
Mikha mengambil sebuah batu dan menggenggamnya erat-erat. Dengan langkah yang mantap, ia semakin mendekati pohon bougenville. Ia mempertajam penglihatan dan pendengarannya. Konsentasi penuh terhadap apa yang entah ingin ia lakukan. Ia mengangkat tangannya siap menimpuk sesuatu di dekat tanaman yang rimbun itu. Hingga pandangan matanya menangkap bayang seorang yang ia kenal, membuat ia mengurungkan niatnya untuk mengayunkan batu itu.
"Kakakkk ...." Batu di tangan Mikha terlepas dan mulut Mikha menganga hampir saja ia berteriak ketika melihat seseorang tengah duduk berjongkok di balik pagar. Sebelum orang itu memberi tanda menyuruh Mikha menutup mulut dengan menggunakan jari telunjuk yang ia letakkan di depan bibirnya.
"Apa yang sedang Kakak lakukan di sini?" tanya Mikha berbisik. Mulutnya komat-kamit berusaha agar Haura tak mendengar percakapan mereka. Bahkan Mikha tak ingin kakak iparnya menyadari jika ia tengah berbicara dengan Adam.
"Dek!" panggil Haura. Mikha jadi gugup, takut ketahuan sedang bicara dengan Adam.
"Iya Kak." Mikha membalikkan badan dan tersenyum agar terlihat senormal mungkin.
"Apa yang kamu lakukan di situ?" tanya Haura merasa aneh.
"Eh, eng-enggak kok. Anu, itu ... Mikha mau menelpon teman. Mau cari sinyal. Kakak masuk saja dulu. Mikha nggak lama kok palingan lima menit nelponnya." Sungguh alasan yang tidak masuk akal, namun hanya itu yang terlintas di kepalanya saat ini.
"Ya sudah, Kakak masuk ya? Kakak mau mandi." Haura beranjak dari duduknya ingin masuk rumah. Mikha lega, kakak iparnya percaya begitu saja. Dan seketika Adam menjulurkan kepalanya ingin melihat wajah Haura. Dan ia melihat wajah kekasih hatinya yang memerah dan berpeluh terlihat sangat cantik di matanya. Membuat jantung Adam berdetak lebih kencang.
Setelah Haura benar-benar masuk ke dalam rumah, Mikha sudah tak tahan untuk mengomel, "Kakak cari mati ya?"
"Apaan sih Dek. Sama Kakak harusnya sopan tahu?" Adam yang sudah lelah berjongkok kini berdiri kembali.
"Bagaimana jika Kak Haura sampai tahu kalau Kak Adam di sini?" tanya gadis itu kesal.
"Yang penting dia nggak tahu kan?"
"Ih, dasar nyebelin. Kenapa Kakak nggak bertamu baik-baik. Malah mengintip seperti maling."
"Ya mau berkunjung bagaimana. Papa bilang Kakak nggak boleh bertemu Haura."
"Kalau Papa bilang nggak boleh, ya sudah jangan datang lagi," ucap Mikha ketus.
"Kamu nggak kasihan sama Kakak?"
"Enggak tuh.Kan Kak Adam sendiri yang salah."
"Iya Kak Adam tahu. Tapi apa kamu mau Kak Adam dan Kak Haura berpisah? Ya sudahlah, kalau Kakak benar-benar tak memiliki pendukung. Lebih baik Kak Adam pergi. Kalau Kak Haura benar-benar meninggalkan Kak Adam, Kak Adam tak mau menikah lagi. Biar saja keinginan kamu buat punya keponakan lucu nggak bisa Kak Adam penuhi," ucap Adam berusaha mempengaruhi Mikha. Mikha jadi berpikir keras dengan ucapan kakaknya. Apalagi ia sekarang sangat menyayangi Haura. Ia tak ingin kehilangan kakak iparnya.
"Tidak, semua ini tidak boleh terjadi. Kak Adam tak pernah main-main dengan ucapannya. Jangan-jangan dia mau menduda seumur hidup. Aku kan pengen juga kayak Val dan Naya yang memiliki adik lucu," batin Mikha kesal.
__ADS_1
"Ya sudah Kakak pulang saja." Adam membalikkan badan ingin pergi dari rumah itu.
"Kak."
"Kenapa lagi? Mau ngadu sama Mama ya?" tanya Adam memutar badan dan memasang wajah pura-pura sedih.
"Enggak, Mikha bukan tukang ngadu ya," sanggah gadis itu.
