
Ray terlelap dalam tidurnya di sofa ruangan Medina. Ray sangat kelelahan setelah semalaman menjaga Medina dan bayinya. Ray suami siaga kini juga menerima gelar baru sebagai ayah siaga. Medina sendiri hanya bisa pasrah, karena luka jahitan di perutnya yang masih basah membuat ia tak bisa banyak bergerak. Apalagi tubuhnya masih sangat lemah.
Semalaman penuh Ray dengan sabar dan telaten mengurus bayi itu menunggu Medina pulih. Baby Adam sering terbangun dan menangis. Maklum saja bayi yang belum berumur empat puluh hari biasanya lebih sering rewel. Baru setelah salat subuh Ray tidur. Karena setelah pagi hari baby Adam juga tidur nyenyak dan anteng.
Ray mendapatkan banyak pelajaran berharga. Sungguh ia menikmati momen menjadi seorang ayah. Hatinya membuncah bahagia karena kehadiran si kecil. Si kecil yang menghilangkan sebanyak apa pun rasa penatnya. Terbayang-bayang di matanya bagaimana kebahagiaan mereka nanti setelah menjadi keluarga utuh.
Setiap baby Adam menangis maka Ray dengan sigap menggendongnya. Memeriksa popoknya basah atau tidak. Juga membantu baby Adam yang haus menyusu ke ibunya yang masih sedikit lemah. Tak ada perasaan risih sedikit pun ketika ia harus mengasuh anak orang lain, bayi yang bukan darah dagingnya. Ray menganggap baby Adam adalah separuh jiwanya. Buah cintanya bersama Medina. Berkat bayi itulah ia bisa mengenal Medina. Bayi itu yang mempersatukan cinta mereka.
Oma dan Bunda belum juga datang. Ray sedikit khawatir, pasalnya pengetahuannya tentang bayi dan ibu setelah melahirkan terbatas. Padahal Ray seorang diri bertanggung jawab mengurus mereka. Ray hanya mengikuti nalurinya ketika ia memegang baby Adam. Dengan hati-hati ia menggendong dan mengganti popoknya. Ray memperlakukan baby Adam begitu berharga layaknya sebuah gelas kristal yang harus dijaga dengan hati-hati.
Medina memandang wajah calon suaminya yang tertidur dengan sedikit iba. Lelaki itu benar-benar kecapekan gara-gara dia dan bayinya. Medina semakin terpesona dan jatuh cinta pada Ray. Perlakuan Ray yang lembut, kesabarannya. Medina tak pernah mendapati laki-laki sebaik itu.
Waktu sudah pukul sepuluh pagi. Ray masih terlelap dalam mimpi indahnya. Baby Adam juga masih tidur nyenyak setelah kenyang menyusu. Bayi mungil itu begitu kuat menyusu hingga Medina menjadi kewalahan. Karena hal itu juga Medina menambah porsi makannya dua kali lipat. Walaupun ia baru makan, ia akan lapar lagi jika si kecil sudah menyusu tanpa henti.
Tiba-tiba baby terbangun. Ray masih tidur nyenyak, antara ingin membangunkan Ray atau mengambil bayinya sendiri. Jika ingin membangunkan Ray, Medina tak tega karena Ray terlihat lelah. Jika ingin mengambil bayinya, Medina masih sangat lemah sekedar untuk berdiri. Namun Medina tak tega melihat bayinya yang menangis. Akhirnya ia memutuskan untuk turun mengambil anaknya.
"Sayang, mau kemana?" tanya Ray mengerjapkan mata menyesuaikan dengan cahaya lampu. Dengan segera ia menghampiri wanita itu dan menyuruhnya kembali berbaring.
"Baby Adam menangis, Me mau ambil. Mungkin Adam haus, Mas," kata Medina yang kini sudah berbaring lagi.
"Biar aku saja. Kamu diam saja di sini!" perintah Ray tak mau dibantah.
Dengan menguap, Ray mengangkat tubuh kecil itu. Dan ketika Ray menyentuh bokong si bayi, Ray malah tertawa.
"Kenapa Mas?" Medina heran.
"Dedek pup Mama," jawab Ray terkekeh geli.
"Bentar Mama, Papa mau membersihkan dedek dulu ya," dengan sigap Ray mengambil popok baru dan tissue basah. Dengan sabar ia mengganti popok baby Adam. Ray memakaikan popok kain yang lembut. Ia tak mau menggunakan popok sekali pakai, karena takut menyakiti kulit bayi yang masih sangat sensitif itu. Padahal Medina sebagai ibu tak mempermasalahkannya. Karena yang ia tahu, zaman sekarang sudah biasa baby yang baru lahir langsung dipakaikan popok sekali pakai. Medina memperhatikan gerakan Ray yang begitu luwes dengan kagum.
