
Ray memapah Medina menuju restoran yang letaknya tak seberapa jauh dari sana. Sepuluh menit berjalan, akhirnya mereka sampai di restoran itu. Badan Medina menggigil kedinginan, padahal cuaca tak sebegitu dinginnya. Malah terbilang hangat.
"Me, kamu nggak papa sayang? Kok kamu pucat?" tanya Ray khawatir.
"Nggak papa kok Mas. Cuman sedikit capek saja." Medina memaksakan senyumnya. Kepala Medina terasa sedikit pusing dan entah mengapa badannya kurang nyaman.
"Mau makan apa sayang?" tanya Ray lembut.
"Apa saja boleh. Samakan aja dengan Mas Ra saja."
Ray segera memanggil waitress, ia memesan dua spageti dan dua cokelat panas.
"Me, kalau kamu merasa nggak nyaman bilang ya?" Ray begitu khawatir melihat Medina tak seperti biasanya. Medina mengangguk seraya sesekali memejamkan mata menahan rasa yang campur aduk.
Sepuluh menit kemudian makanan sudah terhidang di meja. Namun Medina dengan enggan meyuapkan makanan ke mulutnya.
"Sayang, nggak enak ya?" tanya Ray penuh perhatian. Ia melihat Medina enggan memakan makanan yang ia pesan.
"Enak kok Mas. Cuma entah mengapa Me merasa sedikit mual." Medina meminum air putih yang ada di depannya, berharap rasa mual dan muak itu menghilang.
"Maaf ya Me, gara-gara Mas mengajak kamu jalan-jalan. Kamu jadi kecapekan," sesal Ray.
"Nggak papa Mas. Aku seneng kok. Memang badan Me saja yang semakin hari semakin lemah." Medina menggenggam tangan besar ray dengan lembut.
"Aduh, kok aku merasa celanaku basah ya, Mas? Jangan-jangan Me ngompol," ucap Medina meraba pahanya karena tiba-tiba merasa kebasahan. Padahal, ia tak merasakan kalau ia kencing.
"Eh ... masak sih Me?" Ray menyentuh celana Medina yang ternyata benar-benar basah.
"Aduh ... Mas. Perutku sakit sekali ...." Medina meringis kesakitan. Ia mengelus lembut perutnya yang mengalami kontraksi. Namun kontraksi itu tak seperti biasanya, yang akan mereda ketika Me atau Ray mengelusnya. Kontraksi semakin sering dan lama. Hingga Medina meringis karena nyeri dan kesakitan.
"Sepertinya istri anda akan melahirkan Tuan," ucap seorang pengunjung menggunakan bahasa inggris. Ray menjadi terkejut dan panik karena ia memang tak berpengalaman.
"Tolong, tolong panggilkan ambulance!" Ray sangat gugup dan panik.
"Sabar ya sayang ...." Ray mendekap erat kekasihnya dan mengelus-elus perut besar itu, berharap mengurangi rasa sakit yang dirasakan Medina.
Waitress restoran itu segera memanggil ambulance untuk membawa Medina ke rumah sakit.
Sepuluh menit mobil ambulance baru datang,
__ADS_1
Ray segera menggendong Medina dan membawanya ke mobil ambulance untuk segera dibawa ke rumah sakit terdekat.
Ambulance melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Suara sirine memecah lalu lintas malam itu. Membuat seluruh pengguna jalan menepi memberi akses. Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama sepuluh menit, mobil ambulance sudah sampai di rumah sakit terdekat.
Wajah Medina sangat pucat, keringat sebesar jagung menghiasi kening dan lehernya. Medina meringis kesakitan. Sedari dalam mobil ambulance Ray tak henti mendekap erat Medina dan sesekali memberikan kata-kata penyemangat.
Segera Medina dibawa ke ruang penanganan untuk diperiksa. Ray menunggu di luar, karena tak diizinkan masuk. Ray sangat gugup, lebih gugup daripada ketika sidang skripsi dulu. Dalam hati Ray tak hentinya berdoa, agar ibu dan bayinya selalu diberi keselamatan.
Ceklek
Lima menit kemudian pintu terbuka menampilkan seorang dokter wanita muda berwajah asiatik keluar dari ruangan itu.
"Keluarga Nyonya Medina?" tanya dokter yang memiliki darah chinese itu.
"Iya saya suaminya, bagaimana keadaan istri saya dok?"
"Maaf dengan berat hati kami harus menyampaikan berita buruk. Nyonya harus segera dioperasi. Karena Nyonya tidak mungkin melahirkan secara normal. Bayinya harus segera dikeluarkan karena ketuban sudah pecah. Namun, tekanan darah Nyonya yang tidak stabil membuat kami harus melakukan tindakan operasi secepatnya." Dokter menjelaskan dengan menggunakan bahasa inggris secara gamblang.
