
"Ap-apa? Jadi istri Mas ini cemburu? Ya Allah ... aku kira ...." Ray tertawa bahagia. Tak menyangka Medina yang biasanya datar mempunyai rasa cemburu untuknya.
" Sudah jangan tertawa!" Medina sangat malu. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Me, Almira itu cuma teman nggak lebih."
"Kamu nggak tahu saja Mas, bagaimana dia menatap kamu tadi," kata Medina dengan cemberut.
"Wah ... sedetail itu ya kamu memperhatikan dia?" tanya Ray tertawa. Hatinya tergelitik mendengar istrinya cemburu. Ray begitu bahagia mengetahui sebesar itu rasa cinta istrinya.
"Dia memang seperti itu sayang, waktu kuliah dulu juga begitu. Bahkan bukan cuma sama Mas. Sama teman yang lain juga begitu kok," kata Ray menjelaskan.
"Tapi aku nggak suka Mas," jawab Medina tegas.
"Ya sudah, untuk selanjutnya kita konsultasi ke dokter yang lain saja. Kamu yang pilih. Tapi nggak boleh dokter cowok lho ya?" kata Ray mengalah.
"Nah, itu Mas juga nggak ikhlas kalau yang periksa Me dokter cowok. Perasaan Medina juga seperti itu Mas waktu Almira menatap Mas Ray dengan intens," kata Medina membela diri. Ray lagi-lagi tertawa bahagia.
"Awas saja kamu Mas! Kalau sampai diam-diam bertemu sama dia," ancam Medina.
"Ya Allah Me ... aku sudah punya kamu. Buat apa aku ketemu Mira? Sudah ah ... kalau berdebat terus kapan jalannya."
Ray segera menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir itu. Entah dia akan membawa Medina kemana lagi.
"Assalamualaikum Oma. Bunda Mutia sudah sampai rumah belum?" Ray berbicara melalui earphone bluetooth, entah kapan Ray menelepon Oma sampai Medina tak tahu.
"Bunda? Kenapa bunda datang?" batin. Medina penasaran.
"Oh, ya sudah kalau sudah datang. Titip Adam ya? Mungkin lusa kami baru pulang."
"Ya sudah, Assalamualaikum ...." Ray mematikan sambungan telepon.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Medina terkejut.
"Ke vila," jawab Ray.
"Vila? Ngapain Mas? Bagaimana kalau Adam mencari kita?" tanya Medina sangat khawatir.
"Nggak akan. Aku kan sudah bilang. Aku sudah bicara sama Adam. Adam bilang oke kok," jawab Ray santai.
"Aku sudah suruh Bunda datang menjaga Adam. Dan kita nikmati saja waktu kita berdua. Jangan pikirkan hal lain. Cuma ada Medina dan Rayga," kata Ray bahagia.
"Masalahnya, aku nggak bawa baju ganti Mas. Kamu juga nggak ngomong dulu," sungut Medina.
__ADS_1
"Kalau aku ngomong, ya nggak surprise namanya. Masalah baju ganti, kamu lihat saja di belakang," tunjuk Ray ke arah kursi belakang. Medina begitu linglung melihat ada satu koper berukuran sedang di sana. Entah kapan suaminya mempersiapkan segalanya.
Akhirnya Medina diam. Dia begitu terkesan pada suaminya. Ray sudah sangat sibuk di kantor. Namun masih sempat-sempatnya memberi kejutan untuknya. Walau sempat menggerutu dan kesal, dalam hati sebenarnya Medina bahagia dengan kejutan yang Ray siapkan. Dan hal itu membuat Medina tambah sayang pada Ray.
Begitu masuk area puncak, mereka disambut dengan udara sejuk dan segar. Pemandangan hijau menghiasi kawasan berbukit itu. Pohon-pohon pinus menjadi penghias di kanan kiri jalan yang menyejukkan hati. Nun jauh di sana terhampar ratusan hektar perkebunan teh. Menambah kesan tenang dan sejuk. Ditambah lagi ada sedikit kabut yang menemani perjalanan mereka.
Satu jam kemudian mereka sampai di vila milik Oma Lidya di daerah B. Beruntung mereka pergi di hari kerja, jadi mereka tidak terjebak kemacetan.
Medina terpana dengan keindahan tempat itu, baru sekali ini Ray mengajak Medina ke situ. Karena vila itu belum lama dibeli oma. Baru sekitar enam bulan. Vila yang cukup besar itu semakin asri di kelilingi luasnya perkebunan teh.
"Bagaimana, kamu suka nggak?" tanya Ray memeluk Medina dari belakang. Ray meletakkan kepalanya di bahu Medina. Menghirup dalam-dalam aroma vanila dari tubuh istrinya.
