Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Perasaan yang Berubah


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, wajah Adam terlihat menggelap karena amarah. Haura bingung, mengapa laki-laki tersebut seperti ingin menelannya hidup-hidup. Apakah karena pertemuannya dengan Alvian, sehingga Adam murka? Tapi bukankah suaminya tak pernah menyimpan cinta untuknya? Bagaimana bisa cemburu jika ia tak cinta? Mood Adam saat ini membuat Haura tak berani untuk bertanya sepatah kata pun. Takut kena omel dengan kata-kata yang menyakitkan hati. Sehingga Haura lebih memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat.


Haura tahu, ia harus ekstra sabar menghadapi mood suaminya yang sangat mudah berubah. Naik turun tak menentu. Ia berusaha untuk tak memancing amarah Adam. Walau hal itu berat untuknya. Karena apa yang ia lakukan sepertinya selalu salah, tak sekali pun benar di mata Adam.


"Senang ya kamu," ucap Adam sinis setelah beberapa menit mobil melaju.


"Maksud Mas Adam? Haura kurang nyaman tadi Mas. Seumur hidup Haura belum pernah menghadiri acara seperti tadi. Bagaimana bisa, Mas Adam bilang Haura senang? "


"Kurang nyaman? Cihh.." Haura melirik wajah suaminya dengan heran.


"Tadi sewaktu berangkat, wajah kamu masam. Nggak usah ikut lah, mau di mobil saja lah ... Ini lah, itu lah."


"Tapi setelah bertemu dengan temanmu tadi. Siapa namanya tadi? Al, Al. "


"Alvian Mas. "


"Haa.. Betul, Alvian. Muka kamu langsung berseri-seri, tertawa-tawa dan enggan pulang."


"Mana mungkin seperti itu. Rara bahagia karena bertemu dengan teman lama Rara. Apalagi kami sekampung." Rara tak merasa perbuatannya salah, karena pada kenyataannya ia dan Alvian hanya mengobrol.


"Hmmm, teman? Aku tak percaya kalau dia sekedar teman kamu."


"Ada apa dengan Mas Adam? Mas Adam cemburu kah?" tuduh Haura karena sikap Adam begitu pelik.

__ADS_1


"Cemburu? Aku? Jangan mimpi! Aku ... aku hanya tak suka kalau kamu mendekati lelaki lain dihadapan relasi kerjaku. Apa yang akan mereka bicarakan tentangku jika kamu menggoda lelaki lain." Adam gugup menyangkal tuduhan Haura. Dirinya sendiri juga sangat bingung dengan hatinya.


"Rara tak pernah menggoda atau merayu Alvian. Alvian hanya teman Haura Mas. Memang dulu kami sempat dekat, tapi kami tak berjodoh. Mau bagaimana lagi? Sekarang Mas Adam suami Rara. Dan Alvian sebatas masa lalu dan sahabat bagi Rara. Mas Adam saja menjalin hubungan dengan Isabella, bukan hanya teman. Tapi sebagai kekasih. Pernahkah Haura mencampuri urusan Mas Adam? Rara tak berniat buruk. Rara hanya ingin tetap berteman dengan Alvian, apa itu salah?" Kesabaran Haura sudah habis, sehingga ia harus mengungkapkan suara hatinya yang begitu menyesakkan. Ia bukan tawanan yang harus selalu tunduk pada Adam. Ia istrinya, yang seharusnya di sisi Adam untuk mendampinginya dan mendapatkan kasih sayangnya.


"Kamu tahu? Tak ada yang namanya pertemanan antara pria dan wanita."


"Itu pikiran buruk Mas Adam. Terserahlah Mas Adam mau berpikir bagaimana? Aku dan Vian hanya sahabat. Dan selamanya akan menjadi sahabat. Tak bisa putus hanya karena aku sudah berkeluarga, "jawab Haura kesal. Ia menyandarkan kepala di kaca mobil dan memalingkan wajah enggan menatap suaminya. Haura benar-benar kesal pada Adam yang menuduhnya sesuka hati. Padahal yang menghianati pernikahan mereka adalah suaminya sendiri.


