Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Pernah Keguguran?


__ADS_3

"Permisi Nona." Seorang wanita paruh baya dengan menenteng tas bermerek masuk ke dalam butik. Nampak kesan mewah dan berkelas jika dilihat dari pakaian, tas dan gaya rambut wanita itu.Wanita yang walau terlihat tidak muda itu, tetap cantik dan anggun.


Keadaan butik sedikit lengang, hanya ada beberapa pengunjung yang sedang sibuk melihat-lihat koleksi gaun dan baju-baju lain koleksi butik tersebut.


"Ah iya Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Medina.


"Eh, anda pekerja baru ya, Nona?" tanya wanita kaya itu.


"Iya Nyonya. Apa ada yang anda butuhkan Nyonya?" tanya Medina sopan.


"Ah, pantas saja saya belum pernah melihat anda sebelumnya. Saya mau mencari baju untuk pertunangan anak saya. Boleh Nona tolong pilihkan?" kata wanita itu.


"Tentu Nyonya, mari kita ke sebelah sana," ajak Medina.


Namun belum lama mereka melangkahkan kaki, Medina kembali buka suara.


"Nyonya, maaf ... saya ke belakang sebentar ya?" izin Medina dengan wajah yang memerah dan sedikit pucat.


"Ah iya, silakan." Wanita itu menatap punggung Medina yang masuk ke dalam toilet dengan pandangan aneh.


"Hoekk ... hoekkk ...." Medina mengeluarkan semua isi perutnya yang terasa sangat tidak nyaman. Setelah ia sudah memuntahkan isi perutnya, ia segera keluar dari toilet. Ingin kembali melayani pelanggan yang datang tadi.


Jedugg


Medina menabrak pengunjung wanita yang tadi, setelah membuka pintu toilet.


"Maaf Nyonya, anda mau ke toilet juga?" tanya Medina keheranan. Karena entah mengapa, ia berfikir wanita itu mengikutinya.


"Ah tidak. Apa anda sakit? Saya hanya cemas melihat wajah anda pucat pasi. Maaf Nona, saya tidak sengaja mendengar anda muntah-muntah. Apakah anda sedang hamil nona?" tanya wanita itu lagi penuh selidik.


"Iya Nyonya, benar."


"Oh, pantaslah. Kelihatannya anda belum terbiasa dan kurang nyaman ya? Anak pertama ya?" tanya wanita itu lagi. Medina hanya mengangguk sebenarnya tak suka dengan pertanyaan pribadi yang di ajukan wanita itu padanya.


"Pernah keguguran?" tanya wanita itu lagi. Medina semakin merasa pertanyaan wanita itu aneh. Medina hanya menggeleng dan tersenyum.


"Oh iya, kenalkan saya Rika. Saya pelanggan tetap butik ini." Wanita itu mengulurkan tangan.


"Medina." Medina menyambut tangan wanita itu dengan sedikit enggan. Entahlah dia merasa sangat tidak nyaman.


"Maaf Nyonya, saya pinjam teman saya ini sebentar ya?" ucap Zaskia yang tiba-tiba dengan tergesa menarik tangan Medina menjauh dari pelanggan.


"Ah iya silakan."


"Me, Kenapa belum bersiap? Ambil tas sana gih!" perintah Zaskia.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Medina bingung.


"Kemarin kamu bilang mau cek kandungan ke dokter? Kamu lupa? Kamu ini bagaimana sih Me?" tanya Zaskia.


"Jadwal periksa besok lah Ki. Bukan hari ini. Aku sudah membuat janji dengan dokter kok," kata Medina.


"Alah ... besok aku ada meeting dengan klien penting, nggak bisa menemani kamu kalau besok. Periksa sekarang saja yuk, Me," tawar Zaskia.


"Mana bisa aku seenaknya mengubah jadwal Ki? Nggak papa Ki, aku akan pergi sendiri. Kamu jangan risau." Medina mencoba menenangkan sahabatnya.


"Beneran nggak papa?"


"Iya, jangan risau sayang!" Medina tersenyum melihat kepanikan di wajah Zaskia.


Flashback on


"Sayang, minum susunya ya?" Rika terlihat sangat khawatir putranya tak mau makan apa pun sedari pagi.


"Nggak Ma," tolak Gibran menepis gelas berisi susu yang disodorkan mamanya.


