Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Pernikahan


__ADS_3

"Sayang, kamu datang kesini ya, Nak? Gibran sudah sadar dan mencari-cari kamu Nak. Tante mohon kamu datang ke sini," kata Rika membujuk Medina.


"Baik Tan, Medina on the way kesana," jawab Medina seraya menghapus air matanya.


"Terimakasih sayang, Assalamualaikum ...," ucap Rika menutup telepon.


"Waalaikumsalam." Medina fokus menyetir kembali.


Dua puluh menit kemudian.


"Me, bagaimana perasaanmu?" Gibran berbicara dengan suara yang lirih dengan alat bantu pernafasan yang menutup mulut dan hidungnya.


"Baik Gib." Medina tersenyum kecil memandang wajah yang pucat itu.


"Me masih benci Gibran?" tanya Gibran lagi.


"Tidak, Me sudah memaafkan Gibran sejak lama. Tak ada lagi kebencian dalam hati Me," jawab Medina mantap.


"Benarkah?"


"Iya."


"Me, kamu mencintai Ray kan?" Gibran mengajukan pertanyaan yang tak disangka-sangka.


"Ckk ... sudahlah Gib, Kita bicarakan hal yang lain saja. Kita lupakan segala kenangan yang menyakitkan dan mengingat kenangan-kenangan manis kita saja." Medina berdecak malas menghindari pertanyaan Gibran.


"Mau tanya apa lagi? Tak ada yang bisa kita bicarakan," jawab Gibran tersenyum kecil. Hatinya menghangat ada wanita yang ia cintai disisinya. Gibran juga begitu lega wanita itu kini telah memaafkannya dan membuka hati untuknya lagi.


"Banyak hal yang bisa kita bicarakan. Tak usah bicarakan orang lain. Ray juga sudah akan menikah. Jangan lagi membicarakan dia. Cukup bicarakan aku, kamu dan anak kita," ucap Medina dengan nada tak suka membicarakan Ray.


"Jujurlah Me. Kamu sekarang mencintai Ray kan?"


"Sudah aku katakan TIDAK," jawab Medina penuh penekanan.


"Aku melihat di dalam hatimu tidak ada lagi namaku. Cintamu padaku sudah memudar," kata Gibran lagi. Ketika ia mengatakan hal itu tak ada perasaan sakit hati sedikit pun. Gibran akan menerima apa pun keputusan dari wanita yang ia cintai. Gibran merasa Medina pantas jatuh cinta pada lelaki sebaik Ray.


"Ishhh ... Me kan pernah bilang kalau separuh hati Me ini sudah aku berikan pada Gibran, percayalah."


"Jangan pikir macam-macam lagi. Me hanya akan menikah dengan Gibran dengan syarat Gibran harus sembuh. Gibran harus membahagiakan Me dan anak kita," tambahnya lagi.

__ADS_1


Gibran hanya tersenyum mendengar penuturan Medina. Hidupnya sungguh lucu. Dulu dia yang membuat Medina hamil. Dan ketika Medina meminta pertanggungjawaban ia dengan tega menolak. Dan karena sikap kejinya Me mulai membencinya dan melupakannya. Namun, setelah Me lupa dan benci pada Gibran, barulah lelaki itu merasa kehilangan. Barulah ia sadar bahwa Medina sangat berharga untuknya. Dan kini mereka harus dipersatukan lagi dengan cara yang seperti ini.


"Gibran, Me pamit pulang dulu ya? Me akan menunggu keluarga Gibran datang ke rumah melamar Me. Untuk itu Gibran harus kuat dan segera pulih." Medina berusaha memberi semangat pada Gibran. Gibran menganggukan kepala seraya berkedip beberapa kali.


***


"Me, dari mana kamu?" tanya Bunda setelah Medina sampai di rumah.


"Me dari rumah sakit Bun."


"Oh ya Bunda, keluarga Gibran akan segera datang ke rumah untuk melamar Me," kata Medina dengan mantap.


"A-Apa maksud kamu?" tanya Bunda dengan suara meninggi.


"Medina akan menikah dengan Gibran Bun, untuk itulah keluarganya akan segera datang melamar," jawab Medina.


"Lalu Ray mau kamu kemanakan Me? Bagaimana perasaannya nanti?" tanya Bunda tak percaya dengan apa yang putrinya katakan.


"Mengenai perasaan Mas Ray terserah dia sendiri Bun. Biar Ray bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan," jawab Medina marah.


"Ya Allah Me ... kamu tahu tidak? Ray itu dijebak Me. Apakah kamu yakin seseorang sebaik Ray melakukan perbuatan tak senonoh seperti itu?" tanya Bunda.


