
Keduanya begitu bahagia. Setelah melalui berbagai ujian, akhirnya mereka bisa bersama. Saling jatuh cinta dan saling memaafkan.
Hari itu hari minggu. Pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap untuk pergi ke daerah P mengunjungi ayah mereka. Sesuai janjinya, ia akan mengantar Haura menjenguk ayahnya. Setelah mengecek keperluan dan kendaraan baik-baik saja, mereka melaju ke daerah P.
Rasa haru dan bahagia menyelimuti hati Haura. Ini pertama kalinya mereka mengunjungi kampung halaman Haura setelah pernikahannya. Rasa rindu yang sudah bertumpuk akan terobati hari itu juga. Karena selama ini Adam selalu menolak untuk mengantarnya pulang. jadi, Haura hanya bisa menahan keinginannya untuk bertemu dengan keluarga yang sangat dicintainya. Kini semua telah berubah, hati pria itu sudah terbuka, dan pria itu mungkin akan menuruti semua permintaannya. Sungguh semua seperti mimpi, jika mengingat sikap Adam dahulu.
Semua tak luput dari kehendak Allah, doa-doa yang dilantunkan Haura setiap sujudnya. Curahan hatinya di setiap sujud sepertiga malam, kini telah dikabulkan. Haura sangat bersyukur kepada Allah atas nikmat karunia yang ia terima. Memiliki mertua yang sangat baik dan kini suaminya telah ikhlas ridho menerimanya.
Tiga jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di kampung halaman Haura. Suasana kampung tempat ia tinggal dulu masih sama. Tenang dan nyaman. Udara yang bersih pemandangan laut yang terhampar luas dan suasana yang tenang, jauh dari kebisingan kendaraan bermotor. Yang ada hanya suara deburan ombak dan gemerisik daun kelapa yang tertiup angin.
Mereka keluar dari mobil dengan bahagia. Senyum manis tersungging di bibir keduanya.
"Ye ... Kakak dan kakak ipar datang," ucap Hana dan Fauzan bersamaan.
"Mana?" tanya Ibrahim bahagia. Ibrahim Segera keluar dari rumah menyambut putri dan menantu yang sangat ia rindukan.
"Assalamualaikum Yah? Ayah sehat?" tanya Haura. Ia mencium tangan ayahnya dan Ibrahim memeluk Haura erat-erat. Ibrahim begitu merindukan putri kesayangannya, yang paling berbakti.
"Waalaikumsalam ... Alhamdulillah sehat Nak, kalian apa kabar?" tanya Ibrahim yang kini memeluk menantunya.
"Alhamdulillah sehat Yah."
Hana dan Fauzan ikut menyambut mereka. Keduanya menghambur memeluk Haura, kakak yang mereka berdua rindukan. Tak lupa keduanya juga memberikan salam pada kakak iparnya.
"Apa yang kakak ipar bawa?" tanya Fauzan dengan mata berbinar.
"Oleh-oleh untuk kalian dan ayah. Nah, kalian bawa masuk ya?" Adam menyerahkan semua paper bag kepada Hana dan Fauzan. Keduanya menerimanya dengan bahagia.
"Kak Adam belikan sama. Jadi jangan berebut! Okay?"
"Baik Kak. Terima kasih ya kak," ucap Hana dan Fauzan.
"Iya, sana bawa masuk cepat!" Kedua adik Haura membawa barang-barang itu masuk ke rumah dengan bahagia.
"Mari-mari kita masuk. Kalian pasti lelah kan? Kita istirahat di gubuk ayah."
Haura dan Adam mengikut langkah Ibrahim dan masuk ke rumah Haura.
__ADS_1
Mereka akhirnya memilih beristirahat di beranda, menikmati semilir angin yang berhembus.
"Tumben, kalian kemari?" tanya Ibrahim.
"Iya Yah. Maaf ya Yah, Adam sibuk sekali. Jadi baru sempat datang kemari menengok ayah sekeluarga."
"Iya tidak apa-apa Nak. Ayah paham. Yang terpenting kalian sehat dan baik-baik saja," ucap Ibrahim tersenyum.
"Ayah, Adam belikan beberapa pakaian dan sarung seadanya. Ayah pakai ya," ucap Adam.
"Iya Nak. Terima kasih, kalau ingin datang, datang saja. Tak perlu repot-repot membawa berbagai macam oleh-oleh," ucap Ibrahim dengan mata yang berkaca-kaca. Rasanya ia tak salah memilih pasangan untuk putrinya.
