah menantu kami, menjadi tanggungan kami. Kamu kembalilah pada kekasihmu itu. Papa akan mengurus perceraian kalian dengan segera. Kamu hanya tinggal menandatangani surat cerai yang akan Papa kirimkan."
"Tidak Pa! Adam dengan Isabella sudah tak ada hubungan apa-apa. Adam tak ingin bercerai dari Rara. Adam mencintai Rara Pa. Jangan lakukan ini Pa!" Adam memohon dengan putus asa.
"Lepaskan saja dia, Dam. Biar Haura bahagia. Papa yang akan mengurus Haura. Selepas perceraian kalian, akan Papa carikan suami yang baik untuknya. Yang menerima dirinya apa adanya. Papa yakin, ada orang yang akan mau menerima dan mencintai wanita yang baik dan salihah seperti Haura."
"Ayo Ma! Kita pergi dari tempat ini. Urusan kita sudah selesai," ucap Ray tanpa menoleh ke arah Adam yang kini menangis sesenggukan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Semoga suka ya..
Minta dukungannya dong readers. Berikan bintang 5 ⭐⭐⭐⭐⭐, Berikan Like 👍, klik favorite ❤ dan berikan komentar kalian.
Bagi new readers minta jempol dari awal episode dong. Pastikan semua episode sudah di like ya?
Terima kasih untuk readers yang sudah memberi like, komentar dan bintang 5.
__ADS_1
Love you..