"Lalu mau apa lagi?"
"Aku mau bantu. Tapi ada satu syarat."
Adam terdiam, dan berjalan mendekat lagi. "Apa?"
"Ehem, okay. Nggak jadi satu syarat, tapi dua." Gadis itu tertawa menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Dasar! Adek Kak Adam memang sudah biasa curang. Apa syaratnya? Kamu mau Kakak beri uang saku sebulan?" Mikha hanya menggelengkan kepala.
"Uang saku yang Papa berikan lebih dari cukup. Jadi Mikha nggak minta itu. Kak Adam dengar baik-baik. Yang pertama, Kak Adam harus berjanji tidak akan pernah menyakiti Kak Rara lagi. Jika itu terjadi lagi. Maka Mikha akan menjadi orang pertama yang membuat kalian berpisah." Adam meneguk salivanya susah payah mendengar ancaman Mikha. Ternyata sudah sedalam itu adiknya menyayangi istrinya.
"Gimana? Sanggup nggak?" Adam buru-buru mengangguk, takut jika Mikha sampai meragukannya. Kali ini ia sangat membutuhkan dukungan dan bantuan dari adiknya.
Adam tersenyum mendengar permintaan sederhana Mikha. Hatinya terenyuh dan sangat tersentuh. Hanya itu? Sesederhana itu permintaan adiknya? Namun sanggup membuat Adam hampir saja menangis. Dengan sedikit gemetar dijulurkannya lengannya yang kokoh diantara pintu pagar. Dengan lembut, ia mengusap kepala Mikha. Adik yang dulu sempat membuat ia cemburu, adik yang dulu suka menempel padanya. Adam sadar, jika ia sangat menyayangi Mikha. Walau mereka berbeda ayah namun mereka lahir dari rahim yang sama. Tak dapat ditampiknya jika ikatan batin mereka cukup kuat.
"Iya Dek. Kakak minta maaf atas sikap kakak selama ini. Kakak minta maaf jika dulu Kakak sudah menolak menerima Kei. Sehingga membuat kamu terluka. Apakah kamu mau memaafkanku?"
"Em, sebentar Mikha pertimbangkan." Gadis itu pura-pura berpikir keras.
"Baiklah, Mikha terima permintaan maaf Kak Adam. Terdengar tulus. Tapi seminggu sekali Mikha mau Kakak datang ke tempat ini bawa dua kotak es krim. Rasa vanilla dan strawberry," sambungnya.
"Yah, kalau begini bukan dua dong. Nambah-nambah terus syaratnya," protes Adam yang sebenarnya tak keberatan dengan syarat yang Mikha ajukan.
"Pelit!" Mikha memajukan bibirnya pura-pura kesal.
"Iya Dek. Iya sayang. Kecil itu mah."
"Ya sudah pulang sana! Tidur! Mata Kak Adam menghitam tuh. Pasti sering begadang," tebak Mikha tepat sasaran.
__ADS_1
"Iya, iya bawel. Dadah bawel ...." Adam berlari-lari kecil menuju mobilnya dengan melambaikan tangan. Mikha menatapnya dengan rasa yang bercampur aduk. Ia senang Kak Adam berubah dan ingin memperbaiki segalanya. Namun, ia sedih jika Haura nanti membuat keputusan untuk berpisah. Biarlah, yang Mikha tahu ia ingin berusaha untuk mempersatukan mereka kembali.
***
Gadis itu meneguk air dalam botol dengan rakus. Masih dalam posisi berdiri di dekat almari es, tak sempat untuk duduk.
"Telpon siapa sih Dek. Kok lama?"
"Uhuk ... uhuk."
Mikha yang masih asyik minum jadi tersedak karena pertanyaan yang Haura lontarkan.
"Makanya kalau minum hati-hati. Kalau minum usahakan untuk duduk Dek." Haura menepuk-nepuk punggung adik iparnya merasa bersalah sudah membuat Mikha tersedak.
"Hehe iya Kak, maaf. Habisnya Mikha haus banget."
"Siapa suruh kamu berlama-lama di sana? Sebenarnya kamu menelepon siapa sih? Bukannya di rumah juga ada sinyal, kenapa harus ke sana?" Pertanyaan Haura membuat Mikha mati kutu.
"Anu Kak. Itu ...."
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada yang nunggu kelanjutannya novel ini nggak?
__ADS_1
Kalau nggak berarti author yang kepedean 😂😂😂