
Dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata lelaki tampan itu kembali ke rumah. Ia mengemudikan mobilnya dengan perasaan yang campur aduk. Antara sedih, kecewa, dan marah.
Perkataan opanya terngiang-ngiang di telinganya. Benarkah ada rahasia besar itu? Ataukah ini semua hanya karangan opanya semata? Pikiran Adam menjadi sangat kacau gara-gara perkataan Ilham.
Tak butuh waktu lama, dua puluh menit Adam sudah sampai di rumahnya lagi. Waktu belum terlalu malam, waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Adam bergegas masuk dan ingin mempertanyakan segalanya. Menuntut kejujuran mama dan papanya.
Adam masuk dengan tergesa, rumah lumayan sepi. Sayup-sayup Adam mendengar suara televisi di ruang keluarga. Adam yakin itu mama dan papanya. Setengah berlari Adam naik menuju ruang dimana mama dan papanya berada.
"Ma ... Pa ...," panggil Adam dengan nafas terengah dan peluh membasahi tubuhnya.
"Kenapa Adam? Apa terjadi sesuatu?" tanya Ray bingung.
"Adam mau tanya sesuatu sama Mama dan Papa, Adam harap Mama dan Papa jawab yang jujur," kata Adam.
"Tanya saja Dam, kalau Papa tahu jawabannya akan Papa jawab." Ray mengambil cangkir kopi miliknya dan menyesapnya.
"Apa benar Adam bukan anak kandung Papa Ray?"
Pyaarrr
Cangkir yang tadinya dipegang Ray terlepas dan jatuh ke lantai hancur berkeping.
Ray diam membisu, mungkin hari itu sudah datang. Hari dimana ia harus jujur dan mengungkap kebenaran pada putranya. Karena rahasia tidak selamanya bisa disembunyikan.
"Jawab Pa!" kata Adam menatap penuh permohonan.
"Ma, katakan yang sebenarnya pada Adam." Lidah Medina terlalu kelu untuk mengatakan segalanya. Ia hanya bungkam tak dapat berkata-kata. Hanya air mata yang mewakili perasaannya saat ini. Ternyata rahasia yang ingin disembunyikan seumur hidup harus terbongkar hari ini.
"Kebungkaman kalian ini sudah cukup menjawab semua pertanyaan Adam. Jadi semua yang dikatakan Opa Ilham benar? Adam bukan anak kandung Papa?"
"Jadi Om Ilham yang bilang begitu?" tanya Ray.
"Iya Pa. Katakan Pa! Apakah benar Adam bukan anak Papa?"
"Dengar dulu ya Nak. Biar Papa jelaskan."
"Papa memang bukan ayah biologis kamu. Tapi selamanya kamu adalah anak Papa Ray, Nak. Bukan anak orang lain." Ray memeluk Adam erat-erat dan menangis.
"Kalian bohong. Kalian tak menyayangi Adam. Jadi ini alasannya kalian tega menjodohkan Adam dengan gadis kampung itu?" kata Adam dengan mata yang penuh dengan air mata.
__ADS_1
"Tidak, Papa dan Mama melakukannya karena kami menyayangimu Nak. Mama dan Papa ingin yang terbaik untuk Adam. Haura adalah yang terbaik untuk kamu," jawab Ray.
"Tidak selalu yang terbaik di mata kalian adalah yang terbaik untuk Adam."
"Sudahlah, ternyata dari awal aku bukan bagian dari keluarga ini. Dan Adam memang tidak punya hak untuk tinggal di rumah ini." Adam menyeka air matanya dan beranjak dari duduknya.
"Adam pergi Ma, Pa ...."
"Nak, jangan pergi! Mama dan Papa sayang kamu," Ray berusaha mencegah kepergian Adam.
"Sudahlah Mas, kalau kasih sayang kita tak terlihat di mata Adam buat apa kita menahannya? Mungkin bagi Adam kita selalu salah. Biarkan saja dia pergi," kata Medina dingin.
"Me! Apa yang kamu katakan?" kata Ray masih memegang lengan Adam.
"Pergilah Dam! Jika memang itu yang kamu inginkan," ucap Medina dengan pandangan kosong.
Adam melepaskan diri dari Ray dan segera pergi dari rumah itu.
"Apakah kamu sadar dengan apa yang kamu katakan Me? Bukankah aku sudah bilang kita harus bersabar?"
