Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Keputusan Haura


__ADS_3

"Bagaimana Rara? Apakah kamu mau menikah dengan Adam, putra Paman Ray?" tanya Ibrahim pada putri sulungnya.


"Beri keputusan kamu, Ra. Sudah sejak tiga bulan yang lalu mereka menawarkan perjodohan, tapi kamu belum juga memberikan jawaban."


"Haruskah ayah? Tapi ...."


"Tapi apa Rara?"


"Rara mencintai Alvian, Yah. Dan Haura ingin menikah dengan Alvian," ucap gadis itu sedikit takut.


"Apakah Vian berniat memperistri kamu Kapan dia akan melamar kamu?" tanya Ibrahim.


"Be-belum tahu Yah. Vian harus menyelesaikan pendidikanya terlebih dahulu."


"Lalu apakah ia akan melamarmu setelah menyelesaikan pendidikannya?" tanya Ibrahim lagi. Haura menggeleng sedih, teringat ucapan Alvian beberapa waktu yang lalu. Alvian belum siap untuk membina rumah tangga dengannya. Ibrahim menghela nafas panjang, entah bagaimana ia harus bersikap. Tak mungkin menunggu Alvian yang belum tentu serius menjadikan Haura sebagai istri.


"Tadi paman Ray menelepon ayah. Ingin segera mendapatkan jawaban dari kamu. Jika kamu bersedia maka akhir minggu ini Adam akan datang meminang. Mereka ingin jawaban kita secepatnya."


Deg. Jantung Haura berdegup kencang,


"Berikan Haura waktu dua hari ya Ayah. Haura akan menghubungi Alvian dulu dan juga mempertimbangkan masak-masak," pinta Haura.


"Baiklah Nak. Sambil kamu pikir baik-baik. Masa kamu mau hidup susah seperti ini sepanjang waktu," ucap Ibrahim pergi meninggalkan putrinya yang masih duduk di lantai kayu. Bukan berniat materialistik tapi Ibrahim berharap anak-anaknya tak lagi hidup miskin seperti sekarang. Haura semakin bimbang, ia merasa bersalah jika secara tidak langsung melawan perintah ayahnya.


Haura segera menghubungi Alvian. Ia menekan nomor kekasih hatinya. Sekali dua kali tak dijawab. Haura menjadi gelisah. Hingga panggilan ketiga Alvian mengangkat telepon darinya.


Sementara itu di Bandung, Alvian tengah mengerjakan tugas kelompok bersama teman-teman sekampusnya. Tiba-tiba ponsel Alvian berbunyi. Ia segera pamit pada teman-temannya untuk mengangkat telepon dari kekasihnya.


"Assalamualaikum. Iya Rara,ada apa?" Suara Alvian terdengar sedikit kesal dari seberang sana.


"Waalaikumsalam Vian, Haura ingin bicara penting. Tolong dengarkan sebentar saja."

__ADS_1


"Ra ... nanti saja ya, Vian hubungi lagi. Vian sedang mengerjakan tugas bersama teman-teman. Tak enak jika meninggalkan diskusi terlalu lama," jawab Vian langsung mematikan telepon dari Haura karena benar saja teman-temannya sudah menunggu di gazebo sebuah kafe.


"Tapi Vian ... halo ... halo ...." Haura kecewa dengan sikap Alvian. Bagaimana dia bisa membuat keputusan, sedikit pun Alvian tak mendengarkan perkataannya.


"Vian, tak bisakah kamu mendengar kata-kataku sebentar saja? Rara bingung harus memutuskan bagaimana. Haruskah Rara menikah dengan lelaki lain? Ya Allah, apakah ini sudah menjadi takdir Haura? Apakah lelaki asing itu adalah jodoh hamba?" batin gadis itu sedih.


Tak terasa air mata membanjiri wajah ayu gadis kampung itu. Ia begitu dilema.


***


Langit gelap gulita, angin berhembus kencang dan petir menyambar-nyambar. Seolah tengah mencari mangsa yang siap disambar kapan saja. Air laut sedikit bergemuruh. Sepertinya akan ada badai besar.


Ibrahim masih duduk tenang menonton acara televisi. Beruntung lelaki tua itu tidak melaut. Mungkin jika ia pergi ke laut akan membuat risau anak-anaknya yang berada di rumah. Mengingat cuaca yang sangat tidak bersahabat.


