
Anak lelaki itu berjalan-jalan menyusuri mall sendirian. Opanya masih menyelesaikan pekerjaannya dan berjanji akan meyusulnya. Bocah itu berjalan berkeliling untuk menghilangkan kebosanan menunggu opanya. Namun, ia terkejut dengan suara yang dikenalinya tiba-tiba memanggil namanya. Membuat jantungnya berdegup kencang. Apakah ia tak salah dengar?
"Adam," teriak wanita yang tengah menggendong bayi itu di sebuah pusat perbelanjaan di kota itu.
"Adam!" wanita itu mengeraskan suaranya dan memanggilnya lagi.
Semula wanita itu ragu, takut salah orang atau ia hanya berhalusinasi. Namun, ketika ia memperhatikan betul-betul, ia yakin tak salah orang. Bocah yang menyandang slingbag dan memakai topi itu memang putranya. Wanita itu segera berlari mengejar sosok yang ia panggil itu.
Yang dipanggil menoleh, menyadari orang yang dirindukannya yang memanggilnya. Ingin ia segera berlari dari tempat itu. Namun seakan beku, ia tetap diam di tempat. Tak mampu sekedar memutar badannya dan berlari menjauh. Bibirnya terkatup rapat membisu. Matanya berkaca-kaca menyiratkan sebuah rindu dan juga sakit yang teramat.
Dengan dipenuhi linangan air mata, bocah itu memandang wajah ibunya yang ia rindukan selama dua tahun lebih ini. Namun, ketika pandangannya beralih ke sosok mungil di pelukan ibunya, hatinya menjadi sakit. Seolah ada ribuan jarum yang menancap begitu dalam.
"Adam, sayang ...."Medina menghambur memeluk bocah tampan yang kini tingginya sudah sepundak ibunya.
Suara Adam tercekat, tak mampu berkata apapun. Ingin ia memanggil wanita yang memeluknya dengan sebutan mama. Namun, hati kecilnya memberontak. Menyuruhnya untuk tak lagi berharap akan kasih sayang yang sekarang sepenuhnya menjadi milik bocah kecil yang tengah tertidur itu. Tak ada lagi dirinya di kehidupan mereka.
"Adam, Mama rindu nak. Kamu baik-baik saja? Selama ini Adam kemana? Mama hampir mati memikirkan Adam," Medina menangis tersedu-sedu tak lagi mempedulikan tatapan orang di sekitarnya.
"Maaf, anda salah orang. Saya bukan Adam," elak bocah itu. Dengan segala upaya, ia menahan diri untuk tidak menangis. Ada sedikit getaran di suaranya ketika berbicara dengan mamanya.
"Tidak, Mama nggak mungkin salah. Kamu Adamnya Mama."
"Sayang ...," panggil Ray dari kejauhan. Ia belum melihat sosok yang tertutup tubuh Medina. Medina yang terlalu fokus melepas rindu pada Adam tak menghiraukan panggilan Ray.
Ray heran. Istrinya tengah berbicara dengan siapa sehingga mengacuhkannya. Dengan langkah yang tergesa, ia menghampiri mereka bertiga.
"A-Adam." Kini giliran Ray yang terkejut dan berkaca-kaca setelah melihat Adam yang berdiri di depannya.
"Adam, kamu kemana saja, Nak? Papa rindu." Ray memeluk putranya erat-erat.
"Aku sudah bilang, aku bukan Adam," sanggahnya sedikit emosi melepaskan pelukan Ray.
"Nggak, kamu Adam. Anak Mama dan Papa,"kekeh Ray.
"Mari pulang sayang, kami begitu merindukanmu, Nak," ajak Ray dengan lembut. Orang yang berlalu lalang semakin bertanya-tanya dengan drama yang tengah terjadi. Semua orang memandang aneh.
__ADS_1
"Adam, ayo pulang!" Suara Ilham membuat perhatian mereka teralih.
"Om ilham," ucap Ray dan Medina berbarengan. Medina mengepalkan tangan marah. Ingin rasanya ia meninju wajah mantan mertuanya yang sudah menghancurkan kebahagiaannya.
"Apa kabar Medina? Ray?" tanya Ilham tanpa rasa malu. Pria itu bicara seolah ia tak. pernah melakukan kesalahan apa pun.
"Apa maksud Om Ilham menculik anak kami?" tanya Medina marah. Hatinya kini terbakar emosi.
