Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Kehilangan Segalanya


__ADS_3

"Pagi Issy," sapa Adam pada wanita yang kini tidur di pelukannya.


"Enggghh ...." Isabella menggeliat dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Enggan bangun dan membuka mata.


Adam yang tak mendapat respon dari Isabella segera turun dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi. Rasanya seluruh tubuhnya bau alkohol.


"Mau kemana?" tanya Isabella dengan mata setengah terpejam.


"Mau mandi, Mas bau."


"Bagus, sana mandi! Setelah itu aku mau kita bicara. Katakan apa yang sebenarnya terjadi. " Isabella kembali memejamkan matanya yang masih terasa sangat mengantuk.


Lima belas menit kemudian, lelaki itu keluar dari kamar mandi dalam kondisi yang lebih baik. Isabella yang sudah bangun dan berpakaian sedang menikmati sebatang rokok.


"Duduk Mas," perintah Isabella dingin.


"Issy, bukankah aku bilang aku tak suka kalau kamu merokok?" tanya Adam dengan nada meninggi.


"Ckk ...." Isabella berdecak sebal. Mau tak mau segera mematikan dan membuang rokok miliknya.


"Katakan Mas, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Isabella tak mau membuang waktu.


"Aku bertengkar dengan Mama dan Papa. Mereka memaksaku menikah dengan gadis desa. Jadi untuk sementara bolehkah aku tinggal disini?" bohong Adam. Ia belum siap jika Isabella meninggalkannya yang ternyata tak punya apa-apa. Karena dia ternyata bukan anak Ray yang kaya raya.


"Bagus Mas. Kamu sudah melakukan hal yang benar. Karena yang kamu cintai aku. Yang boleh menikah denganmu hanyalah aku. Jadi kamu tinggal saja di sini. Tak perlu bertanya padaku."


"Terima kasih sayang." Adam mengecup tangan Isabella mesra.


"Untuk saat ini biar aku simpan rahasia ini, aku belum siap untuk kehilangan kamu Issy."


***


"Me, apa tidak sebaiknya kita cari Adam dan bujuk ia untuk pulang?" Ray begitu khawatir karena sudah tiga bulan Adam pergi dan tak pulang. Ia juga tak datang lagi ke kantor seperti biasanya.


"Untuk apa Mas? Dia sudah dewasa, dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya," jawab Medina acuh.


"Hahhh ...." Ray benar-benar mengkhawatirkan putranya walau lelaki itu sudah dewasa. Ray juga bingung dengan sikap Medina yang mengabaikan Adam.


Sementara itu di rumah Isabella.


"Tiga bulan kamu hanya di rumah saja. Kamu tidak bosan? Bagaimana pekerjaan kamu Mas? Kenapa aku tak pernah lagi melihatmu ke kantor?" tanya Isabella mulai kesal dan memandang Adam seperti benalu di rumahnya.


"Aku sudah resign," jawab Adam santai.


"Apa?"


"Lalu kedepannya kamu mau begini terus? Aku bosan Mas. Melihatmu di rumah tak melakukan apapun seperti ini. Apa aku yang harus terus-terusan menanggung kehidupanmu begitu, Mas?" omel Isabella tak sabar.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana Issy?" tanya Adam tersinggung.


"Kamu kan pewaris perusahaan Papa kamu. Jadi lakukan tugasmu Mas. Bekerjalah!Kembali ke kantor Papamu," perintah Isabella penuh emosi.


"Tidak bisa Issy, "kata Adam ingin membongkar semuanya pada Isabella. Tak sanggup lagi ia berbohong.


"Why not?" tanya Isabella gusar.


"Karena aku ... Aku ...."


"Apa Mas? Aku yakin ada yang sedang kamu sembunyikan," tanya Isabella curiga.


"Aku bukan anak kandung Papa Issy. Itulah sebabnya aku pergi dari rumah. Aku sekarang tak punya apa-apa lagi. Ingin pulang ke rumah Papa, Mas juga malu."


"Apa? Jadi kamu nggak punya apa-apa? Lalu bagaimana kamu mau menanggung kehidupanku nanti Mas? Maaf sepertinya aku tak bisa jika keadaan kamu begini."


"Tapi aku mencintaimu Issy?"


