Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Pertemuan yang Tak Disangka


__ADS_3

"Iya Mas, maaf." Haura melingkarkan tangan kanannya ke lengan kiri Adam yang besar dan berotot. Rasanya sungguh menyesakkan, harus berpura-pura semua baik-baik saja. Harus berpura-pura menjadi istri yang bahagia.


"Jangan lupa senyum," bisik Adam ketika mereka memasuki aula pesta. Haura mencoba menarik bibirnya, menahan tangis.


Berbagai kalangan orang kaya, rekan bisnis Ray dan Adam sudah berada di tempat itu. Ada yang tengah menikmati makanan, ada juga yang berbincang dengan para klien penting.


"Eh, sayang.. Sini duduk sama Mama," ajak Medina langsung membawa Haura ke meja makan mereka sekeluarga.


"Sayang, Mas mau menyapa klien. Kamu nggak papa kan di sini dulu sama Mama? "pamit Adam pura-pura peduli. Begitu hebat akting Adam. Bak seorang aktor profesional yang terbiasa memainkan lakonannya. Sempurna tanpa cela, membuat mamanya dengan mudah terkecoh dengan skenarionya.


"I-iya Mas," jawab Haura memaksakan senyumnya. Ia begitu tak nyaman berada di tempat yang ramai itu. Apalagi, hanya suami dan mertuanya yang ia kenali.


Terlihat Medina sedang asyik berbicara dengan istri rekan kerja Ray. Haura menjadi sedikit bosan, tak ada orang lain yang dikenalnya. Ia mengedarkan pandang, menatap tamu undangan yang kelihatannya sebagian besar berasal dari kalangan borjuis. Tentu saja semua tamu VVIP yang tak seorang pun Haura kenal.


"Ma, titip tas Rara ya? Rara mau ambil minum sebentar," pamit Haura karena kini ia merasa haus.


"Perlu mama temani sayang?" tanya Medina dengan lembut. Ia tahu, menantunya belum pernah menghadiri pesta seperti itu. Ia hanya sedikit mengkhawatirkan menantunya.


"Tidak usah Ma. Biar Rara pergi sendiri saja." Haura mengulas senyuman untuk mertuanya.


"Ya sudah. Di sana ya sayang. Cepat kembali." Haura mengangguk mengerti.


Ia berdiri dan berniat mengambil minuman. Ia berjalan kesana kemari mencari tempat mengambil makanan dan minuman. Akhirnya setelah beberapa menit berjalan, Haura menemukan tempat itu.


Ia segera mengambil gelas dan mengisinya dengan minuman. Tak lupa ia mengisi piringnya dengan sedikit makanan.


Di dekat Haura berdiri, terdapat beberapa orang lelaki yang berbincang dengan gelak tawa. Salah satunya lumayan tampan, dengan kemejanya berwarna biru muda. Lelaki itu karyawan baru, namun ia mudah bergaul. Walau baru beberapa hari bekerja di perusahaan itu. Ia sudah memiliki banyak teman akrab.


Tak sengaja, lelaki itu menoleh ke arah tempat Haura berdiri. Lelaki itu menajamkan penglihatannya, takut ia salah lihat. Namun, setelah ia memperhatikan betul-betul. Ia yakin tak salah orang, wanita yang berdiri beberapa meter di depannya adalah orang yang selama setengah tahun ini ia coba lupakan. Wanita yang sempat mengisi hari-harinya dengan kenangan indah penuh makna.


"Rara ...." Orang yang dipanggil menoleh.


"Eh, Vian ...." Wajah Haura yang semula datar berubah semringah.


Alvian berdiri dari tempat duduknya dan dengan cepat menghampiri mantan kekasihnya.

__ADS_1


"Ya Allah, ternyata benar. Ini kamu Ra, aku kira salah orang. Aku tak menyangka kita dapat bertemu kembali di tempat ini," ucap Alvian dengan bahagia.


"Vian, apa kabar?" Raut wajah Haura yang semula masam kini tersenyum lebar.


"Baik Ra. Kamu sendiri? Ah, pasti kamu lebih dari baik-baik saja. Bagaimana kamu bisa hadir di pesta ini?" tanya Alvian penasaran.


"Em.. Itu, aku ke sini bersama suamiku, Mas Adam."


