
Hari demi hari berganti, minggu pun berlalu dengan cepat. Keputusasaan memudarkan sebuah harapan. Tak ada senyum dan kebahagiaan di rumah itu. Hanya ada kesunyian dan kesenyapan dalam rumah yang besar layaknya sebuah istana itu. Dingin, sepi dan hampa. Terkesan gelap dan suram.
Kepergian dua orang terkasih membuat mereka terpuruk. Satu pergi untuk kembali ke sisi Tuhan Yang Maha Esa dan satunya lagi pergi entah kemana. Di rumah yang besar itu tinggal dua orang yang hidup dalam keterpurukan, karena kehilangan.
Adam dibawa pergi Ilham entah kemana, membuat Medina merana. Sedangkan Oma Lidya setelah dua minggu di rawat secara intensif di ruang ICU akhirnya meninggalkan mereka semua. Medina dan Ray merasakan berada di titik terendah di dalam hidupnya. Seolah ada awan hitam yang pekat melingkupi hidupnya.
Tak ada lagi tawa, tak ada lagi bahagia. Kebisuan dan kesenyapan mengisi rumah tangga Ray dan Medina. Medina yang masih terpuruk karena kehilangan buah hatinya sampai mengabaikan keberadaan suaminya yang terpukul karena kehilangan oma. Sungguh itu adalah cobaan paling berat dalam hidup mereka.
Bunda Mutia sampai tinggal di rumah mereka sejak oma meninggal dunia. Bunda yang sama terpuruknya sebagai orang yang lebih dewasa harus tetap kuat dan menguatkan kedua anaknya.
Medina bersikap dingin pada Ray. Jika Ray menegur Medina hanya akan menjawab seperlunya saja. Lama kelamaan mereka tak lagi bicara. Tidur pun saling memunggungi. Terlarut dalam kesedihan masing-masing. Bunda yang menyadari kerenggangan hubungan anaknya merasa semua ini salah, harusnya mereka saling menguatkan bukannya semakin memperburuk keadaan.
"Me ... kamu makan dulu ya sayang?" bujuk Bunda Mutia. Medina masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Waktunya ia habiskan hanya untuk meringkuk di kamar memeluk foto Adam sambil menangis. Wanita itu begitu merindukan putranya.
"Nanti saja Bun, Me nggak lapar," tolak Medina acuh tak acuh. Bunda Mutia menghela nafas panjang, merasa harus menyiapkan kesabaran ekstra untuk menghadapi putrinya.
"Me ... Bunda mau bicara sedikit. Bunda tak bermaksud ingin ikut campur dengan rumah tangga kalian. Tapi apa yang kamu lakukan salah, Nak. Kamu masih punya kewajiban pada suamimu," nasehat bunda.
"Bunda tak mengerti bagaimana perasaan Me sekarang ini."
"Bunda tahu, Nak. Kamu bersedih karena kehilangan Adam. Tapi apakah kamu pikir Ray tak sedih. Ray dua kali lipat lebih sedih. Apakah kamu tak menyadari seberapa dekat Ray dengan Adam selama ini? Ketika Ray harus kehilangan omanya dia juga harus kehilangan putranya. Jangan kamu pikir mudah berada di posisi Ray saat ini," kata Bunda. Medina tak dapat berkata-kata lagi. Dalam hati membenarkan perkataan ibunya.
"Harusnya dalam keadaan seperti ini, kalian harus saling menguatkan. Harus saling memberi cinta, bukannya semakin dingin seperti ini. Maaf Me, Bunda bukan mau menakut-nakuti. Ray akan jenuh jika sikap kamu begini terus padanya. Bunda yakin Ray sekarang butuh pelukan hangat dari kamu. Pelukan yang bisa menguatkan hatinya. Jangan sampai kamu menyesal jika Ray mendapatkan sandaran baru dari wanita lain." Ucapan Bunda tepat mengena di hatinya, membuatnya gelisah. Tak dapat ia bayangkan jika suaminya juga meninggalkannya. Ia sudah kehilangan Adam dan Oma, tak ingin lagi kehilangan suaminya.
Medina menangisi semua kesalahannya. Ia terlalu larut dalam kesedihannya sehingga ia bersikap kurang layak. Ia beristigfar berkali-kali karena kesalahan yang sudah ia lakukan. Ia merasa berdosa pada suaminya.
"Lalu Me harus bagaimana, Bun?" tanya Medina menyeka air matanya.
"Kamu boleh bersedih karena kehilangan Adam. Namun, kamu nggak boleh seperti ini terus, Nak. Kamu harus bangkit. Kamu dan Ray harus saling menguatkan. Dan serahkan semua pada Allah," kata bunda.
