
Dengan ragu, Adam masuk ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya begitu saja, tanpa melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Hati Adam begitu hampa dan sakit. Ia mencoba memejamkan mata melupakan kejadian tadi. Namun, semakin ia ingin melupakan semakin hatinya sakit.
Adam gelisah, berkali-kali membolak-balikkan badannya ke kanan dan ke kiri. Pendingin ruangan yang biasa membuat ia nyaman, kini tak berpengaruh sama sekali. Karena gelisah, kepala lelaki itu terasa panas seakan ingin meledak.
Lama ia tak bisa tidur, hingga akhirnya Adam memutuskan untuk menyusul Haura. Ia ingin tidur di samping istrinya. Hanya tidur, tak ada niat buruk lainnya.
Ia turun dari ranjangnya dan melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Tanpa alas kaki lelaki itu naik ke kamar Haura.
Dengan perlahan, takut mengusik istrinya ia membuka pintu. Atau mungkin, lebih takut jika wanita itu akan mengusirnya.
Ia melangkah dengan sangat hati-hati. Dan dengan gerakan lembut dan sangat pelan ia duduk di ranjang Haura. Ia membaringkan tubuhnya perlahan, seolah akan ada bayi yang terbangun jika ia membuat kegaduhan.
Adam lega, Haura tak terbangun, tak menyadari kehadirannya. Perlahan ia ikut masuk ke dalam selimut tebal istrinya. Dengan berkaca-kaca Adam memandang istrinya yang tidur memunggunginya.
Adam mengingat satu per satu memori kenangan bersama Haura. Dari sikap kasarnya, hingga pengkhianatannya. Adam merasa bersalah pada Haura. Walau sudah lama ia tak menyentuh Isabella. Seumur pernikahan mereka, hanya sekali Adam menyentuh Isabella. Dan Adam kini menyesalinya.
Seandainya waktu dapat diputar, ia ingin terlebih dahulu mengenal Haura. Agar ia tak perlu jatuh cinta pada Isabella. Sehingga ia tak perlu menanggung dosa yang terlalu besar.
Adam memainkan rambut istrinya yang indah. Dapat ia rasakan, betapa lembut dan wanginya surai hitam indah milik Haura. Ia semakin sadar, betapa bodohnya dirinya selama ini. Menyia-nyiakan harta yang terlalu berharga. Wanita cantik, polos, dan salihah.
Bulir air mata nampak menetes dari sudut matanya yang terpejam. Lelaki itu begitu menyesali semua perbuatannya yang telah menyakiti istrinya.
Lama kelamaan, mata Adam terasa berat. Rasa kantuk pun datang. Adam mulai ikut terlelap dalam mimpi bersama Haura yang sudah terlebih dahulu bermimpi indah.
Malam begitu hening dan nyaman, keduanya terlelap dalam mimpi masing-masing. keheningan malam menjadi penghantar mimpi-mimpi mereka berdua.
***
Petir menyambar-nyambar dengan suara yang menggelegar di angkasa. Terlihat lidah api di langit menghiasi langit yang cukup gelap pagi itu. Hujan rintik-rintik mulai menemani sang petir yang menunjukkan kehebatannya.
Haura yang masih terlelap di balik selimut hangatnya terkejut oleh suara sang guntur. Gadis itu membuka mata dan menatap ke arah jendela kamarnya. Nampak, air hujan sudah membasahi pepohonan di depan kamarnya. Ia masih menetralkan degup jantungnya yang menggila karena terkejut. Belum menyadari adanya sosok laki-laki yang terlelap disampingnya.
Baru ia akan menurunkan kaki, tak sengaja pandangan matanya menangkap bayangan sosok yang tak asing. Wajah tampan itu, tubuh kekar itu. Membuat Haura terkejut dan refleks berdiri.
__ADS_1
"Kyaaaa ...," teriak Haura memenuhi pendengaran Adam yang masih nyenyak dalam mimpinya. Adam mengerjapkan matanya, masih terlalu linglung untuk menyadari apa yang terjadi.
Haura berlari ke samping ranjang dan menarik paksa Adam yang belum sepenuhnya sadar.
"Keluar Mas! Keluarr ...," teriak wanita itu penuh emosi.
