Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Kalau Kurang Nanti Tambah


__ADS_3

"Apakah Om dan Tante ingin singgah ke gubuk kami dahulu?" tawar Ray sebagai rasa sopan santun.


"Tidak Nak. Terimakasih, kami permisi dulu ya?"


"Baiklah kalau begitu, Om dan Tante hati-hati ya di jalan?" Mereka berdua mengangguk dan meninggalkan rumah itu. Ilham merangkul pundak istrinya. Ray memandang kepergian dua orang itu dengan perasaan bersalah karena sikap istrinya yang tak bersahabat.


Ray memasuki rumah dengan penuh tanda tanya di kepalanya. Apa gerangan yang membuat istrinya bersikap seperti itu. Ray merasa tak enak hati pada Ilham dan Rika yang sudah menolong Adam. Ray mengerti ketakutan yang Medina rasakan, tapi Ray tetap tak suka dengan sikap dingin Medina tadi. Ray merasa Medina sangat berlebihan.


Ketika memasuki rumah besar itu, tak ada seorang pun yang ia jumpai. Rumah bergitu sunyi karena Oma dan Bi Sum sedang menghadiri pernikahan teman Oma. Ray melangkahkan kaki menuju kamar Adam. Dengan perlahan dibukanya pintu kamar bocah itu. Benar, seperti dugaan Ray. Adam tidur dipeluk oleh Medina. Dengan hati-hati Ray membangunkan istrinya.


"Sayang, Me ...," panggil Ray lirih menggoyang lengan istrinya.


"Enghhh ... iya Mas. Mas mau makan?" tanya Me bangkit dari tidurnya.


"Mas boleh bicara sebentar?" tanya Ray.


"Bicara saja Mas, Me mendengarkan kok."


"Lebih baik kita ke kamar kita, takut Adam terbangun," ajak Ray. Medina mengangguk dan mengikuti langkah suaminya menuju kamar mereka.


Begitu sampai di kamar, Ray melepas jas dan sepatunya. Tak lupa Ray juga mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa. Sedangkan Medina duduk di ranjang mereka menunggu Ray yang membersihkan diri.


"Mas tak mau makan dulu?" tanya Medina ketika Ray baru keluar dari kamar mandi.


"Nanti saja." Ray meletakkan bokongnya di ranjang samping istrinya.


"Me, ceritakan pada Mas apa yang sebenarnya terjadi," pinta Ray dengan wajah serius. Medina menghela nafas sebentar dan menceritakan segalanya pada Ray. Ray mengangguk tanpa berkomentar apa pun.


"Me,sayang ...."


"Mas ingin bertanya, tapi kamu jangan marah ya?"


"Iya Mas," jawab Medina bingung. Medina sangat penasaran apa yang sebenarnya akan di tanyakan oleh suaminya.


"Me, kenapa kamu bersikap seperti itu pada mama papa almarhum Gibran?" tanya Ray hati-hati takut menyinggung istrinya.


"......" Medina bungkam. Ia sendiri bingung dengan sikapnya terhadap kedua orang tadi.

__ADS_1


"Sikap kamu tadi seperti bukan Medina yang biasanya," kata Ray yang tak mendapatkan jawaban dari istrinya.


"Me juga nggak tahu kenapa Me bisa begini Mas," jawab Medina sedih.


"Mas tahu, kamu takut kan Om Ilham dan tante Rika mengambil Adam?" tanya Ray. Medina hanya menganggukkan kepala tanpa memandang wajah suaminya. Medina menunduk dalam-dalam, seakan enggan menatap Ray.


"Tapi sikap Me tadi sedikit keterlaluan. Setidaknya Me ucapkan terimakasih pada mereka. Dan Me harusnya menunjukkan sikap sopan santun. Bagaimanapun juga mereka tamu kita dan lebih tua dari kita Me. Apalagi berkat mereka juga Adam bisa pulang dengan selamat. Dan Mas Rasa sikap kamu tadi sedikit kasar," nasihat Ray.


"Mas nggak tahu perasaan aku. Aku takut Mas. Aku takut mereka membawa Adam. Adam milikku Mas hanya milikku," kata Medina menangis meremas dadanya kuat-kuat. Ia bingung, ia tahu kedua orang itu tak melakukan apa pun padanya. Tapi entah mengapa perasaannya sangat gelisah.


"Me tak perlu takut. Itu hanya ketakutan Me saja. Bukankah ada kita yang melindungi Adam. Dan Mas nggak akan pernah membiarkan siapa pun mengambil Adam. Tapi sikap mereka biasa saja Me. Sepertinya tadi mereka tak bermaksud buruk jadi jangan suudzon dulu sayang." Ray mencoba menenangkan istrinya. Ia merengkuh Medina ke dalam pelukkannya.


"Tapi Me takut Mas, Me takut ...."


"Shhh ... jangan pikir yang macam-macam sayang." Ray mengecupi puncak kepala Medina yang tertutup jilbab.


"Kamu sudah makan?" tanya Ray lembut. Medina menggelengkan kepala.