***


Haura sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya. Semua sudut ruangan sudah bersih dan rapi. Ia juga sudah memasak makanan untuknya sendiri. Bahkan, Haura sudah memakannya. Semenjak lelaki itu tak pernah mau memakan masakannya, ia selalu memasak untuk dirinya sendiri dan makan tanpa menunggu Adam.


Kini Haura tak ingin bersedih lagi. Ia tak ingin menangis karena Adam. Ia ingin hidup seolah tanpa beban. Yang terpenting, ia sudah melayani Adam sebisanya. Dimulai dari membersihkan rumahnya, juga menyiapkan semua keperluannya dengan baik.


Sikap acuh Haura membuat Adam sedikit terpengaruh. Ia merasakan kehilangan sosok Haura yang selalu bersikap manis padanya.


Seperti sore itu, Haura tengah berbaring sambil membaca novel terbarunya di sofa depan televisi. Semua tugasnya sudah selesai dan tubuhnya sudah bersih karena ia sudah mandi.


Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika Adam melangkah masuk rumah. Pekerjaannya di kantor sangat banyak. Hingga hari ini ia begitu kelelahan. Ia melangkah dengan lemas, otot tubuhnya terasa kaku dan tegang.


"Assalamualaikum," ucap Adam ketika melihat istrinya berbaring di sofa.


"Waalaikumsalam. Tumben, jam segini sudah pulang." Haura meraih tangan suaminya dan menciumnya.

__ADS_1


"Mas capek," jawab Adam lesu.


"Rara masak apa?" tanya Adam begitu lembut.


"Rara tak masak untuk Mas. Rara masak hanya untuk Rara sendiri. Karena biasanya juga Mas Adam tak pernah mau makan masakan Rara. "


"Ya sudah, tak usah mengomel. Mas kan hanya bertanya, kalau tak masak ya sudahlah. Mas mau mandi dan istirahat," ucap Adam masuk ke kamarnya.


Haura acuh tak acuh dan memilih melanjutkan membaca novel. Begitu nyaman dan menyenangkan. Pendingin ruangan yang nyaman dan tubuhnya yang segar karena sudah mandi membuat Haura mengantuk. Hingga ia akhirnya tertidur dan novel yang tadi ia pegang jatuh ke lantai. Wanita itu dengan cepat terlelap dalam mimpinya.


Adam yang sudah mandi kini tengah berdiri di balkon kamarnya. Ia menengadah memandang bintang-bintang di angkasa. Hatinya hampa dan begitu kosong. Sudah sebulan lebih Haura mengabaikannya. Semenjak sebulan yang lalu wanita itu bertemu dengan Alvian, mantan kekasihnya. Adam menyadari bahwa dirinya kini mulai jatuh cinta pada Haura. Wanita yang dulu sangat ia benci. Wanita yang dulu membuat ia muak. Kini berhasil membuat hidupnya serasa jungkir balik. Memikirkan kehidupan pernikahan mereka kedepannya membuat ia gelisah. Jujur sekarang ia takut wanita itu akan meninggalkan dirinya bersama Alvian.


Adam sadar, perasaannya kini mulai berubah. Ia mulai menyayangi Haura. Dan keacuhan istrinya akhir-akhir ini, sedikit banyak mempengaruhi mood-nya.


Adam kembali ke dalam kamarnya karena udara lumayan dingin. Tiba-tiba ia teringat pada istrinya yang tadi membaca novel di ruang tamu. Ia ingin meminta Haura melayani seperti biasanya. Ia ingin wanita itu memasak lagi untuknya. Biarlah Adam mengesampingkan harga dirinya. Ia tak tahan lagi diabaikan oleh wanita itu.


"Ra..." panggil Adam ketika keluar dari kamarnya.


"Ra, mulai besok kamu masak lagi ya? Mulai besok, aku ingin ...." ucapan Adam terhenti ketika melihat mata Haura yang tertutup dengan tangan kanan yang menggantung.


"Huhhh ...." Adam membetulkan posisi tangan istrinya, diletakkannya di perut wanita itu.


Pandangan Adam teralih ke sebuah buku novel romance berjudul 'Revenge' karya penulis dalam negeri. Adam mengernyit, tak menyangka istrinya yang terlihat alim dan kampungan membaca novel adult romance seperti itu. Tak sengaja, sudut bibir Adam terangkat melihat buku itu.

__ADS_1


__ADS_2