"No! Dalam hidup ini tak cukup hidup dengan cinta saja. Mungkin sementara kita break dulu. Aku mau merenungkan bagaimana baiknya hubungan kita kedepannya. Bawa barang-barang kamu pergi dari sini Mas," usir Isabella.


"Lalu Mas harus tinggal dimana sayang?"


"Itu bukan urusanku Mas. Pergiii!"


Adam terpaksa pergi dari rumah Isabella. Dia tak punya teman lagi selain Isabella. Ingin minta tolong pada Ardi pun rasanya ia terlalu malu.


***


Adam keluar dari dealer mobil dengan wajah yang masam. Kini ia benar-benar tak memiliki apa-apa. Mobilnya sudah ia jual untuk biaya sewa rumah kecil. Sisanya untuk ia bertahan hidup sebelum dapat pekerjaan yang tetap. Kini ia harus rela kemana-mana dengan berjalan kaki.


"Selamat tinggal kehidupan yang nyaman dan mewah."


Satu bulan Adam lontang lantung mencari pekerjaan kesana kemari. Namun berpuluh perusahaan yang ia lamar, tapi tak ada satu pun yang menerimanya. Adam menjadi bingung, uang tabungannya makin menipis. Sedangkan ia tak juga mendapatkan pekerjaan.


***


Siang begitu terik, Adam menyusuri trotoar yang sangat panas. Dengan memakai baju yang rapi dan sebuah map ditangannya ia keluar masuk ke perusahaan mencari kerja. Sayang, tak ada yang menerimanya.


Perutnya terasa lapar, ia juga sudah sangat lelah. Lelah lahir dan batin. Tak pernah ia sesusah itu selama hidupnya. Ia terbiasa hidup mewah dan kecukupan. Dan kini baru terasa bagaimana susahnya hidup sendirian. Semua orang di dekatnya meninggalkannya.


Perut Adam lapar, tenggorokannya terasa sangat kering. Dari semalam Adam merasa sedikit tak enak badan. Suhu tubuhnya sedikit tinggi, demam. Namun, ia tak menghiraukannya. Ia tetap melanjutkan kegiatannya mencari pekerjaan. Hingga akhirnya Adam jatuh pingsan.


"Kakak ... Kakak ...," panggil seorang gadis belia yang familiar di telinga Adam. Adam diam saja karena Adam tak punya kekuatan untuk sekedar membuka mata.


"Mikha." Batin Adam.


"Eh, bagaimana ini? Kak Adam," panggil Mikha khawatir. Mikha menoleh ke kanan dan kiri berharap ada orang yang menolongnya. Namun sayang, jalanan lumayan sepi, tak tahu harus minta tolong pada siapa.

__ADS_1


Mikha segera merogoh tasnya dan mengambil ponselnya.


"Halo Papa ... tolong Mikha."


"Iya kenapa Princess?"


"Kak Adam pingsan di jalanan Pa."


"Apa? Kalian ada dimana?"


"Jalan Garuda dekat sekolah. Cepat kesini ya Pa?" Mikha memasukkan ponselnya ke dalam tas kembali. Gadis itu duduk bersimpuh dan meletakkan kepala Adam di pangkuannya.


"Kakak ... bangun Kakak. Kakak kenapa? Jangan bikin Mikha takut. Mikha rindu, Kakak kemana saja?" ucap gadis itu berlinangan air mata.


Lelaki tampan itu terlihat lebih kurus dan pucat. Mikha iba pada kakaknya. Ia tak tahu apa yang terjadi. Sehingga kakaknya meninggalkan rumah.


Sepuluh menit, Ray sudah datang. Beruntung, lokasi tak seberapa jauh dari kantor.


"Apa yang terjadi sayang?" tanya Ray panik.


"Nggak tahu Pa. Kebetulan Mikha lewat pas Kakak jatuh pingsan."


"Ya sudah bantu Papa angkat kakak. "


Akhirnya Adam di bawa ke rumah sakit untuk di tangani. Ray dan Mikha menunggu dengan gelisah. Tak lupa Ray mengabari Medina.


.


.


.


.


.


.


.


Sambil menunggu novel ini up, readers bisa singgah ke karyaku yang lain.


Dua Polisi Tampan


Minah I love you


mampir dan tinggalkan jejak ya..

__ADS_1


thanks


__ADS_2