
Di akhir minggu itu semua anggota keluarga Ray menuju daerah P. Tujuan Mereka kali ini bukan untuk bersenang-senang. Tetapi ingin mengikat seorang gadis untuk dijadikan calon menantu di keluarga mereka. Calon istri putra kebanggaan mereka, Adam Haikal Azzami.
Ibrahim sudah memberikan kabar dua hari yang lalu. Jika putrinya bersedia untuk menikah dengan Adam. Dan seperti rencana semula, mereka datang meminang di akhir pekan itu.
Ray dan Medina begitu bahagia dengan rencana pernikahan, namun lain dengan kedua anaknya. Anak laki-laki dan perempuan Ray sama muramnya. Adam yang tak menginginkan perjodohan hanya sekedar terpaksa mengikuti ucapan orang tuanya. Sedangkan Mikha yang merasa posisi Keira tergantikan, tak rela jika kakaknya meminang gadis lain selain Keira. Mikha benar-benar tak ikhlas.
Tiga jam perjalanan ditempuh, akhirnya mereka sampai di kampung pesisir pantai itu. Dengan wajah berseri Ray dan Medina keluar dari mobil diikuti kedua anaknya yang cemberut. Ray menepuk bahu putranya, menyuruh Adam tersenyum. Dengan terpaksa Adam menuruti kata Ray.
"Dam, ini nanti berikan pada Haura," kata Ray menyerahkan kotak cincin. Adam mengangguk pasrah.
Adam mengedarkan pandangan ke kampung itu, sedikit malas harus ke tempat yang seperti itu. Namun demi mama dan papanya ia bersikap seolah biasa saja.
"Assalamualaikum," ucap Ray ketika sudah berada di depan pintu rumah Ibrahim.
"Waalaikumsalam. Eh, tamu jauhnya sudah sampai rupanya." Ibrahim dan Ray berpelukan.
"Hana, Fauzan, beri salam kepada keluarga Paman Ray," perintah Ibrahim. Keduanya menurut dan menyalami tamu yang baru datang itu. Dari Ray dan Medina sampai Adam dan Mikha.
"Mari, mari masuk." Ray beserta keluarga masuk ke rumah kecil ibrahim.
"Apa kabar Ray sekeluarga?"
"Baik Bang. Alhamdulillah."
"Ah, ini anak perempuan kamu ya Ray?" tanya Ibrahim.
"Iya Bang. Mikha beri salam pada paman Baim," perintah Ray. Mikha menyalami Ibrahim dan tersenyum. Karena Ray selalu mengajarkan agar Mikha selalu menghormati dan bersikap baik pada orang lain. Ia mengesampingkan rasa tak sukanya karena calon iparnya merebut Adam dari Keira.
"Hana ... pergi ke dapur suruh kak Rara membuat minuman. Setelah itu kamu bawa kemari," perintah Ibrahim lagi.
Hana dan Fauzan menurut, dan memanggil Haura yang sebenarnya sudah menyiapkan hidangan untuk tamu yang datang.
Beberapa menit kemudian, minuman beserta makanan sudah tersaji. Mereka duduk menikmati makanan dan minuman sambil bercengkerama.
***
Angin berhembus semilir, tak mengurangi rasa panas dan gugup yang menyerang tubuh Haura. Debur ombak meyiratkan degup jantungnya yang menggila. Karena sebentar lagi ia akan menjadi milik orang asing, tempat ia mengabdi dan menanam pahala nanti.
__ADS_1
Kini kedua insan itu tengah berdiri berdampingan menatap birunya lautan lepas. Keduanya begitu kaku. Tatapan Haura kosong memandang ombak yang berkejaran. Sedangkan Adam juga belum memulai kata, masih bingung atau lebih tepatnya enggan.
"Ehemm." Adam berdehem, ingin segera memulai pembicaraan.
"Apakah kamu yakin akan menikah denganku?" tanya Adam tanpa menoleh ke arah Haura. Kata yang diucapkan begitu dingin melebihi suhu air es di kutub utara.
"Sa-saya ikhlas jika kamu juga ikhlas. Saya tak mau, kamu menikahiku karena terpaksa."
"Benar, aku terpaksa menikah dengan wanita kampung seperti kamu. Kamu tak pantas mendampingiku. Karena yang pantas untukku hanya Issy seorang."