"Hanya sedikit saja Yah. Tak seberapa," ucap Adam tulus.
"Hana, mana minuman untuk kakak ipar?" teriak Ibrahim.
"Sebentar ayah," jawab Hana dari arah dapur.
Tak lama Hana membawa nampan berisi tiga gelas teh dan singkong rebus.
"Maaf ya Kak Adam, hanya ini yang kami punya," ucap Hana ketika menghidangkan air minum.
Hati Haura menghangat melihat kelembutan sikap Adam terhadap keluarganya. Haura berharap ini bukan hanya sementara saja. Dalam hati kecil Haura takut jika sampai Adam kembali pada Isabella dan berubah sikap kembali. Namun, buru-buru ia menepis pikiran buruk itu. Berdosa baginya, berprasangka buruk pada suaminya.
Akhirnya siang itu mereka menghabiskan waktu dengan bercengkerama bersama. Terdengar begitu hangat dan menyenangkan. Haura sungguh bahagia dengan kehidupannya saat ini.
***
"Ra, kita berjalan-jalan di tepi pantai yuk!" ajak Adam.
"Tapi ini sudah malam Mas," jawab Haura. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Adam malah mengajaknya berjalan-jalan.
"Mas, ingin menikmati angin laut. Jarang-jarang Mas bisa merilekskan otak."
"Ya sudah ayo!" jawab Haura tersenyum.
"Ya sudah, ambil jaket atau apa sana!" perintah Adam.
__ADS_1
Keduanya bersiap dan berpamitan pada Ibrahim. Setelahnya mereka berjalan menuju pantai. Sepanjang pantai terlihat sepi, tak ada satu orang pun yang nampak. Hanya terdengar suara ombak yang sesekali memecah karang.
"Sepi ya Ra, di sini?" tanya Adam setelah beberapa meter mereka menyusuri bibir pantai. Adam meletakkan kedua tangannya di saku celananya.
"Iya Mas. Itulah sebabnya Haura berkata bahwa sudah malam."
"Nggak papa, malah tenang. Nggak berisik," ucap Adam seraya tersenyum kecil.
"Ra, kita duduk di situ saja yuk!" tunjuk Adam pada hamparan pasir putih yang bersih.
"Tapi Mas, nanti celana Mas Adam kotor."
"Sudah, ayo!" Adam menarik tangan Haura dan mengajaknya untuk duduk di pasir.
"Tunggu Mas, jangan duduk dulu!"
Haura tiba-tiba melepaskan cardigannya. " Mau ngapain? Kok dilepas?" tanya Adam keheranan.
Tiba-tiba Haura meletakkannya di pasir. "Nah, sekarang Mas bisa duduk." ucap Haura tersenyum.
Secepat kilat Adam mengambil cardigan Haura dan mengibaskannya. Kemudian ia memakaikannya di bahu Haura.
"Dingin Ra, jangan di lepas!" Ucapan Adam membuat wajah Haura memerah.
"Begini saja. Nggak kotor kok."
Adam mendudukkan diri di pasir dan menarik Haura hingga wanita itu terduduk di depan Adam. Haura sedikit terkejut dengan apa yang Adam lakukan.
"Mas, kalau ada yang lihat bagaimana?" tanya Haura gugup, ia sangat malu dengan posisi mereka saat ini.
"Shhh ... nggak papa kita kan suami istri. Dan di sini juga sepi,"ucap Adam.
Adam melingkarkan tangannya di perut Haura dan menyandarkan dagunya di bahu Haura. Tubuh Haura bergetar hebat karena perlakuan Adam.
"Kenapa? Kok kamu kayak nggak nyaman? Kamu nggak suka Mas peluk begini?" tanya Adam dengan suara yang meninggi. Ia tersinggung, karena sikap Haura yang seakan menolaknya.
"Eng-enggak, Rara suka Mas. Ma-maaf ya Mas. Rara hanya belum terbiasa. I-ini kan pertama kalinya Haura di-dipeluk seperti ini." Haura sangat malu mengucapkan hal itu.
__ADS_1
"Jadi, kamu belum pernah dipeluk seperti ini?" tanya Adam menggoda Haura dengan mengecupi pundak Haura yang berbalut kardigan. Tubuh Haura semakin bergetar, antara geli dan berdebar menjadi satu.
"A-aduh geli Mas," kata Haura dengan pipi yang memanas. Apa yang dilakukan suaminya saat ini membuat wanita itu sangat malu.