Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Mikha Membuka Hati


__ADS_3

"Di, bagaimana dengan perekrutan karyawan baru kemarin? Semua berjalan lancarkah?" tanya Adam kepada Ardi, asisten pribadinya.


"Iya Dam, semua lancar dan aku sudah menunjuk tiga orang pelamar yang aku rasa cocok untuk mengisi posisi itu. Posisi manajer keuangan aku berikan kepada seorang pemuda lulusan fakultas ekonomi terbaik tahun ini. Dan yang lainnya ada di file ini. Kamu bisa membacanya sendiri." Ardi berbicara dengan Adam seperti bukan dengan bosnya, karena Ardi adalah sahabat Adam.


"Lalu, untuk apa kamu repot-repot menceritakan lelaki yang menduduki posisi manajer keuangan itu."


"He he he, aku kagum terhadap pemuda itu. Dia sangat kompeten. Banyak prestasi yang diraihnya. Walau belum berpengalaman, tapi dia sudah diincar banyak perusahaan pesaing karena kecerdasannya. Beruntung, kita mendapatkan dia."


"Ow." Adam ber-oh ria sembari membuka file data pegawai baru.


"Menarik," ucap Adam mangut-mangut membaca data karyawan baru.


"Oh ya, pesta perayaan hari ulang tahun perusahaan bagaimana?" tanya Adam lagi.


"Ehm, sudah siap delapan puluh persen Dam. Untuk acara inti yang dihadiri petinggi dan rekan bisnis sudah siap. Undangan juga sudah dibagikan."


"Undang juga pegawai baru ya, aku ingin mengenal mereka. "


"Siap bos."


"Kerja kamu bagus Di, kamu memang paling bisa diandalkan. Akan kuberikan bonus bulan ini, kalau semua berjalan lancar."


"Wait, ada yang berbeda dengan sosok Adam yang biasanya nih."


"Apaan sih," elak Adam.


"Kamu nggak salah makan kan?" gurau Ardi.


"Sialan, kamu berani memperolok bosmu?"


"Bukan begitu, mood kamu kelihatan bagus hari ini. Adakah hal spesial? Mungkin semalam adalah malam indah ya? Sampai sampai kamu mau memberikan bonus kepadaku. Ini bukan akhir tahun, lebaran juga masih lama," goda Ardi.


"Ngaco. Sana kerja atau aku batalkan bonus kamu."


"Mulai...nyebelinn," umpat Ardi meninggalkan ruangan Adam.


"Apaan sih Ardi. Ngaco, masak gara-gara semalam," Adam mengingat pelukan Haura semalam.


"Ishhh.. Apa sih yang tadi aku pikirkan? Aku dan wanita kampung itu? Oh No. Daripada aku mikir hal yang nggak jelas gini, mendingan aku berkeliling." Adam bangkit dan meninggalkan ruangannya.


Sementara itu di sekolah Mikha.


"Jadi kalian tadi malam membuli kakak iparku?" tanya gadis itu penuh amarah. Baru saja ia diam-diam mendengar pembicaraan kedua sahabatnya di belakangnya.


"I-iya Mik. Maaf," ucap Kanaya ketakutan.


"Kalian keterlaluan, untung kakak nggak papa," ucap Mikha masih dilanda emosi.


"Mau kamu apa sih Mik? Kita kan cuma bantu kamu untuk balas dendam. Nggak usah nyolot gitu dong," jawab Vallerie tak terima.


"Apa aku meminta kalian melakukan itu?" tanya Mikha masih dengan nada yang meninggi.


"Sudahlah, capek bicara sama kamu. Egois, pemarah, maunya menang sendiri." Vallerie ingin pergi dari tempat itu namun Mikha mencekal lengan Vallerie.

__ADS_1


"Minta maaf sama kakakku," perintah Mikha dingin.


"Ogah, kejadian sudah tadi malam. Dan kakakmu kan juga nggak kenapa-kenapa. Apa lagi sih mau kamu?"


"Minta maaf aku bilang." Mikha mempererat tangannya di lengan Vallerie.


"Aduh, sakit. Mikha lepasin, sakit."


"Aku akan lepasin, tapi nanti sepulang sekolah. Kamu harus ikut ke rumah kakakku dan minta maaf," desak Mikha.


"Enggak," tolak Vallerie gigih.


" Mi-Mikha sudah dong," ucap Kanaya ingin menengahi.


"Apa-apaan ini! Suara kalian terdengar sampai kantor." Seorang guru BP datang menegur mereka bertiga.


"Kalian bertiga ke ruangan saya. Jelaskan apa yang terjadi."