__ADS_1
"Banyak-banyak berdoa, Nak. Tuan Ilham kan kakek Adam juga. Jadi Bunda yakin cucu bunda baik-baik saja. Dan Bunda yakin Adam akan pulang suatu saat nanti, entah kapan. Yang penting Adam baik-baik saja."
"Kalian dinginkan dulu pikiran dan hati kalian. Setelah jernih, kalian bisa pikirkan cara untuk menemukan Adam. Sekarang kamu makan, mandi dan urus diri kamu, dan pergi ke kantor Ray. Minta maaflah! Sebelum semuanya terlambat," nasehat Bunda seraya mengelus surai hitam anaknya dengan penuh kelembutan.
"Terimakasih Bunda, terimakasih." Medina memeluk erat bundanya.
"Sana mandi! Ih bau ... sudah punya anak kok kayak gitu," gurau Bunda.
Medina menuruti kata-kata bunda. Ia segera mandi dan kemudian mengisi perutnya yang belakangan ini jarang diisi.
Setelah berdandan secukupnya untuk menghilangkan wajah sembabnya, Medina menuju ke kantor suaminya.
Sesampainya di kantor, ia mendapatkan sambutan hangat dari para pegawainya seperti biasa. Mereka sudah mengenal istri bosnya yang sering datang ke kantor.
"Mbak Fina, Bapak ada?" tanya Medina kepada bagian resepsionis.
"Ada Bu, beliau ada di ruangannya. Sedang ada tamu," jawab Fina ragu.
"Maaf Bu, saya kurang tahu. Tamunya seorang wanita yang sudah membuat janji dengan Bapak," kata Fina takut.
"Ah, ya sudah.. Saya tunggu saja di depan ruangan bapak. Takut kalau-kalau itu klien penting," kata Medina.
"Apakah perlu saya memberitahukan kepada Bapak perihal kedatangan anda Bu?" tanya Fina.
"Jangan Fin, tak perlu. Takutnya itu tamu penting. Biar saya menunggu," kata Medina berlalu dan naik ke lantai tiga dengan menggunakan lift.
"Aduuh ... bagaimana ya? Aku beritahu bapak nggak?" kata Fina yang tinggal sendiri menjadi serba salah. Ia gelisah, ia takut jika membuat bosnya marah karena membuat istrinya menunggu.
Medina melangkah keluar dari lift dan menuju ke ruangan suaminya. Pintu masih tertutup, sehingga ia memilih menunggu di sofa yang terletak di depan ruangan kerja suaminya.
__ADS_1
Sembari menunggu Medina membuka foto-foto Adam di ponselnya. Membuatnya ingin menangis lagi, namun ia menahannya. Tak ingin terlihat oleh pegawai kantor.
Setengah jam kemudian, seorang wanita cantik dan seksi keluar dari ruangan Ray.
"Terimakasih ya Di, kamu sudah menyempatkan diri untuk datang," kata Ray menjabat tangan wanita itu. Ray belum menyadari kehadiran Medina karena terlalu sibuk dengan wanita itu.
"Iya Ray. Kayak sama siapa saja. Kapan pun kamu membutuhkanku aku akan datang," kata wanita itu memegang lengan Ray. Melihat keakraban mereka, hati Medina sedikit tercubit.
"Ya sudah Ray. Aku pergi ya? Itu sudah ditunggu sama karyawan kamu." Wanita itu menunjuk ke arah Medina yang duduk menunggu.
Ray menoleh ke arah Medina, ia terkejut dengan kedatangan Medina di kantornya.
"Sayang," panggil Ray gugup. Ray takut Medina akan berpikir macam-macam.
"Kenapa nggak bilang kalau mau datang?" tanya Ray mendekati istrinya.
"Medina ingin mengejutkan Mas." Medina mengambil tangan suaminya dan mengecupnya lembut.
"Eh, Di ... kenalkan, ini istriku. Medina," kata Ray pada wanita itu.
"Diana." Wanita itu mengulurkan tangan pada Medina dan ia menerimanya dengan senyum yang sedikit ia paksakan.
"Medina."
"Maaf, tadi saya mengira kamu karyawan Ray," kata wanita itu ramah.
"Iya nggak papa."
"Ah, maaf saya harus pergi sekarang. Saya masih ada janji yang lain. Lain kali kita minum kopi bersama, ya?" kata wanita itu. Medina hanya mengiyakannya.
__ADS_1
"Ray ... aku pergi dulu ya? Nanti hubungi aku kalau ada waktu luang. Aku traktir minum di kafe," kata wanita itu sebelum berlalu dari tempat itu.