"Ra ... Mas minta maaf."
"Pergii ... pergi Mas!" usir wanita itu dengan wajah memerah karena amarah.
Adam terpaksa keluar dari kamar istrinya. Haura sendiri masih mengatasi keterkejutannya dan juga amarahnya.
"Ra, Mas mau minta maaf." Adam melongokkan kepala di pintu kamar Haura.
"Kyaaa ... pergi Mas!" Haura kembali histeris dan melemparkan bantal guling ke arah Adam.
"Ok, ok ... Mas pergi." Adam menutup pintu kamar Haura dan menghela nafas panjang. Ia terlalu terkejut dengan sikap istrinya di saat nyawanya belum terkumpul tadi. Namun, Adam menyadari jika ia pantas untuk mendapatkan semua ini. Ia tahu, dirinya terlalu brengs*k.
Haura menyangkal kewajibannya, ia tak mau disentuh oleh suaminya karena ia tak sedikit pun bernaung di hati Adam. Mungkin ia terlalu kecewa, karena Isabella adalah pemilik hati Adam. Dan jika Adam sampai bercinta dengannya, itu bukan cinta. Hanya sebagai pelampiasan nafsu belaka. Begitulah isi pikiran Haura saat ini.
***
Semenjak kejadian di pagi hari itu, Haura semakin menghindar. Tak pernah lagi wanita itu berbicara dengan suaminya. Ia akan bangun pagi-pagi menyiapkan kebutuhan Adam dan langsung masuk kamar lagi menunggu Adam pergi kerja. Ia benar-benar tak ingin melihat wajah Adam.
Begitu juga dengan sore hari. Selesai memasak dan berkemas, wanita itu memilih masuk ke kamar dan mengunci diri. Takut hal yang sama akan terulang lagi. Takut Adam akan masuk ke kamar dan menerkamnya. Pikiran wanita itu kini dipenuhi dengan hal-hal yang buruk tentang suaminya.
Adam yang melihat perubahan drastis Haura menjadi sedih. Ia merasa sangat kesepian. Rasa kehilangannya semakin besar. Tak ada lagi senyum indah di wajah bidadarinya. Bahkan, kini seminggu sekali bertatap muka pun jarang.
Adam tahu, Haura sengaja menghindarinya. Mungkin Haura takut terhadap monster seperti dirinya. Perbuatannya yang memaksa Haura pada malam itu pasti membuat wanita itu ketakutan. Pasti semua luka dan ketakutan membekas erat di hatinya.
Adam lemas mengingat ketidak mungkinan kelangsungan hubungan suami istri mereka. Adam tahu, semua perbuatannya tak termaafkan. Dan mungkin rumah tangga mereka akan segera hancur.
Adam menyesali segalanya, terlambat sudah untuknya. Tak akan bisa mendapatkan hati Haura lagi.
__ADS_1
Lama-kelamaan Adam menjadi malas pulang. Tak jarang ia tidur di kantor. Ia tak ingin Haura semakin membencinya.
Ardi yang mengetahui kegalauan sahabatnya hanya bisa mengelus dadanya. Tapi lelaki itu salah sangka. Ia mengira sahabatnya begitu karena patah hati ditinggalkan Isabella. Nyatanya, ia sendiri yang sudah meninggalkan wanita itu karena pengkhianatannya.
"Bro, kamu jangan begini terus dong. Kamu nggak kasihan sama istrimu yang manis itu?" ucap Ardi di suatu waktu. Saat itu Adam terlihat murung dan sedih.
"Ya, karena aku kasihan sama dia. Makanya aku tidur di kantor."
"Maksudmu? Kamu mau terang-terangan berhubungan dengan Isabella dan akan mencampakkan gadis kampung itu?"
"Dasar bodoh!" Adam memukul kepala Ardi dengan proposal yang ada di hadapannya dengan geram.
"Aduh." Ardi memukul keningnya yang sedikit memerah. Untung saja Adam bosnya, kalau bukan ia sudah akan memukul balik pria itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf beribu maaf belum bisa up rutin setiap hari lagi readers. Semoga pekerjaanku cepat selesai dan aku bisa up rutin seperti biasanya.
Love you all yang selalu mendukung dan menantikanku 😘😘😘
__ADS_1