
Maaf Horror guys 🙈🙈🙈
Under eighteen, please dont read!
Dengan nafas memburu terbungkus nafsu, keduanya saling bertatap mata. Menyiratkan rasa yang ada. Mungkin jika dapat berucap, lelaki itu akan mengucap kata 'maaf'. Namun ia rasa ini bukan saat yang tepat. Ia takut menghancurkan kemesraan yang terjalin saat ini. Dan wanita itu sangat ingin mengucapkan 'miliki aku', sayang ia terlalu malu untuk mengucapkannya.
Ketika Adam yakin istrinya sudah sepenuhnya pasrah untuk ia beri kenikmatan. Kedua tangannya dengan berani membelai setiap inci bagian tubuhnya. Membawa wanita itu terbang ke awang-awang karena diperlakukan seperti demikian. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Bulu kuduknya meremang. Menahan rasa nikmat dan juga kegelian.
Tak tahan diperlakukan seperti itu, Haura meraih tengkuk suaminya. Dengan tak disangka wanita itu menyatukan bibir mereka kembali, memberi l*matan lembut pada bibir suaminya. Kedua tangan Haura yang semula mengalung di leher suaminya kini sibuk merem*si rambut suaminya dengan lembut. Adam terkejut namun sekaligus senang. Ia membalas ciuman istrinya dengan penuh nafsu. Seraya memainkan kedua tangannya di bagian tersensitif wanita itu. Kadang membelai kadang mencubit gemas, kadang ia menarik-narik lembut ujungnya. Hingga desahan demi desahan yang masih sedikit tertahan karena malu lolos dari mulut istrinya
"Jangan ditahan Ra. Luapkan apa yang kamu rasakan. Tidak perlu malu-malu pada Mas. Mas suka mendengarkan desahanmu."
Perlahan tapi pasti keduanya tanpa sadar sudah tak berpakaian lagi. Adam memberikan kenikmatan yang luar biasa di tubuh istrinya. Memberikannya dengan segenap cintanya dan penuh kelembutan.
Kini peran Adam untuk memberi kenikmatan yang lebih segera ia lakukan. Lelaki itu menelusuri seluruh bagian tubuh istrinya. Hingga tubuh Haura yang putih bersih dipenuhi dengan jejak kemerahan dimana-mana.
"Ra, dengarkan! Aku mencintaimu. Mas Adam sangat mencintaimu. Malam ini adalah malam kita berdua. Ingat Ra! Ini akan menjadi malam pertama kita. Dan kamu tidak boleh merasakan kesakitan. Tidak boleh merasakan penderitaan. Karena malam ini kamu harus bahagia dan merasakan kenikmatan yang sama dengan yang Mas Adam rasakan. Aku janji Ra, kamu akan merasakan rasa nikmat ketika tubuh kita menyatu." Dan dengan gerakan lembut Adam berusaha menyatukan tubuh mereka. Haura meringis kecil menahan sedikit rasa perih yang terasa menyambut benda besar itu. Tapi malam ini ia berusaha ikhlas, rida menyerahkan diri. Berusaha percaya pada suaminya.
Dan dengan kesabaran Adam, akhirnya miliknya tertanam sempurna. Adam melihat Haura memejamkan mata dengan peluh yang bercucuran. Ia berdiam sebentar, belum berani bergerak. Adam ingin tahu apa yang wanita itu rasakan.
"Ra, buka matamu! Lihat aku Ra!" Haura membuka matanya dengan perlahan. Wanita itu tersenyum.
"Katakan Ra! Kamu ingin aku melanjutkannya atau kamu ingin aku berhenti?" tanya Adam lagi. Haura diam tak bergeming, membuat Adam kecewa. Mungkin malam ini lagi-lagi kegiatan mereka harus terhenti. Namun perkataan Haura membuat Adam menarik senyuman.
__ADS_1
"Lakukan Mas! Beri kenikmatan pada Rara. Sampai Rara tidak bisa mengingat lagi semua rasa sakit itu," ucap wanita itu tiba-tiba.
"Baiklah sayang. Mas akan melakukannya sampai kamu tak ingat hal lain selain kenikmatan ini." Adam mulai bergerak dengan perlahan menusuk-nusuk mencipta rasa yang asing bagi Haura. Rasa perih itu tergantikan dengan rasa geli, dan nikmat. Tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Seolah ribuan kupu-kupu menari menggelitik perut wanita itu. Desahan demi desahan lolos dari bibir wanita itu, tak tertahan lagi untuk keluar dari mulut Haura.
