
Kedua keluarga itu kini tengah berkumpul di ruang keluarga Ray. Mereka duduk tertunduk dengan wajah sedih. Tak ada yang mampu sekadar mengangkat kepala memulai kata.
Entah bagaimana pembicaraan akan dimulai. Semuanya serba membingungkan. Semuanya serba menyakitkan. Sang pembawa masalah juga tak hadir. Pemuda itu terlalu pengecut untuk dijadikan bulan-bulanan kedua keluarga itu.
Hanya ada gadis yang berwajah sembab itu yang duduk di tempat itu. Tertunduk pilu menahan tangisnya. Hanya dalam waktu tiga hari rencana pernikahan itu pupus. Hanya tersisa luka yang menganga begitu dalam. Bagaikan diterbangkan ke atas awan, kemudian dihempaskan jatuh ke bumi. Lain halnya jika perjodohan hanya karena kehendak orang tua, maka sakitnya mungkin hanya sebentar saja. Nyatanya hati gadis itu sudah lama terlibat cinta bertepuk sebelah tangan.
Mereka begitu bingung, ingin menyalahkan siapa? Adam? Kesalahan Adam hanya karena ia sempat menyetujui rencana perjodohan, sebab hati seseorang tak dapat dipaksakan. Gadis manis itu pun tak dapat dipersalahkan, karena Keira sendiri juga tak dapat mengatur hatinya untuk tidak jatuh cinta pada lelaki yang dingin itu.
Orang tua mereka mengira dengan menjodohkan mereka berdua akan memberikan kebahagiaan untuk putra putri mereka. Nyatanya salah, semua menjadi sebuah api yang memercik menjadi sebuah bencana.
"Rif, Kia ... aku ... akuu ...." Suara Ray tercekat di kerongkongannya. Tak sanggup untuk mengucap kata maaf, karena terlalu malu dan bersalah.
"Sudahlah Ray, ini semua kesalahan kita yang memiliki pikiran menjodohkan, sebelum kita menyelami perasaan anak-anak kita dulu. "
"Aku minta maaf Rif. Aku juga minta maaf atas nama Adam. Maafkan keluarga kami." Ray masih tertunduk malu. Rasanya kini wajah Ray sudah tercoreng oleh arang.
"Orang yang seharusnya memberikan pernyataan dan permintaan maaf, bahkan kini tak ada di rumah Rif. Aku sungguh malu padamu," kata Ray lagi.
"Tidak apa Ray. Mereka masih sangat muda, terkadang masih labil. Mungkin saat ini Keira memang sangat terluka. Tapi biarlah, mungkin ini proses Keira untuk menjadi wanita yang kuat. Mungkin memang tak ada jodoh di antara mereka berdua," kata Arif mencoba bijak.
Ray bersimpuh di hadapan Keira dan berkata, " Kei sayang, maafkan Papa Ray ya Nak? Tanpa sengaja Papa Ray sudah menyakiti hati kamu."
"Tidak Papa, jangan lakukan ini. Tidak ada seorang ayah yang bersimpuh di hadapan anaknya. Keiralah yang sepatutnya berada di posisi Papa Ray. Nanti ketika Kei sudah menemukan jodoh Kei. Kei akan bersimpuh meminta restu pada Papa," kata gadis itu ikhlas. Ia ikut bersimpuh memeluk Ray, seperti ayahnya sendiri.
"Papa, bolehkah Kei tetap menganggap Papa Ray sebagai Papa Kei?" tanya gadis itu berlinang air mata.
"Tentu nak, tentu ... tidak ada yang bisa merusak hubungan kita. Semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk putri Papa yang cantik ini." Mereka berpelukan haru. Semua yang ada di ruangan itu menangis tanpa terkecuali.
"Mikha sayang, ajak Kak Kei ke kamar kamu dulu ya? Papa mau bicara hal penting dengan Om Arif."
"Baik Papa." Kedua gadis itu meninggalkan ruang keluarga.
Kini Ray harus meminta maaf pada Arif dan Kia. Ia terlalu bersalah pada mereka berdua.
"Kia, Arif, maafkan aku. Semua di luar kuasaku, m" kata Ray dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
"Sudahlah Ray. Kita lupakan saja hari kemarin."
"Iya Ray. Kita tetap sahabat dan akan menjadi seperti keluarga."