"Huft, jadi kita harus benar-benar menjalani drama perjodohan yang menyebalkan ini?" tanya Adam sinis. Haura diam sebentar. "Saya akan mencoba belajar mencintai kamu setelah kita menikah nanti," ucap Haura mantap.
"Hahhh ...," desah Adam, tak percaya akan menikah dengan gadis udik yang kini berdiri di sampingnya. Dari penampilan gadis itu tak ada yang menarik. Gamis yang besar dan memakai kerudung, tanpa riasan. Sangat berbeda dengan Isabella yang fashionable dan selalu fresh. Membuat Adam sangat muak melihat penampilan calon istrinya.
"Ini ...cincin ini ... sebagai tanda aku akan menikahi kamu," ucap Adam dingin. Adam menoleh sebentar ke arah orang tuanya yang kini memperhatikan mereka. Lalu ia mengambil cincin dari tempatnya dan meraih jemari Haura. Tanpa melihat, ia menyelipkan cincin itu di jari manis calon istrinya.
Haura menatap cincin yang melingkar di jari manisnya dengan tatapan datar. Kini semua sudah berakhir, cintanya, harapannya untuk bersama kekasih hati.
Dari beranda rumah Hana dan Fauzan menyaksikan Adam yang menyelipkan cincin, mereka berdua begitu bahagia. Mereka berdua bertepuk kecil, karena kakaknya akan menikah dengan lelaki tampan dan mapan. Begitu juga dengan orang tua masing-masing. Begitu bahagia, keinginan mereka untuk menjadi besan akan menjadi nyata. Hanya satu orang saja yang memandang dengan masam. Mikha, ia tak rela kakaknya akan menikah dengan wanita selain Keira. Sayang, Mikha tak punya kuasa untuk menghentikan perjodohan ini.
***
"Kamu tahu Ra? Selama empat tahun aku belajar di Bandung. Tak pernah sekali pun aku melihat ke arah wanita lain. Kamu tahu kenapa? Karena aku hanya sayang padamu Ra. Aku mencintaimu. Bertahun aku menjaga perasaanku. Walau hubungan kita belum terlalu jauh, aku berharap aku bisa menjadi pendamping hidupmu. Bisa menjagamu. Tapi apa nyatanya Ra? Kamu akan menjadi milik orang lain."
"Vian, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan perasaan kita. Karena semua sudah terlambat. Aku akan menjadi istri orang lain Vian."
"Ra... Tak adakah perasaanmu untukku sedikit saja?" Alvian memandang Haura dengan mata yang berkaca-kaca, yang siap tumpah kapan saja.
"Vian ... aku ...aku ... mencintaimu sedari dulu. Seumur hidupku hanya kamu yang ada di hatiku. Tapi sekarang lain Vian. Aku harus melupakanmu, melupakan tentang kita. Karena tinggal menghitung hari aku akan menjadi istri orang."
"Tak bisakah kamu batalkan semuanya?" tanya Alvian dengan nada meninggi.
"Tak bisa Vian.Aku tak ingin membuat ayah kecewa. Aku selama ini sudah menunggumu melamarku, tapi kamu tak juga melakukan hal itu."
"Aku ingin menjadi yang terbaik untukmu Ra. Aku ingin mapan dulu, baru menikahimu. Aku terlalu takut tak bisa membahagiakanmu dengan kondisiku yang sekarang."
"Kamu pengecut Vian." teriak Haura. Dadanya terasa sesak mendengar kata-kata Alvian. Semakin sakit, karena cinta yang tak kesampaian.
__ADS_1
"Cukup Vian, aku harus pulang."
"Ra ... aku mohon Ra. Pertimbangkan aku, Ra."
"Tak bisa Vian. Ayah tak akan bisa menerima seorang pengecut sepertimu. Andai saja ... andai saja ...." Haura berlari meninggalkan Alvian sendirian di gubuk itu.
"Haura ... Haura ...," teriak Alvian.
"Aku cinta kamu Haura. Haura, jangan tinggalkan aku! Haura! Kamu kejam Haura, kamu kejam ...." Tubuh Alvian luruh ke bawah hingga ia bersimpuh di pasir putih. Ia begitu frustasi, harus kehilangan wanita yang paling ia sayang. Yang bisa pria itu lakukan hanyalah menangis.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, vote, komen, dan beri 5 bintang ya..
sembari menunggu update readers bisa membaca karyaku yang lain.
1.Klik profil ku
2.Klik karya
3.Pilih dan baca
terima kasih
__ADS_1