Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Medina Pingsan


__ADS_3

Hari-hari penuh kesedihan dan kerinduan kini mereka jalani bersama-sama. Berharap dengan adanya keajaiban dari Tuhan, putra kesayangan mereka akan segera pulang, kembali ke pangkuan mereka.


Rasa rindu yang mengendap di dalam kalbu, menambah pilunya penantian yang entah sampai kapan. Begitu sakit, karena hanya bisa menanti. Segala upaya tak ada hasilnya. Bocah itu hilang bak ditelan bumi.


Sungguh kejam orang yang sudah tega memisahkan mereka. Memisahkan anak dari ibu bapaknya. Ibu mana yang rela dipisahkan begitu saja dengan buah hati yang ia kandung selama sembilan bulan. Yang sudah mempertaruhkan nyawanya demi lahirnya sang buah hati. Yang lebih menyakitkan, bocah itu direnggut begitu saja tanpa kata tanpa suara. Pergi tanpa kata perpisahan.


Bukan mudah melupakan bocah kecil itu. Bocah yang ceria, riang dan sangat menggemaskan. Bocah yang dulu mengisi kesepian rumah besar itu. Kini apalah arti hidup mereka, hanya hampa dan kosong.


Hampir setahun Adam pergi, selama itu pula luka di hati Medina menganga dan membasah. Kerinduan yang terpendam menambah sakit luka itu. Bagai luka yang disiram dengan air garam, begitu pedih begitu perih.


Medina kini kembali bekerja di butik Zaskia untuk sedikit melupakan kesedihannya. Bukan karena uang, cuma sebagai pengalih perhatiannya. Agar tak selalu bersedih jika mengingat Adam, si bocah lucu. Namun, ketika Medina bertemu dengan Kei, dia akan mengingat kembali buah hatinya, menambah kerinduannya. Jika sudah begitu Medina akan membawa Keira ke rumahnya. Sehingga tak jarang Keira menginap di rumah Medina. Zaskia yang memahami keadaan Medina memakluminya, sehingga memberi izin pada Medina untuk membawa Keira.


Medina begitu menyayangi Keira. Ia menganggap Keira seperti putrinya sendiri. Keira juga sudah terbiasa dekat dengan Medina. Apapun Medina berikan pada Keira, karena begitu sayangnya. Kadang-kadang Keira menanyakan Adam, gadis itu juga sangat merindukan Adam. Membuat hati Medina semakin teriris.


"Ki, ini baju pesanan dari keluarga Affandi sudah datang. Totalnya ada tiga puluh enam baju. Dua puluh empat potong baju gamis, dan sisanya dua belas potong kemeja. Benar kan Ki? Motif dan warnanya benar yang ini kan?" tanya Medina menghitung baju seragam keluarga yang baru datang.


"Sebentar." Zaskia melihat catatan pemesanan di bukunya dan mencocokkannya dengan baju yang baru datang.


"Bagus, semua sesuai pesanan. Nanti kamu hubungi Nyonya Affandi ya, Me. Soalnya aku kemarin bilang lusa datangnya. Aku tak menyangka jika hari ini sudah tiba," kata Zaskia menghitung kembali jumlah baju pesanan.


"Siap bos," kata Medina tersenyum.


"Me? Kamu nggak papa? Kok hari ini pucat banget?" tanya Zaskia khawatir. Zaskia baru menyadari jika wajah sahabatnya pucat tak seperti biasanya.


"Aku nggak papa Ki. Aku baik-baik saja. Mungkin kurang tidur. Kamu tahu sendiri, aku sering insomnia." Medina memaksakan senyumnya. Sebenarnya kepala Medina sangat pusing. Namun ia tak ingin membuat sahabatnya khawatir.


"Beneran Me? Kamu pucat, kamu pulang saja sana!" kata Zaskia.


"Nggak Ki, aku beneran nggak papa," tolak Medina.


"Ya sudah kamu duduk saja dulu. Biar semua diselesaikan Laila."


"La," panggil Zaskia.


"Iya mbak Kia. Ada apa?" tanya Laila.


"Kamu angkat semua baju ini ke rak sebelah sana ya? Setelah itu kamu telepon Nyonya Affandi. Nomornya cari saja di meja itu. Ada di buku telepon," perintah Zaskia.


"La, jangan biarkan Me mengerjakan apapun, dia sedang kurang sehat."


"Baik Mbak." Laila mulai mengerjakan apa yang disuruh Zaskia.


"Kia, jangan memanjakan aku seperti ini. Ini nggak adil. Kasihan Laila, aku kan juga pegawai di sini," protes Medina.


"Sudah, jangan membantah! Atau aku telepon Ray," ancam Zaskia.