Hana dan Fauzan terlihat sedang belajar, mengerjakan PR mungkin. Haura duduk di tepi jendela memandang ke arah laut. Pikirannya menerawang jauh, memikirkan kata ayahnya dan bagaimana ia harus membuat keputusan. Dua hari waktu yang diberikan ayahnya, berlalu dengan cepat. Haura begitu dilema. Satu sisi tak ingin mengecewakan ayahnya dan di sisi lain, tak ingin menghianati Alvian.


Rambut gadis cantik itu menari diterbangkan oleh angin. Kadang menutup wajah ayunya yang sedikit sendu, membuat gadis itu berkali-kali menyelipkannya di belakang telinga. Tatapan matanya kosong, raut wajah Haura begitu muram, semuram alam yang seakan ikut berduka. Ia masih asyik dalam dunia khayalannya sampai ia dikejutkan oleh petir yang menggelegar diangkasa dan juga tetes air hujan yang membasahi pipinya. Ia segera menutup jendela dan menghampiri adik-adiknya yang masih belajar.


"Adek, mari ambil ember untuk tadah air," ajak Haura pada kedua adiknya.


"Baik Kak," jawab mereka bersamaan. Hana dan Fauzan segera berdiri mengikut kakak sulungnya. Mereka bertiga menuju dapur mengambil ember ala kadarnya.


"Cepat Dek! Cepat!" Nanti buku kalian basah," perintah Haura yang cemas jika buku pelajaran adik-adiknya terkena rembesan air hujan. Dengan sigap Hana dan Fauzan meletakkan ember di tempat air yang mengalir dari atap bocor, juga memindahkan buku-buku belajar mereka ke tempat yang kering.


Setelah menata ember, tatapan mata Haura mengarah ke pintu utama yang masih terbuka. Haura segera menuju pintu dan melihat keadaan di luar. Benar saja, ada badai besar di laut. Angin juga bertiup kencang. Pohon kelapa di sekitar laut sampai berayun meliuk-liuk karena angin. Haura segera menutup pintu dan kembali ke dalam.


"Rara ...." panggil Ibrahim.


"Tolong matikan televisi itu Nak," perintah Ibrahim. Haura segera mematikan televisi sesuai perintah sang ayah.


"Ra, bagaimana keputusan kamu? Sudah lewat dua hari Ra."

__ADS_1


Haura mendekat dan bersimpuh di hadapan ayahnya yang duduk di atas tikar. Masih diam belum berucap.


"Bagaimana? Apakah kamu masih tetap mau menunggu Alvian datang meminang? Dan bagaimana tanggapan Alvian?" tanya Ibrahim setelah putrinya duduk.


"Kalau memang semua sudah Allah gariskan. Maka Haura akan menerima perjodohan dengan anak paman Ray," jawab Haura dengan berkaca-kaca. Dadanya begitu sesak mengingat cintanya yang tak kesampaian.


"Tapi ayah, Haura menerima pinangan dari anak paman Ray. Bukan karena dia anak orang kaya, Yah. Haura menerima dia karena semua sudah takdir dari Allah yang menjodohkan dengan anak orang kaya."


"Ayah cuma ingin kamu bahagia Ra. Kalau kamu tak mau sudah Ra. Ayah tak memaksa. Ayah akan menelepon Paman Ray dan menolak perjodohan ini. Ayah hanya ingin kamu bahagia. Ayah ingin menikahkan kamu dengan pria terbaik."


"Ayah berharap kamu bahagia seperti Ayah dan emak. Emak kamu bahagia sampai akhir hayatnya. Pikirkan baik-baik Ra, jangan sampai kehidupan kamu seperti ini terus. Masak mau miskin ... terus. Tapi Ayah tak mau memaksa jika kamu tak mau." Tak terasa air mata mengalir dari mata tua Ibrahim.


Haura menangis, ia mendekat pada ayahnya dan menggenggam tangan Ibrahim. Ia menyandarkan kepalanya di pangkuan ayahnya. Menangis, meluapkan seluruh kesedihannya. Ibrahim merengkuh putrinya ke dalam pelukannya. Merasa bersalah telah memberikan pilihan yang sulit untuk putrinya. Tapi semua ia lakukan demi kebaikan Haura. Ibrahim tak ingin lagi Haura hidup kekurangan seperti selama ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan readers semua 😘😘😘


__ADS_2