Cinta Tuan Sempurna

Cinta Tuan Sempurna
Season 2 ~ Aku Ingin Pulang


__ADS_3

"Apa yang kamu takutkan, Ra?"


"Rara takut belum bisa menjalankan kewajiban Rara. Rara masih teringat tentang malam itu."


"Sabar ya Nak. Mama tahu penderitaan kamu. Maafkan Adam ya Ra? Gara-gara dia ...." Medina merasa sangat bersalah pada Haura. Apalagi setelah apa yang terjadi menantunya mau memaafkannya.


"Sudah Ma. Kita lupakan saja semua hal buruk yang sudah kita lewati. Rara akan berusaha Ma. Rara harus sembuh dari trauma ini."


"Ma, mari temui Papa Ray." Medina hanya bisa terkesiap mendengar perkataan menantunya. Tak menyangka secepat itu Haura membuat keputusan.


"Untuk apa, Nak?


Di ruang kerja Ray


Tok tok tok.


"Iya Masuk!" Ray yang sibuk memeriksa dokumen memandang ke arah pintu. Haura dan Medina masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan buku tebal dan banyak dokumen itu.


"Eh Rara, Mama. Ada apa? Tumben mau ke ruangan ini?"


"Ehm, ini Pa. Rara bilang ada yang ingin dibicarakan dengan Papa."


"Iya Pa. Rara ingin mengganggu waktu Papa sebentar. Rara ingin berbicara sedikit Pa." Ray menatap istrinya dengan penuh tanya. Penasaran apa yang akan dikatakan Haura. Dalam hati Ray takut jika menantunya menagih janjinya untuk membuat Adam dan dirinya bercerai.


"Iya, sayang. Mari duduk di sana!" Ray mengajak Haura dan Medina ke sofa di ruangan itu. Agar mereka bisa berbicara lebih nyaman.


"Katakan Nak. Apa kamu membutuhkan sesuatu?"


"Pa, besok Rara ingin pulang!" Ray menatap Haura dan Medina bergantian. Sangat terkejut, namun dalam hati bahagia mendengar perkataan menantunya. Namun Ray harus memastikannya.


"Pulang? Kamu ingin mengunjungi ayahmu ke kampung?" tanya Ray ragu.


Haura menggeleng, "Bukan Pa. Rara ingin pulang ke rumah Mas Adam. Tempat semestinya Haura berada."


"Kamu yakin?"


"Sangat Yakin, Pa."


***

__ADS_1


"Me, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba Haura ingin pulang ke rumah Adam?" tanya Ray panik. Kini mereka berdua sudah ada di kamar dan bersiap untuk tidur.


"Tenang Pa. Haura sudah mengambil keputusan untuk kembali pada anak kita. Mama bersyukur sekali Pa. Kebahagiaan Mama tak terlukis dengan kata-kata."


"Apa kamu yakin Haura akan baik-baik saja."


"Mama rasa tidak akan apa-apa, Pa. Kata dokter Haura sudah hampir sembuh dari trauma itu. Kita doakan saja, Pa. Biar semua baik-baik saja. Dan kedepannya rumah tangga semakin membaik."


"Em ... baiklah. Papa juga berharap ini yang terbaik untuk mereka. Tapi ...."


"Bagaimana bisa Haura berubah pikiran, Me? Apa yang membuat Haura mengambil keputusan itu?"


"Rahasia dong Pa."


***


"Sebenarnya Mikha maunya Kak Rara tetap di sini. Tidak bisakah Kakak tinggal di sini saja?" pinta gadis manis itu seraya membantu kakak iparnya membereskan pakaian ke dalam koper. Wajah Mikha muram karena kakak iparnya akan meninggalkan rumah itu.


"Mikha, Kakak kan bisa kapan saja main ke sini." Dengan lembut Haura mengusap rambut adik iparnya.


"Ya beda. Kalau serumah kan enak. Mikha nggak bakal kesepian lagi," ucap gadis itu dengan bersungut-sungut.


"Mikha! Jangan seperti anak kecil. Kamu bisa kapan saja main ke rumah Kak Rara. Kamu mau Kak Adam dan Kak Rara hidup terpisah, jika Kak Rara di sini terus?" ucap Ray yang berdiri di pintu dengan suara meninggi.