"Yuk kita makan, biar Adam makan nanti kalau sudah bangun tidur," ajak Ray. Mereka segera menuju ke ruang makan yang mungkin makanannya sudah dingin.


Begitu sampai di ruang makan. Medina mencicipi makanan buatannya. Benar saja, sudah dingin semua.


"Sudah duduk saja, makan begini saja," kata Ray membalikkan piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk.


"Me," panggil Ray menghentikan Medina yang ingin membalikkan piringnya.


"Sini, tarik kursi kamu. Bawa ke dekat Mas," perintah Ray. Medina terbengong dengan sikap suaminya. Segera menarik kursi dan piring miliknya mendekati Ray.


"Nggak usah bawa piring, sini kamu temani Mas makan. Kamu makannya tunggu Adam saja oke?" kata Ray menepuk-nepuk bantalan kursi. Medina segera duduk menuruti perintah suaminya.


"Ayo sayang kita berdoa dulu." Ray dan Medina segera berdoa dalam hati masing-masing. Medina sedikit dongkol karena ia harus ikut berdoa padahal Ray menyuruhnya makan nanti.


Setelah berdoa Ray segera mengambil makanan dari piringnya menggunakan tangannya. Tak seperti biasanya yang selalu menggunakan sendok garpu. Medina menatap suaminya dengan tak percaya.


Makanan di tangan Ray tiba-tiba di ulurkan ke mulut Medina. Medina tak segera Membuka mulut, malah memandang Ray dengan pandangan keheranan.


"Buka mulutmu sayang, aa ...." Ray menyuapi Medina layaknya sedang menyuapi seorang anak kecil. Medina akhirnya membuka mulut dan makan dari tangan Ray.

__ADS_1


Akhirnya mereka makan bergantian makan dari suapan Ray. Sungguh romantis dan hangat. Rasa takut yang Medina rasakan menghilang. Medina merasa bahagia dengan perlakuan manis Ray.


Ray tak pernah memanjakan Medina dengan kemewahan yang berlebihan. Namun sikap Ray yang manis selalu berhasil menenangkan hati Medina. Laki-laki itu pandai mengambil hati istrinya.


"Mas, kalau makan berdua seperti ini kamu nanti nggak kenyang," protes Medina dengan mulut yang tersumpal makanan.


"Kalau kurang, nanti kita tambah," kata Ray tertawa.


"Tapi Me bukan anak kecil Mas. Kalau ada orang yang tahu Mas suapi Me, Me akan malu," kata Medina lagi.


"Sudah ... diam dan makan. Mumpung Adam tidur, kapan lagi bisa makan sambil bermesraan begini?" kata Ray menaik turunkan alisnya menggoda Medina. Wajah Medina merah merona gara-gara perkataan Ray.


"Mas Ray, terimakasih ...," kata Medina berkaca-kaca.


"For?" Ray meneguk air putihnya.


"Terimakasih selalu ada untuk Medina, Me benar-benar lemah tanpa Mas Ray," jawab Medina terharu.


"Sudah jangan sedih lagi. Kita kan memang diciptakan untuk saling melengkapi."


"Eh, besok kita pergi ya sayang. Sekitar jam sembilan pagi. Aku ke kantor sebentar baru jemput kamu di rumah. Nanti biar Yasin yang jemput Adam ke sekolah," kata Ray semakin membuat Medina keheranan.


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Medina penasaran.


"Sudah ikut saja, besok dandan yang cantik. Kita habiskan waktu berdua. Biar Adam di rumah dengan Oma," kata Ray terkekeh geli.


"Oh, jadi begitu ya Mas. Aku akan kasih tahu Adam, kalau papanya mau mengajak Mama jalan-jalan dan tega nggak mengajaknya," ancam Medina.


"Bilang saja, aku sudah bilang kok sama Adam. Kata Adam 'Papa boleh pinjem Mama tapi Papa harus belikan Adam robot yang kayak punya Aldo' gitu katanya." Ray menceritakan dengan gaya bicara meniru Adam.


"Eh, bagaimana Mas bisa membujuk bocah yang keras kepala itu agar tidak ikut? Tidak mungkin ia akan menurut hanya karena sebuah robot," kata Medina keheranan.


"Sini mas bisikin!"


"Adam, besok papa mau ajak pergi Mama. Kamu mau kan punya adek bayi? Jadi Adam di rumah dulu sama Oma. Biar Mama Sama Papa bisa bikin adek bayi buat Adam," bisik Ray.


"Apa? Mas bilang begitu sama Adam? Dasar sudah tua tak tahu malu," kata Medina terkejut.

__ADS_1


Kini dicubitnya kedua pipi Ray dengan gemas. Posisi mereka semakin intim dan masih asyik bergurau. Mereka tertawa bahagia. Mereka mengabaikan tangan Ray yang belum dicuci. Hingga akhirnya Ray memagut bibir Medina dan melumatnya. Medina yang menikmati ciuman dari suaminya ikut memejamkan mata. Mereka saling ******* dan merasakan satu sama lain, mengabaikan sekitarnya. Ray dan Medina benar-benar terhanyut oleh ciuman panas mereka.


"Mama, Papa!"


__ADS_2