__ADS_1


"Please Ki ... jangan dikit-dikit telepon Mas Ray. Kasihan dia, sudah terlalu banyak menanggung beban," kata Medina memohon.


"Makanya turuti perkataanku! Atau aku akan memberitahu Ray kalau kamu nggak enak badan."


"Iya, iya. Aku akan duduk saja." Medina mengalah menyadari tak akan mampu melawan sahabatnya itu.


"Apa mau aku antar ke dokter, Me?" tanya Zaskia seraya mencocokkan stok barang dengan catatannya.


"Nggak usah Ki. Nanti aku minum paracetamol juga enakan," tolak Medina kembali. Zaskia berdecak sebal melihat sahabatnya yang begitu keras kepala.


"Me. Kamu jangan kecapekan ya? Kalau butuh apa-apa panggil Laila saja. Aku harus pergi ketemu klien," kata Zaskia seraya meraih tas tangannya.


"Iya ... bawel," protes Medina.


"La!"


"Kamu bantu Mbak Me ya kalau dia butuh apa-apa."


"Iya Mbak. Siap," jawab Laila.


"Ya sudah aku pergi ya?" Akhirnya Zaskia pergi meninggalkan tempat itu.


"Permisi, saya mau cari baju untuk pesta pertunangan," kata seorang tamu yang baru saja datang beberapa saat setelah kepergian Zaskia.


"Ah, bukan saya. Saya hanya kakak dari mempelai wanita."


"Oh, mari bajunya di sebelah sana." Medina menunjukkan gaun-gaun cantik.


"Ini model yang klasik. Terkesan anggun dan elegan. Ini ada warna cream, dusty dan putih." Medina menjelaskan.


"Kalau ini model yang terbaru. Namun, sedikit terbuka. Karena memang dirancang untuk menampilkan kesan seksi dan mempesona. Ini warnanya bermacam-macam. Kalau nanti sesuai, akan saya bawakan stoknya dari gudang," kata Medina lagi. Medina mencoba menahan sakit kepalanya yang terasa semakin menusuk.


"Silakan anda pilih dulu, nanti kalau ada yang sesuai silakan beritahu saya. Saya permisi ke toilet sebentar," pamit Medina.


Baru saja ia membalikkan badan. Tiba-tiba pandangannya gelap, tubuhnya ambruk lemas tak berdaya.


Brukkk


"Eh, Mbak ... Mbak kenapa?" Pengunjung butik itu terkejut melihat Medina yang tiba-tiba tumbang.


"Tolong! Tolong!" Pengunjung itu panik dan berteriak minta tolong.


"Eh, Mbak Me ...." Laila yang membawa setumpuk pakaian segera meletakkan di atas meja dan menghampiri Medina yang jatuh pingsan.


"Ada apa ini, Mbak?" tanya Laila pada pengunjung butik itu

__ADS_1


"Tadi Mbak ini membantu saya memilih baju. Dia pamit ke toilet, Eh.. Tiba-tiba mbaknya jatuh pingsan."


"Ya Allah, bagaimana ini? Apa aku harus menghubungi Mbak Zaskia ya? Mau telepon suami Mbak Me, aku nggak tahu nomornya."


"Ya sudah deh, telepon Mbak Zaski saja," Laila memutuskan untuk menghubungi Zaskia.


Tut tut tut


Telepon tersambung, tak lama Zaskia mengangkat telepon dari Laila.


"Mbak Zaskia, gawat," kata Laila panik


"Gawat kenapa, La? Ngomong yang jelas," teriak Zaskia karena terkejut.


"Anu Mbak, anu ... Mbak Me tiba-tiba pingsan. Saya nggak punya nomor suaminya. Ponsel Mbak Me juga dikunci dengan pola, saya tidak tahu cara membuka kuncinya," kata Laila menjelaskan.


"Ya sudah, aku kembali ke butik. Kamu coba sadarkan Me. Ada minyak putih di laci meja."


"Baik Mbak, cepat ya Mbak. Mbak Me pucat banget soalnya."


Akhirnya Zaskia memutar balik mobilnya kembali ke Butik. Ia segera menghubungi kliennya untuk menunda pertemuan sampai nanti sore. Beruntung, klien Zaskia mau mengerti setelah mendengar cerita dari Zaskia.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku baca komentar-komentar kalian. Aku terharu readers menunggu updateanku. Jadi aku kasih satu episode lagi hari ini.


Atas permintaan kalian aku kebut ketiknya. Disela-sela kesibukanku. jadi hargai ya? dengan kasih like Vote.


Jangan lupa klik favorit untuk mendapatkan pemberitahuan update.


Thankyou.

__ADS_1


__ADS_2