Adam bahagia melihat Haura pasrah dalam kungkungannya. Inilah yang diinginkan Adam. Keindahan bercinta milik berdua. Bukan hanya kenikmatan sepihak yang selama ini ia rasakan. Bukan kesedihan dan sakit saat menyatu. Tapi kebahagiaan saat bidadarinya menjerit nikmat karena perbuatannya. Saat Haura ikhlas hati menerima bukti cinta yang ia berikan.
Adam berani menambah tempo, melihat reaksi istrinya. Karena dirinya pun terlalu tersiksa menahan diri dalam mengendalikan temponya. Akhirnya ia terus memacu dirinya memberikan malam yang terbaik untuk Haura. Ia ingin Haura mengingat malam pertama mereka yang sebenarnya sebagai malam terindah. Namun tiba-tiba lelaki itu berhenti dan menarik diri. Membuat Haura merasa kecewa dan kehilangan. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Karena dalam sekejab saja Adam mengangkat tubuh mungil Haura dan memangkunya.
Ia membalut selimut untuk menyelimuti tubuh polos keduanya. Perlahan ia memasuki Haura dari belakang. Lelaki itu memeluk erat tubuh istrinya.
"Ra, lihatlah bintang di langit sana. Bagaimana menurutmu?"
"Ah, eh ... indah Mas. Sangat indah," jawab wanita itu asal. Akal sehatnya sudah melemah karena syahwat. Adam tanpa henti memberikan servis terbaik untuk istrinya. Sesekali ia menyerukan hidungnya di perpotongan leher Haura. Mencium aroma vanilla yang lembut dari sana, menambah rasa panas pergumulan kedua anak manusia itu. Kedua tangan Adam tak tinggal diam, masih asyik menari-nari di bagian menjulang itu menambah kenikmatan lebih lagi.
"Ra, apakah kamu merasa kesakitan?" tanya Adam dengan suara serak tergelung nafsu. Haura hanya menggeleng, entah wanita itu mendengar perkataan Adam atau tidak. Nyatanya ia terhanyut dalam permainan Adam yang begitu indah dan menggoda. Menggetarkan seluruh sel-sel di tubuhnya.
"Iya Mas, Rara bahagia. Lakukan Mas. Lakukan lagi dan lagi. Sampai Rara merasa tak sanggup lagi," racau wanita itu sembari memejamkan mata. Berkali-kali tubuh wanita itu bergetar mendapatkan pelepasannya. Namun Adam masih belum mau berhenti untuk mengisinya.
Adam begitu tangguh. Baru setelah satu jam ia berpacu, ia mencapai puncaknya. Menyiram ladang itu dengan penuh cinta. Menumpahkan segala benih yang ada, berharap kelak akan ada Adam dan Rara junior yang berkembang di dalam sana. Bersamaan itu Haura juga mendapatkannya lagi, hingga tubuh wanita itu ambruk lemas tak bertulang.
Dengan sigap, lengan kokoh itu menahannya dan memeluk tubuhnya yang tak berdaya. Adam sedikit menyesal karena sempat hilang kendali hingga membuat istrinya selemah itu. Ia membaringkan Haura perlahan dan dengan lembut membersihkan sisa cinta mereka berdua.
Ia tak lantas memakaikan baju Haura lagi. Karena bukan hal mustahil laki-laki itu akan menginginkannya lagi. Ia segera berbaring di sebelah istrinya dan ikut memejamkan mata dengan posisi intim memeluk Haura. Tak lupa ia mengecupi kening, mata, hidung istrinya lagi. Sebagai tanda betapa ia menyayangi istrinya itu.
__ADS_1
"Terima kasih Ra," ucap Adam memeluk tubuh Haura erat-erat. Berusaha memberi kehangatan agar istrinya tak kedinginan terpapar oleh angin malam.
"Terima kasih Mas. Rara bahagia," batin wanita itu dalam hati tersenyum. Terlalu malu untuk mengatakan jika malam itu begitu indah untuknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aduuhhh, udin deh ya.
Author mes*mnya keterlaluan. Wkwkwkkw
__ADS_1
Tapi kalau ngga ada eng ing eng nanti hambar. Serba salah. Setelah ini semoga ngga usah nulis scene horor deh. Yang tidak suka skip aja ya
😂😂😂