"Tentu Mas. Terimakasih," ucap Medina berbinar.
"Kalau saja Adam ikut pasti dia akan senang mas."
"Ckk ... ini hari kita. Jadi kita lupakan Adam sebentar ya? Nanti di hari libur Adam, kita bisa mengajak Adam kesini," kata Ray mengeratkan pelukan di perut istrinya. Medina mengangguk, kemudian ia memejamkan mata dan menghirup udara segar dalam-dalam. Membuat seluruh tubuhnya rileks. Kepenatan akan rutinitas sehari-hari hilang seketika.
"Kamu tahu sayang? Perkebunan teh di depan ini adalah hadiah Mas untuk kamu," ucap Ray sembari mengecupi pipi Medina.
"Maksud kamu, hadiah view seindah ini? Tentu aku tahu ini hadiah terindah."
"Iya ... dan juga aku sudah membeli seluruh perkebunan ini dengan keuntungan dari perusahaan kita di Amerika. Aku sudah mengatasnamakan perkebunan ini dengan nama kamu. Jadi ini milikmu sayang," kata Ray tanpa melepaskan pelukannya.
"Iya Mas serius, dan oma juga menghadiahkan vila ini untuk kita. Jadi semua ini milik kita Me."
"Ya Allah Mas. Padahal Mas tak perlu melakukan semua ini. Medina sudah sangat bahagia mendapatkan suami seperti Mas Ray." Kini Medina memeluk Ray dan membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Terimakasih Mas." Medina merasakan kebahagiaan yang begitu dalam. Ia tak minta harta berlimpah, mendapatkan kasih sayang suaminya saja sudah membuatnya bahagia. Kini Ray memberikan hadiah padanya. Tak tanggung-tanggung sebuah kebun teh yang luas. Membuat wanita itu semakin jatuh cinta. Cinta sedalam-dalamnya.
Akhirnya mereka masuk ke vila karena sudah lelah. Vila itu terlihat bersih dan terurus. Karena oma menyewa seseorang untuk menjaga dan menempatinya.
Begitu sampai di lantai dua, di kamar tidur mereka. Ray langsung merebahkan diri di ranjang tempat tidur. Dan karena kelelahan Ray langsung tidur. Medina menggelengkan kepala melihat suaminya yang sudah terlelap. Ia melepaskan kaos kaki suaminya dan beberapa kancing baju suaminya yang terlihat sesak. Agar suaminya nyaman.
Tak lantas ikut tidur, Medina segera mengeluarkan baju-baju mereka dan menatanya di dalam almari yang ada di kamar itu.
Selesai dengan kegiatannya, Medina membuka tirai yang menutupi jendela. Ada jendela besar yang menghadap ke perkebunan teh. Medina takjub dibuatnya. Ia membuka jendela dan keluar menuju balkon. Disana ia dapat memandang ke segala arah. Hamparan perkebunan teh menyejukkan mata dapat dilihat dari sana.
Tiba-tiba sebuah lengan besar melingkar di perutnya. Mengagetkan Medina yang sedang menikmati pemandangan.
"Sayang ...."
"Bobok aja yuk? Dingin."
__ADS_1
"Sebentar, lihat Mas! Asri banget di sini," kata Medina.
"Nanti kalau kita sudah tua, tinggal di sini saja ya Mas. Biar rumah itu Adam atau anak kita yang lain yang menempati," kata Medina.
"Kamu mau tinggal di desa seperti ini? Jauh dari mall. Susah sinyal," kata Ray.
"Tentu mau. Asal sama kamu Mas," kata Medina.
"Oke, tapi berdua saja ya? Anak kita sudah dewasa nggak boleh ikut. Biar mereka tinggal di rumah Oma saja," kata Ray tertawa.
"Dasar mesum!" kata Medina mencubit pipi Ray.
"Cuma di mulut itu bukan mesum namanya. Yang namanya mesum kayak gini nih ....."Ray mengangkat Medina dan membawa masuk ke dalam kamar. Dibaringkannya Medina di ranjang. Ray segera menutup dan mengunci jendela tanpa menutup tirainya.
Ray segera naik ke atas ranjang menyusul Medina.
"Me, Mas cinta sama kamu," kata Ray yang telah berbaring di samping istrinya. Kini mereka tidur berhadapan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku stop dulu adegan mesra-mesranya. Simpan sebagian buat besok. Jadi pantengin terus ya.
Semoga mas Ilham datang memberi aku inspirasi biar bisa menghibur kalian.
Jangan lupa ya aku ingetin tanpa bosan. Klik like dari awal episode buat dukung karyaku ini. Klik favorit untuk mendapatkan pemberitahuan update.
Dan aku tunggu vote serta komentar kalian ya.
Terimakasih.
__ADS_1