"Cukup Mas. Biar dia merenungi segalanya. Dia sudah dewasa. Harusnya dia menyadari pengorbanan kita selama ini. Maaf Mas, anak yang kamu banggakan dan selalu kamu prioritaskan bahkan melebihi kasih sayang Mas terhadap Mikha menjadi seperti itu."
***
Pikiran pria itu begitu kacau. Penampilannya juga sama kacaunya dengan hatinya. Rambut yang biasa tertata rapi kini acak-acakan. Matanya memerah menahan amarah. Entah ia harus marah pada siapa.
Adam menenggak segelas wine lagi, entah sudah gelas ke berapa yang masuk ke dalam kerongkongannya. Rasa panas yang menjalari kerongkongan dan dadanya tiap cairan berwarna merah itu masuk ke dalam tubuhnya tak ia hiraukan. Ia benar-benar membutuhkannya untuk menenangkan pikirannya yang sangat kacau saat ini.
Dua jam berada di tempat yang di penuhi dengan suara musik yang mengusik telinga tak membuat Adam jengah. Ia malah nyaman, duduk sendiri dan menikmati minumannya. Hingga akhirnya, Adam merasakan ia sudah di ambang batasnya. Tak mampu lagi menyesap minuman yang memabukkan itu.
Adam mengeluarkan beberapa lembar uang seratusan untuk membayar minumannya. Adam tersenyum miris. Bahkan uang yang sekarang ia nikmati adalah uang Ray. Ia sadar bahwa ia tak memiliki apa-apa kalau bukan karena Ray.
Dengan langkah sempoyongan Adam menuju mobilnya. Tak menghiraukan pikirannya yang kacau karena minuman, Adam memaksakan diri untuk mengendarai mobilnya, pulang.
Ia ingin pulang ke rumah Isabella. Adam tak mau pulang ke rumah Ray lagi. Ia merasa bukan bagian keluarga itu. Hanya wanita itu yang ia punyai. Walau entah apakah wanita itu mau menerimanya lagi atau tidak jika ia jatuh miskin.
Setengah jam lelaki itu memaksakan diri mengemudi. Hingga akhirnya ia sampai di rumah Isabella. Hari sudah tengah malam. Dapat dipastikan kalau gadis itu sudah tidur.
Adam menyender ke dinding dan mengetuk pintu dalam keadaan setengah sadar, matanya terpejam. Lama ia menunggu, namun Isabella tak juga membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
Adam meraih ponselnya dan menghubungi Isabella. Sekali dua kali tak diangkat, Adam jadi kesal. Baru yang ketiga kali, Isabella mengangkat panggilannya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Halo."
"Issy, aku di depan. Buka pintunya sayang."
"Buat apa Mas kemari? Bukankah Mas tadi meninggalkanku di rumah sakit sendirian?" tanya Isabella marah.
"Sudahlah sayang, buka pintunya dulu," pinta Adam.
"Isshhhh ...."
Tut tut tut
Panggilan diputuskan oleh Isabella.
Tak lama terdengar langkah kaki menuruni tangga dan lampu ruang tamu dinyalakan.
Pintu terbuka dan Isabella menyambut Adam dengan muka masam.
"Apa lagi?" tanya Isabella ketus.
"Kamu nggak menyuruh Mas masuk?" tanya Adam tak mempedulikan kemarahan Isabella. Tak menjawab, Isabella meninggalkan Adam dan duduk di sofa ruang tamu.
Adam mengikut dari belakang dan ikut duduk di samping Isabella. Tanpa ragu Adam segera memeluk kekasih hatinya itu.
"Lepasin ... kamu minum?" tanya Isabella mencium bau alkohol yang menyeruak ke dalam hidungnya. Adam menganggukkan kepala.
"He-em, sedikitt saja," jawab Adam tertawa miris.
"Kamu apa-apaan sih Mas? Biasanya juga nggak mau minum?" tanya Isabella merasa pelik.
"Isabella ... aku sekarang nggak punya apa-apa. Aku pergi dari rumah, apakah kamu akan meninggalkanku kalau aku jatuh miskin seperti ini?"
"Ap-apa?"
"Tentu tidak Mas. Aku akan tetap bersamamu," jawab Isabella ragu.
"Benarkah? Terima kasih sayang." Adam memeluk Isabella dan menyandarkan Kepalanya yang terasa berat di pundak kekasihnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Apakah kamu benar-benar jatuh miskin? Sial, padahal sedikit pun aku belum mendapatkan apapun darimu." batin Isabella kesal.