"Nak, Kak Adam dan Kak Rara juga butuh privasi. Akan sangat tidak nyaman kalau tinggal bersama kita. Kamu mungkin sekarang belum paham. Nanti ketika kamu sudah dewasa dan berumah tangga baru kamu mengerti maksud ucapan Papa. Em ... mungkin nanti kita bisa minta Kak Adam sering-sering mengajak Kak Rara menginap di sini. Kalau seperti itu mungkin boleh. " ucap Ray melunak.


"Benarkah?"


"Iya sayang, atau mungkin di akhir pekan kamu juga bisa menginap di rumah Kak Adam. Di sana juga banyak kamar."


"Iya ya. Kenapa Mikha nggak kepikiran."


"Kak Rara, kakak baik-baik ya sama Kak Adam. Kalau Kak Adam berani menyakiti Kak Rara barang seujung kuku pun, bilang sama Mikha. Mikha yang akan maju membela kakak."


"Iya sayang, tenang saja. Mikha, sini!" Haura merentangkan kedua tangannya dan memeluk adik iparnya erat-erat.


"Kakak pasti akan merindukan kebersamaan kita. Kakak juga akan rindu dengan kebawelan adik kakak yang manis ini."


"Kakak ... Mikha ini nggak bawel tahu?" protes Mikha.

__ADS_1


"Iya, iya. Adik kakak yang paling manis dan baik sedunia."


"Oh ya, ingat ya Dek. Sekolah yang benar! Jangan pacaran melulu," bisik Haura tepat di telinga Mikha karena tak ingin di dengar oleh Ray.


"Kakakkkk ...," teriak Mikha refleks dengan wajah merah padam.


"Bercanda." Ray hanya bisa tersenyum bahagia mendengar kedua putrinya bercanda dengan bahagia.


***


"Mau Papa antarkan, sayang?" tawar Ray yang sedang memasukkan koper Haura ke dalam bagasi mobil.


"Nggak usah Pa. Mungkin kalau ada Papa nanti suasananya malah jadi canggung. Biar Pak Anto saja yang mengantarkan Rara."


"Hemmm benar juga. Kalian perlu bicara berdua. Nak, kalau ada apa-apa atau kamu kurang nyaman cepat beritahu Papa. Okay?" ucap Ray yang sebenarnya mengkhawatirkan kondisi psikis Haura.


"Iya Pa. Haura benar-benar nggak papa. Haura sudah siap untuk pulang."


"Atau kamu ditemani Mama saja, Nak? Nanti biar Mama langsung pulang setelah memastikan kamu baik-baik saja."


"Rara rasa tak perlu Pa. Rara akan ke rumah suami Rara. Tempat teraman dan terbaik untuk Rara. Jadi Papa jangan khawatir lagi."


"Benar Pa. Yakinlah semua akan baik-baik saja. Percaya pada mereka."


"Hahhh, mungkin Papa saja yang terlalu parno ya?"


"Positif thinking saja, Papa."


"Baiklah, kalau dua bidadari Papa sudah bicara begitu mau apa lagi."


"Kakak ... hati-hati di jalan ya? Mikha tak bisa ikut mengantar Kakak pulang ke rumah. Karena siang ini Mikha ada latihan pramuka. Hati-hati di jalan ya Kak," sesal Mikha. Ia memeluk kakak iparnya erat-erat.


"Iya Mikha."


"Ya sudah Haura pulang ya Ma, Pa."


Haura mencium tangan mertuanya. Kemudian Medina merengkuh Haura ke dalam pelukannya.


"Terima kasih, sayang. Sudah mau menerima putra Mama lagi." Haura hanya mengangguk berlinangan air mata. Bersyukur memiliki mertua yang seperti orang tua sendiri.

__ADS_1


***


Perjalanan Haura pulang ke rumah Adam terasa sangat cepat. Haura rasa ia belum siap untuk bertemu dengan Adam. Apa yang akan ia katakan? Kata pertama apa yang harus ia ucapkan? Bagaimana jika nanti suasananya canggung? Bagaimana jika ia terkena serangan panik lagi? Sejujurnya wanita itu hanya pura-pura baik di depan Ray dan Medina. Tapi Haura sadar jika ia adalah istri Adam. Sudah kewajibannya untuk berada di sisi lelaki itu.


__ADS_2