"Apa? Jadi Tuan Adam suami kamu? Dunia begitu sempit ternyata. Beruntung kamu ya Ra? Tuan Adam adalah bos yang baik. Pasti dia juga jadi suami yang baik dan sempurna untukmu juga," kata Alvian tertawa hambar. Ada sedikit rasa sakit karena mengetahui suami Haura lebih unggul darinya dalam segala hal. Pantas Haura memilih Adam yang lebih mapan dibandingkan dengan dirinya. Haura terdiam sebentar tak lantas menjawab perkataan Alvian.


"Benarkan Ra? Kamu pasti hidup berbahagia sekarang. "


"Iya Vian. Kamu sendiri kenapa bisa menghadiri acara ini?" tanya Haura mengalihkan pembicaraan, menutupi kenyataan yang sebenarnya.


"Iya Ra. Sekarang aku bekerja di perusahaan Tuan Ray. Aku bawahan suami kamu Ra." kata Alvian dengan rasa yang penuh menyesakkan.


"Dunia benar-benar sempit ya Ra? Wanita yang ingin aku lupakan enam bulan terakhir ini, kini berdiri di hadapanku. Dengan keadaan, aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mendapatkannya. Wanita itu kini sudah menjadi milik orang lain."


"Apa sih Vian. Kita lupakan saja semuanya. Kita tetap sahabat. Seperti dulu. Dan akan ada wanita lain yang lebih pantas bersanding denganmu suatu hari nanti."


Mereka berdua bergurau dan mengobrol. Saling membagi cerita setelah selama enam bulan tak berjumpa. Keduanya tertawa lepas tak memperhatikan keadaan sekitar lagi. Haura juga melupakan keinginannya untuk minum.


Adam yang sudah selesai berbincang dengan kliennya kini tengah mencari keberadaan istrinya. Ketika melihat Haura terlihat bahagia dan bisa tertawa lepas, hati Adam tercubit. Entah cemburu atau bagaimana, karena nyatanya ia belum merasakan getaran cinta. Entahlah, ataukah hati Adam yang mengingkari rasa cinta itu.


"Dasar wanita kampung! Baru ditinggal sebentar saja sudah berani menggoda laki-laki asing."


"Rara! Ngapain kamu di sini?" tanya Adam dengan nada suara yang dingin. Tak tahan melihat tawa mereka, ia langsung menghampiri istrinya yang tengah asyik berbincang dengan Alvian.


"Ini Mas, Rara tadi cari minum. Tak sengaja berjumpa dengan Vian," jawab Haura tersenyum bahagia.


"Jadi kalian saling kenal?" tanya Adam curiga.


"Iya Tuan. Saya dan Rara dulu satu kampung. Saya sangat bahagia bertemu dengannya, karena sudah lama tak berjumpa." Mendengar Alvian memanggil istrinya 'Rara' membuat Adam memanas. Itu berarti laki-laki muda dan tampan yang berdiri di hadapannya itu cukup dekat dengan istrinya.


"Mas, Alvian adalah sahabat Rara sedari kecil. Kami tumbuh bersama sebagai teman dekat. Iya kan Vian?" Haura tertawa mengingat kebersamaan mereka yang indah. Membuat Adam semakin cemburu.

__ADS_1


"Tadi saja masam, sekarang tertawa-tertawa bersama lelaki lain." Batin Adam semakin kesal.


"Ya sudah kita kembali ke meja kita yuk sayang." Adam merangkul bahu Haura. Seakan menyatakan bahwa Haura adalah miliknya. Dan memperingatkan Alvian untuk menjauh.


"I-iya Mas." Haura terbata-bata. Melihat ekspresi tak suka Adam, ia yakin mood suaminya sedang tak baik.


" Vian, aku harus pergi, maafkan kami. Kami harus kembali ke meja kami di sana. Lain kali kita sambung lagi ya Vian," ucap Haura seakan tak rela mengakhiri pembicaraannya dengan Alvian.


"Iya, nggak papa Ra. "


"Kami pergi dulu ya. "


"Ah, iya Tuan. Silakan," ucap Alvian sedikit kecewa, ia harus berpisah lagi dengan Haura.


"Ra.. Betapa beruntungnya kamu. Lain halnya denganku yang sampai saat ini belum juga bisa melupakanmu." Lelaki tampan itu memandang punggung Haura yang menjauh dengan terluka.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sebenarnya mau libur up. Author kurang sehat. Tapi aku takut readers kecewa, jadi aku berusaha untuk tetap up.


Happy reading 😘😘

__ADS_1


__ADS_2