
Hari sudah malam ketika Medina mengantarkan Haura pulang. Ia tak sempat mampir ke rumah menantunya, karena hari sudah larut. Takut jika Mikha atau Ray mengkhawatirkannya.
"Mama pulang ya Nak. Lain kali saja mampirnya. Takut papa dan Mikha membutuhkan Mama di rumah."
"Iya Ma. Hati-hati di jalan ya Ma. Salam untuk papa dan Mikha. Dan terima kasih ya Ma untuk hari ini," ucap Haura menundukkan kepala berbicara dengan Medina dari jendela mobil. Haura meraih tangan mertuanya dan mengecupnya. Tak lama Medina pergi dari rumah anak dan menantunya.
Haura masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang bahagia. Bukan karena Medina membelikan ia banyak barang, tapi karena mertuanya begitu menyayanginya. Sehingga ia merasa seperti mempunyai seorang ibu lagi. Haura begitu menikmati sesi jalan-jalan bersama mertuanya.
Waktu sudah pukul delapan malam. Ia dan Medina sampai lupa waktu menikmati surga dunia para wanita yang begitu nyaman. Haura bergegas masuk, takut Adam mengkhawatirkannya.
"Biarlah, sekali-kali menikmati waktu bersama mama," batin Haura bahagia.
Haura langsung masuk ke rumah. Ia membawa kunci cadangan sehingga tak perlu mengetuk pintu. Begitu masuk rumah ia mendapati Adam duduk di sofa ruang tamu dengan wajah yang begitu murka. Haura melangkah dengan takut.
"Assalamualaikum Mas."
"Darimana saja kamu?" tanya Adam dengan nada meninggi.
"Suami pulang kerja, istri tak di rumah. Aku capek-capek kerja untuk siapa? Tapi kamu malah keluyuran. Suami lapar, makanan apapun tak ada. Kamu ini bisanya apa sih? Ha?" Adam terus marah-marah tak memberi kesempatan Haura berbicara.
"Kemana saja kamu?" Pandangan Adam beralih ke paper bag yang dipegang istrinya.
"Oh, jadi kamu bersenang-senang selama suamimu sibuk kerja. Bahkan di hari minggu Mas lembur untuk memenuhi kebutuhan kita. Kamu malah keluyuran ya. Lelaki mana yang membelikan kamu semua ini. Kamu mana ada duit sebanyak itu untuk membeli barang sebanyak ini. Katakan j*l*ng! Kamu menjual diri ya? Kelihatannya saja wanita baik-baik. Polos, nyatanya ...." Adam merebut semua paperbag yang Haura bawa dan berniat membantingnya karena kesal.
"Cukup Mas. Rara pergi dengan mama. Dan semua barang ini mama yang belikan," ucap Haura berkaca-kaca. Tak terima suaminya berbicara begitu kasar. Adam terhenyak, mengurungkan niatnya untuk membuang semua barang belanjaan Haura.
"Rara sudah menelepon Mas puluhan kali. Tapi Mas Adam tak mengangkatnya. Mama juga sudah mengirimkan sebuah pesan singkat. Mas Adam tak membukanya kah? " Haura mencoba menjelaskan walau hatinya terasa sangat sakit.
__ADS_1
"Hahhh ...." Adam mengacak rambutnya.
"Kamu nggak cerita macam-macam kan sama mama?"
"Nggak Mas. Haura tak berbicara apapun."
"Awas saja jika kamu berani menjelek-jelekkan aku di depan mama," ancam Adam. Adam mencampakkan barang-barang Haura ke sofa dan segera meninggalkan Haura dengan perasaan yang masih kesal. Ia penat dan lapar, sehingga ia marah karena istrinya tak memasak apapun.
Adam meraih kunci mobil yang berada di atas meja. Ia ingin pergi dari rumah yang terasa sangat memuakkan baginya.
"Mas, Mas mau kemana?" tanya Haura.
"Bukan urusanmu."