"Apa yang anda lakukan pada anak kami? Sehingga Adam seperti tak menginginkan kami lagi?" tanya Medina lagi. Medina begitu marah dengan perubahan putranya.
"Om akui Om salah telah mengambil Adam. Tapi Adam adalah cucu Om, jadi sah-sah saja jika Adam ikut dengan opanya. Kami mempunyai hubungan darah sehingga tidak dapat dikategorikan dengan penculikan," kata Ilham meremehkan.
"Saya tak pernah melakukan apa pun, tanyakan sendiri pada Adam."
"Adam, sekarang kamu pilih. Kamu mau tinggal dengan siapa? Mau tinggal dengan Opa atau kembali ke rumah papa kamu?" tanya Ilham.
Adam menjadi bimbang, ingin ikut siapa. Namun, lagi-lagi ketika ia melihat baby Mikha ia menjadi benci. Adam tak menyukai bocah yang merebut kasih sayang mama dan papanya.
"Adam ikut Opa saja," jawab Adam dingin.
"A-Adam ...." bocah itu bimbang. Setelah memperhatikan wajah adiknya yang lucu, perasaannya menjadi tak karuan. Ingin ia memeluk bayi itu dan memanggilnya adik.
"Lihat Nak. Mikha pasti bahagia bermain dengan kakak Adam." Kini giliran Ray yang membujuk.
Tangan Adam terulur menyentuh hidung bayi itu, membuat hatinya berdesir. Namun, perkataan opanya kembali terngiang di kepalanya. Gara-gara baby Mikha ia kehilangan kasih sayang orang tuanya dan terlupakan. Hatinya mengeras lagi, ia membulatkan tekad untuk memilih tinggal dengan opanya.
"Maaf Ma, Pa. Adam ingin tinggal di rumah Opa saja," jawab Adam getir. Dengan susah payah ia menelan salivanya. Begitu sakit ketika ia menolak mama dan papanya.
"Kenapa jadi begini, Nak? Apa kamu tak bisa ikut Mama dan Papa?" Medina menangis meraung-raung mendengar penolakan dari putranya.
"Mama dan Papa sudah punya Mikha, sekarang Adam tak dibutuhkan lagi," jawab Adam ketus.
"Itu tidak benar, Nak."
"Sudah, Adam mau pulang ikut Opa. Adam tak mau lagi bertemu dengan kalian," jawab Adam berlari meninggalkan kedua orangtuanya dan adiknya.
__ADS_1
Medina menangis meraung-raung mendengar kalimat terakhir yang Adam ucapkan. Putra kecilnya sudah berubah. Entah karena apa, bocah itu menjadi asing. Luka dihati Medina dan Ray yang sempat membaik, kini menganga kembali. Sakit, teramat perih.
Adam POV
Aku tak menyangka akan bertemu mama. Aku bingung harus bersikap apa. Aku merindukan mama. Ingin aku memeluk mama erat-erat. Ingin aku meluapkan tangis dan mengatakan betapa aku merindukan mereka. Tapi aku sadar aku tak diharapkan lagi.
Sekuat tenaga aku menahan diri untuk tidak menangis. Aku mengingat selama ini mereka bahkan tak mencariku. Menambah rasa sakit hatiku. Aku sudah dibuang.
Aku memilih untuk tetap tinggal bersama opa. Aku menolak mereka. Dengan susah payah aku berkata jika aku tak ingin bertemu mereka lagi. Kulihat mama dan papa menangis. Dan itu membuat hatiku semakin teriris dan ingin kembali kepada mereka. Tapi tidak, aku tak sanggup. Oh mama oh papa maafkan Adam. Adam tak bisa kembali. Adam terlalu takut, terlalu pengecut ketika nanti kasih sayang kalian hanya kalian curahkan untuk Mikha.
Adam POV End
.
.
.
.
.
.
.
.
Dari awal aku sudah bilang, aku akan membuat sad stori. Jadi memang alurnya seperti itu. Maaf jika tidak sesuai harapan readers. Saya sudah berusaha yang terbaik. emang dari awal sudah author konsep seperti ini.
Bagi yang bosan atau tak suka boleh pindah ke lapak lain ya. Saya tidak memaksa untuk tetap membaca karya saya.
Oh ya.. aku sedang mencoba menulis novel bergenre action komedi mampir ya.. tinggalkan jejak.
"Dua Polisi Tampan"
__ADS_1
Terimakasih