
Ibrahim mulai terusik dengan keberadaan Adam di depan rumahnya. Apalagi bisik-bisik tetangga mulai menyapa telinga Ibrahim. Mampu membuat telinga lelaki paruh baya itu memanas. Laki-laki yang ia kira akan menyerah, ternyata masih bertahan sampai empat hari dengan tak gentar. Enggan pergi dari rumahnya barang sejengkal pun.
Ibrahim tak menyangka jika menantunya akan segigih itu. Hampir saja ia akan luluh dan memaafkan menantunya begitu saja. Namun ketika ia membayangkan air mata putrinya, ia menjadi teguh pendirian lagi. Ia harus memberi pelajaran dan memastikan jika lelaki itu tak akan menyakiti hati putrinya lagi.
Ibrahim memang bertekad untuk memaafkan menantunya. Karena ia tak tega melihat kesedihan di wajah putrinya. Ada penderitaan terkandung di mata Haura, ketika ia melarang Haura kembali pada Adam. Sehingga Ibrahim yakin Hauranya telah jatuh cinta pada suaminya.
Apalagi Ibrahim selalu diam-diam mengintip putrinya yang selalu memperhatikan Adam dari lubang jendela di setiap malam. Membuat hati Ibrahim begitu sakit, karena sudah memisahkan pasangan itu. Tapi ini semua demi kebaikan putrinya. Agar kedepannya Adam tak lagi merendahkan atau menyakiti Haura lagi.
Di hari kelima, pagi-pagi buta Ibrahim melihat menantunya yang masih tidur di dalam mobil. Ada rasa kasihan dan tak tega. Menantunya terlihat begitu lelah. Akhirnya Ibrahim memutuskan untuk memberi tantangan pada menantunya itu, agar ia percaya dengan kesungguhannya untuk kembali pada Haura. Pembuktian rasa cinta lelaki itu untuk putrinya.
Tuk tuk tuk
Ibrahim mengetuk kaca jendela mobil Adam. Adam menggeliat dan meregangkan tubuhnya yang kaku dan sakit semua. Ia membuka mata perlahan. Belum sepenuhnya sadar dengan kehadiran Ibrahim. Baru ketika ia menoleh ke samping, ia jadi kikuk dan salah tingkah.
Adam segera turun dari mobil dan berdiri di hadapan mertuanya.
"Kamu yakin ingin kembali pada Haura?"
"Iya Yah. Adam sangat mencintai Rara. Adam berjanji akan membahagiakan putri ayah."
"Yang Ayah perlukan bukan janji tapi bukti."
"Bagaimana Adam harus membuktikannya Yah?" tanya Adam meneguk salivanya susah payah. Ia yakin mertuanya akan memberi syarat yang susah.
"Benarkah kamu mau melakukan apa yang Ayah pinta?"
"InsyaAllah Yah. Adam sanggup," jawab Adam mantap.
"Bagus! Ayah ingin kamu menangkap kerang mutiara sebanyak 100 ekor. Tidak boleh kurang. Ayah memberimu waktu seminggu. Jika gagal kamu harus melepaskan Haura dan pergi dari sini." Adam menelan salivanya susah payah. Ia tahu, ini bukan hal mudah. Apalagi ia tak memiliki pengetahuan apa pun tentang laut dan melaut.
__ADS_1
"Bagaimana, apa kamu sanggup?" tantang Ibrahim. Ibrahim sengaja mempersulit Adam, karena memang menangkap seekor kerang mutiara saja susahnya minta ampun.
"I-iya Yah. Baiklah, Adam akan berusaha."
"Bagus! Dan ingat Ayah tak ingin kamu curang dengan meminta bantuan orang lain atau apa pun itu. Kalau kamu sampai curang, jangan harap dapat melihat wajah Haura lagi. Dan maka dari itu Ayah ingin kamu sendiri yang mengendarai perahu. Ayah tak mengizinkan orang lain membantumu. Mengenai perahu dan peralatan. Kamu pikir sendiri, bagaimana caranya untuk mendapatkannya."
"Iya Yah. Adam akan berusaha."
***
Sudah tiga hari lelaki itu terombang-ambing oleh ombak di lautan lepas. Rasa mabuk laut yang ia rasakan di awal-awal melaut kini sudah reda. Adam mulai bisa menyesuaikan diri.