"Bunda tak percaya jika Ray adalah laki-laki yang seperti itu. Apakah kamu tidak akan menyesalinya Me?" tanya Bunda lagi.


"Mau menyesal bagaimana jika memang kami sudah tak berjodoh."


"Oh kalau begitu ya sudahlah. Seminggu lagi Ray akan segera menikahi Aurel. Dan kamu juga akan merencanakan pernikahan dengan Gibran. Kamu sudah tak ada kesempatan lagi untuk mendapatkan laki-laki sebaik Ray. Puas kamu me? Puas?" kata Bunda marah meninggalkan Medina sendirian di ruang tamu.


Medina termenung sedih memikirkan perkataan Bunda. Namun ia juga tak ingin egois. Ia mementingkan anaknya dan anak yang dikandung Aurel. Bagaimana bisa ia membuat seorang anak yang belum lahir kedunia tak memiliki ayah dengan merebutnya demi kepentingan sendiri.


***


Satu minggu kemudian.


Ray kini tengah bersanding dengan Aurel di depan penghulu. Wajahnya terlihat muram dan sedih. Tak ada senyum di wajahnya layaknya seorang pengantin baru. Tak ada rasa berdebar ketika ia akan menghalalkan seorang wanita untuk menjadi pendamping hidupnya nanti. Semua terasa hambar. Ia layaknya sebuah robot tanpa perasaan yang digerakkan menurut kemauan empunya.


Acara pun dimulai, Bik Sum dan Oma duduk dibelakang Ray dengan dipenuhi rasa gelisah. Sejujurnya Oma tak ikhlas cucunya menikah. Bukan karena apa, Oma tak suka dengan mempelai wanitanya.


"Saya nikahkan Rayga Arkana Dewanto bin Hendrawan dengan Aurel Putri," kata penghulu terhenti.

__ADS_1


"Tunggu!" Ucapan seseorang menghentikan acara ijab kabul. Semua tamu yang berada di kediaman Oma menoleh kearah suara.


"Saya yang telah menghamili Aurel bukan Ray," ucap Reno dengan lantang.


"Mengenai foto tersebut, saya dan Aurel dengan sengaja menjebak Ray. Ray tidak bersalah apa pun, karena saya sudah memasukkan obat tidur ke dalam minumannya hingga tak sadarkan diri." Reno membeberkan semua kenyataannya membuat ruangan itu begitu riuh.


Bisik-bisik para tamu terdengar di sana sini. Aurel begitu malu ketika kebohongannya terbongkar. Ray yang sedari tadi ingin menangis karena tak menginginkan pernikahan itu kini bernafas lega. Dalam hati ia mengucapkan syukur kepada Tuhan. Begitu juga Oma. Wajahnya yang tadinya tanpa ekspresi kini tersenyum bahagia. Beberapa kali Oma mengucapkan hamdalah. Bersyukur pada Allah yang telah menunjukkan kebenaran hingga cucunya terbebas dari segala fitnah keji dari wanita licik itu.


"Tapi saya akan bertanggung jawab. Saya dengan ikhlas hati akan menikahi Aurel. Saya bertanggung jawab penuh dengan apa yang sudah saya perbuat," kata Reno lagi.


Aurel berlari pergi dari tempat itu karena perasaan malu yang harus ia terima. Aurel tak tahan mendengar cibiran dan hinaan dari para tamu. Walau para tamu menggosipkan ia dengan sedikit berbisik ia masih bisa mendengar dengan jelas.


Sedangkan Rendi, Papa Aurel sangat terkejut. Ia segera berdiri dari duduknya meninggalkan tempat akad nikah. Rendi menghampiri Reno yang berdiri di belakang tamu. Ia menatap Reno tak percaya. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Namun ia tiba-tiba mengangkat tangan kanannya dan melayangkan sebuah tamparan keras di pipi kiri Reno.


Reno pasrah diperlakukan demikian. Ia tak berbicara apa pun hanya mampu memegang pipinya yang terasa perih dan panas. Ia tahu ia salah dan layak menerimanya. Bahkan lebih dari itu ia pantas untuk menerima amukan ayah Aurel. Seorang ayah mana yang akan terima dipermalukan seperti itu?


.


.


.


.


.


.


.


.


Stay terus yah..


Dukung dengan klik like, vote dan komen..


Terimakasih readers yang selama ini selalu memberikan semangat ketika kadang daku putus asa.


Love you all

__ADS_1


__ADS_2