Begitu popok baby Adam diganti dan terasa nyaman, bayi itu langsung tidur pulas kembali. Polah tingkah bayi itu kembali mengundang gelak tawa Ray.
"Adam ingin Papa bangun ya? Dasar anak Papa nakal ya?" Ray tak hentinya menciumi pipi gembul bayi itu. Medina tak henti menatap sosok ayah itu dengan kagum.
__ADS_1
"Ya sudah, tidur yang nyaman ya sayang. Kasihan Mama capek. Biar Mama istirahat ya?" Ray meletakkan baby Adam ke dalam box bayi.
"Mas," panggil Medina.
"Iya sayang, kenapa?" Ray mendekati Medina setelah Adam tidur pulas.
"Maaf ya, Me dan Adam merepotkan Mas," kata Medina merasa bersalah.
"Sttt ... Nggak usah ngomong begitu. Mas adalah papa Adam. Sudah kewajiban Mas untuk menjaga kalian dengan baik. Melindungi kalian buah hatiku," ucap Ray tulus.
"Kita keluarga, tak ada kata maaf, terimakasih dan merepotkan. Kita bertiga adalah satu. Jika salah satu dari kita menderita, Mas akan menangis dan ikut merasakan penderitaan kalian," tambahnya.
"Terimakasih Mas. Terimakasih untuk segalanya. Terimakasih sudah hadir di hidup Me." Medina memeluk Ray erat-erat. Ray juga melingkupi punggung wanita itu dengan kedua tangan besarnya. Tak lupa ia memberi kecupan lembut di kening wanita yang sangat ia cintai itu.
"Eh, sebentar ...." Ray merogoh saku celananya dan menyerahkan sebuah kotak cincin berlian yang tempo hari.
"Tak ada lagi alasan buat kamu menolak untuk berumah tangga denganku. Aku ingin kita membuat sebuah keluarga. Ada aku, kamu, Adam dan anak kita yang lainnya nanti," ucap Ray menantikan jawaban dari Medina. Medina mengangguk. Air mata mengalir dari kedua sudut matanya.
Ray segera memakaikan cincin itu di jari manis kekasihnya yang sedikit menggendut. Untung saja masih muat seperti dulu kala.
"Eleh, awalnya untuk siapa coba Mas beli cincin ini?" sindir Medina.
"Iya, tapi kan sejak awal pemilik cincin ini kamu sayang. Yang pertama memakai kamu dan yang aku pasangi cincin ini juga hanya jarimu," jawab Ray.
"Benarkah Mas tak pernah memasangkan cincin ini di jari Aurel?" tanya Medina penasaran.
"Benar sayang, karena pemilik cincin ini dan hati ini hanya kamu." Ray mulai menggombal. Ia memegang dadanya dengan percaya diri.
"Mulai deh nyebelinnya," kata Medina.
"Hei, kamu mengatakan calon suamimu nyebelin? Huh ... sungguh keterlalua." Ray pura-pura marah.
"Habis Mas Ray mulai modus. Awas saja kalau modus ke cewek-cewek lain. Kamu kira aku nggak tahu, kamu tak berkedip memandang suster yang cantik itu?" tuduh Medina sedikit cemburu.
__ADS_1
"Mana mungkin aku menggoda cewek lain? Aku sydah punya bidadari secantik ini. Aku nggak mungkin memalingkan wajah ke wanita lain," kata Ray meyakinkan Medina. Medina terkekeh geli melihat Ray yang merayunya.
"Iya Mas. Tanpa perlu kamu membuktikannya, Medina juga sudah tahu." Medina menggenggam tangan Ray seolah tak ingin ia lepaskan lagi.
"Terimakasih sayang sudah menerima cintaku." Ray kembali mengecup kening Medina.
"Eh, tapi mulai sekarang kamu jangan panggil Mas dengan sebutan 'Mas' lagi," kata Ray memperingatkan Medina.
"Kenapa?" Medina bingung apa sebenarnya yang lelaki itu mau.
"Panggil Papa, Mama. Ada Papa, Mama dan dedek Adam." Ray tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Medina, ia mengangguk dan sedikit menitikkan air mata bahagia. Mereka benar-benar sangat bahagia dengan keluarga yang lengkap seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kalau ada sosok suami kayak Ray, aku mau satu dong?
Faktanya jika baby baru lahir yang mengurusnya 80% bundanya, 20% neneknya..
jangan lupa klik like favorite kasih vote juga komentar, aku tunggu ya.😘😘😘
__ADS_1
Terimakasih.