Wajah lelaki tampan yang biasanya putih bersih kini berubah menjadi coklat karena terbakar matahari. Namun tak mengurangi kadar ketampanan lelaki itu. Ia terlihat seksi dan eksotis. Walau tubuh kekarnya yang biasa terbungkus kemeja bagus, kini hanya berbalut kaos lengan panjang ala nelayan. Dengan topi caping di kepalanya yang ia gunakan untuk mengurangi sengatan matahari. Adam masih terlihat mempesona.
Lelaki itu dengan gaya kikuk dan tak terbiasa melemparkan jaring mencari makhluk laut yang ia inginkan. Meski belum berhasil ia pantang menyerah. Ia menebar jaring lagi, lagi dan lagi. Berharap dapat memenuhi permintaan dari mertuanya.
Walau sebesar apa pun usaha Adam namun tak seekor kerang pun yang ia dapatkan. Adam bahkan tak yakin, jika di laut itu terdapat kerang mutiara. Namun, demi Hauranya ia harus berusaha untuk menepati janjinya pada ayah mertua. Ia tak kenal lelah mencari kerang yang mertuanya inginkan. Tanpa istirahat lelaki itu melaut berbekal dengan pengetahuan yang ia dapatkan dari g**gle.
Adam masih berusaha walau hampir hilang semangat. Sampai akhirnya ia berhasil menangkap beberapa kerang yang Ibrahim inginkan. Semangatnya yang luntur datang kembali. Ia berusaha untuk mendapatkannya. Hingga malam hari lelaki itu berhasil mendapatkan banyak kerang mutiara. Sayang, jumlahnya belum mencukupi.
Dan hari sudah malam ketika Adam masih berusaha mendapatkan kerang lagi. Hingga guntur menggelegar nuh jauh di sana. Membuat Adam sedikit khawatir akan adanya hujan yang akan datang. Namun, jika mengingat wajah polos Haura. Semangatnya lagi-lagi membara. Jangankan hujan badai pun akan ia hadapi.
Dan benar saja, tak berapa lama. Angin bertiup kencang. Guntur semakin menyambar-nyambar di angkasa. Membuat nyali Adam sedikit menciut. Tapi lagi-lagi karena batas waktu tinggal dua hari, ia bertahan. Ia harus mendapatkan sisa kerang lagi.
Adam menarik jaringnya lagi dan beberapa ekor kerang tertarik. Dengan wajah sumringah ia mengambil hasil tangkapannya. Jika begini terus, ia akan berhasil membawa Haura pulang, begitu pikirnya. Karena lengah Adam tak menyadari akan datangnya badai. Ia hanya mengira jika itu angin biasa. Hingga akhirnya ombak besar menghantam perahunya. Adam terpental dan jatuh ke dalam laut. Entah bagaimana nasib pria itu selanjutnya.
***
"Jadi Ayah memberikan syarat yang sulit itu pada Mas Adam?" tanya Haura emosi. Belum pernah ia bicara dengan nada meninggi pada ayahnya. Hanya saja saat ini ia merasa apa yang dilakukan Ibrahim keterlaluan.
__ADS_1
"Apa salahnya? Ayah ingin menguji dia."
"Bukankah Ayah tahu, kalau sulit mendapatkan kerang mutiara barang seekor pun. Bagaimana bisa Mas Adam mendapatkan seratus ekor?"
"Ayah ingin melihat kesungguhannya padamu. Ayah ingin membuktikan padamu jika dia bukan yang terbaik untukmu."
"Bukankah keteguhan Mas Adam menunggu Haura selama ini sudah membuktikannya, Yah."
"Ayah tak percaya jika dia mau bersusah payah di tengah lautan. Lihat saja sebentar lagi dia akan menyerah."
"Hah ... kenapa Ayah tak mempercayai ucapan putri ayah sendiri? Haura mencintai Mas Adam Yah. Kebahagiaan Haura adalah Mas Adam. Mas Adam sudah berubah. Bukankah seseorang bisa saja mempunyai masa lalu yang buruk? Yang kelam? Bukankah Ayah pernah bilang bahwa yang terpenting seseorang mau bertaubat dan mengubah perilakunya?"
"Tapi Ayah belum yakin Ra. Ayah melihat usaha suamimu. Kita lihat saja nanti Ra."
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maafkan author bodoh jika semakin ngawur ceritanya, mood author lagi memburuk jadinya buntu ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