"Apa perlu aku memaksa Adam ya Rif? Aku tak sanggup melihat senyuman yang hilang dari wajah Kei," kata Ray kehabisan akal.
"Jangan Ray. Kei akan lebih menderita jika Adam hanya terpaksa," kata Arif.
"Maafkan aku Rif ... maaf."
"Sudah Ray.. Lupakan saja segalanya. Kita umumkan saja pembatalan pertunangan. Walau akan sedikit mempengaruhi bisnis kita, tak apa Ray. Daripada semua terlanjur dan tak bisa diubah. Gosip akan menghilang seiring waktu." Seperti namanya, laki-laki yang dua tahun lebih tua dari Ray itu begitu bijak.
"Iya benar Me, Ray. Kita lupakan segalanya. Kei juga sudah mengerti."
Akhirnya hubungan kedua keluarga itu membaik lagi. Segalanya sudah termaafkan, masalah itu tak mudah menghancurkan persahabatan yang sudah dipupuk selama puluhan tahun lebih.
Sementara itu di rumah Isabella
Dua insan yang tengah dimabuk asmara itu kini tengah berciuman dengan panas di sebuah ruang tamu. Seakan tak ada hari esok, gairah mereka berdua begitu meluap-luap. Panas membara terbakar api asmara. Hingga hanya terdengar suara cecapan di rumah yang lumayan besar itu.
"Sayang, please kamu mengalah demi hubungan kita. Kita tak akan pernah bisa menikah jika kamu masih tak mau menjadi seorang mualaf. Karena orang tuaku tak mungkin memberi restu," bujuk Adam pada kekasih hatinya, setelah ciuman memabukkan itu terlepas. Saat ini Isabella tengah bersandar di bahu bidang Adam.
"Hei Babe, Do you think about me? Kalau aku ikut agama kamu. Aku harus berpakaian tertutup, begitu? Oh no.. Iam model, you know? I cant do it," tolak Isabella dengan marah.
"Tapi bagaimana kita bisa menikah, jika kamu keras kepala seperti ini? Jika salah satu dari kita tak mau mengalah."
" Ya ... kita jalani saja hubungan kita yang seperti ini. Enjoy it. Atau kamu yang pindah agama," kata Isabella asal.
"Itu tak akan pernah terjadi Isabella. Aku tak akan pernah mengikuti keyakinanmu."
"Ya sudah begini saja," jawab wanita itu acuh tak acuh.
"Apa kamu nggak mau menikah denganku? Aku takut orang tuaku akan memaksaku menikah dengan wanita pilihan mereka."
"Tidak saat ini honey.. Aku ingin menggapai citaku sebagai model yang terkenal. Dan jalanku masih panjang. Kamu bisa menolak jika mereka memaksamu untuk menikah kan? Apa susahnya?"
__ADS_1
"Isabella ... aku jamin kamu tak akan kekurangan apapun jika kamu menjadi istriku. Kamu tak perlu bersusah payah menjadi model lagi."
"What? This is my dream. Tidak akan semudah itu aku melepaskan mimpi yang sudah aku rintis dari bawah."
"Terserah, kamu menerima aku atau tidak. Kalau kamu tak suka, pergi saja. Cari wanita lain," kata Isabella marah.
"Hasshhh ... okay ... untuk saat ini aku tak bisa menang darimu. Kita lihat saja sampai kapan kamu akan bertahan mengejar mimpimu itu," ucap Adam frustasi.
Adam memang tak bisa mengabaikan Isabella. Adam tak sanggup jika kekasih hatinya itu marah. Adam benar-benar sudah dibutakan oleh cintanya.
Sementara itu dari luar rumah Isabella ada orang yang tengah mengintai rumah itu diam-diam. Orang tersebut mengamati setiap gerak gerik Adam dan Isabella sedari awal.
"Oh, jadi pria ini yang sudah membuat kamu berubah dan mencampakkan aku. Awas saja kamu, jika aku tak bisa mendapatkan kamu. Maka orang lain pun tidak." Pria itu menyeringai dan meninggalkan tempat itu sebelum ketahuan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dukung ya? Kasih like, komen, vote dan bintang 5.
Mampir yuk ke novel aku yang baru "Dua Polisi Tampan."
Terimakasih
__ADS_1