"Lakukan Dok, lakukan apa pun asalkan keduanya selamat," kata Ray menangis. Ia tak dapat membayangkan bagaimana penderitaan wanita itu di dalam sana.
"Oke, silakan mengurus administrasi dan menandatangani surat persetujuan operasi. Agar kami dapat segera melakukan tindakan." selesai bicara dokter masuk kembali ke ruangan menyiapkan segala sesuatunya.
"Ah ya, Bunda dan Oma. Aku harus menghubungi mereka. Rasanya aku nggak sanggup menghadapi semua ini sendirian. Please kamu harus bertahan demi aku sayang," gumam Ray seorang diri setelah mengurus segala sesuatunya.
Ray segera mengirimkan pesan singkat kepada Oma dan Bunda. Ia tak sanggup jika harus menjelaskan lewat telepon.
Ray menyandarkan kepalanya di dinding. Rasanya kini ia sedang berjalan di sebuah jembatan kecil yang sewaktu-waktu bisa saja runtuh. Ketakutan dan kekhawatirannya sangat besar. Ray sungguh takut jika terjadi apa-apa pada anak dan calon istrinya.
Dengan harap cemas Ray menunggu proses operasi selesai. Bunda sudah membalas pesan Ray dan akan segera meluncur ke Amerika. Begitu juga dengan Oma. Oma sangat terkejut dan memesan penerbangan paling cepat.
Satu jam kemudian lampu ruangan operasi dimatikan. Dokter keluar dari ruang operasi dan menemui Ray.
"Bagaimana Dokter?" tanya Ray tak sabar.
"Operasi berjalan lancar. Namun Nyonya Medina masih lemah dan dalam pengaruh obat bius. Bayinya laki-laki, sehat dan kuat. Baby sedang dibersihkan. Anda bisa menemui ibu dan bayinya setelah kami pindahkan ke ruang rawat," kata dokter tersenyum.
"Terimakasih banyak Dok," ucap Ray dipenuhi rasa bersyukur.
"Ya Allah ... akhirnya aku menjadi seorang ayah," gumam Ray bahagia. Tak tahan lagi air mata kebahagiaan mengalir di wajah tampannya.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian Medina dan bayinya dipindah ke ruang rawat. Medina sudah sedikit pulih dan kuat. Baby Adam sudah dibersihkan, sudah di pakaikan baju dan dan di bungkus kain hangat agar tidak kedinginan.
Ray masuk kedalam ruangan dengan haru sekaligus bahagia. Dua orang terpenting dalam hidupnya sehat wal'afiat tanpa kurang suatu apa. Ray menghampiri sang istri dan mengecup kening Medina lembut.
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah berjuang untuk kami," bisik Ray di telinga Medina. Medina tersenyum lemah. Medina masih sangat lemas.
Kini giliran ia menghampiri bayinya. Diambil dan digendongnya bayi mungil yang masih merah itu dengan sedikit gemetar. Maklumlah, ini kali pertama Ray menggendong bayi. Dipandangnya bayi itu sekilas. "Tampan," batin Ray. Matanya hidungnya bibirnya kecil dan terlihat sangat lembut. Wajahnya sangat mirip Medina. Namun entah mengapa hidung dan bibirnya sedikit mirip dengan Ray.
Ray mengazani bayi itu dengan khidmat. Entah perasaan apa yang ada dalam hatinya. Bahagia, haru menjadi satu. Rasanya bayi itu adalah sebagian dari dirinya. Ray merasa kebahagiaannya lengkap sudah. Ray benar-benar menyayangi mereka berdua.
"Sayang, anak Papa ...."
"Terimakasih sudah hadir di antara Mama dan Papa. Terimakasih sudah menyatukan Mama dan Papa, Nak ...," gumam Ray di telinga bayi yang kini terlelap tidurnya itu. Setelah dilakukan inisiasi menyusui bayi itu tertidur pulas karena kenyang.
"Cepat tumbuh besar ya, Nak. Bantu Papa jaga Mama. Papa sayang kamu, kamu anak Papa bukan anak orang lain. Ingat Nak, kamu jagoan Papa." Ray mengecup pipi dan kening bayi itu. Medina yang mendengar ucapan lirih Ray sangat terharu, hingga tak kuasa menahan air mata membanjiri pipinya. Sungguh Medina merasa beruntung memiliki lelaki yang sangat baik di sampingnya. Laki-laki yang sanggup mencintai dan menerimanya apa adanya. lelaki yang begitu menyayanginya hingga sanggup mengorbankan apa pun untuknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mood author lagi bagus, aku kasih satu episode lagi sebagai pengganti beberapa hari vakum.
Semoga readers suka.
Klik like, tambah favorite kasih komentar dan vote jangan lupa.
__ADS_1
Love you all