"Jangan begini nak!"


"Bagaimana kamu pulih jika kamu terus begini?" tanya Rika dengan risau.


"Ma, Gibran boleh minta sesuatu?" tanya Gibran sendu.


"Ma, tolong Mama cari Medina ya? Cari tahu juga tentang anak yang dikandungnya," pinta Gibran.


"Iya sayang, Mama akan cari wanita itu, tapi kamu harus makan ya? Bagaimana kamu akan menemui dia nanti kalau kondisi kamu seperti ini sayang?" kata Rika lembut.


"Ya Ma. Gibran mau makan, tapi Mama jangan bilang sama Papa kalau Gibran menyuruh Mama mencari Medina, ya Ma?" Gibran berkata dengan penuh permohonan.


"Iya sayang. Tapi kamu harus makan.nSedikit pun tak apa ya, Nak?" Rika kembali menyuapi anaknya yang kini tak menolak lagi.


"Tapi sayang, bagaimana Mama bisa mengenalinya? Mama belum pernah sekali pun berjumpa dengannya, Nak," tanya Rika.


"Ini Ma. Foto Medina," Gibran menyerahkan ponselnya kepada mamanya.


"Pantas saja kamu sangat menyukainya, Nak," kata Rika tersenyum melihat wajah ayu di ponsel Gibran.


"Suka juga sudah tak beguna lagi Ma. Medina sekarang membenci Gibran," kata Gibran sedikit emosi.


"Mama nggak percaya kalau dia membencimu, Nak. Kalau benar dia membencimu kenapa wanita itu mempertahankan anak yang ia kandung?" ucap Rika dengan lembut.


"Kan Medina sudah bilang kalau itu bukan anak Gibran, Ma?" kata Gibran dengan ketus.

__ADS_1


"Mama sangat yakin kalau yang dikandung Medina adalah cucu mama. Tidak mungkin dalam waktu dekat ia keguguran dan sudah hamil kembali. Mama akan buktikan sayang." Rika mencoba meyakinkan putranya agar memiliki harapan dan semangat.


Dalam hati sebenarnya Gibran mempunyai firasat yang sama dengan mamanya. Ia ingin anak yang dikandung Medina adalah anaknya. Agar ia bisa kembali pada kekasihnya itu. Dan ia berharap hubungan Medina dengan Ray yang pernah ia dengar adalah kebohongan belaka.


Flashback off


"Kamu yakin mau pergi sendiri?" tanya Zaskia.


"Of course, Iam sure," jawab Medina memasukkan dompet dan ponsel ke dalam sling bag miliknya.


Zaskia masih menatap Medina dengan penuh rasa bersalah, karena tak dapat mengantar Medina ke rumah sakit.


"Kenapa menatapku begitu, awas jatuh cinta lho!" gurau Medina.


"Aku merasa bersalah padamu Me, kemarin lusa aku sudah berjanji untuk mengantarkanmu ke dokter dan sekarang aku yang mengingkarinya," kata Zaskia sedih.


"Uluh ... uluhh ... nggak papa Ki.. Kamu kan harus profesional. Aku bisa naik taksi Ki. Janji deh, aku akan mengabarimu setelah sampai dirumah sakit," kata Medina menenangkan sahabatnya.


"Ya sudah janji ya? Maaf ya Me, waktunya benar-benar mepet dan arah tujuan berlawanan jadi aku benar-benar tidak bisa sekadar mengantarmu," ucap Zaskia.


"Iya Zaski, jangan sedih dan jangan khawatirkan aku, Okay? Harus fokus dengan meeting nanti. Kamu harus yakinkan klien biar aku semakin bangga padamu." Medina kini memeluk sahabatnya yang sudah banyak berjasa untuknya.


"Makasih ya Me."


"Aku yang makasih karena punya sahabat sebaik kamu Kia."


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih ya sudah setia membaca sampai episode ini. Semoga ceritanya tidak membosankan. Aku akan usahakan besok update satu episode. Tapi belum bisa janji,


InsyaAllah. Jadi tunggu aku ya.

__ADS_1


Tak bosan juga aku ingatkan kalian agar kasih like komen dan vote. Yang punya poin banyak, vote banyak-banyak ya.. 😂😂😂


Salam sayangku selalu. Selamat bermalam minggu. 😍😍


__ADS_2