Dengan langkah lemas, ketiganya menuju ruangan konseling.


"Katakan apa masalah kalian." Ketiganya membisu, enggan memberikan jawaban.


"Jawab!" Bentakan Bu Ita tak manjur. Ketiganya tak ada yang mau buka mulut.


"Kalian tunggu di sini!"


Guru BP meninggalkan mereka dan pergi entah kemana. Ketiganya masih diam membisu. Sepuluh menit kemudian, baru Bu Ita kembali.


"Saya sudah memanggil orang tua kalian, karena kalian tak mau menjawab." Ketiganya semakin gugup, masalah bertambah rumit.


Akhirnya Kanaya terpaksa jujur dan mengatakan semuanya. Mikha sangat kesal, namun Haura malah tersenyum. Menurutnya itu hal yang biasa ketika masa muda. Mereka masih labil.


"Mikha sayang. Kakak nggak papa kok. Dan mungkin apa yang mereka lakukan, karena mereka sayang sama kamu. Hanya saja caranya yang salah. Kamu minta maaf ya dek."


"Nggak mau, mereka kan yang salah."


"Orang yang mau meminta maaf adalah orang yang mulia. Dan ingat kebaikan mereka yang lebih banyak jumlahnya dari kesalahan yang mereka lakukan." Mikha menghela nafas dan membenarkan ucapan Haura.


"Val, Nai. Aku minta maaf." Mikha mengulurkan tangan kepada kedua sahabatnya.


"Kami juga minta maaf ya Mik." Kanaya menerima tangan Mikha.


"Ak-aku juga minta maaf," ucap Vallerie kemudian.


"Begitu dong. Ya sudah baikan sana." Ketiganya berpelukan erat. Bu Ita hanya mengelus dadanya menghadapi anak-anak yang sedang dalam masa pubertas itu.


"Kak, kami minta maaf ya," ucap Vallerie dan Kanaya setelah keluar dari ruang konseling.


"Sudahlah, Kakak sudah maafin kalian kok. Asal jangan diulangi lagi. Jadilah anak yang baik."


"Iya kak." keduanya memeluk Haura merasa bersalah.


"Ya sudah sana kembali ke kelas dan belajar yang benar. Jangan bertengkar lagi ya? Kakak titip Mikha. Kalian kan sahabat baiknya." Vallerie dan Kanaya meninggalkan Haura dan Mikha berdua setelah mengiyakan perkataan Haura.

__ADS_1


"Sayang, kamu nggak papa kan?" ucap Haura setelah kedua orang itu pergi. Perkataan Haura begitu lembut. Ia mengelus puncak kepala adik iparnya dengan penuh kasih sayang.


"I-iya kak. Mikha nggak papa. Kenapa Kakak yang datang bukan mama? "


"Kebetulan Kakak tadi ke rumah, dan mama sedang ada urusan jadi tak bisa datang." Mikha mengangguk mengerti.


"Sayang, maafkan kakak. Jika kakak tidak sesempurna itu untuk menjadi kakak ipar Mikha. Menjadi pendamping hidup kak Adam."


"Mikha yang minta maaf Kak. Selama ini sikap Mikha kekanakan."


"Sudah, jangan sedih ya. Kakak bahagia memiliki adik seperti Mikha. Kasih sayang Kakak ke Mikha sama besarnya seperti Kakak menyayangi Hana dan Uzan. Ya sudah karena masalah sudah selesai. Kakak pulang ya sayang," pamit Haura.


"Iya kak. Terima kasih."


"Nggak usah berterima kasih sayang. Kita kan keluarga."


"Terima kasih Kak. Kalau bukan karena kakak, mungkin Mikha sudah kehilangan sahabat Mikha. Mikha sekarang tahu mengapa mama dan papa memilih Kakak sebagai istri kak Adam. Maafkan segala kesalahan Mikha selama ini ya Kak Rara."


"Ya sayang. Sudah, sana kembali ke kelas dan belajar."


Mikha menurut, dan kembali ke kelasnya.


"Alhamdulillah, akhirnya Mikha menerima aku sebagai kakak iparnya."


.


.


.


.


.


.


.


.


Readers sembari menunggu episode selanjutnya, kalian bisa baca karyaku yang lain ya..


aku punya teman penulis, karyanya bagus. tulisan dia rapi..bantu ramaikan dong. mampir dan kasih like komentar. nama penanya Mayn urr izqi karyanya 'Bride'


terimakasihhh..


😘😘😘


.


.


.

__ADS_1


#writtersupport


__ADS_2