"Oh ya Mas, Haura tadi ada uang sedikit. Haura belikan hadiah ini untuk Mas Adam. Semoga Mas Adam suka." Haura menyerahkan sebuah dasi sederhana yang tak seberapa mahal, dengan senyum yang mengembang. Tanpa kata Adam menepis kotak yang berisi dasi itu hingga terjatuh ke lantai. Tanpa rasa bersalah Adam meninggalkan Haura begitu saja.
Dengan air mata berlinang, Haura mengambil dasi yang tercampak. Ia memeluknya erat-erat, seolah itu adalah barang yang paling berharga dalam hidupnya.
Haura Nadzifa. Hanya sebagai istri di atas kertas. Kedudukannya tak lebih dari seorang penunggu rumah bagi Adam. Adam tak pernah menghargai istrinya. Tak pernah menganggap wanita itu ada. Tak ada sedikit pun cinta dan kasih sayang dari seorang Adam. Bagi Adam, Haura bukanlah hawanya, bukan bagian dari tulang rusuknya.
***
Dengan penuh emosi, Adam memacu mobilnya menuju ke rumah Isabella, kekasih hatinya. Setelah menikah dengan Haura, mereka jarang sekali bertemu. Hanya sesekali saja berjumpa. Semua dilakukan untuk menghindari kecurigaan Ray.
"Kamu masih suka minum? "tanya Adam setelah mereka berjumpa. Kini Adam duduk di sofa ruang tamu Isabella.
Saat ini, gadis itu hanya memakai hotpants dan sebuah kemeja tipis. Kedua kakinya ia letakkan di pangkuan Adam. Ia menggenggam sebuah gelas berisi sampanye.
__ADS_1
"Emm, Seperti yang kamu lihat," jawab Isabella menyesap minumannya kembali.
"Kamu kapan akan masuk islam, Issy?" tanya Adam serius. Isabella tertawa.
"Aku serius Issy. Kapan kamu akan masuk islam?"
"Sayang, bagaimana kalau setelah kita menikah. Kamu tetap dengan agamamu. Dan aku juga tetap dengan agamaku," ucap wanita itu tanpa pikir panjang.
"Jangan bercanda Issy. Ini bukan hal yang main-main. Ini masalah yang serius. Bukankah kita sudah sepakat, jika kamu akan mengikuti agamaku?"
"Mas, aku rindu kamu. Bisakah kita tidak membahas ini dulu. Aku mau bermesraan denganmu malam ini." Isabella ingin mengalihkan pembicaraan. Isabella meraih tengkuk Adam dan berniat memagut bibir kekasihnya. Namun di luar dugaan, Adam memalingkan muka, kecupan Isabella hanya mengenai pipi Adam. Tak seperti biasanya, Adam kali ini tak takhluk dengan pesona seorang Isabella.
"Come on darling. Kita lupakan masalah kita sejenak. Malam ini aku ingin kamu." Isabella menarik tangan Adam hingga mereka berdua berdiri. Isabella berniat mengajak Adam masuk ke kamarnya. Namun, dengan sigap Adam menepis tangan Isabella.
"Kenapa kamu menolakku Mas?" tanya Isabella tak terima.
"Karena semua ini salah. Aku sadar, yang kita lakukan ini salah."
"Lalu menurutmu bagaimana yang benar?" tanya Isabella tersulut emosi.
"Kamu masuk agamaku. Kita menikah siri. Dan aku akan menjadi suamimu seutuhnya."
"Kamu bohong! Kamu bukan milikku sepenuhnya. Ada istri pertamamu. Lalu kamu mau aku jadi yang kedua begitu? Aku tak sudi berbagi kasih sayang dengan wanita lain."
"Kamu tak percaya? Tak ada kasih sayangku untuknya. Bahkan aku tak pernah sekali pun menyentuhnya. I always to be your man. Only your man," kata Adam.
"Tidak. Kamu sudah berubah Mas. Kamu bukan Mas Adam yang dulu. Sikapmu ini ... aku ingin kamu jadi Mas Adam yang dulu. Yang selalu menyayangiku."
__ADS_1
"Sudahlah Issy. Lebih baik aku pergi. Aku tak akan menemuimu sebelum kamu masuk agamaku." Adam meninggalkan rumah Isabella dan mengabaikan teriakan wanita itu yang memanggil namanya berulang kali.